
.
.
.
.
.
Satu bulan sudah Tasya bekerja menjadi asisten pribadi Vano dan selama itu juga Tasya sangat menghindari yang namanya Alvian, Tasya sangat membenci Alvian bahkan tidak ingin melihat Alvian.
Malam ini Tasya tidak bisa tidur karena merasa tidak enak badan, kepalanya pusing bahkan perutnya selalu mual kalau melihat makanan yang berbumbu padahal sebelumnya Tasya tidak seperti itu.
Tasya kembali menutup mulutnya karena rasa mual itu kembali menyerang. Tasya dengan cepat menuju kamar mandi, dan lagi-lagi Tasya memuntahkan cairan bening yang sudah terasa sangat pahit.
"Aku kenapa? kok perut aku mual terus," gumam Tasya.
Dengan susah payah, Tasya bangun dari lantai toilet dan menuju dapur, dia ingin membuat teh manis untuk menghilangkan rasa mualnya.
Disaat Tasya sedang membuat teh manis hangat, dibelakang Tasya ada Alvian yang dari tadi memperhatikan Tasya.
"Tubuh wanita itu sangat **** bahkan wajahnya pun sangat cantik, tapi kenapa aku baru menyadarinya," gumam Alvian.
Otaknya saat ini sedang membayangkan malam panas itu bersama Tasya dan Alvian belum pernah merasakan hal senikmat itu. Alvian memang besar di Kanada dan pergaulan disana sangat bebas.
Alvian bukan pria yang suci, setiap malam dia gonta-ganti wanita untuk memuaskan hasratnya tapi malam itu sungguh membuat Alvian ketagihan yang menginginkan Tasya lagi.
Perlahan Alvian mendekati Tasya dan langsung memeluk Tasya dari belakang, Tasya terkejut dengan dan langsung membalikkan tubuhnya.
"Mas Al, apa-apaan ini? kamu lancang sekali," seru Tasya dengan suara yang bergetar.
"Jangan sok suci deh, kamu pasti sudah tidur dengan banyak pria kan? jadi buat apa kamu menolakku, karena malam ini aku sangat menginginkanmu," sahut Alvian.
Alvian kembali mendekat dan memeluk Tasya kembali, kali ini Al semakin bringas dan menciumi leher Tasya.
"Lepaskan Mas, aku mohon jangan lakukan ini padaku Mas," seru Tasya dengan deraian airmatanya.
"Aku akan bayar kamu berapa pun Tasya, asalkan malam ini kamu mau melayaniku."
Sekuat tenaga Tasya mendorong Alvian dan menamparnya..
Plaaaakkk...
"Aku sudah katakan, aku bukan wanita murahan," bentak Tasya dengan deraian airmata.
"Berani sekali kamu menamparku, dasar j*****."
Alvian kembali memaksa Tasya, Tasya sudah tidak punya tenaga lagi, tenaganya habis karena dari tadi dia terus-terusan muntah.
"Jangan lakukan itu, aku mohon," seru Tasya.
Buugghh..
__ADS_1
Buugghh..
Buugghh..
Alvian seketika tersungkur, Vano yang saat itu ingin mengambil air minum terkejut saat melihat Alvian sedang memaksa Tasya.
"Bajingan, kelakuanmu sangat menjijikan," bentak Vano.
"Abang..."
"Bang, dia itu bukan wanita polos yang selama ini Abang kira, dia adalah wanita murahan Bang lagipula barusan juga aku ingin membayarnya," sahut Alvian.
"Jaga mulutmu Alvian, Tasya bukan wanita murahan, kamu yang sudah mengambil kesucian Tasya, iya kan?" bentak Vano.
Tasya dan Alvian sama-sama membelalakkan matanya, mereka tidak menyangka kalau Vano sudah mengetahuinya.
"Darimana Abang tahu?"
"Kamu lupa siapa aku? aku sudah tahu semuanya, Tasya dijebak sehingga membuat dia harus kehilangan kesuciannya oleh pria brengsek sepertimu dan Tasya juga harus dikeluarkan dari kampusnya karena ulah kamu dan sekarang kamu mau melakukannya lagi, dasar tidak tahu malu," bentak Vano.
Tasya yang dari tadi kepalanya terasa sakit, tiba-tiba pandangannya perlahan menjadi gelap dan akhirnya Tasya jatuh tak sadarkan diri.
***
Tasya mengerjapkan matanya, dilihatnya ruangan serba putih dan tercium bau obat membuatnya kembali mual.
"Kamu sudah bangun, Nak?" tanya Mama Elis.
Tasya terkejut dengan suara lembut milik Mama Elis, kemudian Tasya mengedarkan pandangannya dan Tasya semakin terkejut karena tidak hanya Mama Elis, ternyata Vano, Papa Bakrie, dan terakhir Alvian dengan wajah babak belurnya.
Tasya hendak bangun tapi dengan sigap Mama Elis membantunya, dan kini Tasya menyandarkan tubuhnya.
"Maaf, Tasya sudah menyusahkan kalian semua," lirih Tasya.
"Tidak Nak, justru kami ingin meminta maaf kepadamu tentang apa yang sudah Alvian lakukan kepadamu," seru Mama Elis.
Tasya sangat takut kalau orang tua Alvian akan memarahinya. Tasya menundukkan kepalanya tidak berani menatap satu-satu orang yang ada disana.
"Tasya, kamu harus segera menikah dengan Alvian," seru Vano.
Deggg...
Jantung Tasya berdebar dengan sangat kencangnya, entah apa yang membuat Vano bisa berkata seperti itu.
"Ma--maksud Tu--tuan apa?" tanya Tasya gugup.
"Vano sudah menceritakan semuanya, kami sangat malu dengan apa yang sudah anak kami lakukan," sahut Mama Elis dengan menggenggam tangan Tasya.
"Tapi Nyonya, Tasya tidak bisa menikah dengan Mas Al."
"Kenapa?"
"Mas Al tidak mencintai Tasya, begitu pun dengan Tasya kami tidak saling mencintai, Nyonya tidak usah memikirkan itu, Tasya tidak akan minta apa-apa ataupun pertanggung jawaban dari Mas Al, Tasya sudah ikhlas," sahut Tasya.
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan kandungan kamu?" sentak Vano.
Tasya bingung, apa maksud dari ucapan Vano.
"Maksudnya?" tanya Tasya.
"Kamu hamil Tasya dan itu adalah anak dari si brengsek ini," bentak Vano dengan menunjuk ke arah Alvian yang saat ini sedang menunduk.
"Ap---apa?"
Tasya membelalakan matanya dan tanpa terasa airmatanya menetes. Mama Elis yang berada di samping Tasya langsung memeluknya.
"Maafkan Alvian, Tasya."
"Tidak ini tidak mungkin, Tasya tidak mungkin hamil Nyonya."
"Kamu memang sedang hamil Nak, dan usia kandunganmu saat ini baru menginjak tiga minggu."
Hancur sudah hati Tasya mendengar kenyataan ini, airmatanya tidak bisa dibendung lagi.
"Besok pagi kalian harus menikah, saya sudah siapkan semuanya," seru Papa Bakrie.
"Tidak Pa, bagaimana dengan Prili? Al sama Prili sudah tunangan dan Al juga sangat mencintai Prili, Al tidak mau menikah dengan dia," teriak Al dengan menunjuk ke arah Tasya.
"Kalian sadar tidak, kalian sudah tunangan selama satu tahun tapi Prili tetap saja selalu mengulur waktu disaat kamu mengajaknya menikah, Papa merasa tidak dihargai oleh Prili. Pokoknya tidak ada penolakkan, besok kamu harus menikahi Tasya, kamu harus pertanggung jawabkan perbuatan kamu," bentak Papa Bakrie.
"Tapi Pa----"
"Menikah dengan Tasya atau Papa akan menghapus kamu dari daftar hak waris keluarga Bakrie."
Alvian tampak mengepalkan tangannya, dia tidak mau menikah dengan Tasya karena Alvian sangat mencintai Prili.
Alvian menatap tajam ke arah Tasya, awalnya Alvian yang terbakar gairah karena melihat tubuh **** Tasya seketika berubah menjadi kebencian yang teramat dalam kepada Tasya.
"Awas kamu Tasya, aku akan buat hidup kamu lebih menderita lagi dan kamu akan menyesal karena sudah berurusan denganku," batin Alvian.
Alvian segera pergi dari ruangan itu meninggalkan semuanya, sedangkan Tasya merasa sangat takut kalau Alvian akan melakukan hal nekad.
.
.
.
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU