ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO

ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO
Dia Pria Itu


__ADS_3

.


.


.


.


.


Tasya memasuki rumah, terlihat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik sedang menata bunga di ruang tamu.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Mama Elis beranjak dari duduknya dan memperhatikan penampilan Tasya dari atas hingga bawah.


"Kamu siapa?" tanya Mama Elis lembut.


"Maaf Nyonya, nama saya Tasya Kamila saya disuruh Tuan Vano untuk datang kesini," sahut Tasya dengan menundukkan kepalanya.


Mama Elis menghampiri Tasya...


"Oh ini yang namanya Tasya, yang akan menjadi Asisten pribadinya Vano. Kenalkan saya Elis, Mamanya Vano."


Tasya langsung mencium punggung tangan Mama Elis membuat Mama Elis merasa terharu dengan kesopanan Tasya.


"Kamu cantik sekali Nak."


"Terima kasih Nyonya."


"Mari silakan duduk, ini masih terlalu pagi dan Vano belum bangun."


"Iya Nyonya."


"Kamu seriusan mau menjadi Asisten pribadinya Vano? dia itu anaknya sangat perfect dalam berbagai hal, semuanya harus terlihat sempurna, bahkan pelayan disini pun tidak ada yang diperbolehkan menyentuh barang-barang miliknya," jelas Mama Elis.


"Tasya juga bingung Nyonya, kenapa Tuan Vano mau menjadikan Tasya sebagai Asisten pribadinya padahal kemarin Tasya hanya melamar menjadi cleaning servise atau OB."


"Memangnya kamu lulusan apa?"


"Tasya hanya lulusan SMA, Nyonya."


"Ok, saya kasih tahu kamu kalau Vano itu orangnya sedikit rewel kalau masalah fasion jadi kamu harus sebisa mungkin memadu padankan pakaian Vano dengan benar, terus Vano juga sering lembur kalau berada di rumah jadi kamu harus siap membawakan kopi dan cemilan untuknya, memang ada pelayan khusus untuk Vano tapi dari kemarin Vano mulai mengumumkan kalau mulai sekarang yang mengurus semuanya adalah kamu, mulai dari pakaian, makanan, dan keperluan lainnya, bagaimana kamu sudah siap?" tanya Mama Elis.


"Iya, insyaalloh Nyonya Tasya siap."


"Oh iya, apa kamu bisa masak?"


"Bisa Nyonya."


"Bagus, ayo saya tunjukkan kamar kamu."


"Iya Nyonya."


Mama Elis pun membawa Tasya ke belakanh, ternyata di bagian belakang rumah itu terlihat seperti kontrakan tapi kontrakan mewah soalnya kamar-kamar berjejer disana.


"Nah, ini kamar kamu. Disini ada tujuh ART dengan tugas yang berbeda-beda, di tambah tukang kebun, sopir, sequrity, semuanya mereka punya kamar masing-masing jadi kamu tidak akan kesepian selama berada disini," seru Mama Elis.


"Iya Nyonya terima kasih."


Tasya masuk ke dalam kamarnya, dilihatbada kasur single, lemari pakaian, dan televisi, sungguh kamar yang sangat nyaman menurut Tasya.


"Tasya, spesial untuk kamu, Vano sudah menyiapkan berbagai macam pakaian disini karena tugas kamu disini bukan ART tapi Asisten pribadi Vano, jadi kamu harus tampil berbeda dengan yang lainnya, dan kamu juga akan lebih sering ikut dengan Vano bahkan saat Vano ada perjalanan bisnis ke luar kota sampai ke luar negeri."

__ADS_1


"Iya Nyonya, saya mengerti."


"Bagus, lebih baik sekarang kita ke kamarnya Vano karena sudah waktunya Vano bangun."


"Iya Nyonya."


Sekarang Tasya mengikuti langkah Mama Elis yang akan membawanya ke kamar Vano.


"Tasya, ini kamar Vano dan kamar yang satu itu adalah kamar adiknya Vano namanya Alvian," seru Mama Elis.


Tasya melihat ke arah pintu kamar Alvian dan tiba-tiba jantungnya kembali berdebar tak karuan, ada rasa sesak yang Tasya rasakan tapi Tasya tidak tahu itu apa.


"Ayo Tasya kita masuk."


"Ah iya."


Tasya pun mengikuti Mama Elis masuk ke dalam kamar Vano, Tasya begitu sangat terkejut melihat kamar Vano yang begitu sangat luas bahkan rumahnya sendiri pun sepertinya kalah besar dengan kamarnya Vano.


"Tasya, sekarang kamu bangunkan Vano kemudian kamu pilihkan baju yang cocok untuk Vano ke kantor, kalau begitu saya ke bawah dulu, kamu yang semangat ya," seru Mama Elis dengan menepuk pundak Tasya.


"Iya Nyonya."


Mama Elis pun meninggalkan Tasya, sesaat Tasya masih mematung hingga akhirnya dia tersadar dan dengan cepat membuka gorden kamar Vano.


"Ya Alloh, sempurna sekali ciptaanmu," batin Tasya yang saat ini sedang melihat wajah tenang Vano yang masih terlelap tidur.


Perlahan Tasya menghampiri Vano dan mengguncangkan lengan Vano.


"Tuan bangun Tuan, ini sudah siang," seru Tasya.


Tidak ada pergerakan sama sekali...


"Aduh bagaimana ini?" gumam Tasya.


Kemudian Tasya semakin mengguncangkan lengan Vano dengan sedikit lebih kencang lagi.


"Ehhmm..."


Vano menggeliat, kemudian dia meregangkan kedua tangannya. Tasya tampak diam mematung, sungguh Tasya merasa sangat terpesona dengan pria tampan yang berada dihadapannya itu.


"Ya Alloh tampan sekali," batin Tasya.


"Hai, ngapain kamu mematung seperti itu?" tanya Vano dengan suara serak khas bangun tidur dan entah kenapa justru itu terdengar sangat **** di telinga Tasya.


"Ah, maaf Tuan."


"Siapkan pakaian untuk ke kantor, mulai dari kemeja, dasi, jas, jam tangan, dan sepatu semuanya harus serasi, saya tidak mau berpenampilan jelek."


"Baik Tuan."


Vano pun beranjak dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, sedangkan Tasya menuju walk in closhet untuk menyiapkan semuanya. Betapa terkejutnya Tasya saat melihat semuanya tertata dengan rapi sangat banyak.


"Wow, banyak sekali pakaiannya sungguh luar biasa, mana semuanya barang-barang branded," gumam Tasya.


Tasya mulai memilih satu persatu, kemeja putih dengan jas warna navy serta dasi navy dengan sedikit aksen garis-garis setelah itu Tasya melihat jam tangan warna senada dan terakhir sepatu pentofel warna hitam yang mengkilat.


"Sepertinya sudah sangat bagus, mudah-mudahan ini seperti selera Tuan Vano," gumam Tasya.


Kemudian Tasya menyiapkan semuanya...


Ceklek...


Pintu kamar mandi terbuka, Vano keluar dengan hanya melilitkan handuknya di pinggang membuat tubuh bagian atasnya terekpos dengan rambut yang basah, Tasya menelan salivanya dan dengan cepat membalikkan tubuhnya.


"Tu--tuan, semuanya sudah saya siapkan semoga Tuan suka," ucap Tasya gugup.

__ADS_1


Vano mendekat ke arah Tasya dan membuat jantung Tasya semakin berdetak tak karuan. Vano memeriksa pilihan Tasya dan sedikit menyunggingkan senyumannya.


"Bagus, saya suka," sahut Vano dingin.


"Ka--kalau begitu, sa--saya keluar dulu."


"Jangan, kamu tetap disini saya ganti pakaian dulu."


Vano pun segera menuju ruang ganti, Tasya bernafas dengan lega, selama dekat dengan Vano, jantungnya selalu berdetak tak karuan dan itu membuat Tasya menjadi gugup.


"Wanita itu seperti bukan wanita nakal, barusan saja dia melihat aku keluar dari kamar mandi langsung membalikkan tubuhnya dan terlihat bergetar, seharusnya kalau foto itu benar dan dia sering ke club, dia tak mungkin sampai bergetar seperti itu melihat aku hanya pakai handuk, ini kan hal yang biasa. Aku benar-benar penasaran dengan wanita itu," gumam Vano.


Tidak berapa lama kemudian, Vano keluar dari ruangan gantinya dan sudah sangat rapi.


"Tasya."


"Iya Tuan."


"Hari ini kamu tidak usah ikut ke kantor, kamu cukup di rumah bereskan kamar saya dan cuci pakaian saya yang kotor, nanti kalau saya suruh kamu ikut, baru kamu harus ikut sama saya."


"Baik Tuan."


"Saya turun dulu, kamu bereskan semuanya setelah itu kamu susul ke bawah."


"Baik Tuan."


Vano pun keluar dari kamarnya, sedangkan Tasya memulai membereskan kamar Vano. Mulai dari merapikan tempat tidur, memungut pakaian kotor Vano dan memasukkannya ke keranjang untuk nanti dia cuci.


Beberapa saat kemudian, Tasya pun sudah selesai membereskan kamar Vano.


"Akhirnya sudah selesai juga, tinggal mencuci pakaian Tuan Vano," gumam Tasya.


Tasya pun mengangkat keranjang pakaian kotor Vano dan membawanya keluar, disaat Tasya menutup pintu kamar Vano, tiba-tiba pintu kamar yang disamping pun terbuka.


Ceklek...


Alvian keluar dari kamarnya, Tasya membelalakan matanya, tubuhnya bergetar hebat, bayangan malam itu kembali terlintas di otaknya.


Bruuukkk...


Keranjang pakaian kotor Vano terjatuh mbuat Alvian terkejut dan menoleh ke arah Tasya.


Sekarang kedua mata itu saling menatap satu sama lain, Alvian mulai terkejut karena dia ingat siapa wanita yang ada dihadapannya itu.


"Ka--kamu," seru Alvian gugup.


Tes...


Airmata Tasya pun menetes, tubuh Tasya masih bergetar hebat. Kakinya terasa lemas bertemu dengan pria itu, pria yang sudah merenggut kesuciannya.


.


.


.


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2