
.
.
.
.
.
Dua hari sudah Vano menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan Tasya dan selama itu pula Tasya belum ditemukan. Vano merasa geram akan sikap Alvian, bukannya mencari Tasya malah enak-enakkan bersenang-senang dengan Prili.
Pagi ini di kediaman Bakrie semua orang sedang sarapan bersama termasuk Alvian dan juga Prili. Orangtua mereka sudah mengetahui tentang menghilangnya Tasya dan ketidak perdulian Alvian membuat Mama Elis dan Papa Bakrie merasa geram.
"Papa sudah selesai sarapan, kalau kalian sudah selesai temui Papa di ruangan keluarga," seru Papa Bakrie dengan dinginnya.
Vano sangat tahu dengan sikap sang Papa yang seperti itu. Akhirnya setelah selesai sarapan, semuanya berkumpul di ruangan keluarga.
Alvian dan Prili tampak menundukkan kepalanya, mereka sangat takut akan tatapan Papa Bakrie yang sangat menusuk itu.
"Vano, apa kamu sudah menemukan keberadaan Tasya?" tanya Papa Bakrie.
"Belum Pa, tapi Vano akan terus mencari keberadaan Tasya."
"Al, Mama sangat kecewa sama kamu, kamu sama sekali tidak peduli dengan istrimu sendiri malah bersenang-senang dengan perempuan lain," seru Mama Elis dengan tatapan sinisnya.
"Ma, Al sudah bilang kalau Al tidak mencintai Tasya, Al hanya mencintai Prili."
"Kalau kamu tidak mencintai Tasya, kenapa kamu sampai menghamili Tasya," bentak Mama Elis.
"Al tidak sengaja Ma, Al hanya tahu waktu itu Tasya berada di club malam dalam kondisi yang sudah mabuk dan akhirnya terjadilah hal seperti itu, Al tidak menyangka kalau Tasya akan hamil tapi Al yakin kalau anak itu bukan anak Al pasti itu anak orang lain," seru Al dengan tidak tahu malunya.
"Kurang ajar kamu Al," bentak Vano.
Vano beranjak dari duduknya hendak menghajar Alvian tapi Papa Bakrie segera menghalanginya.
"Asal kamu tahu bresengsek, Tasya itu adalah wanita baik-baik dia hanya di jebak oleh teman-temannya yang merasa iri kepadanya, bahkan Tasya sampai harus mengubur mimpinya karena dia di keluarin dari kampusnya, apa kamu tidak merasa kalau kamu adalah orang pertama yang sudah merenggut kesuciannya? dan sekarang kamu menuduh kalau itu bukan anak kamu, padahal semenjak kejadian itu Tasya tidak pernah tidur dengan siapapun, seharusnya kamu sadar apa wanita yang kamu cintai itu benar-benar mencintai dan setia kepadamu? bahkan aku yakin kamu bukan orang pertama yang sudah tidur dengannya," cibir Vano dengan senyuman meremehkan.
Deg...
Hati Alvian merasa tercubit dengan ucapan Vano. Memang benar yang dikatakan Vano, disaat pertama kali Al tidur dengan Prili, Al memang merasa sangat kecewa karena Prili sudah tidak perawan lagi tapi rasa cinta Al yang begitu besar terhadap Prili mampu membutakan semuanya.
Sedangkan Prili membelalakkan matanya, dia tidak menyangka kalau Kakak dari suami sirinya itu dengan kejamnya berkata seperti itu.
__ADS_1
"Kak Vano sungguh keterlaluan, jadi Kak Vano menuduh aku sebagai wanita murahan? padahal kenyataannya Tasya yang wanita murahan," seru Prili dengan nada yang lumayan tinggi.
"Apa perlu aku membeberkan siapa kamu sebenarnya?" seru Vano menatap tajam ke arah Prili.
Prili langsung terdiam..
"Pa, Ma, maafkan Al bagaimana pun keadaan Prili, Al tetap mencintainya dan satu lagi Al dan Prili sudah menikah siri," seru Alvian.
Mama Elis dan Papa Bakrie membelalakan matanya, berbeda dengan Vano yang hanya bisa tersenyum meremehkan. Vano memang sudah mengetahui semuanya tapi Vano ingin Alvian sendiri yang mengakuinya.
Plaaaakkkk....
Papa Bakrie menampar Al dengan sangat kencangnya.
"Anak kurang ajar, disaat istri kamu sedang mengandung, kamu malah menikah siri dengan wanita lain. Apa kamu mencintai wanita ini?" bentak Papa Bakrie.
"Iya Pa."
"Baik, kalau begitu kamu keluar dari rumah ini jangan kembali lagi kesini dan Papa akan hapus nama Bakrie di belakang namamu, semua hak waris yang menjadi bagian kamu akan Papa berikan untuk anak Tasya kelak."
Alvian dan Prili membelalakan matanya...
"Sial, kalau Al diusir dari rumah terus dihapus dari hak waris, Al jatuh miskin dong. Enggak, aku ga mau punya suami miskin kaya Al, aku kan deketin Al karena Al merupakan salah satu pewaris kekayaan Bakrie," batin Prili.
"Ah, maaf Al lebih baik kamu menuruti apa yang orangtua kamu katakan," seru Prili dengan melepaskan genggaman tangan Alvian.
"Loh kamu kenapa? aku sudah rela melepaskan nama dan jabatan aku demi kamu loh, kok kamu malah berkata seperti itu?" tanya Alvian bingung.
"Sayang, di zaman seperti ini cari kerja itu susah loh, kalau kamu melepaskan jabatan kamu terus kamu mau kerja apa? aku ga mau ya sampai kamu ga kerja dan hanya menyusahkan aku," sahut Prili.
Vano tersenyum penuh kemenangan, sementara Alvian tampak terperanjat dengan jawaban Prili. Alvian tidak menyangka kalau Prili selama ini memang tidak tulus mencintainya.
"Maksud kamu apa Prili?"
"Alvian, aku bukan wanita munafik ya, jelaslah aku sangat butuh materi bukan cinta sekarang buat apa aku bertahan berada di samping kamu kalau kamu jatuh miskin, maaf aku ga mau hidup susah. Jadi lebih baik sekarang kita cerai saja, aku tidak mau punya suami pengangguran," sahut Prili dan langsung meninggalkan rumah keluarga Bakrie.
"Prili tunggu."
Alvian berlari mengejar Prili...
"Dasar wanita matre," gumam Vano.
Papa Bakrie dan Mama Elis hanya bisa diam tidak mau ikut campur urusan Alvian.
__ADS_1
"Pa, Ma, Vano berangkat ke kantor dulu."
"Vano, tolong cari Tasya, Mama tidak mau cucu Mama kenapa-napa."
"Iya Ma, Vano akan berusaha mencari Tasya."
Vano pun melangkahkan kakinya meninggalkan rumah itu, sedangkan diluar Alvian dan Prili tampak sedang bertengkar.
"Tunggu Prili, maksud kamu apa? kenapa kamu malah meminta cerai disaat aku bela-belain kamu didepan Mama dan Papa," bentak Alvian.
"Jujur, aku deketin kamu dan mau menikah sama kamu karena kamu adalah salah satu pewaris kekayaan Bakrie tapi sekarang kamu dengan bodohnya melepaskan semua kekayaan itu demi hidup denganku, kamu pikir aku mau apa hidup denganmu setelah kamu jatuh miskin seperti ini," sahut Prili.
"Apa? jadi selama ini kamu deketin aku karena kamu hanya ingin hartaku saja?" tanya Alvian tidak percaya.
"Iyalah, memangnya apa lagi?"
"Dasar, wanita brengsek."
"Terserah kamu mau menganggapku apa, yang jelas setiap wanita itu membutuhkan uang dan aku tidak mau menghabiskan waktuku hanya untuk pria miskin sepertimu."
Prili dengan cepat menghentikan taxi dan pergi meninggalkan Alvian yang saat ini hanya bisa diam mematung.
"Itu wanita yang kamu banggakan dan pertahankan? kamu menyia-nyiakan wanita baik demi wanita tidak berguna seperti itu, semoga beruntung," seru Vano dengan menepuk pundak Alvian.
Vano pun segera memasuki mobilnya dan meninggalkan Alvian.
.
.
.
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU