ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO

ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO
Terkejut


__ADS_3

.


.


.


.


.


Tasya menjatuhkan dirinya diatas sofa disusul oleh Cherry yang duduk disamping Tasya, sedangkan Alta sedang menonton televisi.


"Sya, siapa pria barusan nyebelin banget kayanya," seru Cherry.


"Dia Kak Vano, Kakaknya Mas Alvian."


"Whatt, pantesan saja adiknya kejam dan tega sama kamu, Kakaknya aja wajahnya menyebalkan banget kaya gitu."


"Kak Vano itu meskipun terlihat dingin dan menyebalkan tapi dia orangnya baik, tidak pernah berkata kasar ataupun membentak aku."


Alta sangat serius melihat saluran televisi, untuk ukuran anak usia empat tahun Alta memang terbilang unik, dia tidak suka melihat acara kartun seperti layaknya anak seusianya tapi justru Alta selalu melihat saluran yang menayangkan bisnis.


"Pewaris kerjaan bisnis keluarga Bakrie sungguh sangat menarik perhatian seluruh kalangan, bagaimana tidak Kakak beradik yang sangat tampan dan sukses ini, sampai usianya sekarang belum juga ada yang menggandeng pasangan masing-masing membuat para wanita diseluruh Indonesia ini berlomba-lomba mencari perhatian dari keduanya, tapi sayang Kakak beradik ini seperti tak tersentuh oleh wanita, siapakah wanita beruntung yang nantinya mendapatkan hati mereka berdua, kita tunggu saja berita selanjutnya."


Itulah isi berita yang diberitakan..


"Mommy, bukannya itu Tuan yang barusan ada disini ya?" tanya Alta.


"Iya."


"Kalau yang satunya lagi kok wajahnya mirip Alta sih Mommy?"


Deg...


Seketika Tasya dan Cherry saling pandang satu sama lain. Bibir Tasya begitu kelu tidak tahu harus menjawab apa.


"Alta sayang, banyak kali wajahnya yang mirip bahkan banyak juga kan di televisi yang viral tukang dagang apa gitu yang wajahnya mirip sama artis, begitu pun dengan Alta mungkin itu hanya kebetulan saja mirip dengan pengusaha itu," sahut Cherry yang langsung menjawab pertanyaan Alta.


Tasya hanya diam saja..


"Dia Ayah kamu Alta," batin Tasya.


Tasya pun beranjak dari duduknya..


"Alta, Mommy ke kamar dulu. Cherr, aku istirahat dulu."


"Iya Sya."


Tasya pun langsung masuk ke dalam kamarnya, airmatanya tiba-tiba menetes dan Tasya langsung menghapusnya dengan kasar.


"Enggak, aku ga boleh lemah, aku harus tunjukan kepada Mas Al kalau aku juga bisa sukses dan membesarkan Alta tanpa bantuan dia," gumam Tasya.


***


Malam pun tiba...


"Kalian mau makan apa? biar aku pesankan makanan soalnya disini tidak ada bahan makanan sama sekali," seru Cherry.


"Apa saja deh yang penting enak," sahut Tasya.


"Sama Alta juga."


"Ya sudah, aku pesenin dulu ya."


Cherry pun mengotak-ngatik ponselnya hendak memesan makanan via gofood, soalnya kalau beli makanan langsung malas belum juga kalau ada yang mengenali Tasya dan Alta bisa ribet urusannya.


Tiga puluh menit kemudian, pintu kamar hotel mereka di ketuk dan pesanan mereka pun sampai. Tidak banyak bicara, ketiganya langsung melahap makanannya karena mereka memang sudah lapar.


"Sya, besok kita disuruh datang ke perusahaan shampo yang mau jadikan kamu brand ambasadornya."


"Ok, pukul berapa?"


"Mereka janjiannya pukul sepuluh pagi."


"Baiklah, soalnya sorenya Alta juga ada shooting iklan kan."


"Iya."


***


Keesokan harinya...


"Yuk, kita sarapan dibawah saja," ajak Tasya.


"Come on," sahut Cherry.


Tok..tok..tok..


Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk..


"Biar Alta saja yang buka."


Alta pun segera berlari dan membukakan pintu, ternyata Vano sudah berdiri dengan senyumannya sembari membawa beberapa paper bag ditangannya.


Alta melipat tangannya di atas perut dan menunjukan wajah ketusnya.

__ADS_1


"Ada apa Tuan pagi-pagi sudah kesini?" tanya Alta dengan ketusnya.


"Paman bawakan sarapan untuk kalian," sahut Vano dengan mengacungkan beberapa paper bag di tangannya.


"Siapa Alta?" teriak Cherry.


"Tuan yang kemarin," sahut Alta.


Cherry pun mendekat dan melihat ke arah pintu.


"Mau apa anda pagi-pagi kesini?"


"Bawakan kalian sarapan."


Tiba-tiba Cherry menyambar paper bag yang ada ditangan Vano membuat Vano terkejut.


"Terima kasih ya, yuk Alta kita sarapan," ajak Cherry dan hendak menutup pintu tapi dengan cepat Vano menahannya dengan kakinya.


"Kamu benar-benar tidak punya sopan santun ya."


"Maksud anda apa?"


"Aku bawa sarapan itu bukan hanya untuk kalian tapi aku juga mau sarapan disini."


"Oh, bilang dong kalau begitu," ketus Cherry.


"Dasar wanita aneh," seru Vano yang langsung masuk dan melewati Cherry begitu saja.


"Apa anda bilang? aku wanita aneh," teriak Cherry dengan geramnya.


"Cherry ngapain sih teriak-teriak, Kak Vano tumben pagi-pagi kesini?" tanya Tasya.


"Aku bawakan sarapan untuk kalian karena aku tahu pasti kalian belum sarapan kan? aku juga belum sarapan jadi kita sama-sama saja sarapan," sahut Vano.


"Alah alasan saja," ketus Cherry.


Vano tidak memperdulikan Cherry bahkan Vano hanya sesekali melirik ke arah Cherry. Tasya mengambil piring dan menyiapkan makananan yang dibawa oleh Vano.


"Hai Tuan, apa Tuan seorang pengusaha?" tanya Alta.


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Vano.


"Menurut berita ditelevisi, Tuan dan adik Tuan itu sudah tua kenapa kalian belum mempunyai istri?" celetuk Alta.


Tasya tampak menahan tawanya mendengar pertanyaan Alta tapi lain halnya dengan Cherry yang langsung tertawa terbahak-bahak.


"Buahahaha..."


Vano langsung menatap tajam ke arah Cherry..


"Lucu saja, seorang pengusaha sukses yang kaya raya, buat apa banyak uang kalau ga punya istri," ledek Cherry.


"Berani-beraninya kamu meledekku."


"Aunty Cherry kok menertawakan Tuan ini, bukannya Aunty Cherry juga perawan tua ya," celetuk Alta.


Seketika tawa Vano pecah, sekarang giliran Vano yang menertawakan Cherry.


"Alta mah suka gitu deh, bercandanya ga lucu," seru Cherry dengan wajah sedihnya.


"Sudahlah Cherr, kamu juga kan tahu bagaimana Alta," sahut Tasya.


Tapi Vano tidak henti-hentinya tertawa sampai-sampai sekarang Vano memegang perutnya. Cherry yang melihat Vano terus saja menertawakannya merasa kesal, dengan cepat Cherry menghampiri Vano dan memukulnya menggunakan bantal sofa.


"Tidak sopan sekali anda menertawakanku sampai seperti itu," seru Cherry dengan terus memukul Vano.


"Aduh, woi stop ngapain kamu pukuli aku sih?" teriak Vano.


"Habisnya anda menyebalkan sekali."


"Dasar wanita gila."


"Apa anda bilang."


Cherry kembali memukul Vano, sedangkan Tasya dan Alta tidak memperdulikan dua orang yang lagi baku hantam itu, mereka malah asyik menikmati sarapan mereka.


"Ayamnya enak ya Mommy."


"Iya, enak banget."


Cherry pun menghentikan aksinya lalu Cherry dan Vano menoleh ke meja makan.


"Hai, kok kalian sudah makan sih," seru Vano dan dengan cepat menghampiri meja makan.


"Kalian curang," sambung Cherry yang sama menghampiri meja makan.


"Habisnya Paman sama Aunty dari tadi sibuk pukul-pukul mulu sih, jangan-jangan kalian jodoh," goda Alta.


Uhuk..uhuk..uhuk..


Vano dan Cherry sama-sama tersedak...


"Aih..kesedak aja bisa samaan, benar kata Alta jangan-jangan kalian jodoh," goda Tasya.


"Idih, ogah aku berjodoh dengan orang ini," sahut Cherry.

__ADS_1


"Memangnya aku juga mau apa sama kamu, wanita bar-bar."


Cherry sudah siap-siap untuk membalas ucapan Vano tapi dengan cepat Alta menghentikannya.


"Stop Aunty, kalian itu sudah tua tidak baik berantem mulu, Alta saja yang masih kecil pusing melihat kalian, lebih baik sekarang kalian baikkan dan berteman," sentak Alta.


"No..." sahut Vano dan Cherry bersamaan.


"Terserah kalian," gumam Alta.


Setelah selesai sarapan, mereka bertiga pun siap-siap.


"Kalian mau kemana?" tanya Vano.


"Aku ada tawaran kerja Kak, di perusahaan shampo ternama disini sebagai brand ambasador produknya habis itu mau antar Alta ada pemotretan buat jadi model pakaian anak brand ternama juga," sahut Tasya.


"Kalian hebat ya, jadi artis terkenal."


"Iya dong."


"Mau aku antar?"


"Tidak usah Kak, tim agency kami sudah menjemput kok."


"Ya sudah kalian hati-hati kalau ada yang macam-macam sama kalian hubungi saja aku."


"Iya Kak."


Vano pun segera meninggalkan mereka, sedangkan Tasya dan yang lainnya menuju perusahaan shampo. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di perusahaan yang mereka tuju.


Tasya, Cherry, dan Alta disuruh menunggu diruangan tunggu karena direktur perusahaan itu saat ini sedang meeting.


Tiba-tiba dua orang wanita dengan penampilan yang sangat **** datang ke perusahaan itu, mereka ingin melabrak artis yang sudah merebut posisi mereka sebagai brand ambasador shampo sebelumnya.


"Awas saja, itu artis pasti artis recehan deh sudah berani-beraninya merebut posisi kita," seru Fani.


"Iya, jangan mentang-mentang dari luar negeri dia bisa seenaknya saja, mana bayarannya sangat mahal lagi melebihi bayaran kita dulu, sumpah aku tidak terima," sahut Lina.


Fani dan Lina adalah artis yang bisa dibilang cukup terkenal, mereka terkenal hanya karena kotroversial dan skandal yang mereka lakukan dengan beberapa pengusaha ternama.


Fani dan Lina adalah teman Tasya yang dulu menjebak Tasya sehingga Tasya harus tidur dengan pria yang tidak dia kenal sampai mengakibatkan hamil, dan juga mereka memfitnah Tasya sampai Tasya harus dikeluarkan dari kampusnya.


Fani dan Lina berjalan dengan angkuhnya dan mencari keberadaan sang artis baru, setelah resepsionis mengatakan kalau mereka sedang ada diruang tunggu, Fani dan Lina pun langsung menuju kesana.


Terlihat Tasya, Cherry, dan Alta duduk dengan santainya. Fani dan Lina menghampiri mereka, Tasya tidak menyadari kedatangan Fani dan Lina karena posisi mereka membelakangi.


"Oh, jadi ini artis yang datang dari luar negeri yang sudah merebut posisi kita," seru Fani dengan angkuhnya.


Cherry dan Alta menoleh ke belakang, sedangkan Tasya masih tak bergeming di tempat duduknya.


"Sepertinya aku kenal dengan suara ini," batin Tasya.


"Bu Cherry, bukannya Ibu ini pemilik produk house GENTA KREASI?" seru Lina merasa terkejut.


"Iya, dan bukannya kalian itu Fani Oktara dan Lina Anggra Dewi artis yang menjadi brand ambasador sebelumnya?"


"Oh, jadi ternyata artis anda yang sekarang akan merebut posisi kita sebagai brand ambasador disini?" cibir Lina dengan sinisnya.


"Fani, Lina, berarti mereka yang menjadi brand ambasador sebelumnya," batin Tasya.


"Maaf, maksud kalian apa dengan merebut? artis saya tidak pernah merebut apapun, Direktur disini sendiri yang menghubungi saya dan ingin menjadikan artis saya sebagai brand ambasadornya," sahut Cherry dengan melipat tangannya diatas perut.


"Kita tidak percaya dengan ucapan anda Bu Cherry, pasti anda sudah melobi Direktur kita kan dan ingin membuat artis anda terkenal dengan cara kotor," cibir Fani.


"Jaga ucapanmu Fani Oktara, saya bisa tuntut kamu atas pencemaran nama baik," geram Cherry.


"Silakan aku tidak takut, hei kamu artis dadakan sini kita mau lihat apa kamu itu lebih baik dan lebih pantas menggantikan posisi kita," seru Fani.


Perlahan Tasya beranjak dari duduknya dan membalikkan tubuhnya, senyum kemenangan tersungging di wajah cantik Tasya. Sedangkan Fani dan Tasya sangat terkejut hingga mereka mundur satu langkah saking terkejutnya.


"Hallo...apakabar kalian?" seru Tasya dengan senyumannya.


Fani dan Lina hanya bisa saling pandang satu sama lain, lidah keduanya tampak kelu tidak menyangka kalau artis yang namanya sudah disejajarkan dengan artis hollywood itu adalah Tasya Kamila, wanita yang dulu mereka hancurkan hidup dan masa depannya.


.


.


.


Hayo penasarankan dengan kelanjutannya, ayo dong dukungannya untuk Author receh ini supaya lebih semangat lagiπŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2