ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO

ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO
Kesedihan Tasya


__ADS_3

.


.


.


.


.


Keesokkan harinya...


Tasya tidur dalam keadaan yang sangat lapar, pagi ini dia berencana akan turun ke bawah dan mencari pedagang bubur ayam untuk mengganjal perutnya yang sudah sangat keroncongan.


Pintu kamar Alvian masih tertutup, kemungkinan Alvian masih tidur. Tasya langsung turun ke lobi apartemen mewah itu dan mencari pedagang bubur ayam.


"Pak, saya pesan satu porsi bubur ayam."


"Baik Neng, mau dibungkus atau dimakan disini?" tanya penjual bubur.


"Disini saja Pak."


Tasya pun duduk di kursi plastik yang sudah disediakan oleh si penjual bubur.


"Ini Neng, buburnya."


"Oh iya, terima kasih Pak."


Tasya makan bubur dengan lahapnya, selain dari kemarin tidak makan, Tasya juga berencana mau pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan untuk dia masak.


"Akhirnya kenyang juga, ini Pak uangnya terima kasih Pak."


"Sama-sama Neng."


Tasya pun kembali ke apartemen karena dia ingin mengambil tas. Sesampainya di dalam apartemen, ternyata Alvian baru saja keluar dari kamarnya dan yang lebih mengejutkan Alvian keluar bersama Prili.


Alvian sudah rapi dengan jasnya, sedangkan Prili sudah memakai pakaian yang sangat **** dan kekurangan bahan kalau menurut Tasya.


"Darimana kamu? pagi-pagi sudah berkeliaran?" tanya Alvian dengan dinginnya.


"Jangan-jangan dia habis janjian dengan seorang pria, sayang," sahut Prili dengan manjanya.


Tasya tidak menghiraukan kedua manusia bejad itu, Tasya melintasi keduanya dan menuju kamarnya untuk mengambil tasnya tapi dengan cepat Prili menahan lengan Tasya dengan kasarnya.


"Mau kemana kamu? buatkan aku teh dan kopi buat Alvian," seru Prili.


"Kenapa diam saja, kamu tidak dengar apa yang barusan Prili katakan?" bentak Alvian.


Tasya menghempaskan tangan Prili dan melangkahkan kakinya menuju dapur tanpa bicara sedikit pun. Sedangkan Prili dan Alvian duduk di sofa, Prili tampak bermanja-manjaan kepada Alvian dan itu membuat Tasya merasa muak.


Tasya pun kembali menghampiri kedua orang itu dengan membawa nampan berisi teh dan kopi. Tasya menyimpan gelas teh dan kopi dihadapan Prili dan Alvian, belum juga Tasya berdiri, Prili sudah menyemburkan tehnya ke wajah Tasya.


Byyyuuuurrrr....


Prili menyiram kepala Tasya dengan teh hangat yang Tasya buatkan.


"Kenapa tehnya manis, aku minta teh tawar bukan teh manis," bentak prili.

__ADS_1


Tes....


Tasya hanya bisa menangis dengan perlakuan Prili.


"Lihatlah sayang, masa buatkan aku teh saja dia tidak bisa, pasti dia sengaja melakukannya sudah jelas-jelas aku ga suka minum teh manis," rengek Prili dengan bergelayut manja di lengan Alvian.


"Tasya, kamu benar-benar ya. Ada masalah apa kamu dengan Prili, kenapa kamu melakukan semua ini kepada Prili," bentak Alvian.


"Sudahlah sayang, ngomong sama dia hanya buat kita darah tinggi saja lebih baik sekarang kita pergi saja, kamu kan harus ke kantor nanti terlambat lagi."


"Iya kamu benar sayang, dan kamu wanita murahan bereskan apartemen ini sampai bersih, awas saja kalau nanti aku pulang ruangan ini masih kotor," ancam Alvian.


"Yuk sayang."


Prili dan Alvian pun pergi dengan bergandengan tangan, Tasya duduk dilantai hatinya begitu sakit dan hancur, dia tidak menyangka kalau semuanya akan berakhir seperti ini.


Tasya pun perlahan beranjak dari duduknya, perutnya merasa mual dan dia segera menuju kamar mandi.


Hoek...hoek...hoek..


Lagi-lagi Tasya memuntahkan isi perutnya, bubur yang tadi dia makan keluar semua. Tasya pun segera membersihkan tubuhnya, setelah selesai mandi Tasya sedikit agak segar. Kemudian dia pun mulai membersihkan apartemen milik Alvian itu, termasuk kamarnya Alvian.


Satu jam sudah Tasya beres-beres dan sekarang Tasya merebahkan tubuhnya diatas sofa, dia sudah tidak kuat lagi apalagi disaat hamil muda seperti itu membuatnya gampang lelah.


Tok..tok..tok..


Tasya tersentak saat mendengar ada yang mengetuk pintu.


"Siapa ya?" gumam Tasya.


Tasya pun melihat dari cctv digital yang terpasang di balik pintu dan ternyata dia adalah seorang kurir.


"Iya saya sendiri, ada apa ya Mas?" tanya Tasya.


"Ini saya mau mengantarkan sayuran, daging, dan buah-buahan untuk Nona Tasya."


"Dari siapa Mas? perasaan saya tidak pesan."


"Ini dari Tuan Vano Chtistian Bakrie."


"Hah...oh, ya sudah tolong Mas masukan ke dalam ya."


Kurir itu pun memasukan berbagai macam sayuran, daging, dan buah-buahan.


"Terima kasih ya Mas."


"Sama-sama Nona."


Setelah kepergian kurir itu, Tasya memperhatikan bahan makanan yang dikirim oleh Vano.


"Banyak sekali, mana semuanya kualitas premium lagi, seandainya Mas Al seperti Tuan Vano meskipun Tuan Vano dingin dan mahal senyum tapi setidaknya dia masih punya hati dan selama aku bekerja dengannya, aku tidak pernah mendapat perlakuan kasar darinya," gumam Tasya.


Tasya pun mulai menyusun semua bahan makanan yang Vano berikan di kulkas, Tasya sangat bahagia karena dia tidak harus susah-susah pergi ke pasar untuk membeli sayuran dan buah-buahan.


Setelah selesai, Tasya mengambil beberapa buah-buahan dan memotongnya kecil-kecil. Tasya membawanya ke ruang tengah dan menyalakan tv.


Setelah habis, ternyata tanpa terasa Tasya tertidur di sofa dengan tv yang masih menyala dan piring buah yang masih berada di pangkuannya.

__ADS_1


***


Waktu pun berjalan dengan cepat, Tasya menggeliat merentangkan kedua tangannya.


"Astaga aku ketiduran," gumam Tasya.


Tasya melihat jam dinding sudah menunjukan pukul lima sore.


"Mas Al pulang jam berapa ya? ah aku masak buat makan malam dulu," gumam Tasya.


Tasya pun mulai beranjak, cuci muka setelah itu Tasya dengan semangatnya memasak untuk dirinya dan Al. Tasya berpikir, dia akan menjadi istri yang baik untuk Alvian meskipun Alvian tidak menganggapnya sebagai istri.


Bagi Tasya tidak apa-apa Alvian membencinya tapi pernikahan bukanlah hal yang main-main bagi Tasya, Tasya ingat pesan orangtuanya kalau jangan mempermainkan pernikahan, bagaimana pun suamimu, hormatilah. Itulah kata-kata Ibunya yang masih di ingat oleh Tasya.


"Akhirnya selesai juga, aku mau mandi dulu."


Tasya pun memutuskan untuk mandi, setelah selesai mandi Tasya langsung melahap makanan yang sudah dia masak, Tasya sadar walaupun dia menunggu Alvian, dia tidak akan mau makan bareng dengan dirinya.


Tasya membersihkan bekas makannya dan memilih masuk ke dalam kamarnya.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan Alvian baru pulang. Dilihatnya apartemennya tampak sepi, matanya melihat makanan yang sudah terhidang di meja makan tapi Alvian tidak memperdulikannya dia lebih memilih masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.


"Tasya...Tasya..." teriak Alvian yang baru saja selesai mandi.


"Iya Mas."


"Sini kamu."


Tasya pun mulai mendekat...


"Dengarkan aku, mulai besok kamu harus menyiapkan semua keperluanku, mulai dari jas, tas, sepatu, semuanya kamu siapkan dan satu lagi aku biasa minum kopi sebelum berangkat ke kantor dan aku tidak pernah sarapan jadi kamu siapkan kopi juga, tapi ingat kamu masuk ke kamar aku harus subuh sebelum aku bangun karena aku tidak mau melihat wajah kamu berada di kamatku," seru Alvian.


"Baik Mas."


"Ya sudah, kamu pergi sana aku muak dan jijik melihat wajah kamu."


"Mas, aku sudah masakin makan malam," seru Tasya dengan menundukkan kepalanya.


"Memangnya kamu pikir aku mau apa makan dari tangan kotormu itu, sudah sana buang saja aku capek mau tidur."


Alvian tanpa punya perasaan pergi meninggalkan Tasya, Tasya kembali meneteskan airmatanya, dengan langkah gontai Tasya membereskan hasil masakannya ke dalam kulkas dan dia berencana akan memanaskan kembali pada esok hari karena kalau dibuang sayang.


.


.


.


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2