ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO

ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO
Pernikahan


__ADS_3

.


.


.


.


.


Seperti yang sudah di bicarakan oleh Papa Bakrie, pagi ini Alvian harus menikahi Tasya. Semalaman Tasya tidak bisa tidur, kalau bisa memilih Tasya lebih memilih tidak menikah dengan Alvian, masalah bayi yang ada dalam kandungannya biarlah dia sendiri yang merawatnya.


Sebelum pulang dari rumah sakit, Alvian mengucap ijab kabul terlebih dahulu. Ya, Alvian dan Tasya melangsungkan akad nikah di rumah sakit, hanya keluarga Alvian yang ada disana tidak ada yang lain.


"Andai saja aku yang pertama bertemu dengan Tasya, mungkin aku akan senang hati menikahi Tasya," batin Vano.


Setelah ijab kabul terucap, semuanya pun meninggalkan rumah sakit. Kebetulan Tasya pun sudah diperbolehkan untuk pulang.


"Ma, Pa, karena Al sekarang sudah menikah dengan Tasya, Al mau minta izin untuk membawa Tasya ke apartemen Al," seru Alvian.


"Al, apa sebaiknya kalian tinggal saja di rumah kasihan Tasya yang saat ini sedang ngidam pasti akan sangat repot kalau tinggal di apartemen," seru Mama Elis.


"Benar Al, kalau kamu berangkat ke kantor terus terjadi apa-apa sama Tasya bagaimana?" sambung Papa Bakrie.


"Nanti biar Vano kirim ART ke apartemen Al."


"Perhatian banget kamu Bang, kenapa tidak kamu saja yang menikah dengan Tasya?" seru Al dengan sinisnya.


"Jaga bicaramu Al, kamu harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah kamu lakukan, ingat kalau sampai kamu bertindak kasar kepada Tasya, kamu akan berurusan denganku," sahut Vano dengan tatapan tajamnya.


"Wow, hebat sekali kamu Bang, aku bangga padamu," seru Al dengan menepuk pundak Vano.


"Al, pokoknya kalau sampai kamu sakitin Tasya dan bertindak kasar kepada Tasya, kamu akan di coret dari hak waris Papa."


"Apa?"


"Ayo Ma, kita pulang."


Mama Elis memeluk Tasya yang dari tadi hanya bisa menunduk mendengar perseteruan satu keluarga itu.


"Kalau sampai Alvian bersikap kasar sama kamu, kamu bilang sama Mama ya."


Tasya hanya bisa menganggukkan kepalanya...


"Tasya, ayo masuk," seru Alvian dingin.


Perlahan Tasya pun masuk dan duduk dengan perasaan yang sedikit takut. Tidak membutuhkan waktu lama, Alvia dan Tasya pun sampai di apartemen milik Alvian.


Alvian langsung meninggalkan Tasya, dengan susah payah Tasya menyusul Alvian karena dia tidak tahu letak apartemen Alvian disebelah mana. Sesampainya di dalam apartemen, Alvian langsung menatap tajam kepada Tasya.


"Kamar kamu disebelah sana, jangan pernah kamu masuk ke dalam kamarku kalau bukan aku yang menyuruhmu. Kamu harus ingat, aku tidak pernah mencintaimu karena yang aku cintai hanyalah Prili, anak dalam kandungan kamu hanyalah kesalahan yang sama sekali tidak aku inginkan jadi lebih baik kamu gugurkan saja anak itu supaya kita bisa bercerai dan aku akan menikahi Prili," seru Alvian.

__ADS_1


Deggg....


Tasya langsung memegang perutnya dengan deraian airmata, sampai kapan pun Tasya tidak akan menggugurkan kandungannya.


"Tidak, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menggugurkan kandunganku."


"Kenapa? apa kamu berharap lebih dariku? apa kamu berharap aku akan tanggung jawab dengan anak itu?" bentak Alvian.


"Kalau Mas tidak menginginkan anak ini, kenapa Mas menyetujui pernikahan ini? bukankah aku sudah bilang kalau aku tidak butuh pertanggung jawaban dari Mas."


Alvian mendorong tubuh Tasya ke dinding dan mencengkram wajah Tasya.


"Mama dan Papa akan mencabut hak waris aku kalau aku tidak mau menikahimu, kehadiran kamu hanya membuat hidupku sengsara dan kamu tahu, itu artinya aku juga akan membuat kamu sengsara selama menikah denganku," bentak Alvian dengan menghempaskan wajah Tasya.


Tasya meringis kesakitan...


"Kalau begitu ceraikan saja aku Mas, dan aku akan bilang kepada orangtua mu kalau aku tidak bisa menjalani hidup denganmu."


"Kamu pikir akan semudah itu hah...jangan pernah meminta cerai kepadaku sebelum Papa memberikan hak warisnya kepadaku dan jangan berpikir untuk kabur dan ngadu kepada orangtuaku atau aku akan membuat hidupmu lebih menderita lagi," bentak Alvian.


"Sayang...."


"Hai Sayang..."


Prili langsung masuk ke dalam apartemen dan memeluk Alvian, sedangkan Tasya hanya bisa menangis meratapi nasibnya.


"Oh, jadi ini wanita yang menikah denganmu sayang? bukannya dia asistennya Kak Vano?" cibir Prili.


"Iya, dia ngaku-ngaku hamil anak aku."


"Buat apa lagi kalau bukan untuk mendapatkan hidup yang layak, dia kan wanita miskin yang hadir di kehidupan keluarga aku."


"Idih najis, murahan banget caranya."


"Sudahlah sayang, ngapain ngurusin wanita murahan itu mending sekarang kita senang-senang saja, aku sudah rindu banget sama kamu sayang," seru Alvian dengan memeluk dan mencium Prili dihadapan Tasya.


Hancur sudah hidup Tasya, remuk sudah hati Tasya, pria yang sudah merusak masa depannya bahkan sekarang tidak mau mengakui anaknya sendiri.


Dengan perasaan hancur, Tasya pun masuk ke dalam kamarnya yang berbeda dengan Alvian. Sedangkan Alvian entah apa yang dia lakukan di dalam kamarnya bersama Prili, sungguh Tasya tidak memperdulikannya yang jelas saat ini Tasya ingin pergi dari tempat yang seperti neraka itu.


Cukup lama Tasya menangis di lantai kamarnya, Tasya merasa sangat lapar. Tasya pun beranjak dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya, Tasya berniat akan memasak sesuatu karena perutnya sudah sangat lapar.


Tasya mulai membuka kulkas dan Tasya merasa bersyukur kalau di dalamnya masih ada sayuran dan daging. Tanpa menunggu lama lagi, Tasya pun langsung memasak sayur sop karena saat ini Tasya lagi pengen makan yang berkuah-kuah.


Ceklek...


Alvian dan Prili keluar dari kamar Alvian, Tasya sama sekali tidak tertarik dengan mereka, Tasya juga tidak peduli dengan apa yang sudah dilakukan mereka.


"Sayang, aku haus," seru Prili dengan manjanya.


"Tasya, ambilkan minum buat kita berdua," teriak Alvian.

__ADS_1


"Aku ingin minum jus mangga, sayang."


"Buatkan jus mangga dan kopi."


"Iya Mas."


Prili dan Alvian saat ini duduk di depan tv, mereka terlihat sangat mesra sekali.


"Ini minumannya Mas."


Tasya berjongkok untuk menyimpan minumannya di atas meja, belum juga Tasya berdiri, Prili dengan segaja menumpahkan jus itu ke atas kepala Tasya.


"Oopsss sorry tidak sengaja, sebentar ya aku ambilkan lap dulu," ucap Prili.


Tasya hanya bisa diam saja dan Prili segera mengambil lap, tapi Prili melihat ada sop di atas meja dan Prili kembali membuat ulah, dengan sengaja Prili menyenggol sop itu sehingga sopnya tumpah di atas lantai.


"Ya ampun sayang, panas," rengek Prili.


"Mana yang panas, sini aku obatin," sahut Alvian dengan membawa Prili kembali duduk di kursi.


"Kamu apa-apaan, kenapa kamu menumpahkan sop aku," bentak Tasya dengan deraian airmatanya.


"Sayang, lihatlah istrimu berani sekali membentakku, padahal kan aku sudah bilang kalau aku ga sengaja," rengek Prili dengan berpura-pura sedih.


Alvian berdiri dengan raut wajah yang tidak bersahabat.


Plaaakkk...


Alvian menampar Tasya dengan sangat kencangnya.


"Mas, kenapa kamu menampar aku?"


"Berani sekali kamu membentak Prili, dia tidak sengaja menumpahkan sop kamu lagipula kamu bisa memasaknya lagi," bentak Alvian.


Dengan perasaan sakit, Tasya pun akhirnya berlari masuk ke dalam kamar. Prili tersenyum penuh kemenangan, Tasya bukannya tidak mau memasaknya lagi, saat ini kondisinya sangat lemah bahkan dengan susah payah Tasya membuat sop tapi akhirnya malah tumpah.


.


.


.


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2