ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO

ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO
Rencana Alvian dan Prili


__ADS_3

.


.


.


.


.


Satu bulan sudah, Tasya hidup dengan penuh kesedihan dan rasa sakit. Bagaimana tidak sakit, selama ini Alvian selalu membawa Prili ke apartemen untuk memadu kasih dan Alvian sama sekali tidak menganggap Tasya ada.


Tasya berusaha menjadi istri yang baik, setiap pagi selalu menyiapkan pakaian untuk ke kantor, menyiapkan sarapan, dan juga kopi. Tapi Alvian sedikitpun tidak pernah menghargai kerja keras sang istri, bahkan Alvian selalu bersikap kasar kepada Tasya.


"Tasya...Tasya..." teriak Alvian.


"Iya Mas."


"Nanti malam, Mama, Papa, dan Bang Vano akan kesini untuk makan malam bersama, aku harap kita harus bersikap layaknya sepasang suami istri yang bahagia, jangan sampai mereka tahu kalau kita sama sekali tidak pernah akur."


"Iya Mas."


"Awas saja kalau mereka sampai tahu, habis kamu sama aku," ancam Alvian.


Tasya hanya menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap ke arah Alvian.


"Oh iya satu lagi, tiga hari yang lalu aku dan Prili sudah menikah siri jadi kamu jangan pernah melarang Prili untuk tinggal disini."


Deg...


Airmata Tasya kembali menetes, rasanya seperti dihantam batu yang sangat besar.


"Sekarang kamu boleh kembali ke kamar kamu, aku mau sarapan dulu rasanya perut aku mual kalau ada kamu disini."


Tanpa bicara sepatah kata pun, Tasya pergi ke kamarnya. Lemas sudah tubuh Tasya mendengar berita kalau Alvian suaminya diam-diam sudah menikah siri dengan wanita lain.


Walaupun tidak ada cinta diantara mereka, tapi rasanya begitu sakit mendengar Alvian menikah lagi. Hidup Tasya sudah sangat hancur, pertama dia harus kehilangan kesuciannya ulah orang-orang yang mengaku sebagai teman, kedua Tasya harus menanggung sakit karena dia dinyatakan hamil, dan sekarang dia harus menikah dengan Ayah dari bayi yang di kandungnya tapi sayang bukan cinta yang Tasya dapatkan melainkan penderitaan.


Tidak dipungkiri, kalau dimasa hamil muda seperti ini Tasya menginginkan dimanja oleh seseorang terutama suaminya tapi sayang harapan tinggal harapan, sampai kapanpun Tasya tidak akan pernah merasakan itu.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Tasya sedang sibuk berkutat di dapur memasak untuk makan malam bersama Mertua dan Kakak Iparnya.


Ting tong..ting tong..


"Iya sebentar."


Ceklek...


"Mama, Papa, Tuan Vano."


Tasya mencium punggung tangan Mama dan Papa mertuanya.


"Hallo sayang, bagaimana dengan kandunganmu?" tanya Mama Elis lembut.


"Alhamdulillah sehat Ma, ini berkat Tuan Vano yang selalu mengirimkan bahan makanan dan juga susu untukku, terima kasih Tuan."


"Jangan panggil aku Tuan, panggil saja Abang seperti Al."


"Ah iya, Bang."


"Suamimu belum pulang, Nak?" tanya Papa Bakrie.


"Belum Pa, mungkin sebentar lagi. Maaf Tasya tinggal dulu, soalnya Tasya sedang masak."

__ADS_1


"Mama bantu ya Nak."


"Boleh Ma."


Tasya dan Mama Elis pun pergi ke dapur..


"Waw, apa ini semua kamu yang masak?"


"Iya Ma."


"Kamu jangan terlalu capek Nak, kamu juga harus pikirkan bayi yang ada di dalam kandunganmu. Bagaimana kalau Mama kirim pembantu saja ya kesini? biar kamu tidak perlu melakukan apa-apa," seru Mama Elis.


"Tidak apa-apa Ma, Tasya masih kuat kok lagipula Mas Al itu tidak suka masakan orang lain maunya masakan Tasya," sahut Tasya.


"Oh iya, syukurlah."


Sementara itu, Papa Bakrie dan Vano terlihat duduk di ruangan tamu.


Ceklek...


Papa Bakrie dan Vano otomatis menoleh ke arah pintu yang terbuka. Ternyata yang datang adalah Alvian dan Prili, Prili yang awalnya merangkul lengan Alvian, akhirnya melepaskannya karena Vano dan Papa Bakrie sudah menatapnya dengan tajam.


"Papa, Bang Vano."


"Kenapa baru pulang? bukannya tadi kamu sudah pulang duluan? kemana saja kamu?" tanya Vano datar.


"Ah itu, anu tadi aku ada urusan sebentar," sahut Alvian gugup.


"Kamu ngapain ajak wanita itu? ini adalah acara keluarga, dan semua orang tahu kalau Prili itu mantan pacar kamu, apa kamu tidak punya otak mengajak dia kesini? kamu seharusnya jaga perasaan istri kamu," seru Papa Bakrie.


"Pa, Al sama Prili sekarang cuma temenan jadi apa salahnya kalau Al mengajak Prili kesini? toh Tasya juga tidak mempermasalahkannya," iya kan Sya?" teriak Al.


"I--iya Mas."


Vano menatap tajam ke arah Al kemudian bergantian ke arah Tasya.


"Al mandi dulu."


Sedangkan Prili menghampiri Mama Elis dan Tasya di dapur.


"Apakabat Tante?"


"Alhamdulillah baik, kamu sendiri?


"Baik juga Tante."


Tasya dan Mama Elis mulai menata hasil masakan Tasya di meja makan.


"Semuanya, Tasya ke atas dulu ya soalnya sudah gerah mau mandi dulu."


"Iya."


Tidak lama kemudian, Tasya pun turun dengan memakai dress hijau bunga-bunga tanpa lengan dengan rambut yang tergerai indah membuat Vano dan Alvian sesaat tercengang akan kecantikan Tasya.


"Maaf, lama menunggu," seru Tasya dengan menundukkan kepalanya.


"Ah tidak apa-apa Nak, kamu cantik sekali Tasya," sahut Mama Elis.


"Terima kasih, Ma."


Semua pun makan dengan hening, tanpa ada yang bicara satu orang pun. Selesai makan malam bersama, semuanya berkumpul di ruangan tengah.


Tasya duduk di samping Alvian dan itu membuat Prili merasa sangat jengkel.


"Nak, usia kandungan kamu sudah berapa bulan?" tanya Papa Bakrie.

__ADS_1


"Sudah dua bulan Pa."


"Kami sangat tidak sabar menunggu kelahiran cucu pertama kami, iya kan Pa?" seru Mama Elis.


"Iya dong, dan Papa akan menghadiahkan satu perusahaan untuk cucu pertama Papa."


"Apa?"


"Kenapa kamu kaget seperti itu?" tanya Papa Bakrie.


"Pa, apa tidak berlebihan kalau Papa memberikan sebuah perusahaan untuk anak yang belum lahir itu?" sahut Alvian.


"Kamu kenapa? seharusnya kamu sebagai Ayahnya merasa senang dong, karena anak kamu akan mendapatkan sebuah perusahaan?" seru Vano.


"Iya, kamu aneh deh Al," sambung Mama Elis.


"Bukan begitu, Al merasa kaget saja tidak menyangka kalau Papa akan memberikan sebuah perusahaan untuk bayi itu," sahut Alvian.


Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, orangtua Al dan Vano pun memutuskan untuk pulang.


"Bersihkan semuanya kita mau istirahat dulu, yuk sayang," ajak Prili dengan merangkul lengan Alvian masuk ke dalam kamarnya.


Tasya pun mulai mencuci piring dan gelas kotor.


"Sayang, Papa kamu sudah gila ya mau memberikan perusahaan kepada anak wanita murahan itu," seru Prili.


"Aku juga bingung sama Papa, kok bisa sih dia punya pemikiran seperti itu."


"Sayang, aku punya ide."


"Apa?"


"Bagaimana kalau kita gugurkan kandungan Tasya."


"Menggugurkan kandungan Tasya," sahut Alvian.


"Iya, kalau Tasya keguguran otomatis Papa kamu tidak akan jadi memberikan perusahaan itu dan secara tidak langsung kamu juga bisa langsung meminta cerai karena anak itu sudah tidak ada lagi."


"Benar juga sayang."


"Kandungan itu yang akan menjadi penghalang kamu sayang, dan kalau anak itu lenyap kamu tidak akan pusing-pusing lagi dan kita bisa meresmikan pernikahan kita."


"Kamu hebat sayang, kenapa aku tidak kepikiran sampai sejauh itu ya. Aku tidak salah memilih kamu sebagai pendampingku," sahut Alvian dengan memeluk Prili.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan Tasya baru saja selesai beres-beres. Tasya pun mulai menaiki anak tangga, tubuhnya sudah sangat lelah dan ingin cepat-cepat merebahkan tubuhnya.


Disaat Tasya melewati kamar milik Alvian, lagi-lagi suara menjijikan itu terdengar, Tasya hanya mampu menutup telinganya dengan deraian airmata.


.


.


.


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2