
Mereka berempat saling bersenda gurau, Yasmine sudah bisa mengalihkan pikirannya akan kekasihnya.
Jho selalu saja bisa mencairkan suasana, membuat semua teman-temannya tertawa tidak terkecuali Wildan akan tingkah nya.
Wildan memang masih memikirkan Lora, Namun ia masih bisa mengalihkan pikirannya dengan Jho yang sedang bercerita tentang hal-hal yang lucu.
"Ehm, Wildan kenapa wajah mu babak belur begitu? aku tadi lupa mau menanyakan itu." Ucap Nadia yang mana membuat Jho menghentikan ceritanya.
"iya, kenapa?" imbuh Yasmine.
Seketika Wildan dan Jho saling beradu pandang membuat Yasmine dan Nadia mengernyit bingung.
"Ehm... biasa namanya juga laki-laki, itu wajar bukan." Jawab Wildan menepiskan senyumnya.
"oh..." Yasmine dan Nadia membulatkan bibirnya secara bersamaan.
"kalau begitu biar aku obati." Nadia hendak beranjak untuk mengambil kotak obat yang terletak di dapur. namun dengan cepat Jho menarik tangan Nadia membuat Nadia mendudukan tubuhnya kembali.
"Biarkan Lora saja yang mengobati lukanya." Ucap Jho sembari melirik ke arah Wildan.
"Yasudah."
Jho sudah terlihat baik-baik saja, ia merasa membaik setelah bertemu dengan Nadia. baginya Nadia adalah obat dari segalanya, Jho sangat mencintai Nadia dan begitu pun sebaliknya.
Wildan terlihat gelisah kembali mengingat Lora yang tak kunjung pulang. sudah hampir setengah jam Wildan menunggu kekasihnya tersebut
*****
Lora dan Raymond baru saja sampai didepan halaman rumah Lora. Lora dan Raymond turun dari mobil.
Lora sejenak memperhatikan mobil yang sedang terparkir tepat disamping mobil Raymond. Ia tau siapa pemilik mobil itu.
"apalagi ini. Ck!" Lora berdecak tidak senang.
Raymond berjalan mendekati Lora. Ia mengernyit melihat mobil yang ada dihadapannya. "Ra, bukankah ini mobil milik Wildan?" Raymond melihat raut wajah Lora yang tampak malas. Lora hanya mengangguk.
seketika Raymond memeluk bahu Lora. "ayo aku antarkan masuk kedalam." Ajak Raymond.
Lora menggelengkan kepalanya. "Tidak usah! lebih baik kamu pulang dan beristirahat, terimakasih sudah mengantarkan ku pulang." Lora menepiskan senyuman kepada Raymond.
"Tidak apa Ra, ayo aku antarkan." Ajaknya kembali.
Lora terdiam. ia menghela nafasnya panjang. "Ray..."
"Aku tidak mau kamu bertengkar lagi dengannya, aku sungguh pusing melihatnya!" Lora menahan kekesalannya saat mengingat Wildan dan Raymond saling baku hantam.
"Dia yang memulai Ra!"
"Aku tau! maka dari itu kamu tidak usah mengantarkanku ke dalam, kau mengerti!"
"aku hanya tidak ingin dia menya-- ,"
Belum sempat Raymond melanjutkan Ucapannya dengan cepat Lora membungkam mulut Raymond. "Jangan banyak bicara! lebih baik kamu pulang, dan jangan lupa obati lukamu!" perintah Lora.
Raymond pun mengumpat dalam hatinya. "Baiklah baiklah!" ucap Raymond, ia pun segera masuk kedalam Mobil dan mulai melajukan mobilnya menjauh dari halaman rumah Lora.
Lora yang melihat mobil Raymond melaju semakin menjauh, Dengan malas ia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. pintu rumah sengaja tidak ditutup Oleh Nadia.
Lora melihat kedua sahabatnya itu sedang bersenda gurau bersama Wildan dan juga Jho bahkan suara tertawa mereka sangat keras. "Syukurlah Wildan tidak mendengar kedatanganku dengan Raymond tadi, Kalau seandainya dia tau, pasti mereka berdua akan bertarung lagi. membuat ku pusing saja!" Gumam Lora dalam hati.
__ADS_1
Nadia yang melihat kedatangan Lora, segera menyapanya. "Lora, kamu sudah pulang?" tanya Nadia beranjak menghampiri Lora.
Seketika Yasmine, Wildan, dan Jho berhenti tertawa pandangan mereka melihat ke arah Lora.
Wildan dan Lora saling beradu pandang. Lora kembali menahan kesalnya saat saling tatap dengan Wildan.
"Ra, ini kenapa kok pelipis kamu membiru?" tanya Nadia dengan paniknya. seketika Lora memalingkan wajah nya dari Wildan.
Jho memperhatikan Lora dan juga Nadia.
"Ehm ini... tadi saat melatih juniorku tidak sengaja memukulku." Lora menepiskan senyuman kepada Nadia. Yasmine pun ikut menghapiri Lora. ucapan Lora membuat Wildan merasa sangat bersalah, gara-gara ia tidak bisa menahan emosinya kekasihnya itu terluka karnanya
Yasmine mendesis melihat luka yang ada pada wajah Lora. "Itu pasti sangat sakit sekali." Ucap Yasmine.
"Tidak apa, aku sudah terbiasa dengan ini." Ucap Lora dengan santai. tatapan Wildan tak lepas dari Lora.
Tatapan Nadia pun mengalih ke Wildan dan juga Jho, ia memperhatiakan beberapa luka yang ada di wajah Wildan. Nadia menatap tajam kedua laki-laki itu. sepertinya Nadia tau apa yang telah terjadi.
"Duduklah biar aku obati." perintah Nadia.
"Tidak usah Nad, aku lelah ingin segera beristirahat."
"tapi lukamu ini harus di obati."
"Sudah di obati sama Raymond!" Lora melirik ke arah Wildan, kebohongan itu terlontar begitu saja dari mulut Lora. Wildan yang mendengar ucapan dari kekasihnya itu, menajamkan kedua matanya ke arah Lora.
"Oh begitu, Tapi disini ada Wil-- ,"
belu sempat Nadia meneruskan kata-katanya Lora pun bergegas pergi dari sana melangkahkan kakinya menuju ke kamar miliknya.
Wildan hanya menatap kesal Lora. "sebegitu marahnya dia, sampai tidak mau menemuiku!" Wildan menggerutu didalam hati.
Jho mengernyit bingung akan ucapan kekasihnya tersebut. "Apa?"
Nadia mencubit perut Jho, membuat kekasihnya meringis kesakitan. "Jangan berpura-pura tidak tau! cepat katakan!"
Wildan yang semakin gelisah memikirkan Lora, ia beranjak dari duduknya. "Kamar Lora disebelah mana?" tanyanya kepada Yasmine.
Yasmine menunjuk."tepat sesudah Lorong."
Tanpa basa-basi ia segera melangkahkan kakinya menuju ke kamar Lora.
*****
Lora sedang membersihkan diri didalam kamar mandi, tak lama kemudia ia keluar.
Ia kaget dengan keberadaan Wildan yang tengah duduk dipinggir ranjang memperhatikan langkahnya.
Untung saja Lora sudah menggati pakaiannya dengan piyama saat berada dalam kamar mandi.
sangat tidak lucu jika keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk. apalagi ada sepasang mata yang sedang memperhatiakan nya.
Lora berusaha bersikap santai, ia tidak menegur Wildan sama sekali. Lora berjalan menuju ke meja rias. Ia menyisir rambutnya yang terlihat basah, memoleskan sedikit lipbalm ke bibir nya.
Wildan yang memperhatikan Lora, tidak tahan dengan diamnya Lora. ia pun menghampiri Lora. Wildan duduk diatas meja rias milik Lora. Lora duduk diatas kursi rias.
"Jangan mendiamkanku."
"Sayang!"
__ADS_1
"Lora, aku minta maaf." nada suaranya terdengar lirih.
Kekasihnya itu tak bergeming sama sekali. Lora menutup rapat-rapat mulutnya.
Wildan berjongkok dihadapan Lora, ia menggenggam erat kedua tangan Lora. "Sayang jangan mendiamkanku, aku tidak sanggup jika sikapmu seperti ini kepadaku."
"Maaf jika aku selalu saja membuatmu marah."
"aku hanya tidak mau kamu terlalu dekat dengan laki-laki itu."
"aku sangat mencintaimu!" semua yang ia rasakan dalam hatinya ia lontarkan dihadapan Lora.
Lora menatap manik Wildan. "bukankah sudah kukatakan Raymond hanyalah rekan kerjaku dan teman baikku saja."
"aku hanya manusia biasa, wajar jika aku cemburu melihatmu dekat dengan laki-laki lain."
"Tapi kamu terlalu berlebihan."
"Maaf." Raut wajah Wildan tampak sendu, ia akan berusaha untuk mendapatkan maaf dari kekasihnya itu.
"berdirilah." perintah Lora yang mana langsung membuat Wildan berdiri.
Posisi Lora dan Wildan saling berhadapan. Wildan sedikit menunduduk agar bisa melihat wajah Lora dengan leluasa.
"Aku mencintaimu." Ucap Wildan raut wajahnya terlihat sangat tulus mengucapkan hal itu. Ia melingkarkan kedua tangannya diperut Lora. Lora menepiskan senyumnya.
"aku akan memaafkanmu, tapi..."
"tapi apa?" Wildan semakin merapatkan tubuh Lora dengan tubuhnya.
"tapi kamu harus berjanji tidak akan berbuat seperti itu lagi kepada Raymond."
Wildan memutar bola matanya malas mendengar permintaan dari Lora.
"Tidak mau? yasudah jangan harap mendapatkan maaf dariku." Lora mencoba melepaskan dekapan tubuhnya dari Wildan, Namun Wildan semakin merapatkannya.
"iya iya sayang."
"berjaji dulu."
"iya aku janji."
Seketika Lora tersenyum mendengar ucapan dari Wildan, Bahkan Lora dengan tidak sadar merangkup pipi Wildan. Wildan yang gemas akan tingkah Lora seketika mencium pipi Lora.
"Wildan..." Lora mengerucutkan bibirnya. Wildan hanya terkekeh melihat Lora.
Mereka berdua kini sudah berbaikan, Wildan berjanji pada dirinya sendiri tidak akan melakukan kesalahan lagi. Ia sangat bersyukur Lora mau memafkannya.
.
.
.
.
.
🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻
__ADS_1