Amazing Girl

Amazing Girl
AG Episode 17


__ADS_3

Setelah dirasa sudah sampai ke tempat tujuan yang telah Wildan tuju. Ia pun segera memarkirkan mobilnya. Wildan melepas sabuk pengamannya dan segera turun dari mobil, Ia membukakan pintu mobil untuk Lora, Lora pun bergegas turun. "Makasih Wil."


Wildan menyunggingkan senyuman. "Iya Lora cantik."


Lora membalas senyuman Wildan. "Apaan sih Wil, manggil Lora aja! cantiknya gak usah!"


"Emang kamu cantik!" Wildan semakin menggoda Lora, yang mana membuat pipi Lora merona.


"Ya ya terserah kamu, terserah!" Lora menggelengkan kepalanya beranjak pergi meninggalkan Wildan, mendahului Wildan.


Wildan pun segera mengikuti langkah kaki Lora. Ia mensejajarkan langkahnya dengan Lora. Seketika itu Wildan menggandeng tangan Lora. Lora membiarkannya, Ia hanya menuruti saja apa yang Wildan lakukan. Toh Lora juga bakal menerima pernyataan cinta Wildan walaupun sebenarnya Ia merasa sedikit terpaksa karna permintaan Nadia kepadanya.


Mereka berdua segera masuk ke dalam Coffe Shop. duduk di meja yang kosong.


"Kamu mau pesan apa Ra?"


"Vanilla Latte aja Wil."


"okey."


Wildan pun memanggil pelayan. Ia memberitahukan ke pelayan tetang apa saja yang Ia pesan. Pelayan mengiyakan dan segera pergi untuk membuatkan pesanan Wildan dan Lora.


"Raa.."


"Hem?"


Wildan seketika diam, Ia masih bingung haruskah menanyakan hal itu saat ini. Tapi Wildan takut Lora belum siap menjawabnya.


"Wildan.."


"Ehh iya Ra?"


"Ada apa? mau ngomong apa?" Lora melihat kebingungan di wajah Wildan. Sebenarnya Lora tau Wildan ingin menanyakan hal itu kembali. tapi Lora mencoba memastikan dengan bertanya kepada Wildan.

__ADS_1


"ehm i-itu Ra, aku ma--."


Ucapan Wildan terhenti karna pelayan datang membawa pesanannya dan pesanan Lora. Wildan sedikit berdecak. Saat pelayan selesai menaruh pesanan Ia menganggukkan kepalanya dan segera pergi.


Wildan pun langsung meneruskan ucapannya yang sempat terhenti. "Ra, aku mau tanya."


"Iya tanya apa Wil?" Lora memandang Wildan.


Wildan menghela nafasnya panjang. "Apa kamu udah siap buat jawab itu?" Wildan memejamkan matanya. tanyanya sedikit ragu.


"itu? itu apa?" sekali lagi Lora memastikan pertanyaan Wildan.


"Kamu lupa?" Wildan mengernyitkan dahinya, Ia bingung dengan Lora tidak paham akan ucapannya. "masa iya dia beneran lupa?" Gumamnya dalam hati.


Lora hanya mengangkat kedua bahunya.


Wildan semakin frustasi, pikirnya mungkin dia harus mengucapkannya lagi.


Wildan meraih tangan Lora yang berada diatas meja, Ia menggenggam tangan Lora, menatap mata Lora dengan penuh makna. "Ra, saat aku bersama kamu aku ngerasa nyaman banget di deket kamu. seperti yang aku bilang waktu itu, Aku jatuh cinta saat pertama kali lihat kamu! setiap hari perasaan aku semakin kuat saat inget kamu. Raa, aku sayang sama kamu! bahkan aku udah jatuh cinta, jatuh sejatuh jatuhnya sama kamu!"


"Ra, mungkin kamu belum punya perasaan apapun ke aku, aku tau itu!" Wildan menghela nafasnya panjang. Ia melanjutkan ucapannya. "Kamu tau? bahkan aku belum pernah ngerasain perasaan seperti ini ke perempuan lain. Aku nggak punya alasan buat jatuh cinta sama kamu. Aku cuma ingin kamu bisa bersama aku! akan aku buat kamu senyaman mungkin saat bersama aku. kamu percaya kalau rasa cinta itu akan datang karna telah terbiasa? Ra, apa kamu mau menerima aku?"


Lora dibuat bungkam oleh ucapan Wildan, bagaimana bisa laki-laki yang tidak pernah merasakan jatuh cinta, bisa mengatakan hal semacam itu dengan lancarnya. Lora semakin tidak ingin menyakiti laki-laki yang sudah tulus mencintainya, Ia tidak ingin menghianati Wildan, pada dasarnya hingga saat ini hatinya masih tetap memilih Bara. Ingin sekali Lora menolak Wildan, pikirnya lebih baik menyakitiย  hati Wildan saat ini dengan menolaknya. daripada harus berpura-pura mencintai tapi sebenarnya tidak sedikitpun. Seketika Lora mengingat akan ucapan sahabatnya yang memaksanya untuk menerima Wildan semata-mata untuk membalaskan dendam sahabatnya itu kepada Iren. Karna Iren saat ini sedang berusaha mendekati Wildan. "Astaga!" Gumamnya dalam hati. Lora semakin frustasi. mau tidak mau Ia harus tetap menerima Wildan, pikirnya sahabat adalah segala-galanya bagi dirinya.


"Raa.." panggil Wildan, yang seketika membuyarkan lamunan Lora.


Lora memejamkan kedua matanya, pikirannya benar-benar kacau. ucapan Wildan dan Nadia seakan terngiang-ngiang dalam kepalanya.


Lora pun mengatur nafasnya, Ia menampakkan sikap tenang. Ia harus segera menjawab ucapan Wildan.


"Wildan, iya aku mau." Ucap Lora dengan senyuman, menyakinkan Wildan agar terlihat tulus.


Mata Wildan membulat dengan sempurna. "Apa?"

__ADS_1


"Kurang jelas kah?"


"katakan lagi, please!"


"Iya Wildan aku mau."


"Mau apa?"


"Ish, menyebalkan. Aku mau nerima kamu jadi kekasihku Wildan!" Lora memperjelas, menekankan perkataan 'kekasihku' kepada Wildan.


Wildan pun tersenyum dengan manis mendengar jawaban dari Lora. Rasanya hari ini sangat-sangat membahagiakan untuknya. Ia mengecup berkali-kali punggung tangan Lora dengan sayang.


"Wildan, malu!" Lora menarik tangannya yang hendak mau dicium lagi oleh Wildan. Lora melirik beberapa orang yang sedang memperhatikan mereka berdua.


"Biarin sayang, mereka iri." Wildan pun ikut melirik ke arah beberapa orang yang sedang memperhatikan. tapi Wildan tidak memperdulikan hal itu. yang terpenting saat ini Ia merasa bahagia.


"Wildan lepasin! itu kamu minum tuh kopi kamu." Lora kesal dengan tingkah Wildan yang mana membuatnya merasa malu saat Wildan mencoba meraih tangannya lagi. Beberapa orang masih memperhatikan mereka dengan tersenyum dan berbisik-bisik.


"Pegang lagi sebentar sayang." Wildan memegang tangan Lora kemabali, yang mana saat Lora memegang cangkir berisikan kopi dan mau meminumnya.


"Aku pukul nih!" Lora mengepalkan tangannya.


"Ck, iyadeh." Wildan berdecak, ia melepaskan pegangan tangannya. Wildanpun meraih cangkir kopinya dan segera Ia meminumnya


.


.


.


.


.

__ADS_1


๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2