
.
.
.
.
.
Alvian dengan lemasnya memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya menuju apartemennya sendiri. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Al sampai di apartemen.
Disaat Alvian masuk ke dalam apartemen, Al tampak memperhatikan setiap sudutnya, biasanya setiap pulang kerja Tasya sudah menyiapkan makan malam tapi dengan kejamnya Alvian tidak pernah menyentuh sedikit pun makanan itu.
Alvian menjatuhkan dirinya di atas sofa, setiap subuh Tasya masuk ke dalam kamarnya untuk menyiapkan semua keperluan Alvian, tanpa mengeluh sedikitpun walaupun Alvian selalu saja bersikap kejam kepada Tasya.
"Apa selama ini aku terlalu kejam kepada Tasya," gumam Alvian.
Alvian kembali membayangkan malam panasnya dulu bersama Tasya, meskipun dia dalam keadaan mabuk tapi Tasya berusaha menolak dan melawan. Bahkan bercak darah di seprei itu menjadi pertanda kalau Tasya memang benar-benar masih suci.
Secara logika, kalau Tasya berniat memeras hartanya, Tasya akan langsung meminta Alvian untuk menikahinya disaat mereka bertemu di rumah untuk pertama kalinya tapi pada kenyataannya jangankan minta menikahinya, Tasya sama sekali tidak minta pertanggung jawaban darinya.
"Tasya..." gumam Alvian.
Untuk pertama kalinya seorang Alvian merasa menyesal dan bersalah kepada seorang wanita. Bahkan saat ini Alvian menjambak rambutnya sendiri saat mengingat malam dimana dia ingin menggugurkan kandungan Tasya.
"Aku harus mencari Tasya, setelah penjelasan Bang Vano tadi, aku yakin kalau anak yang ada di dalam kandungan Tasya adalah anakku," gumam Alvian.
Alvian segera bangkit dari duduknya dan dengan cepat mengambil kunci mobil, Alvian berniat mencari Tasya.
***
Sementara itu Tasya dan Cherry saat ini sudah berada dalam pesawat, mereka akan berangkat menuju Paris. Tasya mengusap perutnya yang masih terlihat rata.
"Kamu pasti kuat Nak, kita berjuang bersama-sama dan kita harus membuktikan kepada orang-orang yang menghina kita, kalau kita akan sukses. Apalagi kepada Mas Alvian yang selalu merendahkanku, aku akan buktikan kepadamu Mas kalau aku dan anakku bisa bertahan walaupun kamu tidak menganggap dan tidak menginginkan kehadirannya," batin Tasya.
***
Malam pun tiba...
Alvian pulang ke apartemenya dengan perasaan kecewa karena tidak bisa menemukan Tasya padahal Alvian berencana kalau bisa menemukan Tasya, Alvian akan meminta maaf.
Bukan karena perusahaan ataupun hak waris tapi Alvian ingin meminta maaf setulus hatinya tapi harapannya pupus, Alvian tidak menemukan Tasya dimana pun. Saking lelahnya, Alvian pun akhirnya tertidur di sofa tanpa mengganti pakaiannya.
Sementara itu di kediaman Bakrie..
"Bagaimana Vano, apa kamu sudah menemukan Tasya?" tanya Mama Elis.
"Belum Ma, bahkan anak buah Vano pun tidak menemukan Tasya dimana-mana, Tasya hilang tanpa jejak," sahut Vano dengan memijat keningnya yang terasa berdenyut.
"Kenapa Tasya sampai menghilang Vano, apa sebelum Tasya pergi sudah terjadi sesuatu?" tanya Mama Elis penasaran.
"Sebenarnya malam dimana Tasya menghilang, Alvian dan Prili merencanakan untuk menggugurkan kandungan Tasya tapi Tasya tidak mau makannya Tasya kabur."
"Astaga, Alvian memang sudah keterlaluan dia mau membunuh anaknya sendiri, awas kamu Al, Papa tidak akan memberimu ampun sebelum Tasya bisa ditemukan," geram Papa Bakrie.
Sementara itu Mama Elis tampak syok dengan penjelasan Vano kalau Alvian ingin melenyapkan darah dagingnya sendiri.
***
Dibelahan dunia nan jauh disana, Tasya dan Cherry baru saja sampai di Paris setelah melakukan perjalanan yang sangat panjang akhirnya mereka juga sampai di apartemen milik Cherry.
__ADS_1
"Sya, kamu istirahat sana dan besok kita periksakan kandunganmu, aku takut terjadi kenapa-napa soalnya kamu memaksa banget pergi padahal sudah jelas-jelas Dokter melarangmu," seru Cherry.
"Ok, kalau begitu aku istirahat dulu ya."
Cherry pun menganggukkan kepalanya, Cherry mengotak-ngatik laptopnya sebentar melihat semua email yang masuk dan setelah itu, dia pun masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
***
Satu bulan sudah Alvian mencari keberadaan Tasya tapi hasilnya tetap nihil, Tasya bagaikan hilang ditelan bumi. Penampilan Alvian yang awalnya rapi, bersih, dan terurus sekarang berubaj seratus delapan puluh derajat.
Wajah tampannya mulai di tumbuhi bulu-bulu halus, badannya sedikit kurus, dan penampilannya pun acak-acakkan yang rambut terlihat gondrong.
Selama satu bulan ini Alvian tidak masuk kantor karena Vano dan Papanya melarangnya, alhasil selama satu bulan ini setiap malam dia habiskan di club malam. Banyak wanita yang mendekati dan menggoda tapi setiap Alvian memandang wanita itu, justru malah selalu terbayang wajah Tasya.
"Tasya, kamu dimana sekarang? kembalilah, maafkan aku," teriak Alvian seperti orang gila.
Salah satu staff club mengambil ponselnya Alvian dan menghubungi salah satu kontak yang ada di dalam ponsel Alvian.
Tidak lama kemudian, Vano dan anak buahnya datang dan berdiri dihadapan Alvian yang sudah terkapar di atas sofa club dengan penampilan yang acak-acakkan.
"Tasya dimana kamu," gumam Alvian.
Vano menghela nafasnya berat dan kemudian menggendong tubuh Alvian di atas punggungnya.
Sesampainya di rumah, Vano membawa Alvian ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya.
"Tasya, maafkan aku," gumam Alvian.
"Sudah pergi baru kamu sadar," seru Vano dengan senyuman meremehkan.
Vano pun meninggalkan Alvian...
***
"Vano, tadi malam kamu kemana? Papa dengar mobil kamu sepertinya keluar?" tanya Papa Bakrie.
"Aku dapat telpon dari sebuah club malam, kalau anak brengsek itu mabuk parah," sahut Vano dengan santainya.
"Berarti, Al sekarang ada disini?" tanya Mama Elis.
"Iya Ma."
Setelah sarapan Vano langsung berangkat ke kantor, sedangkan Mama Elis dan Papa Bakrie naik ke atas untuk menemui Alvian.
Sesampainya di dalam kamar, terlihat Alvian yang masih tertidur dengan penampilannya yang sangat acak-acakkan, Mama Elis hanya bisa menutup mulutnya merasa terkejut dengan keadaan anak bungsunya itu.
"Ya Alloh Al, kenapa kamu menjadi seperti ini?" seru Mama Elis.
"Beginilah kalau anak yang tidak menurut kepada orangtua," sahut Papa Bakrie.
Dengan kesalnya Papa Bakrie masuk ke dalam kamar mandi dan membawa air dalam gayung.
Byuuuuurrrr....
Papa Bakrie menyiram wajah Al dengan air itu..
"Papa..." sentak Mama Elis merasa terkejut dengan yang dilakukan suaminya itu.
"Bangun anak kurang ajar," teriak Papa Bakrie.
Seketika Alvian bangun karena terkejut dengan siraman dan teriakkan yang menggelegar dari Papa Bakrie.
__ADS_1
"Begilah kerjaan kamu, mabuk-mabukkan setiap hari?" bentak Papa Bakrie.
"Sabar Pa."
"Ma, Papa tidak bisa sabar menghadapi anak kurang ajar seperti dia, sekarang kamu rasakan apa yang sudah kamu lakukan," bentak Papa Bakrie.
Alvian turun dari tempat tidurnya dan dengan cepat bersujud dan memeluk kaki Papanya itu dengan deraian airmata.
"Maafkan Al, Pa. Al tahu Al sudah keterlaluan dan Al sangat menyesal," seru Al memelas.
Mama Elis ikut menitikan airmata karena bagaimana pun juga Al adalah puteranya.
"Menyesal kamu bilang? sudah terlambat, Tasya sudah pergi dengan membawa calon cucuku, kamu memang sudah keterlaluan bahkan kamu berusaha melenyapkan calon cucuku, dasar anak tidak punya hati kamu," teriak Papa Bakrie dengan menghempaskan tubuh Al sehingga Al tersungkur ke lantai.
"Pa, sabar jangan seperti ini," seru Mama Elis menenangkan suaminya itu.
Al tidak pantang menyerah, dia kembali menghampiri Papanya dan kembali memeluk kaki sang Papa.
"Pa, ampuni Al...Al mohon, Al akan berusaha mencari Tasya, tapi Al mohon maafkan Al, Pa."
Mama Elis sudah menangis melihat anaknya seperti itu, Mama Elis bisa melihat kalau saat ini anaknya memang sungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Pa, maafkan Al, kasihan dia sepertinya kali ini Al memang sudah menyesal," seru Mama Elis.
Papa Bakrie terdiam sejenak dan melihat ke arah anaknya yang saat ini sudah menundukkan kepalanya.
"Baik, kali ini Papa maafkan kamu Al dan ini merupakan kesempatan terakhir kamu, jangan kamu sia-siakan kesempatan ini, kalau kamu sampai mengulanginya lagi Papa benar-benar akan mencoret nama kamu dari daftar keluarga Bakrie," seru Papa Bakrie dingin.
"Terima kasih Pa."
Papa Bakrie melangkahkan kakinya hendak meninggalkan kamar Al, tapi di depan pintu ia menghentikan langkahnya.
"Kamu harus cari Tasya dan bawa Tasya serta calon cucu Papa ke rumah ini, bagaimana pun caranya."
"Iya Pa."
Papa Bakrie pun meninggalkan kamar Alvian.
"Tasya adalah wanita yang sangat baik, carilah mereka dan bawa pulang bagaimana pun dia istrimu dan anak yang dia kandung adalah anakmu, Al."
"Iya Ma, Al janji akan mencari istri dan anak Al."
"Bagus, kalau begitu sekarang kamu mandi dan sarapan."
Mama Elis mengusap pundak Al dengan penuh kasih sayang, sebelum ia meninggalkan kamar Al.
.
.
.
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU