Amazing Girl

Amazing Girl
AG Episode 29


__ADS_3

Didalam mobil Raymond dan Lora saling berdiam diri, tak sekali Raymond melirik ke arah wanita yang disukainya tersebut. Lora yang saat ini pandangannya mengarah ke jendela mobil dengan tatapan yang Kosong.


Dalam pikiran Lora banyak sekali pertanyaan akan Wildan. ia tidak habis fikir dengan tingkah Wildan yang selalu tidak bisa bersikap baik saat bertemu dengan Raymond. "Wildan terlalu berlebihan, bukankah aku sudah menjelaskan kepadanya bahwa Raymond hanyalah rekan kerja sekaligus teman baikku saja, aku sangat tidak menyukai laki-laki yang terlalu overprotektif!"


"Sungguh menyebalkan!" gumam Lora dalam hati.


Raymond yang sedari tadi ingin sekali mempertanyakan soal Wildan kepada Lora, tidak bisa menahan diri, Raymond pun akhirnya angkat bicara. "Raa.." panggil Raymond sembari menggoyangkan bahu Lora


seketika itu Lora tersadar dari lamunannya. "hemm." menoleh ke arah Raymond.


"Wildan sungguh kekasihmu?" Ucap Raymond tanpa basa-basi, seperti yang ia fikirkan sebelumnya, ia tidak akan percaya bahwa Wildan benar-benar kekasih Lora kalau bukan Lora sendiri yang mengatakannya.


"Iya." Ucap Lora dengan cepat.


"kamu tidak pernah menceritakan hal itu." ujar Raymond sembari pandangannya mengarah kedepan fokus dengan kemudinya, ia berusaha bersikap biasa. padahal dalam hati ia merasa sakit kenapa untuk hal ini Lora tidak menceritakan kepadanya.


"bukankah seharusnya kamu sudah paham?!"


"ahh iya, iya aku sudah paham! aku hanya memastikan saja." Ucap Raymond dengan raut wajah yang kecewa akan jawaban Lora.


"oh..." Lora membulatkan bibirnya.


"berarti kau sudah melupakan Cinta pertama mu itu?" Ucap Raymond sembari terkekeh.


"Tidak juga!" Lora menatap arah depan dengan tatapan kosong, seketika itu pikirannya beralih kepada Bara, Cinta pertamanya itu sungguh sulit untuk ia lupakan. Laki-laki yang pernah membuatnya bahagia, yang sangat mencintainya dengan tulus. "bagaimana kabar mu sekarang Bara." gumamnya dalam hati. tidak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya Lora sangat merindukan laki-laki itu.


"lalu?" Raymond mengernyitkan dahinya. "ada yang tidak aku tau?"


"Aku masih ingat sekali, kamu dulu pernah bercerita kepadaku. bahwa kamu tidak akan menjalin hubungan dengan laki-laki manapun sebelum perasaanmu benar-benar hilang terhadap Bara?! apa itu sudah tidak berlaku lagi?" inilah salah satu alasan kenapa Raymond masih menyembunyikan perasaannya terhadap Lora.

__ADS_1


"Kamu sepertinya tidak menyukai Wildan." Raymond yakin akan hal itu.


"apa aku terlalu menunjukkannya?" tanya Lora dengan senyuman yang hambar.


"Aku melihatnya seperti itu!" Raymond memberhentikan mobilnya tepat dipinggir jalan, ia menatap ke arah Lora dengan raut wajah yang mengintimidasi ia tau ada yang Lora sembunyikan darinya. "Ceritalah."


Lora tau apa yang dipikirkan oleh Raymond pada akhirnya ia tidak akan bisa menyembunyikan apapun dari teman baiknya itu. "Ray kamu tau perasaanku terhadap Bara, bahkan sampai detik ini!"


"Apa yang membuat kamu melakukan ini semua?" Raymond semakin penasaran akan semua yang telah terjadi kepada Lora.


"Kamu orang yang paling aku percaya tentang semua yang pernah aku ceritakan kepadamu."


"Aku tau itu Raa!"


"Ray aku melakukan ini semua karna terpaksa!" Lora menghela nafasnya panjang. "Nadia menginginkan agar aku mau menerima Wildan sebagai kekasihku, untuk membalas sakit hatinya."


Raymond mengernyitkan dahinya, Ia masih tidak paham akan hal itu. "aku tidak mengerti."


"itu tidak adil Ra!" Ucap Raymond dengan suara yang menahan amarah.


"Ray.."


"Ra, bagaimana jika Nadia melakukan itu semua hanya sebagai alasan. Mungkin juga Dia memang sengaja melakukan hal itu." entah apa yang membuat Raymond mengucapkan itu, seolah-olah ia paham akan maksut dari Nadia.


"Ray, aku tau bagaimana Nadia, dia sahabatku! kita tumbuh bersama! tidak mungkin dia membohongiku!"


"Ra, ini sama saja kamu menjadi seorang penghianat!" Ucap Raymond ia semakin kesal dengan Lora.


"aku tau Ray! bahkan aku rela menyakiti siapa saja termasuk diriku sendiri, untuk sahabatku!"

__ADS_1


"Raa."


"Ray cukup! aku mohon kamu mengerti!" Ucap Lora sembari menggenggam tangan Raymond.


Raymond menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak bisa lagi menghadapi Lora yang sangat keras kepala. "Sungguh konyol! mengorbankan perasaan orang lain demi kepentingan diri sendiri."


"Sampai kapan Deng an keadaan seperti ini?" tanya Raymond raut wajahnya masih menahan kesal.


"Aku tidak tau." Lora menggelengkan kepalanya, melepaskan pegangan tanganya kepada Raymond.


Jawaban Lora membuat Raymond berdecak, memutar kedua bola matanya. "hentikan semuanya Ra."


"Tidak sekarang Ray, akan ada saatnya."


"Tapi kam-- ,"


"Please!" Lora mengatupkan kedua tangannya kepada Raymond, Lora tidak mau Raymond melanjutkan pembicaran itu. "Antarkan aku pulang sekarang Ray." perintah Lora yang langsung di angguki oleh Raymond.


"Baiklah."


.


.


.


.


.

__ADS_1


🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻


__ADS_2