ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO

ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO
Tolong Saya


__ADS_3

.


.


.


.


.


Mobil yang menolong Tasya pun sampai di rumah sakit.


"Suster tolong saya," teriak orang itu.


Suster pun datang dengan membawa blangkar, ternyata Tasya sudah pingsan selama dalam perjalanan.


Tasya langsung di bawa ke IGD, dan orang yang menolong Tasya tampak bolak-balik didepan pintu IGD.


Ceklek...


"Bagaimana Dok, dengan keadaannya?"


"Pasien mengalami ketakutan dan beban pikiran, tapi untungnya kandungannya baik-baik saja."


"Kandungan? maksud Dokter dia sedang mengandung?"


"Iya, diperkirakan usia kandungannya baru menginjak dua bulan. Kalau begitu kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap karena untuk sementara pasien harus berada disini."


"Oh ok, terima kasih Dok."


Dokter itu pun pergi dan tidak lama kemudian, dua orang suster mendorong blankar Tasya untuk di pindahkan ke ruang rawar inap dan orang yang sudah menolong Tasya tampak mengikuti keduan suster itu.


"Terima kasih ya sus."


"Sama-sama, kalau begitu kami permisi."


Kedua suster itu pun pergi, dilihatnya wajah pucat Tasya dengan seksama.


"Kasihan sekali kamu, sebenarnya tadi dia kenapa ya lari-lari di jalan mana malam-malam pula," gumamnya.


Akhirnya mau tidak mau, orang itu harus menginap di rumah sakit. Dia tidak mungkin meninggalkan Tasya karena hati kecilnya berkata kalau orang itu butuh bantuannya tapi entah apa.


Keesokkan harinya..


Tasya mulai mengerjapkan matanya, tangannya memegang keningnya yang terasa sedikit pusing. Tasya memperhatikan ruangan itu dan setelah sadar Tasya langsung terduduk di atas tempat tidur.


"Anakku, apakah dia masih ada diperutku," gumam Tasya dengan deraian airmata dan mengusap perutnya.


Orang yang menolong Tasya pun mengerjap karena mendengar isakan tangis seseorang.


"Hai, kamu tidak apa-apa?" tanyanya.


"Ka--kamu siapa?" seru Tasya yang berusaha memundurkan tubuhnya.


"Jangan takut, aku bukan orang jahat. Aku yang tadi malam hampir menabrak kamu, maaf ya. Oh iya, perkenalkan nama aku Cherry."


Orang itu mengulurkan tangannya kepada Tasya, dengan ragu-ragu Tasya pun membalas uluran tangan Cherry.


"Tasya."

__ADS_1


"Maaf, sebenarnya tadi malam kamu kenapa? kok lari-lari seperti itu? kaya lagi dikejar sama seseorang," tanya Cherry.


Bukannya menjawab, Tasya malah menangis sesegukkan dan membuat Cherry merasa bingung.


"Kamu kenapa menangis?"


"Kandunganku," sahut Tasya dengan memegang perutnya.


Cherry tersenyum, akhirnya dia tahu apa penyebab Tasya menangis.


"Kamu tenang saja, kandungan kamu baik-baik saja kok," seru Cherry dengan mengusap pundak Tasya.


"Kandungan aku baik-baik saja? kamu serius?"


"Iya, bayi kamu masih ada didalam sana," sahut Cherry dengan senyumannya.


"Alhamdulillah ya Alloh."


"Ngomong-ngomong, apa ada keluarga kamu yang bisa dihubungi? aku akan menghubungi keluargamu, takutnya mereka akan khawatir dengan keadaan kamu."


"Aku tidak punya keluarga Mbak, orangtua aku sudah lama meninggal."


"Kalau begitu, nomor suamimu saja."


"Tidak Mbak, aku tidak mau aku takut dia akan membunuh anakku ini."


"Maksud kamu apa?"


"Tadi malam aku kabur karena suami aku akan menggugurkan kandungan ini, aku takut Mbak aku tidak mau menggugurkannya," sahut Tadya dengan deraian airmata.


"Apa? kok bisa-bisanya suami kamu ingin menggugurkan darah dagingnya sendiri?" seru Cherry yang tampak geram.


"Ceritanya panjang Mbak, yang jelas saat ini aku tidak mau kembali lagi ke rumah suamiku, aku sangat takut."


"Mbak, kalau boleh aku mau ikut Mbak, dijadikan pembantu pun tidak apa-apa, aku bisa masak dan beres-beres yang penting aku ingin pergi dari suamiku."


"Aduh bagaimana ya, mana besok lusa aku harus pergi ke Paris karena ada shooting film disana," seru Cherry.


"Please Mbak aku mohon, hanya Mbak satu-satunya orang yang bisa menolongku, aku ingin pergi jauh dari sini."


Tasya memelas berharap Cherry akan menolongnya.


"Kalau masalah tiket aku bisa membelinya, aku masih punya sisa tabunganku."


"Bukan itu yang jadi masalahnya, tapi saat ini kamu masih sakit dan usia kandunganmu pun masih sangat muda, aku takut terjadi kenapa-napa sama kamu."


"Aku yakin, anak aku sangat kuat dia tidak akan menjadi anak yang lemah, please Mbak tolong aku," ucap Tasya dengan menangkupkan kedua tangannya.


Cukup lama Cherry berpikir, Cherry merasa sangat kasihan juga kepada Tasya.


"Ok, kalau begitu kamu boleh ikut aku kesana."


"Terima kasih Mbak."


Tasya pun memeluk Cherry dengan deraian airmata.


"Oh iya, satu lagi tolong jangan panggil aku Mbak, sepertinya kita sepantaran kamu cukup panggil aku Cherry saja."


"Ok."

__ADS_1


Seulas senyuman terbit di bibir Tasya, sedangkan di kediaman keluarga Bakrie, Alvian sedang kelimpungan mencari keberadaan Tasya.


Tadi malam Alvian memutuskan pulang ke rumah orangtuanya tanpa membawa Prili karena Alvian tidak mau keluarganya tahu dulu masalah nikah siri yang dijalaninya bersama Prili.


Saat ini semuanya sedang sarapan dan tiba-tiba Alvian pun turun dari kamarnya.


"Loh Al, kapan kamu datang kesini?" tanya Mama Elis yang terkejut dengan kehadiran Alvian.


"Tadi malam Ma, Al datang kesini sudah larut malam dan kalian semua sudah pada tidur," sahut Alvian.


"Istrimu mana? kenapa tidak ikut turun juga?" tanya Papa Bakrie.


"Hmm..anu Tasya tidak ikut Pa," sahut Al dengan menundukkan kepalanya.


"Jadi maksud kamu, kamu meninggalkan Tasya di apartemen sendirian dalam keadaan hamil seperti itu? apa kamu tidak merasa khawatir?" tanya Mama Elis.


"Al sudah mengajaknya Ma, tapi dia bilang dia capek dan ga mau ikut."


"Oh."


Sedangkan Vano tampak menatap tajam ke arah Alvian, entah kenapa Vano sama sekali tidak percaya dengan ucapan Alvian.


Setelah selesai sarapan Alvian pun dengan cepat masuk ke dalam mobilnya untuk menuju kantor.


"Tunggu Al," seru Vano menghentikan Alvian.


"Ada apa Bang?"


"Kamu yakin Tasya ada di apartemen kamu?" tanya Vano.


Alvian melotot darimana Vano tahu kalau Tasya tidak ada di apartemen, Alvian kembali tutun dari mobilnya dan menghampiri Vano.


"Maksud Abang apa?"


"Jangan pura-pura, aku tahu ada yang sedang kamu sembunyikan dan aku akan segera mengetahuinya," sahut Vano dengan melangkahkan kakinya menuju mobil.


"Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku Bang, kenapa Abang selalu ikut campur? jangan-jangan Abang suka ya sama Tasya? kalau begitu kenapa Abang tidak menikahinya?" cibir Alvian dengan senyuman sinisnya.


Vano kembali mendekat dan berdiri tepat dihadapan Alvian.


"Aku hanya ingin kamu tanggung jawab atas apa yang sudah kamu perbuat, karena keturunan Bakrie tidak ada yang pengecut. Tapi kalau kamu merasa tidak mau bertanggung jawab atas anakmu sendiri bahkan kalau sampai aku tahu kamu menelantarkan dan menyiksa Tasya, aku sudah sangat siap menggantikan posisi kamu, tapi setelah itu jangan harap kamu bisa menyandang nama Bakrie di belakang namamu," tegas Vano.


Vano pun segera masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Alvian.


.


.


.


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2