Allesia dan Elf

Allesia dan Elf
Episode 17


__ADS_3

Episode 17


Lydia, Zendra dan Nadia pun sampai di pemukiman. Zendra bilang ke mereka ," sebelum berangkat nanti kumpul di rumahku ?". Mereka pun mengangguk dan pergi ke rumah masing masing untuk menyiapkan barang yang diperlukan nanti. Nadia pun menghampiri Lydia untuk pergi bersama ke rumah Zendra. Lydia mulai kesal karena menunggu Lydia yang lama sekali.


" Lydia, ayo buruan. Kalo kamu enggak cepatan aku tinggal nih?" ucap Nadia yang teriak sambil mengetuk pintu dengan keras.


" Tunggu sebentar, aku hampir selesai " ucap Lydia yang langsung memasukan barang barang tanpa dirapikan. Kemudian, aku pun ke depan.


" Maaf, ya. Kamu pasti nunggu aku lama, ya?" ucap Lydia seperti tidak ada rasa bersalah.


" Kalo aku suruh nunggu lama lagi mungkin suara ku udah habis " ucap Nadia yang ketus.


" Aku kan udah minta maaf ke kamu " ucap Lydia sambil menggandeng tangan Nadia.


" Setelah kamu pacaran sama Zendra, tingkah kamu kayak induk dan anak enggak mau lepas " ucap Nadia yang jijik dengan tingkah lakunya itu lalu melepaskan pegangan Lydia dan mempercepat jalannya.


" Kamu nanti juga gitu saat pacaran nanti ?" ucap Lydia dengan lantang. Nadia yang mendengarkannya itu pun berhenti berjalan.


" Kenapa dia berhenti berjalan ?" gumam Lydia yang bingung dengan tingkah Nadia.


Nadia pun menghampiri Lydia dengan raut wajah yang marah.


" Kamu jangan samakan aku dengan kamu. Awas aja kalo aku denger kamu bilang begitu aku kasih ramuan keneng" ucap Nadia yang menunjuk ke Lydia lalu menunjuk ke tas kecil di pinggangnya.


" Emangnya itu ramuan bisa apa?" ucap Lydia yang penasaran.


" Ramuan ini pernah aku uji ke serangga kecil dan serangga itu tidak bisa bicara " ucap Nadia yang keceplosan.


" Berapa lama ?" ucap Lydia yang tambah penasaran.


" Kalo ingin tahu, kamu coba dulu aja" ucap Nadia.

__ADS_1


" Kenapa mereka lama sekali sih ?" gumam Zendra sambil berjalan mondar mandir.


" Mending kita buruan ke rumah Zendra ?" ucap Lydia yang mengalihkan pembicaraan tadi.


BEBERAPA MENIT KEMUDIAN......


Lydia dan Nadia pun tiba di rumah Zendra dan langsung masuk ke rumahnya tanpa mengetuk pintu. Zendra pun kaget. Saking kagetnya Zendra berteriak dengan keras.


" Kalo masuk rumah elf itu ketuk pintu dong ?" ucap Zendra.


" Kita enggak punya waktu banyak untuk membahas itu, sekarang kita buat strategi untuk masuk ke sana ?" ucap Nadia sambil memukul meja.


" Emang kamu punya rencana apa?" ucap Zendra.


" Jangan panggil aku Nadia, kalo aku enggak punya rencana " ucap Nadia dengan sombong.


Kami pun berbisik tentang rencana pembebasan Julius. Sebelum berangkat, kami harus memakai pakaian seperti elf air dan pakaian itu sudah disiapkan oleh Nadia.


" Kenapa kita harus memakai pakaian elf air dan modelnya kok kaya perayaan, sih ?" ucap Lydia yang takjub dengan gaunnya yang berwarna biru gelap dan berkilauan.


Setelah, mereka memakai pakaian yang diberikan oleh Nadia. Kami pun melanjutkan perjalanan yang panjang ini. Di tengah perjalanan, Lydia mulai putus asa dan tidak bisa melanjutkan perjalanan karena capek.


" Apa masih jauh ?" ucap Lydia yang kehabisan tenaga dan memegang lututnya.


" Masih. Kita harus semangat. Ayo, Lydia " ucap Nadia yang berenergik sambil membantu Lydia berdiri tegak dan memberi semangat ke mereka.


" Emangnya kamu enggak punya jalan tercepat ke sana?" ucap Lydia yang kelelahan karena berjalan.


" Saat aku cari informasi katanya ada, tapi itu sangat memalukan dan sangat beresiko. Mending kita jangan pakai jalan itu ?" ucap Nadia yang geleng geleng kepala. Kami bahas tersebut sambil berjalan.


" Emangnya ada, ya? Jalan yang memalukan " ucap Zendra yang berpikir panjang.

__ADS_1


" Terus gimana dong? Terpaksa kita istirahat dulu nanti lanjutkan perjalanan lagi " ucap Lydia yang terlintas dalam pikirannya.


" Seingatnya aku punya ramuan teleportasi, tetapi ramuan itu belum pernah kucoba ke elf" ucap Nadia sambil mencari ramuan tersebut di tasnya. Setelah mencari aku menemukan ramuan itu di tas punggung ku.


" Belum coba mana tahu kalo bisa sampai di sana " ucap Lydia yang menyarankan ke Nadia.


Zendra pun sependapat dengan Lydia katakan. Memang benar juga apa yang dikatakan oleh Lydia. Kemungkinan kita dapat sampai di sana fifty - fifty dan bisa saja kita tiba di suatu tempat yang tak sesuai dengan harapan kita.


" Semua keputusan akan aku serahkan kepada kalian. Kalo aku mah ngikut aja " ucap Nadia sambil menengadah tangan.


" Kita coba aja. Kalo ada ramuan itu kan enggak perlu merasakan rasa sakit seperti ini" ucap Lydia yang antusias karena tak perlu kecapekan dan kesakitan seperti ini sambil memijit kakinya yang sakit.


" Kalo itu maumu, aku juga sependapat dengan Lydia " ucap Zendra sambil merangkul Lydia.


" Tapi semua kemungkinan bisa terjadi dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti setelah menggunakan ramuan ini " ucap Nadia yang memperingatkan ke mereka.


" Kamu kan bilang kalo ini waktu yang tepat karena di Sentoria sedang diadakan festival. Dan kita enggak tahu kapan lagi kesempatan ini datang lagi ?" ucap Lydia yang menjelaskan situasi tersebut.


" Kami yakin tidak akan menyesali keputusan ini " ucap Zendra.


Kami pun setuju untuk menggunakan ramuan teleportasi. Nadia memberikan ramuan ke Nadia dan Zendra lalu kami pun meminum ramuan itu. Kami bergandengan karena hanya saya yang pasti letak tempat tersebut. Walaupun Nadia dan Zendra sudah pernah ke sana tetapi tempat tersebut mungkin sudah banyak berubah.


" Kalian jangan lepaskan tangan karena bisa saja nanti kita berpencar " ucap Nadia yang memperingatkan mereka.


" Iya,ya " ucap Zendra.


" Kamu juga, Lydia. Jangan lepasin tanganmu" ucap Nadia yang memperingatkan Lydia.


" Heem " ucap Lydia dengan lirih dan raut wajah yang cemberut.


" LYDIA.. Kalo ditanya itu dijawab " ucap Nadia yang kesal dengan sikap Lydia.

__ADS_1


" Iya,ya. Udah puas. Tapi kalo panggil elf itu jangan keras-keras, emangnya aku tuli a, apa ? Inget, untuk tidak ngelepasin tangan kan ?" ucap Lydia yang muak akan dengan tingkah Nadia yang memperlakukan aku seperti elf yang tidak bisa dipegang omongan nya.


Nadia pun bergandengan tangan dengan mereka lalu memejamkan mata sambil membayangkan tempat ketika Julius bertengkar dengan penjaga dalam sekejap kami pun sampai di sana. Nadia pun membuka matanya perlahan lahan.


__ADS_2