
Di dalam mobil Lora dan Wildan saling bungkam, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Mereka dengan pikirannya masing-masing.
Lora ingin sekali menegur Wildan supaya bersikap lebih baik terhadap Raymond dan Dastan, tapi Ia mengurungkannya. Lora melirik ke arah Wildan. Ia melihat raut wajah Wildan yang menahan amarah, Lora berfikir Wildan marah terhadapnya karena Raymond sudah memegang tangannya dihadapan Wildan.
Wildan juga sesekali melirik ke arah Lora, Ia kesal dengan Raymond yang terus saja bersikap manis kepada Lora, Lora pun juga bersikap demikian, bahkan Lora tidak pernah melakukan hal itu kepadanya. Sikap Lora terhadapnya hanya datar. itu yang ada di pikiran Wildan.
Wildan pun memfokuskan pandangannya kembali ke depan.
Beberapa menit kemudian mereka berdua sampai dihalaman rumah Lora. Wildan melepas sabuk pengaman. Ia tidak berniat membukakan pintu mobil untuk Lora. Lora yang menyadari kediaman Wildan, Ia pun segera turun dari mobil Wildan.
"Aku istirahat dulu, kamu hati-hati." Ucap Lora yang hanya diangguki saja oleh Wildan.
Lora bergegas menuju ke arah pintu rumahnya, tapi sebelum Lora membuka pintu rumahnya langkahnya terhenti tatkala Wildan yang tiba-tiba menahannya, menarik tangan Lora. Lora membalikkan badannya. "Apa?"
"Aku ingin bicara sebentar." Ucap Wildan dengan raut wajah yang datar.
Lora menarik nafasnya, Ia pun menganggukkan kepalanya. Lora duduk di kursi depan rumah, Wildan pun mengikutinya. Ia juga duduk disamping Lora.
"Siapa dia?" tanya Wildan tanpa melihat ke arah Lora. Ia menatap lurus kedepan.
Lora mengernyitkan dahinya, Ia hanya diam dan menatap ke arah Wildan.
__ADS_1
Wildan masih meluruskan pandangannya, Ia kembali bertanya. "Siapa dia Ra?"
"Siapa maksut kamu? Raymond? Dastan?." Lora balik bertanya.
"Raymond!" Ucap Wildan dengan cepat, sebenarnya Ia enggan untuk menyebut nama laki-laki itu.
"Kamu ada hubungan apa sama dia? Kok kayaknya kamu akrab banget! Teman dekat? mantan? atau...?" Wildan bertanya secara beruntun, membuat Lora menajamkan matanya ke arah Wildan.
"Atau apa?" tanya Lora menautkan kedua alisnya.
Wildan menoleh ke arah Lora, menatap mata Lora. "Orang yang kamu cintai?" pertanyaan Wildan penuh dengan penekanan. membuat Lora memendam amarahnya.
"bersikap seperti apa?" Lora sedikit mengeraskan suaranya, Ia tidak habis fikir kenapa Wildan berkata seperti itu. Baginya itu wajar bersikap manis kepada teman baiknya.
"Ra, jelas-jelas kamu bersikap manis banget sama dia! kamu juga gak keberatan saat dia pegang tangan kamu tadi! padahal ada aku di samping kamu, aku pacar kamu Ra! bisa kamu hargain aku sedikit aja? terus juga tadi aku denger kalau dia mau ajak kamu jalan? kamu pun nerima itu dengan senang hati!" Wildan semakin mengeraskan suaranya, Ia benar-benar tidak bisa menahan amarahnya. pasalnya dia kesal, kecewa, Cemburu.
"Deket banget ya kamu Ra sama dia." Wildan tersenyum penuh arti sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Perasaannya sangat kacau.
"Wil, Raymond it--."
"Apa? Raymond itu laki-laki yang kamu sukai atau bahkan kamu cintai?" Belum sempat Lora meneruskan ucapannya, Wildan mendahuluinya dengan pertanyaan lagi.
__ADS_1
"Astaga!" Lora semakin kesal dengan ucapan Wildan.
"Udah kamu jujur aja, Kalau emang Raymond laki-laki yang kamu cintai." Wildan menghela nafas, lalu melanjutkan ucapannya. "Aku Rela, asal kamu bahagia!" Wildan berusaha menahan air matanya. Ia tidak mau jika harus memaksa Lora untuk tetap bersamanya sedangkan Lora mencintai orang lain.
Lora menghela nafasnya panjang, Ia berusaha memendam amarahnya yang sudah memuncak, Tidak habis fikir bisa-bisanya Wildan berfikir seperti itu. Lora lebih memilih tidak menjawab. dari pada harus berdebat dengan orang yang sedang di dikendalikan oleh amarah, pasti nanti akan berlanjut jika meladeninya Lora juga sebenarnya marah terhadap Wildan, tapi Lora masih bisa mengendalikannya.
"Kenapa kamu diem?" tanya Wildan.
Lora masih enggan berbicara. Ia sudah benar-benar lelah dengan Wildan yang menuduhnya seperti itu. bahkan tuduhan Wildan itu tidak ada yang benar sama sekali.
.
.
.
.
.
🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1