ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO

ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO
Dirumah Mertua


__ADS_3

.


.


.


.


.


Mama Elis dan Papa Bakrie sangat bahagia, akhirnya mereka bisa bertemu dengan cucu dan menantunya. Setelah selesai makan malam, mereka pun duduk di ruang keluarga dan berbincang-bincang.


"Alta sayang, malam ini Alta menginap disini ya," seru Mama Elis penuh harap.


"Kalau Alta terserah Mommy saja."


"Alta boleh menginap disini," sahut Tasya.


"Serius Mommy? Alta boleh menginap disinu?" tanya Alta tidak percaya.


"Iya."


"Yeaayyyy...."


"Kamu tidur sama Oma dan Opa ya," seru Papa Bakrie.


"Ok Opa."


"Tasya, kamu juga menginap saja disini," seru Mama Elis.


"Maaf Ma, sepertinya Tasya tidak bisa soalnya kasihan Cherry sendirian di rumah," sahut Tasya.


"Hei, di rumah kamu banyak pelayan Cherry ga bakalan sendirian," seru Alvian.


"Cherry biar nanti Kakak yang hubungi dia," seru Vano.


"Lah sejak kapan Kak Vano punya nomornya Cherry? hayo sudah pacaran ternyata," goda Tasya.


"Ish..ish..ish..apaan sih," sahut Vano dan wajahnya mulai memerah.


"Hayo wajah Kak Vano sudah memerah kaya gitu," Tasya kembali menggoda Vano.


"Kamu ya, sudah berani menggodaku."


Vano menggelitiki perut Tasya sehingga Tasya tertawa terbahak-bahak.


"Ampun Kak...geli..."


"Hayo mau godain Kakak lagi."


"Ampun Kak, aku ga bakalan godain Kakak lagi."


Vano pun menghentikan aksinya, sedangkan Alvian tampak kesal.


"Sudah ah, aku mau ke kamar dulu soalnya ada yang kesal tuh," ledek Vano dengan melirik ke arah Alvian.


Vano pun akhirnya memutuskan untuk ke kamarnya terlebih dahulu.


"Alta tidurnya sama Oma dan Opa ya, biar Mommy kamu tidurnya sama Daddy," seru Papa Bakrie.


"Ok Opa."


"Asyik..Papa memang pengertian banget," seru Alvian dengan senangnya.


"Apa? ti--tidak Pa, Tasya biar tidur di----"


Ucapan Tasya terhenti karena Alvian segera menarik tangan Tasya menuju kamarnya.


"Hei, tunggu dulu..." teriak Tasya yang merasa terkejut dengan kelakuan Alvian yang tiba-tiba menarik tangannya.


Papa Bakrie dan Mama Elis hanya tersenyum dan akhirnya membawa Alta ke kamar mereka.


Alvian membawa Tasya ke dalam kamarnya dan dengan cepat mengunci pintu kamarnya.


"Ih, Mas apa-apaan sih buka pintunya aku tidur dikamar yang dulu aku tempati saja."


"Kamu tahu ga, semenjak kamu pergi dari rumah ini kamar itu tidak pernah dibersihin, dan sekarang pasti banyak tikus dan kecoa, memangnya kamu mau tidur ditemani tikus dan kecoa?" seru Alvian.


"Astaga, dengarnya juga aku merinding."


"Nah kan, lebih baik tidur disini sama aku."


"Enggak mau."


"Kok gitu? aku ini masih suami sah kamu loh bahkan aku berhak kalau aku memaksa kamu untuk malam ini."

__ADS_1


Deg...


Kejadian empat tahun lalu tiba-tiba muncul dipikiran Tasya, saat Alvian memaksanya dan itu merupakan awal dari kehancurannya dan penderitaannya.


Tiba-tiba tubuh Tasya bergetar hebat, keringatnya mulai membasahi wajahnya dan airmatanya pun mulai menetes. Alvian sangat terkejut melihat Tasya yang berubah menjadi ketakutan seperti itu.


"Tasya, kamu kenapa?" seru Alvian dengan mulai mendekat ke arah Tasya.


Tasya mulai mundur dan menghindari Alvian..


"Jangan mendekat, Mas."


"Kamu kenapa?" tanya Alvian bingung.


"Aku bilang jangan mendekat, aku ga mau kamu maksa aku lagi," teriak Tasya.


Alvian akhirnya tahu apa alasan perubahan yang terjadi dalam diri Tasya, hatinya merasa tercubit sebesar itukah dampak trauma yang Tasya rasakan atas perbuatan Alvian dimasalalu.


"Sya, kamu tenang ya jangan takut aku ga bakalan maksa kamu lagi, aku janji aku akan melakukannya kalau kamu pun sudah siap melakukannya, maafkan aku Sya."


Tasya terduduk dilantai dengan deraian airmata serta tubuhnya yang masih bergetar. Dengan cepat Alvian menghampiri Tasya dan mendekapnya dalam pelukkannya.


Awalnya Tasya menolak dan berontak saat Alvian memeluknya tapi lama-kelamaan Tasya pun mengalah karena tenaga Alvian lebih kuat daripada dirinya.


"Maafkan aku Sya, maaf..." ucap Alvian dengan mencium pucuk kepala Tasya.


Tasya masih bergetar dan menangis, cukup lama Alvian memeluk Tasya hingga akhirnya Alvian merasa Tasya sudah tidak berkutik lagi. Alvian pun melihat ternyata Tasya sudah tertidur.


"Ya ampun, ternyata dia sudah tidur," gumam Alvian.


Alvian pun mengangkat tubuh Tasya dan merebahkannya diatas tempat tidurnya, Alvian menutup tubuh Tasya dengan selimut. Sesaat Alvian memperhatikan wajah cantik Tasya.


"Maafkan aku Sya, aku janji aku akan menebus semua dosa-dosaku yang sudah aku perbuat dimasalalu. Aku akan membahagiakan kamu dan Alta," gumam Alvian.


Alvian pun mencium kening Tasya, setelah itu dia mengambil bantal dan tidur di sofa, Alvian tidak mau membuat Tasya kembali takut kepadanya.


***


Keesokkan harinya...


Tasya mulai meregangkan otot-ototnya dan perlahan membuka matanya. Tasya tersadar dan segera duduk serta memeriksa pakaiannya, takutnya Alvian memaksanya seperti dulu.


"Alhamdulillah, ternyata masih lengkap," gumam Tasya.


Tasya menoleh ke arah sofa, ternyata Alvian tidur di sofa dengan posisi meringkuk seperti kedinginan karena tidak memakai selimut.


Tasya pun perlahan menghampiri Alvian, dilihatnya secara seksama wajah suaminya itu.


"Sudah puaskah kamu melihat ketampananku?" seru Alvian.


Tasya merasa sangat terkejut dan terlihat mulai gugup karena tertangkap basah sedang memperhatikan Alvian. Alvian tersenyum dan mendudukkan tubuhnya, disaat Tasya hendak pergi, Alvian menarik tangan tasya sehingga Tasya duduk di pangkuan Alvian.


"Mau kemana?"


"A---aku ma--mau ke kamar mandi," sahut Tasya gugup.


"Kok kamu jadi gugup gitu?" goda Alvian.


"Eng---enggak, biasa aja."


Cup...


Alvian mencium pipi Tasya yang terlihat memerah itu.


"Ih Mas nyebelin selalu saja curi-curi kesempatan," ketus Tasya.


"Ya habisnya kalau Mas minta izin dulu, kamu ga bakalan mengizinkan Mas."


"Dasar..."


Tasya pun beranjak dari pangkuan Alvian dan hendak masuk ke dalam kamar mandi, tapi disaat didepan pintu kamar mandi, Tasya baru ingat kalau dia tidak membawa baju ganti.


Tasya pun mengurungkan niatnya dan kembali duduk di ujung ranjang.


"Kenapa? kok ga jadi?" tanya Alvian.


"Aku lupa, kalau aku ga bawa baju ganti."


Alvian tersenyum, Alvian mendekati Tasya dan menarik tangannya membawa ke ruangan ganti milik Alvian.


"Kamu mau ngapain, Mas?" tanya Tasya yang sudah menyilangkan tangannya didada.


Alvian mencubit kedua pipi Tasya dengan gemasnya.


"Dasar otak mesum."

__ADS_1


Kemudian Alvian membalikkan tubuh Tasya menghadap lemari pakaian milik Alvian, Alvian pun membukanya dan seketika mata Tasya melotot dengan mulut yang menganga.


"Mulutnya jangan menganga kaya gitu, lidah aku bisa masuk loh kalau kamu terus seperti itu," goda Alvian.


Dengan cepat, Tasya menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.


"Ini baju siapa Mas? pasti baju Prili kan? enak saja aku harus memakai baju bekas Prili, lebih baik aku ga mandi," ketus Tasya.


"Hai, masa aku mau ngasih kamu baju bekas sih. Ini semua baju baru dan aku siapkan baju-baju ini sudah sangat lama berharap apabila kamu mau kembali denganku, kamu tidak usah bawa barang-barang lagi karena aku sudah menyiapkannya."


Dengan cepat Tasya mengambil satu buah dress dan langsung pergi meninggalkan Alvian dengan tatapan sinisnya. Alvian hanya bisa terkekeh melihat kelakuan istrinya yang sangat menggemaskan itu.


"Seandainya kamu sudah mau menerimaku, sudah ku terkam kamu Sya, sabar-sabar Alvian," gumam Alvian dengan mengacak rambutnya sendiri.


Alta dan yang lainnya sudah menunggu di meja makan untuk sarapan bersama, sedangkan Tasya dan Alvian baru saja menuruni anak tangga.


"Mommy..."


Alta berlari memeluk dan mencium seluruh wajah Tasya.


"Kamu tidak mau memeluk dan mencium Daddy juga."


Alta pun tersenyum dan melakukan hal yang sama dengan apa yang dia lakukan kepada Tasya.


"Sayang, bagaimana kalau kita adakan resepsi pernikahan kalian. Dulu kalian kan hanya ijab kabul saja, dan semua orang juga tidak ada yang tahu kalau kalian sudah menikah jadi Papa ingin mengumumkan menantu dan cucu Papa kepada semua orang, bagaimana apa kamu setuju Al?" seru Papa Bakrie.


"Kalau Al setuju banget Pa, ga tahu kalau Tasya."


"Bagaimana sayang, kamu setuju kan kalau kita adakan resepsi pernikahan kalian?" tanya Mama Elis.


"Ehmmm...bagaimana ya Ma, boleh tidak kalau Tasya memikirkannya dulu."


"Boleh, tapi jangan lama-lama ya."


"Iya Ma."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Semua orang menoleh ke sumber suara...


"Aunty Cherry.." teriak Alta.


"Cherry, sini kita sarapan bareng," ajak Tasya.


Tasya pun mengajak Cherry untuk duduk dan sarapan bersama.


"Ma, Pa, kenalkan ini Cherry calon menantu Mama dan Papa," seru Tasya sembari mengedipkan matanya.


Cherry pun mencium punggung tangan Mama dan Papa Vano.


"Owalah, akhirnya Vano menikah juga," seru Mama Elis.


"Apaan sih Ma, orang Vano sama Cherry juga baru kenal," sahut Vano.


Akhirnya mereka pun sudah selesai sarapan dan berpamitan kepada Mama Elis dan Papa Bakrie.


"Kamu sekarang mau kemana Sya?" tanya Alvian.


"Aku sama Alta ada shooting iklan hari ini dan kayanya jadwal hari ini padat banget," sahut Tasya.


"Ya sudah aku antar kalian, aku ingin melihat shooting kalian seperti apa."


"Memangnya kamu tidak ke kantor Mas?" tanya Tasya.


"Tidak, hari ini seharian aku ingin bareng sama kalian."


Tasya tidak banyak bicara lagi, berdebat pun percuma akhirnya mereka pergi ke tempat shooting diantar oleh Alvian. Sedangkan Vano langsung berangkat ke kantornya.


.


.


.


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2