
.
.
.
.
.
Hari demi hari, bulan demi bulan sudah Tasya lewati. Saat ini Cherry sedang mondar-mandir di depan ruangan bersalin karena hari ini Tasya akan melahirkan.
Cherry mondar-mandir dengan menggigit jarinya merasa khawatir dengan keadaan Tasya.
Oekkk...oekk..oekk...
Suara tangisan bayi dikala tengah malam memecahkan kesunyian rumah sakit.
"Alhamdulillah ya Alloh," gumam Cherry dengan mengusap wajahnya.
Dua orang perawat mendorong blankar Tasya dan akan memindahkan Tasya ke ruangan rawat inap sedangkan bayinya dibawa ke ruangan khusus bayi.
"Tasya, selamat ya akhirnya sekarang kamu sudah menjadi seorang Ibu."
"Terima kasih ya Cher, kamu sudah membantu dan mau menolongku."
"Sama-sama."
***
"Tasya...." teriak Alvian.
Alvian terduduk di tempat tidurnya dengan nafas yang memburu dan seluruh tubuh penuh dengan keringat. Alvian mengusap wajahnya kasar.
"Tasya, kamu ada dimana? kalau dihitung-hitung, bulan ini adalah bulan dimana Tasya melahirkan, apa Tasya sudah melahirkan ya," gumam Alvian.
Semenjak mimpi itu Alvian tidak bisa tidur lagi, dia memilih untuk bekerja.
Keesokkan harinya...
"Al, kamu kenapa sayang? sepertinya kamu begitu ngantuk?" tanya Mama Elis.
"Al tidak bisa tidur Ma."
"Kenapa kamu sampai tidak bisa tidur? apa kamu banyak pikiran?"
"Tadi malam Al mimpi kalau Tasya sudah melahirkan Ma, dan Mama tahu kalau dihitung-hitung memang bulan ini pas sekali dengan waktu Tasya melahirkan."
"Ya Alloh, dimana Tasya mudah-mudahan Tasya dan anaknya selalu sehat dan selamat," sahut Mama Elis.
"Sepertinya Tasya pergi ke luar negeri," seru Vano.
"Luar negeri? bagaimana bisa?" tanya Alvian.
__ADS_1
"Soalnya anak buahku sama sekali tidak menemukan jejak Tasya sama sekali, anak buahku detektif hebat bahkan sembunyi di pelosok pulaupun mereka dapat menemukannya tapi kali ini Tasya sama sekali tidak terditeksi dan bagai hilang di telan bumi, dan kalau seperti ini kemungkinannya cuma satu, Tasya pergi ke luar negeri," jelas Vano.
Alvian hanya bisa diam tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
***
Tasya sangat bahagia dan mulai menikmati masa-masa kesehariannya mengurus sang buah hati yang diberi nama Alta Bastian Bakrie.
Tasya menambahkan nama Bakrie di belakang nama puteranya bukan karena Tasya ingin mendapatkan pengakuan dari keluarga Bakrie melainkan ingin menghargai mertuanya yang sangat menyayangi Tasya.
"Wah keponakan Aunty tampan sekali, pasti ini mirip Papanya ya Sya? soalnya ga ada mirip-miripnya sama kamu."
"Masa sih Cher, jangan gitu dong aku yang hamilnya, aku juga yang melahirkannya, masa ga ada sedikitpun mirip sama aku," sahut Tasya dengan mengerucutkan bibirnya.
"Asli, lihat deh mana ada mirip sama kamu semuanya seratus persen ini gen Papanya mungkin karena selama hamil kamu benci banget sama Papa Alta makannya jadinya mirip dia deh."
"Jangan bilang Papanya, Alta ga punya Papa lagipula pasti sekarang Mas Alvian sudah hidup bahagia dengan Prili jadi dia ga bakalan mungkin peduli sama Alta, pokoknya aku mohon sama kamu jangan ungkit-ungkit nama Mas Alvian di depan Alta, lebih baik dia tahu Papanya sudah meninggal daripada harus tahu Papanya masih hidup tapi tidak mau mengakuinya."
"Ok deh ok, maaf ya."
Cherry mengusap pipi gembul Alta yang sekarang sedang tidur di pangkuan Tasya.
"Kalau sudah besar nanti aku akan jadikan Alta artis terkenal, wajah tampannya pasti sangat menggemaskan, boleh kan Sya?"
"Selama Alta suka kenapa enggak."
"Cepat besar sayang, Aunty akan jadikan kamu artis terkenal supaya Papa kamu menyesal sudah membuang dan tidak menganggap kamu," batin Cherry.
****
"Mommy, cepetan nanti Alta telat dan dimarahi sama Aunty Cherry," teriak Alta.
"Iya sebentar sayang, Mommy lagi beres-beres dulu," sahut Tasya.
Tasya dengan cepat menghampiri anaknya yang tampan itu. Alta tumbuh menjadi anak yang sangat tampan dan juga genius, diusianya yang sudah menginjak empat tahun Alta terbilang anak yang sangat cerdas.
Entah kegeniusannya itu menurun dari mana yang jelas diusianya yang ke empat tahun Alta sangat pintar mengotak-ngatik komputer bahkan terkadang dia juga bisa meretas sebuah perusahaan.
"Ayo sayang."
"Mommy kenapa selalu lelet sih, memangnya Mommy tidak tahu ya kalau sekarang Alta sudah menjadi seorang artis terkenal jadi Alta harus datang on time tidak boleh telat," cerocos Alta dengan gemasnya.
"Iya-iya Mommy tahu."
Alta segera masuk ke dalam mobil dan Tasya pun duduk dibalik kemudi dan siap-siap melajukan mobilnya ke sebuah studio untuk melakukan sesi pemotretan.
"Mommy, kalau sudah sampai disana, Mommy jangan dekat-dekat dengan Mr.Franky dia itu tua bangka yang suka bermain dengan banyak wanita."
"Iya sayang Mommy tahu."
Tasya kadang-kadang merasa kaget juga dengan nada bicara Alta yang sangat dewasa, bahkan kalau diadakan debat, Tasya yakin Alta akan menang. Tasya memang sangat beruntung dianugerahi seorang anak luar biasa geniusnya bahkan IQ Alta mencapai 160 lebih hampir setara dengan Robert Einstein.
Tidak lama kemudian, mobil Tasya pun berhenti disebuah studio pemotretan dan di depan pintu, Cherry sudah menatap Tasya dan Alta tajam dengan tangannya yang ia lipat diatas perut.
__ADS_1
"Aunty, seperti biasa Mommy yang sudah membuat Alta telat," seru Alta.
"Tasya, kebiasaan banget kamu."
"Sudahlah, yang penting sekarang kita sudah sampai kamu jangan marah-marah terus nanti kerutan diwajahmu semakin banyak," ledek Tasya yang langsung masuk ke dalam studio.
"Apa kamu bilang? enak saja, aku ga punya kerutan ya," teriak Cherry dan menyusul Tasya ke dalam.
Sesampainya di dalam, Alta langsung di giring oleh tim make up untuk mengganti pakaian dan di poles.
Mr.Franky yang melihat kedatangan Tasya langsung tersenyum sumringah dan mendekati Tasya.
"Hallo, Nona Tasya."
"Hallo Mr.Franky."
"Wow, Nona Tasya semakin cantik saja tidak terlihat kalau sudah mempunyai anak."
"Terima kasih."
Tasya hanya tersenyum yang dipaksakan begitu pun dengan Cherry yang sudah ingin muntah melihat tingkah laku tua bangka itu.
Tidak lama kemudian Alta keluar dari ruang make up dan sudah berganti pakaian.
"Astaga, anak Mommy tampan sekali."
"Keponakan Aunty, Masya Alloh pokoknya tidak ada duanya deh."
"Kalian tidak usah lebay deh, semua orang juga tahu kalau Alta itu memang tampan," seru Alta sembari melangkahkan kakinya untuk mulai pemotretan.
"Ya ampun, kadang-kadang Alta sangat menyebalkan tapi dengan melihat wajah tampannya, rasa kesalku jadi hilang, anak kamu memang ajaib Sya," seru Cherry.
Tasya tersenyum mendengar ucapan Cherry, kemudian keduanya tampak serius memperhatikan Alta yang sedang melakukan pemotretan.
Alta adalah seorang model cilik yang saat ini namanya sedang naik daun, banyak merk-merk branded yang menawarkan kerjasama dengan Alta. Semenjak Cherry membawanya ikut terjun ke dunia permodelan, kehidupan Tasya pun berubah drastis bahkan sekarang mereka tidak tinggal di apartemen milik Cherry karena Tasya sudah membeli rumah yang lumayan besar.
.
.
.
Ayo guys jangan pelit like dan giftnya supaya Authornya semakin semangat lagiπππ€π€
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU