Allesia dan Elf

Allesia dan Elf
Episode 27


__ADS_3

Suasana di sini menjadi hening dan sunyi. Aku ingin menghilangkan rasa canggung antara kami berdua. Namun,aku bingung mau tanya apa?Kalo aku nanya,nanti dia makin rese lagi.


"Kamu?" ucap Afran sambil mendongakkan dagunya.


Allesia hanya diam dan tidak menanggapi perkataan Afran. Aku malah asik menulis sesuatu di tanah dengan ranting kering. Afran mulai jengkel dengan tingkah laku Allesia yang tidak menggubris nya.


"Hei,kamu?Cewe aneh" ucap Afran sambil melemparkan kerikil ke Allesia.


"Apa kamu bilang cewe aneh?Kamu aja yang aneh, massa laki laki kok enggak punya rasa malu sama cewe. Kamu cowo gak punya malu dengerin ini baik baik. Namaku itu ALLESIA bukan hei apalagi cewe aneh" ucap Allesia sambil membuang rantingnya ke tanah karena saking kesalnya.


"Kalo kamu engga bisa bilang Allesia. Jangan jangan kamu tuli lagi?Massa pangeran yang akan memimpin kerajaan kok tuli bagaimana nanti kamu mengurus kerajaan?"ucap Allesia sembari tersenyum jahat.


"Perilakumu itu sama sekali tidak mencerminkan seorang perempuan ya malah lebih cocok kaya orang berandalan. Tau apa engga?" ucap Afran.


" Hei, kamu cucikan pakaianku ini!" ucap Afran yang mengulurkan pakaiannya ke allesia. Allesia yang masih membelakangi afran.


" Udah ngomong sembarangan terus nyuruh nyuruh. Kamu pikir aku babumu apa?" ucap Allesia yang muak dengan tingkah laku pangeran satu ini.


" kalo aku engga salah inget, pengawal ku masih dibelakang deh " ucap Afran.


" Apa dia mau mengancam aku,ya? Mana aku berani. Jika pengawalnya lihat pangeran mereka telanjang takutnya. Bisa bisa aku besok sudah tidak bernyawa lagi? JANGAN " batin Allesia sembari membayangkan apa yang akan terjadi padaku.


" Mana bajunya?Bagaimana aku bisa cuci klo engga kamu berikan pakaiannya?" ucap Allesia yang mengulurkan tangannya ke Afran dengan badan masih belakanginya.


Afran melemparkan bajunya ke Allesia. Allesia pun pergi dan meninggalkannya. Aku mencari sungai untuk mencuci bajunya. Setelah aku menyusuri daerah yang didekat sini. Ternyata, tidak ada satu pun sungai yang kutemukan.


" Kenapa dia lama sekali? Kan cuma cuci masa sampai beberapa jam sih?" ucap Afran yang bangun dari tidurnya.


" Seingatku, jarak sungai yang waktu itu lumayan jauh deh. Atau aku ke sana saja, ya? " gumam Allesia.


" Enggak usah" bisikan seseorang yang dibelakang Allesia. Bulu kuduk Allesia merasa berdiri.

__ADS_1


~™®•®™~


Julius membuka matanya. Dia melihat ke kiri dan ke kanan. Kemudian, ada orang tua yang datang dan menghampiriku.


" apakah badanmu sudah mendingan?" ucap orang tua itu sembari menatap Julius untuk memastikan keadaannya.


"Bagaimana aku bisa di sini? Tadi kan aku masih di hutan " batin Julius yang bingung.


"Iya, sudah mendingan" ucap Julius dan merasakan badannya sudah kembali pulih lagi.


" Apakah aku boleh tanya sesuatu?" ucap Julius yang penasaran karena bisa ada di sini.


" Saat, aku mencari bahan ramuanku. Aku melihatmu terkapar tidak sadarkan diri lalu kubawa kamu ke sini " ucap orang tua tersebut.


" Apakah kamu melihat wanita tak jauh dari tempat saat aku tak sadarkan diri?" ucap Julius yang khawatir dengan keadaan Allesia.


" Saya tidak melihat siapapun di sana. Memangnya ada apa ya?" ucap orang tua tersebut yang penasaran karena menanyakan soal wanita.


" Oh, tidak ada apa apa. Kalo boleh tahu nama anda siapa ?" ucap Julius tanpa ragu mempertanyakan orang tersebut. Tiba - tiba, orang masuk ke dalam dan memarahiku.


" Memang engga tahu. Memangnya dia siapa sampai kamu hormati begitu?" ucap Julius yang seenaknya sendiri.


" Kalo ngomong dijaga ya jangan sembarangan bicara " ucap Treasno yang nunjuk nunjuk ke arah Julius.


" Kamu pikir kamu tunjuk tunjuk aku. Emangnya aku engga berani sama kamu ?" ucap Julius memulai mengajak bertarung.


" Tangan sekarang ini juga tidak sabar mendarat ke wajahmu itu" ucap Treasno yang mengepalkan tangan yang menyatakan bahwa aku sudah siap untuk bertempur.


"Sudah sudah. Maafkan atas tindakan bawahan saya satu ini. Maklum, dia baru bekerja dengan saya baru baru ini. Karena tadi belum berkenalan. Kenalkan saya adalah tetua elf hutan di pemukiman ke ini " ucap tetua elf hutan yang mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


" Nama saya Julius. Bolehkah saya minta tolong ke bawahan kamu ?" ucap Julius yang mencoba duduk.

__ADS_1


" Biar saya bantu kamu duduk. Silakan saja, anggap aja rumah sendiri "ucap tetua elf hutan sembari membantu Julius duduk.


" Bisa panggilkan Zendra untuk ke sini?" ucap Julius.


" Sepertinya tidak bisa" ucap Treasno sembari menundukkan kepalanya.


" Bukannya tadi dia engga ada pekerjaan ? Jangan bilang kamu males ke sana lagi" ucap tetua elf hutan.


" Bukan soal itu,Tetua. Ta-tapi..." ucap Treasno yang terbata bata dan kemudian lirih.


" Tapi kenapa ? Kamu tahu kan saya tidak suka bertele-tele dalam berbicara " ucap Tetua dengan salah satu tangan berkacak pinggang.


" Saya dengar dia tadi pergi ke kerajaan Sentoria bersama nadia dan lydia " ucap Treasno yang pelan dan lirih.


" Apa kamu bilang Lydia juga ikut ke sana? Dasar cucu nakal. Bisa bisanya dia pergi ke sana tanpa pamitan sama kakeknya ini?" ucap Tetua elf hutan yang memegang keningnya karena pusing dengan tingkah kekanak- kanakannya.


" Cepat!!!! Panggilkan para elf hutan yang terlatih ke sini " ucap tetua yang amarahnya sudah memuncak.


" Tetua tenang saja kan dia juga bersama Zendra. Tetua kaya tidak tahu aja perilaku anak muda jaman sekarang saja?" ucap Treasno yang mencoba menenangkan tetua.


" Bagaimana mana aku bisa tenang? dia itu satu satunya cucu yang paling aku sayang" ucap tetua yang mulai kesal.


" Lebih baik tetua tenang dulu jika tetua emosi seperti ini. Bagaimana kita bisa mencari informasi terkait cucu tetua?" Ucap Julius yang juga mencoba merendamkan emosi tetua.



Ketika Allesia sedang memandang langit



*Pemandangan hutan elf di malam hari

__ADS_1


Ketika Afran sedang memikirkan cewe aneh itu*



__ADS_2