ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO

ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO
Pertemuan Yang Tidak Diinginkan


__ADS_3

.


.


.


.


.


"Ka--kamu..." seru Fani tergagap.


"Apakabar teman lama, sudah lama tidak bertemu bagaimana keadaan kalian? apa kalian baik-baik saja," seru Tasya dengan senyumannya.


"Kurang ajar, ternyata kamu yang sudah merebut posisi kita," seru Lina menghampiri Tasya.


Lina hendak menampar Tasya tapi dengan cepat Tasya memcengkram tangan Lina.


"Tidak akan aku biarkan kamu menyakitiku lagi, tangan kotormu ini tidak pantas menyentuh tubuhku," seru Tasya dengan menghempaskan tangan Lina.


"Sombong sekali kamu, pasti kamu menjadi seperti ini karena kamu merayu banyak produser dan sutradara diluaran sana kan, makannya kamu bisa sukses secepat ini," cibir Fani.


"Apa kamu sedang membicarakan diri kamu sendiri, Fani? aku menjadi artis murni karena mereka yang menginginkan aku, tanpa dirayu dan digodapun pekerjaan datang mengalir kepadaku, tidak seperti kalian yang menyogok para Produser dan Sutradara dengan tubuh kalian itu kan, supaya kalian terkenal," sarkas Tasya dengan senyuman meremehkan.


"Sialan..."


Sekarang giliran Fani yang hendak menampar Tasya tapi lagi-lagi Tasya mencengkram tangan Fani.


Plaaakkkk...


Tasya berhasil menampar Fani, sehingga membuat Fani semakin geram.


"Kamu berani menamparku," teriak Fani.


"Kenapa tidak," sahut Tasya dengan santainya.


"Sequrity...." teriak Cherry.


Tiba-tiba dua sequrity itu datang...


"Ada apa Nona?"


"Tolong bawa kedua wanita gila ini, mereka berusaha membuat artisku terluka," seru Cherry.


"Baiklah, mari Nona jangan membuat leributan disini," seru salah satu Sequrity yang hendak mengusir Fani dan Lina.


"Jangan pegang kita, awas kamu Tasya kita akan membuat perhitungan sama kamu," ancam Lina.


"Oh silakan, aku sama sekali tidak takut."


Fani dan lina pun meninggalkan tempat itu dengan perasaan marah.


"Kamu tidak apa-apa kan Sya?" tanya Cherry.


"Tidak, tenang saja."


"Kamu kenal sama Fani dan Lina?"


"Iya, mereka adalah dua orang yang sudah membuat hidup aku hancur. Kehancuran hidup aku adalah hasil dari perbuatan mereka."


"Astaga, sungguh para wanita ular. Oh iya, tumben Alta diam saja tidak membantu Mommy kamu?" tanya Cherry.

__ADS_1


"Alta yakin Mommy bisa mengatasinya, wanita harus dilawan sama wanita juga, nanti kalau yang mengganggu Mommy seorang pria, baru Alta yang maju. Apa kata dunia kalau Alta menyakiti wanita, itu bukan sifat Alta," sahut Alta dengan santainya.


Tasya mengacak-ngacak rambut Alta dengan gemasnya.


"Kamu ya bisa aja kalau ngomong," seru Tasya.


"Anak kamu memang ajaib Sya."


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Tasya pun bertemu dengan pemilik perusahaan. Setelah diskusi dan bernegosiasi, akhirnya Tasya pun setuju bekerjasama dengan perusahaan shampo itu.


Setelah selesai, mereka pun meninggalkan tempat itu dan berpindah ke sebuah perusahaan brand pakaian anak ternama. Alta akan melakukan sesi pemotretan untuk sebuah iklan.


***


Sementara itu disebuah rumah sakit, saat ini adalah waktunya Papa Bakrie pulang. Kondisi Papa Bakrie sudah sehat dan Papa Bakrie sudah diperbolehkan pulang.


Vano meliburkan diri karena ingin menjemput Papanya sementara Alvian menggantikan Vano untuk menemui seorang klient disebuah hotel.


Saat ini Vano sendiri yang membawa mobil tanpa seorang sopir.


"Ma, Pa, sebenarnya Vano sudah menemukan Tasya."


"Apa? terus sekarang dia ada dimana? apa dia baik-baik saja? kenapa kamu tidak bawa Tasya pulang ke rumah?" cerocos Mama Elis.


"Dia baik-baik saja, anaknya pun sangat tampan dan cerdas, Tasya dan anaknya sekarang sudah menjadi artis terkenal."


"Artis?"


"Iya Pa."


"Tolong bawa Tasya ke rumah Vano, Mama ingin bertemu dengan menantu dan cucu Mama."


Mama dan Papa Vano tampak menghela nafasnya, mereka sangat mengerti akan kebencian Tasya.


***


Waktu pun berjalan dengan cepat, Alta pun sudah selesai.


"Mommy, Aunty, ayo kita pulang Alta sudah sangat lelah."


"Kasihan sekali, ternyata anak Mommy kelelahan ya, ya sudah yuk kita pulang."


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, setelah mereka makan malam disebuah restoran, mereka pun memutuskan untuk pulang karena Alta memang sudah sangat kelelahan.


Sementara itu di hotel tempat Tasya menginap, Al pun baru saja sampai bersamaan dengan Taxi yang ditumpangi Tasya dan yang lainnya. Al pun segera masuk ke dalam lift bersamaan dengan sekertarisnya tapi disaat pintu lift akan tertutup, sebuah tangan menghentikannya sehingga pintu lift itu kembali terbuka.


"Ayo cepat masuk," seru Cerry.


Tasya masuk ke dalam lift sembari menggandeng tangan Alta, tapi Tasya dan Cherry tampak tidak menyadari kalau dibelakang mereka adalah Alvian.


Deg...


Alvian terpaku melihat Tasya berada dihadapannya, pandangannya beralih kepada anak kecil yang digandeng oleh Tasya, matanya melebar.


Ting...


Pintu lift pun terbuka bersamaan dengan ponsel Tasya yang berdering.


"Cherr, kamu duluan ke kamar bawa Alta aku mau angkat telpon dulu."


"Ok."

__ADS_1


Cherry dan Alta pun langsung masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Tasya hendak mengangkat telponnya tapi tiba-tiba sebuah tangan menariknya dan mengungkung tubuh Tasya ke dinding.


Kedua pasang mata itu saling menatap satu sama lain, Tasya membelalakkan matanya melihat siapa yang sudah menariknya.


"Akhirnya aku menemukanmu, Tasya," seru Al.


Tasya hanya bisa menatap Al dengan tajam tanpa bisa berkata-kata. Lidahnya begitu kelu, airmatanya sudah mulai menetes, bahkan tubuhnya mulai bergetar karena merasa takut.


Bayang-bayang masalalu sudah membuat trauma tersendiri untuk Tasya. Sedangkan Alvian merasa sangat terkejut karena melihat Tasya menangis dan tubuhnya bergetar.


Perlahan Al melepaskan kungkungannya..


"Maaf, aku tidak bermaksud menyakiti dan menakutimu," seru Alvian.


Tasya tidak berkata apa-apa, dia langsung saja berlari meninggalkan Alvian tapi dengan cepat Al bisa menyusul dan kembali menarik tangan Tasya.


"Lepaskan aku Mas, tolong jangan ganggu aku," seru Tasya dengan bibir yang bergetar.


Dengan sekali sentakan Al menarik Tasya ke dalam dekapannya.


"Maaf..maafkan aku, aku sangat menyesal."


Tasya menangis dan mendorong tubuh Al sehingga Al mundur satu langkah.


"Sudah terlambat, ini bukan waktunya untuk menyesal tolong jangan ganggu aku lagi, aku tidak mau bertemu dengan kamu Mas, aku benci sama kamu," bentak Tasya dengan deraian airmata.


"Tapi Tasya, apa tidak ada satu kesempatan saja buat aku memperbaiki kesalahanku? aku ingin memperbaiki semuanya dari awal, kita rawat anak kita bersama-sama," sahut Al dengan wajah yang memelas.


"Apa, anak kita? semenjak kamu dan Prili ingin menggugurkan kandunganku, semenjak itu pula hubungan darah antara kamu dan anakku putus. Jangan pernah kamu menganggap dia anakmu karena aku tidak mengizinkan kamu bertemu dengannya, jadi aku mohon jangan ganggu kami dan jangan pernah muncul dihadapan kami," seru Tasya dengan deraian airmatanya.


Deg...


Begitu sakit hati Al mendengar ucapan Tasya, padahal selama empat tahun ini dia berusaha mencari keberadaan Tasya dan anaknya tapi disaat Al menemukan anak dan istrinya, mereka malah tidak mau menganggapnya.


Dosanya di masalalu sungguh membuat Tasya sangat membencinya, menyesalpun tidak ada gunanya karena luka yang Al goreskan sudah terlalu dalam dan sulit untuk disembuhkan.


Tasya segera berlari meninggalkan Al..


Tes...


Kini airmata Al pun menetes dengan sendirinya, rasa sakit hati yang dia rasakan saat ini sepertinya belum sebanding dengan rasa sakit yang dulu dia torehkan dihati Tasya, dan sekarang Tasya sudah sangat membencinya.


.


.


.


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2