ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO

ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO
Kemarahan Tasya


__ADS_3

.


.


.


.


.


Cherry, Tasya, dan Alta sudah sampai di Bandara. Semua fans Tasya dan Alta sudah menunggu di Bandara dengan membawa spanduk dan bersorak-sorai.


"Cher, kamu sudah siapkan pengawal kan? jangan sampai Alta terluka kena cubitan para fans panatiknya," seru Tasya.


"Aku sudah menelpon agency kok suruh menyiapkan pengawalan yang ketat," sahut Tasya.


Tiba-tiba sekelompok pria berjas dan berkacamata hitam menghampiri mereka.


"Mari Nona, kami akan mengawal kalian sampai hotel."


"Iya."


Tanpa curiga apapun mereka akhirnya pergi dari Bandara dengan pengawalan yang sangat ketat. Banyak fans Tasya dan Alta yang merasa kecewa karena tidak bisa bertemu dengan sang idola.


Tasya, Cherry, dan Alta dibawa ke sebuah hotel...


"Cherr, memang sebelumnya kamu sudah pesan hotel ya?" tanya Tasya.


"Belum sih Sya, mungkin pihak agency yang memesankan hotel untuk kita, mereka memang pengertian saat ini kita butuh hotel untuk istirahat sejenak," sahut Cherry.


Tasya hanya mengangguk-ngangguk, sedangkan Alta dari tadi sudah tertidur dipangkuan Tasya mungkin Alta kelelahan menjalani perjalanan jauh.


Tidak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi sudah sampai disebuah hotel mewah. Tasya dengan sigap menggendong Alta, sedangkan para pria berjas itu membantu membawakan koper mereka.


"Mari Nona, kalian ikut saya."


Salah satu pengawal itu berjalan di depan menunjukkan kamar yang akan mereka tempati. Disaat mereka masuk ke dalam lift, sebuah pesan masuk ke ponsel Cherry dan seketika mata Cherry melotot dengan tangan yang bergetar.


"Ada apa Cherr?" tanya Tasya.


"Sya, pihak agency memberikan pesan kalau pengawalnya baru saja sampai di Bandara karena jalanan sedikit macet tapi mereka tidak menemukan kita," bisik Cherry.


"Apa? jadi mereka siapa dong?" tanya Tasya panik.


Ting...


Pintu lift pun terbuka...


"Mari Nona."


"Kalian siapa? kalian bukan pengawal dari agency kita, mau kalian apa?" bentak Cherry.


"Tenang Nona, kami tidak akan berbuat jahat biar nanti bos kami yang jelaskan semuanya."


"Tidak, kita mau pergi dari sini," teriak Cherry.


Tapi terlambat, orang-orang itu dengan sigap menahan Cherry, Tasya, dan Alta dan dengan cepat membawa mereka ke sebuah kamar.


"Lepaskan," teriak Tasya.


Alta yang berada di pangkuan Tasya akhirnya terbangun juga karena mendengar teriakkan Mommy dan Auntynya.


"Mommy, ini ada apa?" tanya Alta dengan suara seraknya khas bangun tidur.


"Tidak apa-apa sayang."

__ADS_1


"Mereka siapa Mommy?"


"Mereka orang jahat Alta, mereka ingin menculik kita," sahut Cherry yang terus saja berontak karena tangannya dicengkram oleh salah seorang pria itu.


Tidak lama kemudian mereka pun sampai disebuah kamar hotel.


"Silakan Nona-nona masuk, Bos kamu sudah menunggu didalam."


Cherry dan Tasya saling pandang, bahkan sekarang Alta sudah turun dari pangkuan Tasya. Salah satu pria itu membukakan pintu, dengan perasaan was-was Tasya, Cherry, dan Alta pun masuk mereka ingin tahu siapa yang sudah berani menculik mereka.


Setelah ketiganya masuk, pintu pun ditutup terlihatlah seorang pria gagah, tinggi, putih, saat ini sedang berdiri didepan jendela kamar hotel dengan kedua tangan dia masukan kedalam saku celananya.


Deg...


"Oh jadi kamu yang sudah menculik kami, mau kamu apa?" bentak Cherry.


Orang itu pun membalikkan tubuhnya sehingga membuat Cherry seketika terdiam. Pria tampan dihadapannya tapi sangat dingin membuat nyali Cherry seketika ciut.


"Tu--tuan Vano," ucap Tasya dengan gugup.


Tasya mendekap tubuh Alta dengan sangat erat seolah takut kehilangan Alta.


"Tuan Vano?" seru Cherry bingung.


Perlahan Vano mendekat tapi disaat Vano sampai dihadapan Tasya, seorang pria kecil yang tidak lain adalah Alta sudah menghadang Vano.


"Hei Tuan, jangan mendekat dan jangan berani menyakiti Mommy," ucap Alta dengan lantangnya.


Vano seketika menundukan kepala, dilihatnya pria kecil tampan itu dengan membusungkan dadanya dengan berani menghadang langkah Vano.


Vano berjongkok menyamakan tingginya dengan pria kecil yang gagah berani itu, ditatapnya wajah anak itu dengan seksama.


"Wajahmu mirip sekali dengan si pengecut," seru Vano.


"Maksud Tuan apa?" tanya Alta.


"Hei Tuan, apa anda menyukai Mommyku?" tanya Alta dengan lantangnya.


Vano menaikan satu alisnya sedangkan Tasya dengan cepat menutup mulut lemes Alta denga tangannya.


"Maaf Tuan Vano, jangan didengarkan omongannya," seru Tasya dengan wajah yang memerah menahan malu.


Alta memberontak dan akhirnya tangan Tasya pun bisa lepas dari mulut mungilnya itu.


"Tuan sungguh sangat memalukan, memakai cara licik untuk menculik kami demi bertemu dengan Mommyku," seru Alta dengan melipat tangannya diatas perut.


"Ya ampun Alta, kamu tidak boleh ngomong seperti itu karena dia----"


Ucapan Tasya terhenti membuat Alta dan Cherry menatap Tasya meminta penjelasan.


"Karena dia----"


"Aku Pamanmu," sahut Vano membuat Tasya melotot tidak percaya dengan jawaban Vano.


"Tuan jangan bohong, jangan coba-coba menipuku. Mommy bilang, didunia ini dia tidak punya siapa-siapa hanya punya aku dan Aunty Cherry."


Vano menyunggingkan senyumannya, anak tampan itu sungguh sangat pintar dan menggemaskan. Vano mengacak-ngacak rambut Alta sebelum akhirnya Vano kembali berdiri dihadapan Tasya.


"Jangan sentuh aku, aku paling tidak suka disentuh oleh orang asing," ketus Alta dengan merapikan rambutnya.


"Maafkan anakku Tuan."


"Kita harus bicara," seru Vano.


"Alta, sayang kita ke kamar yuk Aunty capek banget," seru Cherry yang tahu akan situasi saat ini.

__ADS_1


"Ok Aunty."


Setelah Alta dan Cherry masuk kamar, Vano pun mengajak Tasya untuk duduk di sofa ruang tamu. Sesaat terjadi keheningan, bahkan Tasya hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Apakabar?"


Seketika Tasya mendongakkan kepalanya mendengar pertanyaan Vano.


"Ba--baik Tuan."


"Jangan gugup, aku ini adalah Kakak iparmu. Dan satu lagi jangan panggil aku Tuan, panggil saja Kakak atau Abang."


"Tapi Tuan, ah maksud aku Kak bukannya empat tahun lalu Mas Alvian sudah menceraikanku dan menikah dengan Prili secara sah?"


"Al tidak pernah menceraikanmu dan dia juga tidak pernah menikahi Prili secara sah, justru selama empat tahun ini dia mencari keberadaan kamu dan anakmu," sahut Vano.


Tasya tampak tersenyum sinis ke arah Vano..


"Tidak mungkin, Kak Vano jangan mengada-ngada jangan mentang-mentang Kak Vano Kakaknya Mas Al jadi Kak Vano membelanya, sudah jelas-jelas empat tahun lalu Mas Al dan Prili itu berusaha ingin melenyapkan kandunganku," sahut Tasya dengan suara yang sedikit meninggi.


"Tapi Tasya kenyataannya memang seperti itu, saat ini Al sudah menyesal dan mengakui kesalahannya, dia sudah mengakui kamu dan anak kamu."


Seketika Tasya berdiri dan membuat Vano sedikit terkejut. Airmata Tasya tiba-tiba saja menetes.


"Sampai kapanpun aku tidak mau bertemu dengan Mas Al, Mas Al sudah cukup membuat hidupku hancur. Dari awal aku tidak pernah minta pertanggung jawaban dari Mas Al, tapi dia dengan teganya ingin membunuh anakku dan sekarang sudah terbuktikan tanpa dia pun aku dan anakku bisa hidup dengan layak bahkan aku tidak pernah minta sepeser pun harta keluarga kalian, jadi aku mohon dengan sangat Kak Vano dan keluarga Kak Vano jangan pernah mengganggu kehidupan aku dan anakku, biarkan kami hidup tenang. Cherry, Alta, cepet keluar kita harus pergi dari sini," teriak Tasya dengan menghapus airmatanya dengan kasar.


Cherry dan Alta pun keluar...


"Ayo kita pergi dari sini," ajak Tasya.


"Tasya tunggu..."


"Apalagi?"


"Maaf, kalau aku sudah membuatmu marah. Ok, aku janji aku ga bakalan ikut campur urusan kalian, tapi aku mohon kamu jangan larang aku untuk bertemu dengan anakmu, karena bagaimana pun juga dia tetap keponakanku," seru Vano.


Tasya tampak terdiam hingga akhirnya Tasya pun menganggukkan kepalanya.


"Ok, Kakak boleh temuin anakku."


Vano tersenyum...


"Ya sudah, kalian tinggal saja disini untuk sementara waktu nanti biar aku carikan rumah untuk kalian."


"Tidak usah Kak, aku bisa beli rumah sendiri."


Vano tidak mendengarkan ucapan Tasya, dia pergi meninggalkan kamar hotel itu tanpa bicara sedikitpun.


"Dasar orang aneh," cibir Cherry.


.


.


.


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2