
.
.
.
.
.
Keesokkan harinya...
Seperti biasa, Tasya menyiapkan semua keperluan Alvian cuma satu yang tidak Tasya siapkan yaitu pakaian kerjanya Alvian.
Tasya tidak mungkin masuk ke dalam kamar Alvia, sementara Prili ada disana. Setelah Tasya selesai membuatkan sarapan, kedua orang tidak tahu malu itu pun keluar dari dalam kamar.
"Sayang, kamu mau sarapan apa pagi ini?" tanya Prili dengan manjanya.
"Aku mau sarapan nasi goreng saja."
Prili pun langsung mengambilkan nasi goreng untuk Alvian. Sedangkan Tasya, dia hendak meninggalkan dua orang tidak tahu malu itu, dia tidak mau sampai melihat adegan romantis dari keduanya.
"Hai j*****, mau kemana kamu?" seru Prili.
"Aku mau masuk ke kamar."
"Jangan pergi, kamu diam disini sampai kita selesai sarapan."
"Apa?"
"Kenapa? kamu sudah mulai melawan sama aku?" bentak Prili.
Byuuurrr...
Prili menyiram wajah Tasya dengan air putih, membuat Tasya terkejut.
"Prili, sudah pagi-pagi sudah ribut."
"Habisnya dia sudah berani melawan aku sayang."
"Tasya, nanti malam kamu harus siap-siap aku akan membawa kamu ke suatu tempat."
"Kemana Mas?"
"Kita nginap ke rumah Mama, pokoknya aku pulang kamu harus sudah siap soalnya aku tidak mau menunggu."
"Iya Mas."
"Sayang, sudah yuk kita berangkat aku sudah tidak ada selera lagi buat makan."
"Ayo."
"Beresin tuh semuanya," ketus Prili.
Prili dan Alvian pun pergi dengan santainya tanpa merasa bersalah kepada Tasya.
***
Malam pun tiba, Tasya sudah siap dan saat ini sedang duduk di sofa menunggu kedatangan Alvian.
Ceklek...
"Kamu sudah siap?"
"Sudah Mas."
"Ayo kita pergi sekarang."
Tasya pun hanya bisa mengekor di belakang Alvian dengan menundukkan kepalanya. Sesampainya di parkiran, Tasya tampak terkejut melihat Prili yang sudah duduk di kursi depan.
__ADS_1
"Ayo masuk."
"Mas, kok ada Prili? memangnya dia mau ikut menginap juga?" tanya Tasya.
"Iya, buruan jangan banyak tanya."
Tasya pun memutuskan untuk masuk dan duduk di kursi belakang. Cukup lama Alvian mengemudikan mobilnya, sehingga membuat Tasya baru sadar kalau ini bukan jalan menuju rumah mertuanya.
"Mas, kita mau kemana? ini bukan jalan menuju rumah Mama."
"Sudah jangan banyak omong, kamu duduk manis saja disana," sahut Prili.
Tidak lama kemudian, mobil Alvian berhenti di depan rumah yang entah rumah siapa.
"Ayo turun," seru Prili sembari menarik tangan Tasya dengan kasarnya.
"Aw, sakit Prili kamu bisa lebih lembut tidak."
"Alah jangan manja deh kamu, buruan ikut."
Tok..tok..tok..
Alvian mengetuk pintu rumah itu, dan tidak lama kemudian seorang wanita yang bisa dibilang berusia kepala empat itu membuka pintu dengan senyumannya yang mengembang.
"Pak Alvian, Bu Prili, mari silakan masuk saya sudah menunggu kalian dari tadi."
"Maaf suster, tadi kami sedikit ada masalah," sahut Alvian.
"Suster," batin Tasya.
"Iya tidak apa-apa, apa ini orangnya Pak Alvian?" tanya Ibu Wati yang merupakan suster itu.
"Iya Bu."
"Mbak, mari ikut dengan saya," ajak Bu Wati.
"Tunggu, kalian mau ngapain? kenapa aku dibawa kesini?" tanya Tasya yang mulai panik dan mata yang sudah berkaca-kaca.
Deg...
Tasya reflek memegang perutnya dan mundur satu langkah, airmatanya pun saat ini sudah mengalir di pipi mulusnya.
"Maksud Mas apa?"
"Sudah jelas kan, aku bawa kamu kesini karena aku ingin kamu menggugurkan kandungan kamu dan Ibu Wati ini yang akan membantumu," sahut Alvian.
"Tidak Mas, aku tidak akan menggugurkan kandungan ini, sampai kapan pun aku akan mempertahankan kandunganku," teriak Tasya.
Alvia mendekat dan mencengkram wajah Tasya dengan sangat kuat sehingga Tasya meringis kesakitan.
"Dari dulu aku sudah bilang, kalau aku tidak pernah mencintaimu jadi jangan harap aku akan bertanggung jawab atas anak itu," bentak Alvian.
Tasya menghempaskan tangan Alvian, tubuhnya sudah mulai bergetar dan tatapannya tajam ke arah Alvian.
"Dari dulu aku tidak pernah meminta kamu untuk bertanggung jawab atas anak ini, dan aku juga tidak menginginkan perikahan ini apalagi menikah dengan pria brengsek sepertimu," teriak Tasya.
Plaaakkkk....
Alvian menampar Tasya dengan sangat kerasnya membuat sudut bibirnya berdarah.
"Kalau anak itu masih hidup, sampai kapanpun anak itu akan menjadi penghalang buatku untuk mendapatkan perusahaan itu, dan jalan satu-satunya adalah menggugurkan kandunganmu dan kita secepatnya bercerai," seru Alvian.
"Ah kelamaan, banyak drama banget kalian. Ayo masuk jangan banyak omong," seru Prili dengan menyeret Tasya untuk masuk ke dalam ruangan khusus milik Ibu Wati.
Tasya terus saja memberontak, dia tidak mau sampai menggugurkan kandungannya. Prili melempar Tasya supaya berbaring di ranjang yang sudah disediakan. Sedangkan Ibu Wati tampak sedang menyiapkan suntikan.
Keringatnya sudah basah membanjiri wajahnya, begitu pun dengan airmatanya yang sudah tumpah membasahi pipinya.
"Bu, saya mohon jangan lakukan itu saya tidak mau menggugurkan kandungan saya Bu, saya mohon berilah sedikit belas kasihan kepada saya," seru Tasya dengan bibir yang bergetar.
__ADS_1
Sementara itu, Alvian dan Prili menunggu di teras rumah Bu Wati, mereka tidak mau melihat aksi Bu Wati.
"Maaf Mbak, saya dibayar sangat mahal oleh Pak Alvian dan saya sangat membutuhkan uang itu, jadi lebih baik kita sama-sama bekerjasama."
"Tidak, aku tidak mau menggugurkan kandunganku," teriak Tasya.
Ibu Wati mulai mendekat dengan jarum suntik berada di tangannya, Ibu Wati sudah siap untuk menyuntikan cairan itu, cairan untuk menggugurkan janin dalam kandungan.
Bruuuugggghhhh...
Disaat Ibu Wati itu mendekat, Tasya menendang Ibu Wati sehingga Ibu Wati terjungkir ke belakang, dengan cepat Tasya segera berlari keluar.
Prili yang saat ini sedang bermanjaan kepada Alvian di teras rumah Ibu Wati terkejut saat seseorang berlari dengan kencangnya keluar dari rumah itu.
"Sayang, bukannya itu Tasya," seru Prili.
"Sial, dia kabur," sahut Alvian.
"Maaf Pak, Bu, Mbak Tasya tadi menendang saya dan sekarang berhasil kabur," seru Ibu Wati dengan memegang dadanya yang tadi terkena tendangan Tasya.
"Sayang, ayo kejar Tasya."
Alvian dan Prili pun segera berlari mengejar Tasya, sedangkan Tasya dengan memegang perutnya terus saja berlari.
"Kamu harus kuat Nak," gumam Tasya dengan terus berlari.
"Tasya jangan kabur kamu," teriak Alvian.
Tasya terus saja berlari tanpa arah, hingga akhirnya Tasya sampai di sebuah jalan raya, karena Tasya merasa ketakutan Tasya menyebrang jalan itu tanpa melihat ke kanan dan ke kiri.
Sebuah mobil dengan kecepatan sedang melaju ke arah Tasya.
"Aaaaaaa...."
Bbbuuuuugggghhhh....
Tasya terduduk di jalanan karena mobil itu dengan cepat berhenti dan hanya sedikit mengenai tubuh Tasya.
Seseorang keluar dari mobil itu dan menghampiri Tasya yang sudah kelelahan karena terus berlari.
"To--long sa--ya."
Orang itu membantu Tasya berdiri dan membawanya masuk ke dalam mobilnya, disaat mobil itu melaju, Alvian datang dan celingukkan mencari keberadaan Tasya.
"Sial, kemana wanita itu," geram Alvian.
"Bagaimana sayang, apa kamu menemukan Tasya?" tanya Prili dengan nafas ngos-ngosan.
"Kita kehilangan jejak Tasya, bisa bahaya kalau sampai Tasya ngadu kepada Mama dan Papa, kita harus segera ke rumah Mama dan Papa sebelum wanita itu sampai disana dan mengatakan yang sebenarnya," seru Alvian.
Akhirnya Alvian dan Prili pun memutuskan untuk pergi ke rumah Mama dan Papanya Alvian, mereka berharap kalau Tasya tidak mengatakan semuanya kepada orangtua dan Vano.
.
.
.
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU