ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO

ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO
Mencoba Meyakinkan


__ADS_3

.


.


.


.


.


Akhirnya Tasya pun mengalah dan masuk ke dalam mobil Alvian.


"Ngapain kamu tutup wajah kamu?" tanya Alvian.


"Memangnya Mas ga tahu apa kalau sekarang aku adalah seorang artis terkenal, bisa-bisa besok jadi trending topik nih, haduh."


Tasya menepuk keningnya...


"Loh kenapa kalau jadi trending topik justru bagus dong, bukannya mereka ingin tahu siapa suami dari Tasya Kamila."


"Memangnya siapa suami aku," seru Tasya dengan ketusnya.


"Akulah, pria paling tampan dan sukses di Negeri ini."


"Percaya diri sekali anda," ketus Tasya.


Alvian tampak terkekeh melihat reaksi Tasya yang sangat menggemaskan menurut Alvian.


"Astaga kenapa dulu aku tidak menyadari kalau ada bidadari disampingku, aku terlalu dibutakan oleh rasa cintaku yang bodoh kepada Prili sehingga tidak menyadari keberadaan sebongkah berlian," batin Alvian dengan terus menatap Tasya.


"Jangan lihatin aku terus, perhatikan jalan aku ga mau celaka gara-gara kamu ceroboh," ketus Tasya dengan terus fokus menatap ponselnya.


"Galak banget."


Tasya mendelikan matanya ke arah Alvian sedangkan Alvian kembali terkekeh.


Tasya memberikan alamat rumah yang akan Tasya beli kepada Alvian.


"Bukannya ini arah ke rumahku ya," seru Alvian.


"Oh iya juga, kok bisa kesini sih," gumam Tasya.


Tidak lama kemudian, mobil Alvian pun berhenti di depan rumah mewah bercat putih itu dan kebetulan jarak rumah Alvian dan rumah itu hanya terhalang oleh beberapa rumah saja.


Tasya pun dengan cepat keluar dari mobil dan langsung disambut oleh Alta.


"Mommy..." teriak Alta dan langsung memeluk Tasya.


"Hallo sayang."


"Mommy tidak apa-apa kan? Tuan itu tidak menyakiti Mommy kan," seru Alta dengan memeriksa tubuh Tasya.


"Tidak sayang, Mommy tidak apa-apa."


"Hei Tuan, awas saja kalau anda sampai berani menyakiti Mommy Alta, anda akan berhadapan langsung dengan Alta," seru Alta dengan berkacak pinggang didepan Alvian.


Alvian tersenyum dan berlutut didepan Alta untuk menyamakan tingginya.


"Pintar sekali kamu, aku tidak akan menyakiti Mommy Alta karena aku menyayangi Mommy dan Alta," sahut Alvian dengan melirik ke arah Tasya.


"Siapa anda, berani-beraninya menyayangi Alta dan Mommy, memangnya anda kenal dengan kami?"


"Makannya aku ingin kita berteman, supaya kita bisa saling mengenal satu sama lain."


"Jangan banyak modus deh, pasti Tuan baik karena Tuan ingin mendekati Mommy Alta yang cantik itu kan? Alta sudah muak dengan para pria yang berlomba-lomba mendekati Mommy," ketus Alta.


"Apa? jadi selama ini banyak pria yang deketi Mommy kamu?" tanya Alvian kaget.


"Iyalah, Tuan tidak lihat apa kalau Mommy Alta sangat cantik, para pengusaha kaya di Paris berlomba-lomba mendekati Mommy."


"Alta kok malah curhat sih, ayo masuk Aunty Cherry mana?" tanya Tasya.


"Aunty ada didalam sama Paman Vano."


Tasya langsung masuk ke dalam rumah, sedangkan Alvian masih bicara dengan Alta.


"Alta, jangan biarkan pria-pria itu mendekati Mommy kamu ya kecuali aku," seru Alvian.


Alta menaikan satu alisnya dan menatap Alvian tajam dengan melipat tangan di atas perut.


"Kenapa Alta harus melarang semua pria yang mendekati Mommy sementara Tuan boleh mendekati Mommy?"


"Karena hanya aku yang pantas bersanding dengan Mommy kamu dan menjadi Daddy kamu," sahut Alvian dengan percaya dirinya.

__ADS_1


"Tuan terlalu percaya diri."


Alta melengos meninggalkan Alvian, Alvian pun bangkit dan menyusul Alta masuk ke dalam.


"Cherry, Kak Vano."


"Tasya, ini loh rumah yang teman aku tawarin itu bagaimana mau diambil atau mau cari lagi?" tanya Cherry.


"Ini rumah masih bagus, kayanya cocok kalau kalian tinggal disini," seru Vano.


Tasya pun mulai berkeliling melihat-lihat, sedangkan Alvian masuk bersama Alta.


"Ngapain kamu disini, Bang?" ketus Alvian.


"Aku bantuin mereka cari rumah."


"Kok bisa? kenapa Abang ga ngomong sama aku, aku kan lebih berhak atas semua ini," kesal Alvian.


"Meskipun kamu lebih berhak atas mereka, tapi mereka lebih memilih meminta bantuanku daripada kamu."


Alvian mengepalkan tangannya dan hendak menghampiri Vano tapi dengan cepat Cherry menghalanginya dengan berdiri ditengah-tengah kedua pria tampan itu.


"Woi..woi..jangan bertengkar disini para Tuan, kalau kalian mau bertengkar atau berkelahi silakan keluar dan cari tempat lain jangan disini," seru Cherry.


"Kalian tidak tahu malu, sudah tua malah ingin berkelahi mana kalian Kakak beradik lagi, Alta saja waktu di Paris banyak yang ngajak berkelahi Alta menolaknya," seru Alta.


"Kenapa menolak?" tanya Vano, Alvian, dan Cherry bersamaan.


"Bagus, anak pintar tidak boleh berkelahi," seru Alvian.


"Bukannya Alta tidak mau berkelahi, seorang pria itu harus pandai berkelahi supaya tidak ada yang gangguin Mommy," sahut Alta dengan gemasnya.


"Pasti Alta tidak mau berkelahi karena Alta tidak mau bikin Mommy Alta sedih kan?" seru Cherry.


"No Aunty."


"Terus apa dong?" tanya Cherry.


"Ya karena Alta takutlah, yang ngajak berkelahinya anak diatas Alta," sahut Alta dengan santainya.


Semuan orang yang ada disana sampai tepok jidat mendengar celotehan Alta. Tidak lama kemudian, Tasya pun turun dari lantai dua membuat semua orang melihat ke arahnya.


"Bagaimana Sya, apa cocok?" tanya Cherry.


"Ya sudah, biar aku yang bayar dan urus semuanya," seru Alvian.


"Tidak usah, memangnya kamu pikir aku ga sanggup apa membeli rumah ini," ketus Tasya.


"Bukannya begitu, aku percaya saat ini kamu sangat mampu membeli rumah ini tapi ini anggap saja sebagai pertanggung jawabanku sebagai suami kamu," seru Alvian.


"Suami? hei Tuan jangan sembarangan kalau ngomong, sejak kapan Tuan menjadi suami Mommy Alta?" tanya Alta dengan ketusnya.


"Aku----"


"Stop Mas, jangan dilanjutkan lagi biarkan waktu yang menjawab semuanya kamu tidak usah menjelaskan apapun kepada Alta."


"Tapi Sya---"


Tasya menghampiri pria paruh baya yang dari tadi diam saja tidak ikut berbicara.


"Pak, saya beli rumah ini uangnya saya transfer sekarang juga," seru Tasya.


Alvian menarik tangan Tasya...


"Sya, apa salahnya sih kalau aku ingin membelikan rumah untuk anak dan istriku, kalau kamu belum bisa memaafkan kesalahanku di masalalu, it's ok aku ga masalah tapi jangan larang aku untuk bisa membahagiakan kalian berdua, aku mau menebus semua dosa-dosaku di masalalu, please beri aku satu kesempatan saja untuk bisa memperbaiki semuanya," seru Alvian.


Tasya hanya menatap tajam ke arah Alvian dengan mata yang sudah berkaca-kaca, sedangkan Cherry, Vano, dan Alta hanya memperhatikan keduanya tanpa berniat ikut campur urusan mereka.


Tasya menghempaskan tangan Alvian dan pergi ke halaman belakang disusul oleh Cherry.


"Pak, saya yang akan transfer uangnya."


"Baik Tuan."


Alvian pun mengotak-ngatik ponselnya dan tidak lama kemudian, Alvian menunjukkan ponselnya kepada pria paruh baya itu.


"Sudah, saya sudah transfer semuanya."


"Baik, terima kasih Tuan. Ini surat-suratnya, kalau begitu saya permisi dulu."


Pria paruh baya itu pun pergi meninggalkan rumah itu.


Tasya menangis di halaman belakang...

__ADS_1


"Sya..."


"Cherry.."


"Sya, aku tahu kamu masih marah dan benci sama Alvian, bukannya aku membela Alvian tapi alangkah baiknya kamu kasih dia kesempatan satu kali saja, aku bisa lihat dari matanya kalau Alvian memang bersungguh-sungguh karena bagaimana pun Alvian adalah Daddynya Alta, apa kamu tidak kasihan sama Alta walaupun dia terlihat cuek tapi kamu tahu apa yang selalu Alta ucapkan kalau dia dan aku sedang berdua? Alta selalu bilang, kalau dia ingin bertemu dengan Daddynya."


Tasya seketika menoleh ke arah Cherry dengan tatapan terkejutnya.


"Tapi Alta tidak pernah ngomong apa-apa sama aku, Cherr."


"Alta itu tidak mau membuat kamu sedih dan kepikiran makannya dia tidak berani menanyakan tentang Daddynya kepadamu, apalagi kamu kan sudah bilang sama Alta kalau Alta tidak boleh menanyakan apapun mengenai Daddynya."


Tasya sangat terkejut dengan ucapan Cherry, ternyata selama ini Alta sering menanyakan tentang Daddynya.


"Aku bingung Cherr harus bagaimana, kejadian saat Mas Alvian ingin menggugurkan kandunganku membuat aku tidak bisa memaafkannya."


"Sya, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan tapi orang itu berhak untuk diberi kesempatan, Alloh saja bisa mengampuni kesalahan manusia, masa kamu yang sesama manusia tidak bisa memaafkan Alvian."


"Mommy..." seru Alta.


Tasya dan Cherry pun menoleh ke belakang bersamaan, ternyata Alta, Vano, dan Alvian dari tadi berdiri disana dan mendengarkan pembicaraan kedua wanita cantik itu.


"Alta..."


Alta berlari dan memeluk Mommynya itu, Tasya tidak bisa membendung lagi airmatanya. Alta melepaskan pelukkannya dan menghapus airmata Tasya dengan tangan mungilnya itu.


"Mommy jangan nangis, Alta janji tidak akan menanyakan lagi masalah Daddy Alta kalau itu membuat Mommy sedih dan menangis, maafkan Alta, Mommy."


"Tidak sayang, kamu jangan meminta maaf justru Mommy yang minta maaf kepada Alta karena tidak bisa jujur kepada Alta, beri waktu Mommy untuk memikirkan semuanya."


"Iya Mommy. Dan Alta sudah tahu kok ternyata Daddy Alta adiknya Paman Vano kan Mommy? pantas saja wajah Alta mirip sekali dengan Tuan itu," seru Alta.


Tasya hanya tersenyum dengan airmata yang terus mengalir dipipi mulusnya.


"Kamu tenang saja Sya, kalau sampai pria pengecut ini berani menyakiti kalian lagi, aku sendiri yang akan membawa kalian pergi," seru Vano.


"Kamu mau kan maafin aku dan memberi aku satu kali kesempatan lagi, aku janji tidak akan mengulang kesalahan yang sama, kalau aku sampai membuat kamu menangis lagi, aku sendiri yang akan melepaskan kalian," seru Alvian.


Tasya menatap satu persatu orang yang ada disana, mereka semua menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Ok, aku maafin kamu Mas dan aku akan beri kamu satu kesempatan terakhir."


"Beneran Sya, terima kasih."


Alvian dengan cepat menghampiri Tasya dan merentangkan kedua tangannya tapi Tasya segera menepisnya.


"Mau ngapain?" ketus Tasya dengan tatapan tajamnya.


"Peluklah."


"Enggak, aku maafin kamu bukan berarti kamu bisa seenaknya ya Mas."


"Lah, kalau kamu sudah memaafkan aku berarti aku sudah bisa tinggal disini dong."


"Siapa bilang? Mas tidak boleh tinggal disini, pokoknya aku mau lihat dulu seberapa besar pengorbanan dan kerja keras Mas untuk meyakinkan kami berdua, nanti setelah aku yakin kalau Mas benar-benar berubah, baru Mas boleh tinggal disini," ketus Tasya.


"Kok gitu sih?" protes Alvian.


"Ya sudah kalau ga mau, aku tidak akan memaksa."


"Ok..ok..aku akan buktikan kepada kalian berdua kalau aku benar-benar menyesal, dan yang paling penting aku pasti akan mendapatkan hati kamu," seru Alvian dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Idih apaan sih, silakan saja kalau bisa."


.


.


.


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2