
.
.
.
.
.
Alvian hanya diam mematung dengan ucapan Vano barusan.
Di dalam perjalanan, Vano berusaha menghubungi orang-orang kepercayaannya.
"Kalian cari tahu tentang keberadaan Tasya, nanti saya kirim foto dan alamat apartemennya," seru Vano yang langsung memutuskan sambungan telponnya.
***
Sementara itu di rumah sakit, saat ini Tasya sedang memakan makanan yang sudah disediakan oleh rumah sakit dengan ditemani oleh Cherry.
"Cher, apa aku boleh tanya sesuatu?"
"Boleh dong, kamu mau tanya apa Sya?"
"Kamu seorang artis ya?"
"Bukan."
"Lah, tadi kamu bilang kalau kamu ada shooting di Paris."
"Aku tuh punya sebuah rumah produksi atau yang biasa disebut PH, nah semua artis-artis terkenal itu semuanya bernaung di PH aku dan minggu depan artis aku mau ada shooting Film layar lebar di Paris jadi aku harus ikut juga. Dan sebenarnya aku juga akan bekerjasama dengan PH terkenal disana membuat sebuah film Hollywood dan kemungkinan aku akan tinggal lumayan lama disana."
"Wah kamu hebat banget, masih muda tapi karir kamu sudah sukses."
"Ah bisa saja kamu Sya, tapi beneran kamu mau ikut sama aku? aku itu kerjanya kebanyakan diluar, apa kamu tidak apa-apa kalau nanti aku akan sering meninggalkan kamu?"
"Tidak apa-apa Cher, yang penting aku bisa pergi jauh dari sini, aku ingin fokus membesarkan anakku tanpa dihantui dengan perasaan takut."
"Ya sudah terserah kamu saja," sahut Cherry dengan senyumannya.
***
Sesampainya di kantor, Alvian langsung menuju ruangannya. Alvian tampak merenung dan memikirkan sesuatu.
"Tasya kemana? di apartemen pun dia tidak ada," gumam Alvian.
Braaaakkkk...
Pintu ruangan Alvian terbuka dengan paksa, menampilkan wajah Vano yang sudah merah padam menahan amarah.
Bugghh..
Bugghh..
Bugghh..
Vano langsung memukul Alvian sehingga Alvian tersungkur ke lantai dengan bibir yang berdarah.
"Benar-benar keterlaluan kamu Alvian, tadi malam kamu bawa Tasya kemana? dan sekarang Tasya menghilang," bentak Vano yang menggelegar diseluruh ruangan itu.
__ADS_1
Alvian hanya bisa meringis menahan sakit, Vano kemudian mencengkram kerah baju Alvian dan memaksanya untuk berdiri.
"Bangun kamu pengecut."
Bugghh..
Bugghh..
Bugghh..
Vano kembali memukul Alvian...
"Kalau sampai Tasya tidak ditemukan, jangan harap kamu bisa menjabat lagi sebagai CEO di perusahaan ini," bentak Vano dan langsung meninggalkan Alvian yang saat ini terkulai lemah di lantai.
***
Dua hari kemudian...
Tasya hari ini sudah diizinkan pulang karena kondisinya sudah sangat sehat. Sebelum Tasya dan Cherry pulang dari rumah sakit, Tasya menemui Dokter kandungannya terlebih dahulu.
Sebenarnya Tasya tidak izinkan naik pesawat dulu karena usia kandungan yang masih sangat muda itu sangat beresiko kalau bepergian jauh, tapi berbagai cara Tasya meyakinkan sang Dokter alasan kepergiannya dan akhirnya mau tidak mau sang Dokter mengizinkan Tasya tapi dengan catatan Tasya harus minum obatnya secara teratur.
"Tuh kan, kata aku juga apa, aku bisa pergi kan," seru Tasya setelah mereka keluar dari ruangan Dokter kandungan.
"Bisa apanya, kamu tadi maksa banget sama Dokternya."
"Hehehe...ga apa-apalah, aku yakin kok kalau anak aku kuat."
"Benar ya, kalau sampai terjadi kenapa-napa sama kandungan kamu, kamu harus tanggung sendiri," ancam Cherry.
"Iya-iya bawel."
Tasya menggandeng lengan Cherrye menuju parkiran rumah sakit, mereka tampak tertawa satu sama lain.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka sampai di sebuah apartemen mewah milik Cherry.
"Ayo silakan masuk."
"Terima kasih."
Disaat Tasya masuk ke dalam apartemen Cherry, betapa terkejutnya Tasya melihat semua ruangan yang tampak sangat berantakkan.
Pakaian kotor dimana-mana, piring dan gelas kotor menumpuk, plastik, botol, cup, bekas makanan dan minuman berserakan dimana-mana.
"Astaga Cherry, ini apartemen apa tempat sampah? kotor banget sih."
"Hehehe..maaf, aku ga sempat beres-beres soalnya pekerjaan aku sangat sibuk," sahut Cherry cengengesan.
"Dasar wanita lajang yang jorok," cibir Tasya.
Cherry hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dengan sigap, Tasya langsung mengambil semua pakaian kotor Cherry yang menggantung entah dimana.
"Eeeehh..kamu mau ngapain?" tanya Cherry.
"Ya mau beresin apartemen inilah. Aku ga mau ya tinggal di tempat kotor seperti ini, memangnya aku tikus apa."
"Tapi kan kamu baru sembuh, ingat kata Dokter kalau kamu jangan terlalu capek apalagi besok pagi-pagi kita harus segera berangkat ke Paris."
"Terus kamu mau membiarkan apartemen ini kotor selama ditinggalkan? nanti kalau kamu mau pulang lagi kesini, aku yakin apartemen ini akan berubah menjadi rumah tikus, kecoa, belatung dan yang lainnya, mau?"
__ADS_1
"Ih jijik sekali, maksud aku, aku bisa sewa jasa tukang bersih-bersih gitu jangan kamu yang kerjakan."
"Ya sudah ayo hubungi sekarang jangan ditunda-tunda."
"Iya, ternyata kamu bawel juga ya Sya."
Cherry pun dengan cepat menghubungi jasa tukang bersih-bersih dan lima belas menit kemudian, para jasa bersih-bersih itu datang dan langsung mulai membersihkan seluruh ruangan apartemen Cherry.
Sedangkan Cherry mengajak Tasya duduk di balkon kamarnya.
"Sya, apa aku boleh tanya?"
"Kamu mau tanya apa Cherr?"
"Kenapa suami kamu tidak mau mengakui anak dalam kandunganmu?" tanya Cherry penasaran.
Tasya menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar. Perlahan Tasya menceritakan semuanya kepada Cherry, awal dia dijebak oleh kedua temannya, dikeluarkan dari kampus, sampai pada akhirnya Tasya bertemu dengan Alvian yang ternyata adik dari Bosnya sendiri.
"Astaga, kok teman-teman kamu jahat banget ya."
"Nasib aku sangat menyedihkan Cherr, padahal aku sudah susah payah kerja paruh waktu untuk membiayai kuliah aku, walaupun aku mendapat beasiswa tapi tetap saja aku butuh makan dan keperluan aku sehari-hari, tapi semuanya hancur."
Tasya menundukkan kepalanya dan meneteskan airmatanya, Cherry mengusap punggung Tasya. Dari cerita Tasya, Cherry merasa yakin kalau dia harus menolong Tasya.
"Sudah jangan bersedih, sekarang ada aku yang akan membantumu dan kamu harus bangkit Tasya, kamu harus tunjukan kepada orang-orang yang sudah membuatmu menderita, kalau kamu akan menjadi orang yang sukses dan buat semua orang bertekuk lutut kepadamu."
"Terima kasih ya Cherr. Terus kalau kamu bagaimana?"
"Mamaku meninggal saat melahirkan aku, dulu PH ini adalah milik Papaku hingga pada akhirnya saat aku SMA, Papaku meninggal. Papa tidak pernah bilang kalau dia punya penyakit, aku meneruskan usaha Papa aku. Awalnya sangat sulit untukku, karena usiaku yang masih muda membuat para artis tidak mau masuk ke PH ku. Tapi dengan seiring berjalannya waktu, dengan kerja kerasku akhirnya aku bisa memajukan PH ini dan banyak artis papan atas juga yang bernaung di bawah managementku."
"Kamu hebat Cherr."
"Aku itu sama sekali tidak punya teman, kadang-kadang aku butuh seseorang untuk mendengarkan keluh kesahku, apa kamu mau menjadi temanku, Tasya?"
"Tentu saja."
"Ok, mulai sekarang kita teman ya," seru Cherry dengan mengulurkan jari kelingkingnya kehadapan Tasya.
Tasya pun mengaitkan jari kelingkingnya ke kelingking Cherry dengan senyumannya.
"Teman..."
.
.
.
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU