Amazing Girl

Amazing Girl
Episode 9 Tentang Perasaan Wildan


__ADS_3

Lora dan Wildan asyik dengan dunianya sendiri tidak memperdulikan teman-temannya yang sedang bercumbu dengan pasangan masing-masing. Lora dan Wildan asyik mengobrol. Bagi Wildan ini sangatlah menyenangkan apalagi dia bisa menatap lama gadis yang sedang dia Sukainya.


"Wowww ternyata Nona manis ini memang sangat hebat." Wildan memuji Lora yang sedang bercerita tentang dirinya sendiri. Betapa kagum nya Wildan kepada Lora. Perempuan cantik yang dengan mudah membuatnya jatuh hati hanya dengan satu kali pertemuan, ternyata memikili sejuta segudang bakat.


"Dari hobby jadi bisa nguntungin uang." sahut Lora sembari terkekeh.


"hmm jadi kerjaan kamu hanya sebagai Boxing Trainer aja atau ada yang lain, waktu masih diBali?" tanya Wildan seolah keingintahuannya tetang Lora semakin tinggi. ingin mengorek lebih jelas lagi kehidupan Lora.


"Ada lagi sih Wil, selain Boxing Trainer aku juga kerja Dance Choreography." Ucap Lora berkata sejujurnya tentang pekerjaannya. "Rencana kedepan Untuk Boxing Trainer sendiri, Ketua aku yang di Bali nyuruh aku buka pendaftaran baru untuk di Jakarta ini. dan sementara kalo untuk Dance nya mungkin aku akan cari sendiri murid-murid baru."


"Rencana yang bagus Nona, Kini saya semakin kagum dengan anda." Ucap Wildan terus saja memuji Lora sembari menunjukkan senyum termanisnya pada Lora.


"Ahh Bisa aja kamu Wil." Lora yang malu dengan pujian Wildan pun menampakkan pipi merahnya. "Kamu juga hebat Wil, di usia kamu yang terbilang masih sangat muda, kamu udah pandai berbisnis dan punya perusahaan sendiri. Orang tua kamu pasti sangat bangga sama kamu." Ucap Lora berganti dirinya sekarang yang mulai memuji kagum kepada Wildan.


Wildan yang mendengar ucapan Lora hanya tersenyum dan matanya tidak berhenti memperhatikan raut wajah bahagianya akan pujian dirinya dari Lora.


Banyak sekali yang mereka bicarakan, sampai keduanya tersadar dengan ucapan Nadia yang mengajaknya untuk pulang karna jam sudah menunjukkan pukul 03.30 pagi.


"Ra, ayo pulang." Ajak Nadia dengan mata terpejam menahan pusing akibat mabuk.


belum sempat Lora menjawab, tiba-tiba saja Wildan menutuskan untuk mengajak Lora pulang bersama.


"Nad, biar Lora pulangnya sama aku aja. Jho kamu supirin mereka ya? liat tuh mereka udah mabuk parah." Ucap Wildan yang melihat ke arah Nadia, Yasmine, Feyna, dan Ayumi yang sudah tak berdaya.

__ADS_1


"Wil, biar aku aja yang supirin mereka. Aku pulang bareng mereka aja." Ucap Lora menolak ajakan Wildan, pasalnya dia hanya tidak nyaman kalau harus pulang dengan orang yang baru saja Ia kenal, meskipun terbilang mereka sudah akrab layaknya sudah lama saling mengenal tapi Lora tetap saja tidak nyaman.


"Nggak papa Ra, kamu pulang sama aku biar temen-temen kamu Jho yang supirin." Tanpa basa-basi Wildan pun menarik tangan Lora dan segera membawa Lora keluar dari dalam Club untuk pulang. Wildan tidak mau Lora menolaknya lagi.


Lora pun akhirnya dengan pasrah menuruti Wildan yang mengajaknya pulang bersama.


*****


Wildan dan Lora sudah berada didalam mobil Wildan. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah sunyinya jalan Ibu Kota. Di dalam mobil Lora memilih untuk diam dan melihat ke arah jendela mobil. Sedang Wildan fikirannya tidak karuan, pasalnya dia ingin sekali mengungkapkan isi hatinya kepada Lora tapi di satu sisi Wildan takut kalau Lora tidak merespon dengan baik malah Lora secara tiba-tiba akan menjauhinya karna mengingat bagaimanapun juga mereka baru saja bertemu dan baru saja mengenal. akhrinya Wildan pun akan tetap pada pendiriannya, dia harus yakin akan rencananya tersebut. Ditengah perjalanan Wildan memberhentikan mobilnya secara tiba-tiba


Lora yang kaget dengan mobil Wildan yang tiba-tiba berhenti membuatnya bingung. Melihat sekitar yang tampak sepi dan tak ada makhluk hidup 1 pun. Kini pikiran Lora tertuju pada Wildan, "Jangan-jangan dia mau berbuat macam-macam denganku." Lora menggerutu di dalam hati dengan kesal. pikirannya kini menjuru ke hal yang negatif terhadap Wildan. "Awas saja kalau dia berani macam-macam, akan aku patahkan tulang-tulangnya." masih bergumam di dalam hati dengan raut wajah sedikit kesal.


Akhirnya Lora menunjukan sikap tenang dan biasa. "Ada apa Wil, kok tiba-tiba berhenti? Mogok?" Tanya Lora tanpa basi-basi. Sebenernya pun Lora tau tidak mungkin mobil Wildan mogok, Wildan memang sengaja memberhentikan mobilnya secara tiba-tiba.


Wildan menatap ke arah Lora, mengusap wajahnya kasar sembari menghela nafas panjang. Pikirnya siap tidak siap Ia harus tetap mengungkapkan isi hatinya kepad0a Lora, Ia tidak peduli dengan jawaban apa yang akan Lora berikan kepadanya. yang terpenting perasaan yang mengganjal di hatinya harus segera di tuntaskan.


"Aku cinta sama kamu waktu pertama kali aku ngeliat kamu Ra." Lanjut Wildan dengan sedikit memperlambat setiap ucapannya.


Lora terdiam masih dengan tatapan yang sama terhadap Wildan, tatapan yang menampakkan kebingungan dari raut wajahnya. seolah tidak percaya jika memang Wildan benar-benar mengatakan yang sesungguhnya. "Apa dia sudah gila!" Gumam Lora dalam hati.


"Ra, aku serius!" Lanjut Wildan dengan raut wajah yang menampakkan keseriusan. Memalingkan wajahnya, menatap lurus ke arah sepinya jalanan dari dalam mobilnya. "Aku juga nggak tau kenapa tiba-tiba aku punya perasaan kayak gini ke kamu, Yang aku tau Aku jatuh cinta sama kamu waktu pertama kali lihat kamu."


"Wil--."

__ADS_1


"Ya, ini mungkin terlalu cepat untuk kamu. Tapi memang itu yang aku rasain Ra. Apa aku salah?"


"Kamu nggak salah Wil."


"Ra, apa kamu mau menjadi kekasihku?" Dengan yakin Wildan pun akhirnya mengatakannya sembari tangannya memegang tangan Lora.


"Wil, maaf sebelumnya mungkin buat aku ini terlalu cepat, kita baru kenal beberapa jam yang lalu. Aku nggak bisa ngambil keputusan sekarang, kasih aku waktu buat jawab. aku harap kamu mau mengerti." Lora yang tidak ingin menyakiti hati Wildan, berbicara apa adanya.


Wildan membuang nafas kasar, seakan tidak puas akan jawaban Lora. Tapi tak apa setidaknya Lora masih menghargai perasaannya. Daripada langsung di tolak mentah-mentah akan merasa membuat harga dirinya terjatuh sebagai laki-laki. Pasalnya selama ini Wildan tidak pernah ditolak wanita, malah sebaliknya para wanita dengan antusias berlomba-lomba agar bisa menarik simpati Wilda. Secara Wildan memang tampan, memiliki tubuh atletis, dan yang pasti dia kaya raya. Wanita mana yang tidak mau dengannya.


"Aku akan tunggu jawaban kamu Ra, akan aku buktikan kalau aku memang benar-benar mencintaimu!" Ucap Wildan, kini kata-katanya terdengar tulus di telinga Lora. Lora tidak mampu menjawab perkataan Wildan, dia lebih memilih diam dan hanya bisa menatap Wildan dengan tatapan yang datar.


.


.


.


.


.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Komenโคโคโค


Terimakasih๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2