ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO

ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO
Meminta Maaf


__ADS_3

.


.


.


.


.


Tasya masuk ke dalam kamar hotel dengan deraian airmata, hatinya begitu sakit dan dadanya begitu sesak. Tasya masuk ke dalam kamarnya, dilihatnya Alta sudah tertidur dengan lelapnya.


Tasya duduk disamping Alta dan mengusap kepala Alta dengan deraian airmata.


"Maafkan Mommy sayang, bukannya Mommy mau memisahkan kamu dengan Daddy kamu, tapi untuk saat ini Mommy belum bisa memaafkan Daddy kamu, sudah cukup semua penderitaan yang dia berikan kepada Mommy," gumam Tasya.


Tasya pun mencium kening Alta dan kemudian merebahkan tubuhnya disamping puteranya itu.


Sementara itu Alvian pulang ke rumahnya dengan perasaan hancur, memang kesalahannya di masalalu begitu fatal sehingga membuat Tasya sangat membencinya.


"Aku tidak akan menyerah, aku akan berusaha membuat Tasya memaafkanku bagaimana pun caranya," gumam Alvian.


***


Keesokkan harinya...


Cherry dan Alta sedang menunggu Tasya di meja makan, Tasya pun keluar dari kamarnya.


"Astaga Tasya, mata kamu kenapa bengkak seperti itu? kamu habis menangis ya semalaman?" tanya Cherry.


"Ah tidak..."


"Jangan bohong deh Sya, aku tahu kamu habis nangis kan?"


"Siapa yang sudah membuat Mommy menangis? apa dia seorang pria? tolong katakan sama Alta, biar Alta yang memberi pelajaran kepada orang itu."


"Tidak sayang, tadi malam Mommy nonton drakor sedih banget makannya Mommy nangis," dusta Tasya.


"Kita sarapan di restoran hotel saja," ajak Cherry.


Mereka bertiga pun turun ke bawah untuk sarapan.


"Sya, ada teman aku yang nawarin rumah dia sih sudah ngirim lokasinya, apa kamu mau lihat-lihat dulu rumahnya kali aja cocok," seru Cherry.


"Boleh, lagipula kita sudah terlalu lama tinggal disini kasihan Alta."


"Ya sudah, habis sarapan kita kesana kita lihat rumahnya."


"Ok."


Sedangkan itu di kediaman Bakrie...


"Kamu kenapa Al? kamu sakit? wajah kamu pucat kaya gitu?" tanya Mama Elis.


"Tidak Ma, cuma tadi malam Al ga bisa tidur saja."


Tiba-tiba televisi yang memang dari tadi menyala sedang menayangkan berita Tasya dan Alta.


"Tasya Kamila, artis papan atas yang sekarang namanya sedang melambung sudah resmi menjadi brand ambasador dari sebuah merk shampo ternama di Indonesia ini. Tidak ada yang menyangka kalau seorang Tasya Kamila sudah menikah dan mempunyai seorang putera yang bernama Alta Putera Bakrie. Alta juga merupakan artis cilik yang sedang viral karena menjadi model pakaian anak-anak brand ternama, Alta yang mempunyai wajah tampan dan menggemaskan itu membuat hal layak penasaran, siapa sebenarnya Ayah dari Alta."


Begitulah isi dari berita gosip yang ada di televisi, bahkan Alvian sampai menjatuhkan sendok yang ada ditangannya.


"Apa itu cucuku, Vano?" tanya Papa Bakrie dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya Pa, dia Alta cucu Papa dan Mama."


"Ya ampun, tampan sekali mirip banget denganmu Al," sahut Mama Elis.


"Vano, tolong bawa mereka kesini, Papa ingin bertemu dengan mereka."


"Sabar Pa, Vano akan berusaha membujuk Tasya supaya dia mau datang kesini menemui kalian," sahut Vano.


Alvian menatap tajam kearah Vano..


"Maksud kamu apa Bang? berarti selama ini kamu sudah bertemu dengan mereka?" tanya Alvian.


"Iya, bahkan aku yang menjemput kepulangan mereka."


"Kurang ajar."

__ADS_1


Alvian beranjak dari duduknya dan dengan emosinya Alvian langsung memukul Vano sehingga Vano tersungkur ke lantai.


"Alvian, apa-apaan kamu," bentak Papa Bakrie.


"Kenapa selama ini kamu menutupinya Bang, sudah tahu aku dari dulu mencari keberadaan mereka tapi kamu dengan teganya diam-diam sudah menemui mereka dan kamu merahasiakannya, kamu benar-benar keterlaluan Bang," bentak Alvian.


Vano berdiri dan mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya, Vano menatap Alvian dengan tatapan meremehkan.


"Mereka tidak mau bertemu denganmu dan aku sangat menghargai permintaan Tasya."


Alvian tidak bisa bicara lagi dengan cepat dia pun meninggalkan rumah itu.


"Al, kamu mau kemana?" teriak Mama Elis.


Alvian segera masuk ke dalam mobilnya, pagi ini dia berencana untuk menemui Tasya di hotel.


Tidak membutuhkan waktu lama, Alvian pun sampai di hotel tempat Tasya menginap. Disaat Alvian hendak menuju lift, sekelebat bayangan Tasya terlihat dan benar saja dari kejauhan Alvian melihat Tasya sedang sarapan.


Dengan jantung yang berdetak tak menentu, Alvian mantap menghampiri Tasya. Alvian berdiri dibelakang tubuh Alta dan Cherry yang saat ini sedang menyantap sarapannya.


Tasya yang sudah melihat Alvian dari kejauhan, hanya bisa diam mematung. Sampai saat ini Alvian sudah berdiri tepat dihadapannya.


"Sya, kamu kenapa?" tanya Cherry.


Cherry merasa bingung dengan Tasya yang tiba-tiba menghentikan makannya dan matanya melotot ke arah belakang. Karena penasaran, akhirnya Cherry pun menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya Cherry saat melihat seorang pria tampan sudah berdiri disana dengan tatapannya tertuju kepada Tasya.


"Alta sayang, kamu sudah kan sarapannya ayo kita pergi," ajak Tasya dengan gugupnya.


Tasya beranjak dari duduknya dan menarik tangan Alta untuk pergi dari tempat itu. Tapi Alvian menghadang langkah mereka berdua.


"Aku mohon maafkan aku," lirih Alvian.


"Minggir Mas, kita mau pergi," seru Tasya dengan bibir bergetar dan tangannya menggenggam erat tangan Alta.


Alta memperhatikan pria tampan yang ada dihadapannya, Alta ingat kalau pria itu yang kemarin dia lihat di televisi.


"Apa Tuan, adiknya Paman Vano?" tanya Alta.


Seketika Alvian menundukkan kepalanya, dilihatnya wajah anak yang digenggam erat oleh Alta. Dalam hati Alvian merutuki dirinya karena tidak menyadari kehadiran anak kecil tampan yang terlihat seperti Alvian dalam versi kecil.


Alvian pun berlutut di hadapan Alta untuk menyamakan tingginya, Tasya merasa terkejut dan membawa Alta ke dalam dekapannya.


"Nak, kamu mirip sekali denganku," seru Alvian dengan bibir bergetar.


Hati Alvian serasa ngilu mengingat dulu dia tidak mempercayai kalau anak yang dikandung Tasya adalah anaknya. Tapi sekarang semuanya sudah membuktikan dengan wajah Alta yang hampir semuanya mirip dengan Alvian.


"Cherr, tolong kamu bawa Alta pergi."


"Tapi Sya----"


"Aku bilang bawa Alta sekarang juga," bentak Tasya.


Cherry mengerti dan dengan cepat Cherry membawa Alta pergi.


"Aku kan sudah bilang, jangan temui Alta aku tidak akan membiarkan kamu mencelakai Alta," seru Tasya.


Alvian pun berdiri dan menatap mata Tasya dengan tatapan kesedihan.


"Maafkan aku Sya, dulu aku memang sangat jahat ingin membunuh anakku sendiri karena aku merasa tidak percaya dengan anak yang dikandung sama kamu, tapi sekarang setelah aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, ternyata dia sangat mirip denganku dan aku yakin kalau dia memang anakku," seru Alvian.


"Sudah terlambat...."


Tasya segera melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Alvian tapi dengan cepat Alvian menarik tangan Tasya dan membawanya pergi.


"Lepaskan aku Mas," seru Tasya dengan terus memberontak.


Alvian tidak mendengarkannya, Al terus saja membawa Tasya keluar dari hotel dan memaksa Tasya untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Ga mau, kamu mau bawa aku kemana."


"Masuk Sya, aku hanya ingin bicara berdua dengan kamu."


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Mas."


Akhirnya Alvian berhasil membuat Tasya masuk ke dalam mobilnya dan Alvian pun segera melajukan mobilnya meninggalkan hotel itu.


Selama dalam perjalanan Tasya tidak bicara sedikit pun, dia terus membuang wajahnya keluar jendela. Tidak lama kemudian, Alvian memarkirkan mobilnya disebuah apartemen mewah.


"Ngapain kamu ngajak aku kesini, Mas?"

__ADS_1


"Please, aku hanya ingin bicara sama kamu dan aku membutuhkan ketenangan."


Tasya hanya bisa mengikuti langkah Alvian dari belakang, melawan pun percuma jadi lebih baik untuk saat ini dia ikuti saja apa mau Alvian, toh setelah ini dia yakin Alvian tidak akan mengganggunya lagi.


"Silakan masuk."


Dengan ragu-ragu Tasya pun masuk ke dalam apartemen Alvian. Tasya mengedarkan pandangannya dan semuanya masih sama seperti empat tahun lalu.


"Kamu mau ngomong apa Mas? cepetan, aku tidak mau meninggalkan Alta terlalu lama," seru Tasya to do point.


Tanpa diduga-duga, Alvian berlutut dihadapan Tasya membuat Tasya membelalakkan matanya.


"Apa yang kamu lakukan Mas? cepat berdiri," sentak Tasya.


"Aku tidak tahu bagaimana caranya supaya kamu bisa memaafkan aku, aku sadar kesalahanku di masalalu tidak pantas untuk dimaafkan tapi aku mohon beri aku satu kali kesempatan untuk memperbaiki semuanya, aku janji akan membahagiakan kalian berdua aku akan menebus semua kesalahanku walaupun nyawaku yang akan menjadi taruhannya."


Tasya terkejut dengan ucapan Alvian, dia tidak menyangka kalau Alvian akan melakukan semua ini.


Tes...


Airmata Alvian pun menetes di lantai dan itu membuat Tasya sekali lagi merasa tidak percaya kalau seorang Alvian yang dulu sangat kejam kepada dirinya sekarang begitu sangat rapuh dan rela merendahkan harga dirinya demi meminta maaf kepada Tasya.


"Aku mohon kamu berdiri Mas, jangan seperti ini kalau kamu kaya gini, aku merasa menjadi wanita paling kejam di dunia ini."


"Aku tidak akan berdiri sebelum kamu mau memaafkan aku dan memberi kesempatan kepadaku."


Tasya merasa bingung, apa yang harus dia lakukan. Disatu sisi Tasya sangat membenci Alvian tapi disisi lain Tasya juga tidak bisa menjadi wanita kejam seperti ini karena bagaimana pun Alvian tetaplah Ayah biologis Alta.


Tiba-tiba ponsel Tasya berbunyi...


"Hallo Cherr!!"


"Sya, sekarang aku sama Alta sedang berada di rumah baru jadi kalau kamu sudah selesai urusannya, kamu susul saja kami kesini alamatnya aku kirimkan ya."


"Oh ok, aku segera kesana sekarang."


Tasya pun memutuskan sambungan telponnya dan segera melangkahkan kakinya tapi lagi-lagi Alvian menahannya.


"Lepaskan Mas, aku harus segera pergi Cherry dan Alta sedang menungguku."


"Ya sudah aku antar."


"Tidak us----"


Ucapan Tasya terhenti karena Alvian segera menarik tangannya dan keluar dari apartemen miliknya.


Alvian terus saja menggenggam tangan Tasya walaupun Tasya berusaha melepaskannya tapi justru Alvian semakin mengeratkan genggamannya.


Selama menuju lobi, banyak mata tertuju kearah Alvian dan Tasya membuat Tasya menutupi wajahnya dengan tas selempang yang dibawanya.


"Bukannya itu Tasya Kamila ya, artis terkenal itu?"


"Iya, dan pria itu kan Alvian Bastian Bakrie pengusaha muda yang sukses dan tajir melintir."


"Kok mereka bisa bersama ya, wah jangan-jangan mereka ada hubungan lagi."


"Mana pegangan tangan seperti itu, bikin iri orang saja."


Begitulah desas-desus yang terdengar, bahkan ada juga yang sibuk mengambil gambar mereka berdua. Alvian sedikit menyunggingkan senyumannya kala mendengar orang-orang membicarakan dirinya dan Tasya.


"Pasti besok beritanya akan menjadi trending topik nih, mudah-mudahan dengan adanya berita ini hubunganku dengan Tasya akan lebih membaik lagi," batin Alvian dengan menyunggingkan senyumannya.


.


.


.


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2