
Saat lift yang sedang dinaiki oleh Wildan telah sampai di lantai 30 Wildan pun segera keluar dari lift, Wildan segera berjalan menutu ke kamar apartement milik Jho. Saat Wildan sampai di depan pintu kamar apartement Jho ia pun mengetuk pintu itu dengan sedikit keras agar Jho dapat mendengar jelas dan segera membukakan pintu.
Wildan menatap kosong ke sembarang arah, pikirannya akan Lora terasa terngiang-ngiang dalam kepalanya. Bahkan Wildan tidak menyadari Jho telah berdiri tepat dihadapannya. Jho menepuk bahu Wildan, Wildan pun tersadar akan itu.
"Kamu nggak kerja Wil?" tanya Jho.
"kamu sendiri?" Wildan balik bertanya kepada Jho.
Jho dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Aku sedang tidak enak badan, Masuklah!"
Wildan mengangguk, Wildan pun masuk ke dalam berjalan menuju dimana ada sofa terpampang disana, Wildan memghempaskan tubuhnya dengan kasar seketika itu maniknya langsung terpejam.
Jho yang melihat tingkah Sahabatnya itu dengan raut wajah yang penuh dengan pertanyaan, Jho menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ada apa dengang Wildan?! nggak biasanya dia seperti ini." Gumam Jho dalam hati sembari berjalan menghampiri Wildan, Jho pun mendudukan tubuhnya tepat disamping Wildan.
"Sebenarnya ada apa Wil? Nggak biasanya kamu bolos bekerja." tanya Jho rasa penasarannya akan Wildan semakin menjadi-jadi. Wildan bukan orang yang suka dengan seenaknya membolos bekerja, apalagi dia Boss, Bahkan sebaliknya. bagi Wildan pekerjaannya itu nomor satu dalam hidupnya. pantas saja Wildan yang masih berusia terbilang mudah yaitu 23 tahun, Ia sudah meraih kesuksesannya sendiri tanpa bantuan orang lain. bahkan orangtuanya sekalipun.
Wildan yang mendapat pertanyaan dari Jho, Ia segera membuka matanya. menatap kosong ke sembarang arah. "Mood ku sedang kacau hari ini." Jawab Wildan.
"Kenapa bisa?" tanya Jho.
"Buktinya ini bisa! aku sedang tidak ingin bekerja! pikiranku sedang kacau."
"kacau bagaimana?"
"Ya kacau!" Ujar Wildan.
"Kacau seperti apa yang kamu maksud?" Jho terus saja melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada Wildan, membuat Wildan semakin kesal. ia memijat pangkal hidungnya.
__ADS_1
"Wil..." panggil Jho sembari menepuk bahu Wildan.
Jho semakin penasaran dengan Wildan, Jho pun seketika mengingat. kalau Wildan sudah bersikap seperti ini, pasti Wildan ada masalah, raut wajah Wildan terlihat jelas sangat gelisah. Wildan pun akhirnya membenarkan hal itu.
"Kamu ada masalah Wil?" Tanya Jho.
Wildan menganggukan kepalanya dengan pelan. Untuk saat ini Wildan berfikir ia benar-benar butuh teman untuk berbagi masalahnya. Bagi Wildan Jhoshua lah orang tepat saat ini. Jho dan Wildan berteman semenjak mereka kecil, Semua tentang Wildan Jhoshua mengetahuinya dan begitu pun sebaliknya.
"Ceritalah!" Jho memegang bahu Wildan.
Wildan menghela nafasnya panjang. Ia menatap ke arah manik Jho. "Apakah mencintai seseorang tanpa mendapatkan balasan rasa cintanya itu sangat menyakitkan?" Tanya Wildan kepada Jho. Nada suaranya terdengar Lirih.
"Apalagi saat melihat dia bisa bersikap manis terhadap laki-laki lain, tapi tidak dengan kita!" lanjutnya, kini Ia menatap kosong ke sembarang arah.
Jho yang sedang mendengarkan dengan seksama ucapan dari sahabatnya itu, Ia menatap ke arah Wildan. "Wil, setiap orang itu berbeda-beda! mereka punya cara masing-masing untuk mencintai. Kenapa kamu bisa berkata seperti itu? emangnya dia pernah bilang ke kamu kalau dia tidak mencintai kamu?"
"Lora memang tidak pernah mengatakan kalau dia tidak mencintaiku. tapi hatiku mengatakan tidak! Lora tidak mencintaiku!"
"Iya Lora, bahkan sejak kemarin malam kita sudah meresmikan hubungan kita berdua."
"Ceritakan semua, apa yang telah terjadi." Perintah Jho.
Wildan pun menceritakan semuanya kepada Jho, Wildan menceritakan semua dengan apa adanya. perasaan kesal dan menyesal telah membaur menjadi satu di dalam hatinya. Wildan memang sudah benar-benar menjatuhkan hatinya dengan sejatuh-jatuhnya kepada Lora.
*****
Setelah beberapa menit Taxi yang Lora tumpangi pun telah sampai di tempat Tujuan. Tempat itu tak lain ialah tempat dimana Ia akan melatih Boxing anak didiknya.
__ADS_1
Lora turun dari taxi, Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari tasnya dan segera ia berikan kepada sopir taxi tersebut.
Lora bejalan masuk kedalam tempat Boxing tersebut. Disana diliatnya Edgar sedang memberikan pengarahan sebelum berlatih yang di dampingi oleh Raymond, Mira, Dastan dan Romi. semua yang ada didalam tempat menoleh ke arah Lora, tanpa terkecuali, Edgar menghentikan pembicaraannya. Raymond yang menyadari hal itu segera ia menyuruh Edgar untuk melanjutkan aktivitasnya. Lora mendengus kesal. "Semua gara-gara Wildan! aku telat datang! aku jadi tidak enak dengan Raymond dan yang lainnya." Gumam Lora dalam hati.
Raymond beranjak dari duduknya, Ia berjalan ke arah Lora.
Lora yang kala itu tidak henti-hentinya menggerutu kesal. Ia benar-benar tidak enak hati, bagaimana tidak baru hari pertama ia sudah terlambat datang.
"Hai Ra." sapa Raymond sembari tersenyum manis kepada Lora.
"Hai Ray, Sorry aku telat." Lora mengatupkan kedua telapak tangannya.
"Nggak papa Ra, santai. Ayo biar aku perkenalkan kamu kepada semuanya." Ajak Raymond Ia mengajak Lora bergabung.
Edgar menyelesaikan pembicaraannya kepada para junior. Setelahnya Raymond memperkenalkan Lora dihadapan semuanya. "Perkenalkan Ini adalah Coach Alana Lora Zeline, kalian semua bisa memanggilnya Coach Lora. Coach Lora ini adalah Coach terbaik pertama. Saya harap kita semua bisa menyatu dengan baik di dalam tempat ini."
Setelahnya mereka melanjutkan aktivitasnya dengan mulai berlatih Boxing. Para junior berhak memilih Coach yang mereka inginkan.
Lora dan para Coach lainnya dengan semangat melatih para juniornya, Mereka melatih dengan bersungguh-sungguh.
.
.
.
.
__ADS_1
.
🙏🙏🙏🙏🙏