
Lora tidak menyahuti panggilan Wildan, Lora diam rasanya ia masih begitu kesal dengan Wildan mengingat perdebatan antara mereka.
Lora berjalan dengan cepat tidak menghiraukan Wildan sama sekali, bahkan berulang kali Wildan memanggil-manggil nama Lora, tetap saja Lora tidak memperdulikan itu.
Wildan setengah berlari mengikuti langkah Lora yang begitu cepat. "Sepertinya dia benar-benar marah." Wildan bergumam dalam hati sembari terus mempercepat jalannya. Saat dirasa langkahnya semakin mendekat ke Lora, Wildan dengan cepat menarik tangan Lora, tubuh Lora sedikit terhentak kebelakang. Lora menahan rasa kesalnya. rasanya ingin sekali Ia mendorong Wildan ke jalanan. "Sial." Lora mengumpat dengan kesal.
"Apa lagi sih!" Lora mencoba melepaskan cengkraman tangan Wildan yang semakin kuat, namun itu tidak berhasil. tangan Wildan malah semakin kuat mencengkram, membuat Lora mendesis kesakitan.
"Kamu kenapa?" Tanya Wildan sembari menautkan kedua alisnya.
"Lepasin! sakit!" Ucap Lora, Wildan pun dengan segera melepaskan cengkraman tangannya.
"Kamu kenapa Ra? kok sepertinya kamu menghindar dari aku?!" tanya Wildan.
Namun Lora tidak menjawab pertanyaan Wildan, rasa kesal Lora terhadap Wildan masih belum mereda.
Wildan yang menyadari Lora tidak mau menjawab pertanyaannya, ia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Wildan pun menyadari bahwa Lora benar-benar marah dengannya. Seketika itu Wildan langsung menggenggam kedua tangan Lora, "Sayang, kamu marah sama aku?" Tanya Wildan, namun nada suaranya terdengar Lirih.
"Udah tau masih nanya!" Gumam Lora dalam hati.
Lora masih enggan untuk menjawab pertanyaan Wildan. manik Lora hanya melirik tajam ke arah Wildan.
Wildan yang masih tidak mendapatkan jawaban dari bibir Lora, akhirnya angkat bicara. "Iya, memang aku yang salah udah nuduh kamu. Aku minta sayang."
Lora masih bungkam, Ia tidak berminat sama sekali menjawab pertanyaan Wildan.
__ADS_1
"Aku minta maaf sayang, tolong maafin aku."
"Raa..."
"Lora.. please maafin aku, aku janji nggak akan nuduh kamu yang macem-macem lagi! maafin aku." Wildan semakin erat menggenggam tangan Lora, bahkan Ia berkali-kali mencium punggung telapak tangan Lora.
Namun semua itu tidak membuat Lora luluh, Lora masih enggan untuk berbicara. "membuang-buang waktu saja." hanya itu yang lora ucapkan dalam hati.
Wildan semakin frustasi, Ia melepaskan genggaman tangannya. Ia memijat pangkal hidungnya. "Astaga! bahkan dia sama sekali tidak berminat menjawab semua ucapanku." Gumam Wildan dalam hati.
Wildan pun kembali menggenggam tangan kekasihnya itu. Lora tidak menolaknya, Ia hanya menuruti saja apa yang dilakukan oleh Wildan.
"Sayang.." panggil Wildan.
"Kamu boleh tampar aku! kamu boleh pukul aku! terserah kamu mau apain aku terserah, tapi aku mohon jangan diemin aku kayak gini." Wildan berusaha menahan emosianya.
"Udahlah nggak ada yang perlu dibahas lagi! aku mau berangkat kerja!" Lora segera berjalan meninggalkan Wildan, namun Wildan menarik tangan Lora kembali. "Apa lagi sih Wil?!"
"Aku anterin ya sayang."
"Nggak perlu! aku naik taxi." Ucap Lora sembari menajamkan tatapannya kepada Wildan
"Tapi Ra--."
"Kalau kamu nggak mau aku lebih marah lagi sama kamu, nggak usah maksa!" Lora melanjutkan berjalan meninggalkan Wildan, saat Wildan ingin melangkahkan kakinya mengikuti Lora, Lora segera membalikkan badannya. "Nggak usah ngikutin!" Ucap Lora dengan kasar sembari menunjuk ke arah Wildan.
__ADS_1
Wildan pun memutuskan untuk tidak mengikuti Lora lagi. Dilihatnya Lora yang dengan cepat masuk ke dalam taxi yang telah Ia berhentikan. Wildan mengacak-ngacak rambutnya dengan kasar. "Sial! Kenapa dia sulit sekali untuk memaafkanku. Arghhh!
Wildan kembali ke mobilnya yang telah ia parkirkan di depan halaman rumah Lora. Ia segera masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia masih pusing dengan adanya masalah ini, Rasanya hari ini Wildan enggan untuk bekerja. Daripada tidak bisa berkonsentrasi terhadap pekerjaannya Ia pun langsung mengarahkan laju mobilnya menuju ke Apartement Jhoshua. Ia mengambil ponsel miliknya yang berada di jok samping, dengan segera Ia melakukan panggilan terhadap nomor telepon yang bertuliskan nama Jhoshua.
Ia ingin memastikan apakah Jhoshua sedang berada di Apartement miliknya atau sedang berada di kantornya.
"Hallo."
'Ada apa?'
"Kamu dimana? aku sedang menuju ke Apartement mu."
'Kemarilah, aku sedang tidak bekerja hari ini.'
"oke."
Wildan pun segera mempercepat laju mobilnya. beberapa menit kemudian Ia telah sampai di depan apartement. Wildan memarkirkan mobilnya. setelahnya ia turun dari mobil, berjalan masuk kedalam Apartement. Ia pun masuk kedalam lift untuk menuju ke lantai 30. Di dalam lift pikiran Wildan masih teringat akan Lora. Ia tidak menyangka Lora akan semarah itu kepadanya. "pikiranku sungguh kacau hari ini!" Wildan mengumpat dalam hati.
.
.
.
.
__ADS_1
.
🙏🙏🙏🙏🙏