
Arfan meletakkan Allesia ke tempat tidur untuk membaringkannya lalu melihat ke arah tas yang dijatuhkan Allesia.
" Kenapa ada tas perempuan di kamarku?" ucap Allesia yang bingung dan memegang tasnya.
" Maid ..... penjaga ...... " ucap Arfan dengan lantang.
" Ada apa tuan memanggil kami berdua ?" ucap penjaga.
" Saya ingin bertanya kenapa ada tas perempuan di kamar saya ?" ucap Arfan dengan tegas dan mengangkat tasnya ke arah mereka.
" Hamba juga tidak tahu. Bagaimana bisa ada tas perempuan di kamar tuan. Apakah hamba boleh melihatnya siapa tahu saya dapat mengenali darimana tas ini ?" ucap maid ke Tuannya dengan kepala tertunduk.
" Boleh tapi kamu dapat lihat dari situ saja dan jangan pegang tasnya " ucap Afran dengan kesal.
" Baik ,tuan. Dilihat dari bentuknya sepertinya tidak dari daerah sini. Apa ada lagi yang mau ditanyakan lagi tuan ?" ucap Maid tersebut.
" Tidak ada, jangan lupa bawa pakaian ku dan wanita itu. Penjaga apa kamu tahu ini ?" ucap Afran
" Bukannya itu milik tuan Afran kenapa menanyakan ke aku?" batin pengawal sambil melamunkan kejadian itu.
" Aku bertanya ke kamu, Penjaga. Malah ngelamun enggak jelas" ucap Afran yang mulai kesal.
" Maaf, Tuan. Bukankah itu milik tuan?" ucap penjaga dengan lantang.
" Tidak mungkin ini milikku. Jangan sekali sekali menyimpulkan sendiri tanpa tahu kebenarannya ? Jika aku dengar kamu mengatakan itu lagi akan aku cabut gelar penjagamu itu" ucap Afran yang kesal dan kembali masuk ke kamar.
" Tapi tuan, saya menemukan itu saat tuan berburu terakhir kali itu " ucap penjaga yang kekeh menjelaskan tersebut.
Arfan pun berhenti berjalan. Penjaga tersebut merasa bulu kuduknya berdiri dan tubuhnya gemetaran dari ujung rambut sampai ujung kaki. Badan afran pun berbalik ke arah penjaga tersebut.
" Jadi maksud kamu tas itu kamu temukan di hutan saat aku mau mengejar seseorang itu ?" ucap Afran sambil tersenyum sedikit.
" Iya, tuan " ucap penjaga sambil mengelus dadanya.
" Biarkan tasnya saya buang saja tuan daripada merepotkan tuan " ucap penjaga tersebut.
" Tidak usah, biar aku saja " jawab Afran yang kesal dan kekeh ingin membawa tas tersebut.
" Hamba, undur diri tuan " ucap penjaga yang menunduk dan pergi ke tempat semula.
" I,iiya " ucap Afran yang tidak mempedulikan penjaga tersebut.
" Tumben banget pangeran Afran tersenyum tadi ?" gumam penjaga.
Penjaga tersebut memikirkan tingkah laku tuannya yang mulai berubah dari mulai banyak senyum tanpa sebab. Penjaga lain pun mene-
puk bahunya. Penjaga tersebut terkejut dengan hal itu.
" Kamu aku panggil dari tadi enggak berjawab. Lagi mikirin apa sih ? Jangan jangan kamu lagi mikirin pasangan buat festival nanti, ya ?" ucap penjaga lain yang menyindir temannya yang jones.
" Siapa juga yang mikirin itu. Mungkin kamu kali kamu kan jones akut " ucap penjaga tersebut yang menusuk temannya.
" Kamu tega sekali berkata seperti ke temanmu ini. Aku enggak jones akut tapi lagi mau sendiri. " ucap penjaga lain yang menyangkal perkataan temannya itu.
" Sama aja kali " ucap penjaga tersebut sambil merangkul temannya.
" Ya, bedalah " ucap penjaga lain yang masih kekeh dan menyangkal perkataan temannya sambil melepas rangkulannya.
" Beda huruf maksudmu tapi kan makna sama sama enggak punya pasangan. Haaahaaha " ucap penjaga tersebut yang mengejek sambil tertawa terbahak bahak.
Penjaga lain itu pun terpaku diam dan tak berkutik. Sedangkan temannya tertawa terbahak bahak sampai perut sakit.
" Bangkai, kamu nanti jangan terlambat, ya? Datangnya " ucap pacar penjaga tersebut dengan lantang sambil mencium pipi pacarnya.
" Kamu tunggu di sini sebentar, ya ! Aku mau bicara sebentar sama pacarku " ucap penjaga tersebut sambil menarik pacarnya ke tempat yang jauh agar temannya enggak dengar.
" Bangkai, kenapa kita harus ngomong di sini enggak di sana aja tadi " ucap pacar penjaga tersebut.
" Kalo kamu panggil aku jangan seperti itu dong. Aku kan malu sama yang lain " ucap penjaga tersebut.
" Kenapa harus malu kamu kan pacarku? Kamu malu jika kamu tidak punya pacar ngaku punya itu baru malu. Kamu enggak suka panggilan sayangku itu bangkai ?" ucap pacar penjaga tersebut.
__ADS_1
Penjaga tersebut bingung dan menjawabnya dengan geleng geleng lalu menga - nggukkan kepalanya.
" Jangan bohong ke aku karena kamu tidak bisa membohongi pacarmu ini. Aku jelasin ke kamu,ya ?*Jangan pernah pedulikan omongan orang karena kita yang jalanin bukan mereka*. Oke bangkai " ucap pacar penjaga tersebut.
" Iya, bunga " ucap penjaga tersebut.
" Jadi, jangan kalo panggil gunakan nama sayang seperti biasanya kita lakukan " ucap pacar penjaga tersebut. Panggilan sayang mereka yaitu bunga dan bangkai. Mereka pun balik ke temannya.
Di sisi lain, Zendra dan Lydia pun memutuskan mencari Nadia. Setelah menemukannya, kami akan mencari cara untuk membebaskan Julius .
" Yang, gimana kalo kita berpencar saja biar cepat carinya ? Kalo kita cari seperti ini kan tidak akan dapat menemukannya " ucap Zendra yang menyarankan ke Lydia.
" Aku enggak mau jauh dari kamu. Kita cari sama sama aja, ya ?" ucap Lydia sambil mata yang berbinar binar kepada pacarnya dan memohon agar tidak berpencar.
" I,iya. Lydia ku manja ya sekarang " ucap Zendra sambil mengacak acak rambut pacarnya.
" Karena sekarang kamu sudah menjadi pacar- ku " ucap Lydia sambil memeluk pacarnya.
" kalo kamu seperti ini terus kapan kita nemuin Nadianya ?" ucap Zendra yang terkejut dia memeluknya secara tiba tiba.
" sebentar lagi. Aku ingin merasakan pelukan hangatmu ini " ucap Lydia yang masih memeluk pacarnya.
" mulutmu ini mulai berkata manis. Apakah kamu beri madu ?" ucap Zendra yang menggoda pacarnya.
" Iiiiiih, kamu mulai deh godanya "ucap Lydia sambil memukul zendra.
" Auw auw auw, sakit tahu " ucap Zendra sambil tangannya membentuk perisai.
" Salah siapa tadi ganggu aku " ucap Lydia sambil melipatkan tangannya dan menghadap ke arah lain.
" Kata elf bener kalo udah pacaran laki laki itu selalu salah sedangkan yang katakan perempuan selalu benar " gumam Zendra dengan lirih.
" Kamu tadi ngomong apa ?" ucap Lydia yang memandang ke wajah zendra.
" Aku tadi bilang hari ini kamu cantik banget " ucap Zendra yang mulai menggombal.
" Kalo kamu begini terus kapan kita bisa nemuin Nadia?" ucap Lydia yang mengomel.
Kami pun mulai mencari Nadia. Beberapa jam kemudian, kita sudah mencari dimana mana tapi tidak menemukan keberadaan dia sama sekali. Lydia mulai putus asa karena tidak dapat menemukan mereka.
" Yang, aku capek. Aku sudah enggak kuat lagi untuk berjalan " ucap Lydia dengan napas yang terengah-engah dan memegang lututnya.
" Mending kita istirahat sebentar untuk mengisi tenaga kita kemudian kembali cari dia lagi. Yang, aku pergi sebentar, ya? Nanti aku balik lagi ke sini " ucap Zendra sambil meninggalkan Lydia.
" Tapi jangan lama lama " ucap Lydia yang merebahkan badannya di rumput.
" Iya " ucap Zendra yang berlari.
Sejam kemudian.....
" Kemana dia pergi katanya sebentar tapi kok lama ?" gumam Lydia sambil memandang ke arah langit biru.
" Yang, maaf. Kamu pasti nunggu aku lama banget kan ?" ucap Zendra yang keringatnya bercucuran sambil menemukan sesuatu di punggungnya.
" Iya, sih. Apa yang kamu sembunyikan dariku ?" ucap Lydia yang sontak duduk.
" Massa kamu enggak suruh aku duduk sih ?" ucap Zendra yang manja.
" Jangan mulai deh " ucap Lydia.
" I, iya " ucap Zendra yang duduk dan memberikan makanan dan minuman ke Lydia.
Kami pun memakan makanannya dengan lahap. Tak ada yang tersisa sedikit pun. Lydia makan dengan berantakan sampai ada sisa makanan di ujung bibirnya. Zendra pun membersihkannya dengan tangannya.
" Apa kamu tahu biasanya Nadia
pergi saat dia sedih ?" ucap Zendra untuk menghilangkan kecanggungan ini.
__ADS_1
" Ooo, iya. Aku ingat biasanya kalo Nadia sedih sering ke sungai di hutan. Kenapa aku enggak kepikiran dari tadi " ucap Lydia yang langsung berdiri lalu memukul kepalanya sendiri.
" Ayo, cepat " ucap Lydia sambil menarik tangan pacarnya. Zendra mengikuti Lydia dari belakang dengan tangan yang masih dipegang Lydia.
" Pelan pelan sayang " ucap Zendra.
" Kita harus cepat ke sana sebelum dia pergi dari sana " ucap Lydia yang mempercepat jalannya.
Beberapa menit kemudian, kita pun hampir sampai di sana. Kami pun melihat banyak pengawal di sana. Jadi, kami bersembunyi di balik pohon yang besar. Pengawal tersebut seperti pengawal kerajaan. Tidak biasanya pengawal berada di hutan belantara seperti ini. Zendra pun mencoba ke sana, " apakah Nadia ada di sana ?".
" Yang, kamu di sini saja. Jika aku kenapa kenapa kamu panggil para elf hutan ke sini ?" ucap Zendra yang melarang Lydia bersama ke sana.
" Tapi, itu kan berbahaya. Mending kita tunggu mereka pergi saja " ucap Lydia sambil memegang tangan zendra agar tidak ke sana.
" Sayang, lepasin tanganku " ucap Zendra yang mencoba melepaskan pegangan Lydia.
Setelah Zendra membujuknya akhirnya Lydia melepaskan tangannya.Ketika Zendra akan ke sana, mereka dikagetkan oleh Nadia.
" Hei " ucap Nadia yang mengagetkan mereka dari belakang.
" Apa yang kalian lakukan di sini ?" ucap Nadia yang merangkul mereka.
" Kamu bisa diam apa enggak sih " ucap Lydia dengan lirih sambil menatap kearah pengawal kerajaan yang berada di dekat sungai. Karena penasaran dengan yang di lihat oleh Lydia. Ia pun juga mengintip dari belakang Lydia.
" Tumben banget ada pengawal di sini " ucap Nadia dengan keras. Seketika Lydia menutup mulut Nadia dengan tangannya dan menarik- nya ke belakang pohon yang besar.
" Siapa di sana ?" ucap pengawal yang mendengar itu.
" Coba kalian lihat ke sana ?" ucap pengawal tersebut sambil menunjuk ke sumber suara.
" Gimana nih kalo kita ketahuan, tamatlah
kita " ucap Lydia yang panik karena takut ditangkap sampai sampai meneteskan air mata.
" Dasar cengeng kaya gitu aja nangis. Jadi, elf itu yang berani dong kaya aku " ucap Nadia dengan ketus.
" Apa kamu enggak tahu kalo Lydia punya trauma tentang pengawal kerajaan Sentoria ?" ucap Zendra yang berbisik ke Nadia. Zendra tertuang akan kejadian itu.
~FLASH BACK~
Saat itu, elf hutan dan elf air sedang punya konflik yang rumit. Elf air menangkap anak anak elf hutan dan membenci elf hutan. Karena tetua elf hutan yang merupakan dalang dari pembunuhan ratu Sentoria.
Lydia trauma karena dia pernah ditangkap dan disiksa oleh pengawal mereka. Bahkan melihat kakaknya yang dipenggal kepalanya dengan kedua matanya dan pada saat itu, juga dia bertemu dengan Zendra. Zendra pun memeluknya dengan dekapan dadanya dan mengelus - elusnya. Kami bisa lolos karena saat itu sedang ada kekacauan yang disebabkan oleh bayangan hitam.
~FLASH OFF~
Zendra pun terbangun dari kenangan itu.
" Mending kamu abaikan aja yang tadi aku bilang ?" ucap Zendra sambil memalingkan kepalanya ke arah lain.
" To, tolong. Ceritakan, jangan buat aku penasaran gini ?" ucap Nadia sambil menyentuh badannya dengan jarinya dan mata berbinar binar ke Zendra.
Zendra pun melihat ke Nadia lalu, Lydia yang masih menangis di dekapan tangannya sendiri sambil berjongkok. Zendra pun duduk dan merangkul Lydia.
" Tenang saja, aku akan slalu ada untukmu sayang " ucap Zendra sambil mengelus elus pundaknya dari belakang. Lydia pun menatap ke Zendra.
" Kamu tahu tidak yang kalo kamu nangis begini enggak cantik tahu " ucap Zendra sambil mengusap air matanya.
" Kalian, ke sini cuma untuk ini dan mamerin ini ke aku. Aku pikir kalian ke sini buat cari aku ternyata enggak " ucap Nadia dengan ketus.
" Kami ke sini itu karena cari kamu. Karena kami berencana mau menolong Julius " ucap Zendra yang menjelaskan kedatangan kami ke sini.
" Aku juga berencana bebasin dia nanti malam karena di sana sedang diadakan festival air. Banyak penjaga yang ikut ke sana jadi, mudah untuk kita masuk ke sana " ucap Nadia.
Lydia, Zendra dan Nadia pergi dari situ untuk merencanakan strategi agar dapat masuk ke kerajaan Sentoria. Penjaga itu pun mencari darimana datangnya suara itu ternyata tidak ada orang. Dia pun melaporkannya ke seniornya.
__ADS_1