
.
.
.
.
.
Tasya perlahan menghampiri Alvian..
Plaaaakkkk....
Tasya menampar pipi Alvian dengan sangat kencang.
"Dasar laki-laki b*******, kamu sudah merenggut apa yang selama ini aku jaga baik-baik," bentak Tasya.
Alvian membekap mulut Tasya dengan tangannya dan menyudutkan Tasya ke dinding.
"Diam, aku tidak mau sampai Abang dan kedua orangtuaku tahu," seru Alvian.
Tasya menggigit tangan Alvian, sehimgga Alvian melepaskan bekapannya.
"Laki-laki b*****, kamu sudah menghancurkan hidupku dan kamu sudah merusak masa depanku."
"Bukankah malam itu kamu sama-sama menikmatinya, terus kenapa sekarang kamu malah marah-marah," seru Alvian dengan senyuman meremehkan.
"Brengsek, hanya laki-laki brengsek yang memanfaatkan wanita yang sedang mabuk, aku berdo'a semoga kamu merasakan apa yang selama ini aku rasakan, hidup kamu tidak akan pernah bahagia," seru Tasya dengan tatapan kebenciannya.
Alvian terlihat emosi dan mencengkram wajah Tasya dengan sangat kuat sehingga membuat Tasya meringis kesakitan.
"Kamu berani mengancamku, dasar wanita murahan," sentak Alvian dengan menghempaskan tubuh Tasya.
"Aku bukan wanita murahan," bentak Tasya.
"Seorang wanita masuk ke dalam club malam dengan memakai pakaian **** dan juga meminum minuman beralkohol, apa bisa disebut wanita baik-baik," seru Alvian dengan nada meremehkan.
"Aku dijebak."
Tap..tap..tap..
Suara langkah kaki menyadarkan Alvian dan Tasya, sehinga Alvian melepaskan cengkramannya dan menjauh dari Tasya.
"Tasya, kamu sedang ngapain disitu?" tanya Vano.
"Ti--tidak Tuan, saya segera ke bawah."
Tasya dengan cepat membawa keranjang pakaian kotor milik Vano ke bawah, sedangkan Alvian masih diam mematung dengan memalingkan pandangannya. Vano menatap tajam ke arah Alvian, hingga akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke bawah.
"Ah sial, kenapa wanita itu ada disini?" gumam Alvian.
Alvian pun sampai di bawah dan langsung mendudukkan dirinya di meja makan, Vano masih menatap tajam ke arah Alvian.
"Tasya, kesini sebentar," panggil Mama Elis.
"Iya Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Tasya dengan menundukkan kepalanya.
"Pa, ini loh asisten pribadinya Vano, cantik ya.'
"Iya, cantik. Kamu pinter Vano cari wanita, pantas saja kamu mau punya asisten pribadi," goda Papa Bakrie.
"Tasya, kamu duduk pasti kamu belum makan kan?"
"Tidak Nyonya, saya makan dibelakang saja."
__ADS_1
"Tidak, kamu itu bukan ART disini jadi kamu tidak boleh makan di belakang, ayo duduk kita makan bareng," ajak Mama Elis.
"Tapi Nyonya----"
Tasya menoleh ke arah Vano yang saat ini menganggukkan kepalanya. Dengan ragu-ragu, akhirnya Tasya duduk di meja makan itu.
"Ayo Tasya, kamu ambil saja tidak usah malu-malu," seru Papa Bakrie.
"Iya Tuan."
Tiba-tiba seseorang datang...
"Selamat pagi semuanya," sapa Prili.
"Pagi."
"Pagi sayang."
Prili mencium pipi Alvian dan langsung duduk di samping Alvian.
"Pagi Tante, pagi Om, Pagi Kak Vano."
"Pagi sayang, ayo ikut sarapan bersama kita," sahut Mama Elis.
"Iya Tante."
Tatapan Prili tertuju kepada wanita asing yang saat ini duduk dan makan dengan menundukkan kepalanya.
"Tante, dia siapa?" tanya Prili.
"Oh, ini Tasya asisten pribadinya Vano."
"Oh, kok dia makan disini sih Tante? kenapa tidak makan di belakang saja?" seru Prili dengan angkuhnya.
Prili tidak bisa bicara lagi, bahkan Prili sangat takut dengan tatapan tajam Vano. Sedangkan Alvian, dari tadi dia hanya diam saja tidak berani bicara sedikit pun.
"Tasya, ambilkan tas kerja saya," seru Vano.
"Baik Tuan."
"Ma, Pa, Vano berangkat dulu."
"Iya sayang."
Vano pun meninggalkan meja makan dan diikuti oleh Tasya yang mengekornya dari belakang.
"Nanti saya pulang pukul tujuh malam, kamu harus menyiapkan semuanya."
"Iya Tuan."
Vano pun masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Tasya. Tasya benar-benar ingin pergi dari rumah itu, dia sudah tidak mau bertemu dengan pria brengsek itu tapi Tasya juga sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk menjalani hidupnya.
Kemudian Tasya masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke belakang untuk mencuci pakaian kotor Vano.
"Sayang, kamu tunggu dulu di mobil aku mau ngambil barang aku yang ketinggalan di kamar," seru Alvian.
"Ok, jangan lama-lama ya sayang."
Prili pun langsung pergi keluar dan menunggu di dalam mobil, sedangkan Alvian bukannya mengambil barang yang ketinggalan di kamar tapi Alvian malah pergi ke belakang untuk menemui Tasya.
Terlihat Tasya sedang menunggu pakaian Vano yang dia masukkan ke dalam mesin cuci. Tasya merasa ada orang yang sedang memperhatikannya, hingga Tasya pun membalikkan tubuhnya dan betapa terkejutnya Tasya saat melihat Alvia berdiri di depan pintu dengan tatapan tajamnya.
"Ma--mau apa kamu?"
"Aku cuma ingin kamu tutup mulut dan jangan ada yang tahu masalah ini, apalagi Prili tunanganku karena aku sangat mencintainya," seru Alvian.
__ADS_1
Tasya hanya bisa diam mematung, hingga akhirnya Alvian pun pergi meninggalkan Tasya. Tubuh Tasya luruh di lantai, kakinya benar-benar lemas, Tasya tidak menyangka kalau dia akan satu rumah bersama pria yang sudah menghancurkan hidupnya.
***
POV Vano...
Setelah Vano duduk di meja makan, Vano mulai menyesap kopinya. Cukup lama Vano menunggu tapi Tasya belum juga turun.
"Kemana wanita itu, kenapa begitu lama," batin Vano.
Vano pun beranjak dari duduknya..
"Mau kemana kamu Vano?" tanya Mama Elis.
"Vano lupa ada yang ketinggalan di kamar."
Vano pun segera melangkahkan kakinya menuju lantai dua dimana kamarnya berada, belum juga Vano sampai di kamarnya, samar-samar aku mendengar teriakkan Tasya.
"Aku bukan wanita murahan."
Aku segera melangkahkan kakiku, tapi aku kembali menghentikan langkahku saat melihat Tasya sedang tersudut di dinding dan Alvian terlihat mencengkram wajah Tasya.
Aku mencoba bersembunyi dan melihat apa yang sedang mereka bicarakan.
"Seorang wanita masuk ke dalam club dengan memakai pakaian **** dan meminum minuman beralkohol apa itu bisa dikatakan wanita baik-baik."
"Aku dijebak."
Aku tidak mau mendengarkan kelanjutannya, aku tahu arah pembicaraan mereka. Maka dari itu aku memutuskan untuk menghampiri Alvian dan Tasya, aku lihat Alvian tampak gugup dan tidak berani menatapku.
***
Vano tampak melamun dikursi kebesarannya, bayangan Tasya keluar dari hotel dengan mata sembab habis menangis dan di waktu yang sama Vano melihat Alvian tidur di kamar hotel itu dan Vano tahu kalau Alvian sudah memghabiskan malam dengan seorang perempuan.
Tapi yang membuat Vano terkejut, Vano melihat ada bercak darah di seprei itu.
"Apa jangan-jangan, Alvian dan Tasya----"
Ceklek...
"Bang, kita harus segera ke ruangan meeting semuanya sudah menunggu," seru Alvian.
"Ah iya."
Gara-gara memikirkan kejadian itu, Vano sampai lupa kalau hari ini dia ada meeting penting dengan pemegang saham.
.
.
.
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1