
Wildan yang merasa sangat bosan berada didalam apartement Jho, Ia terus saja kepikiran akan Lora. "aku harus menyelesaikan masalah ini, sungguh tersiksa sekali aku dengan sikap Lora yang seperti ini kepada Ku." gumamnya dalam hati.
Wildan hanya berbaring diatas ranjang milik Jho, Ia sangat tidak berantusias untuk beraktifitas apapun.
Wildan bangun beranjak berdiri, membuat perhatian Jho yang sedang asyik berbalas pesan dengan kekasihnya Nadia, teralih ke arah Wildan. Jho masih melihat raut wajah sahabatnya itu masih gelisah. "kamu mau apa?"
"aku tidak bisa berdiam seperti ini Jho, aku harus menyelesaikan ini semua dengan Lora! aku harus menemui Lora." Ucap Wildan ia merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya harus segera dituntaskan.
"Tidak!" Ujar Jho.
"Kenapa kamu jadi mengaturku seperti ini hah?!" Wildan merasa kesal terhadap Jho.
"Aku tidak mengaturmu! aku hanya mengingatkan mu, jika kamu menyelesaikan masalah dengan emosi semua tidak akan terselesaikan." Ucap Jho mencoba memperingatkan Wildan akan hal itu.
"memangnnya siapa yang mau menyelesaikan dengan emosi?"
"lalu?" tanya Jho.
"aku akan mencoba meminta maaf lagi kepada Lora." Jawab Wildan, kini ia merasa harus lebih mengalah demi hubungannya dengan Lora kembali baik-baik saja.
"Syukurlah kalau kau punya pikiran seperti itu." Jho lega mendengar ucapan Wildan.
"makanya jangan asal menuduh! yasudah aku mau menemui Lora dulu." Pamitnya kepada Jho. Ia segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari apartement tersebut.
"Tunggu Wil.."
"Astaga! apa lagi?" Wildan memutar bola nya malas.
__ADS_1
"memangnya kamu tau tempat Lora bekerja?" tanya Jho, Wildan tadi sempat memberitahu Jho bahwa Lora sekarang sudah mulai bekerja, tetapi Wildan tidak tau dimana tempat kekasihnya itu bekerja.
"Tidak!" Wildan menggelengkan kepalanya.
"tidak masalah, aku akan cari Lora kemana pun. ke ujung dunia pun akan aku cari!" Ucap Wildan dengan penuh keyakinan.
"Kalau begitu biarkan aku ikut denganmu, membantumu mencari Lora." Ujar Jho.
"Terserah!"
Wildan dan Jho pun bergegas keluar dari apartement untuk mencari Lora. mereka berdua berjalan menuju pakiran dimana mobil Wildan sedang terparkir disana. setelah itu mereka berdua masuk kedalam mobil milik Wildan. Wildan melajukan Mobilnya dengan kecepatan sedang menembus jalanan ibukota.
*****
Di dalam Mobil Raymond tidak hentinya mencuri pandang ke arah Lora, beruntung Lora tidak mengetahuinya, pasalnya Lora sedang melihat ke arah jendela mobil dengan tatapan kosong.
Setelah dirasa sudah sampai ditempat yang telah Lora beritahukan segera Raymond memarkirkan mobil miliknya. Raymond turun terlebih dahulu ia segera membukakan pintu mobil untuk Lora, Lora hanya tersenyum akan tingkah laki-laki yang sudah ia anggap sebagai teman baiknya tersebut.
Raymond sejenak memperhatikan setiap titik dari caffe tersebut, seketika menyunggingkan senyumnya Ia bangga dengan Lora yang selalu saja mengerti selera nya. "Suka banget Ra."
Lora memperhatikan sekitar, yang mana semua tempat duduk sudah terisi penuh oleh pengunjung di lantai bawah. "Kita ke lantai dua aja Ray, sepertinya di lantai bawah tidak Ada tempat duduk yang kosong."
"Terserah kamu saja Ra."
Mereka berdua segera menaiki tangga menuju ke lantai dua.
"Disini lebih nyaman Ra, sejuk banget!" Raymond merasakan angin yang sangat sejuk saat berada ditempat tersebut.
__ADS_1
Lora segera mengajak Raymond untuk duduk di tempat duduk yang terlihat kosong.
Lora memanggil pelayan untuk memberitahukan pesananya.
"Sayang sekali mereka tidak bisa ikut." Ucap Lora yang mana membuat Raymond hanya tersenyum mendengar ucapan dari Lora.
"memangnya mereka ada urusan apa sih Ray? bukannya senior tidak sedang memberikan mereka tugas lain selain melatih?" tanya Lora kepada Raymond.
Seketika Raymond terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Rasanya tidak mungkin kalau ia harus mengatakan yang sebenarnya, mereka dengan sengaja tidak ikut karna memang untuk memberikan ia dan Lora waktu bersama-sama hanya berdua.
"Ehm, aku juga tidak tahu Ra."
Lora mengernyit bingung dengan jawaban Raymond yang terbata-bata.
seketika itu pelayan pun datang mengantarkan pesanan mereka, membuat Lora yang ingin bertanya lagi kepada Raymond pun mengurungkan niatnya.
Raymond menghela nafasnya lega, pelayan itu menyelamatkannya dari pertanyaan pertanyaan Lora yang membuat nya tidak bisa untuk dijawab.
Lora dan Raymond pun segera memakan pesanan yang telah mereka pesan tadi. sesekali mereka bersenda gurau, Raymond sangat bersikap manis terhadap Lora. saat disudut bibir Lora menyisahkan sedikit noda makanan, dengan segera Raymond mengelapnya dengan tissue, bagi mereka berdua itu bukan hal yang aneh, mereka berdua sudah terbiasa akan hal itu, bagi Lora sebagai teman baik memang seharusnya bersikap perhatian satu sama lain. tetapi berbeda dengan Raymond entah mengapa setiap melakukan hal yang sangat manis kepada Lora, entah mengapa detak jantungnya berdetak dengan kecang, mungkin karna memang dia sedang menaruh hati terhadap Lora secara diam-diam. Raymond berusaha untuk bersikap selayaknya, dia tidak ingin Lora mengetahui sikap anehnya jika sedang bersama dengannya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻