ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO

ANAK GENIUS : MELAHIRKAN ANAK CEO
Menyatunya Dua Hati


__ADS_3

.


.


.


.


.


Malam pun semakin larut, pesta resepsi Alvian dan Vano berjalan dengan lancar. Vano dan Cherry sudah masuk ke dalam kamarnya, Alvian menggendonh Alta yang sudah tertidur lelap.


"Mas, Alta mau dibawa kemana?" tanya Tasya.


"Mau di bawa ke kamar Mama dan Papa, biarkan Alta tidur sama mereka malam ini."


"Tapi Mas----"


Tasya tidak melanjutkan ucapannya karena Alvian sudah pergi ke kamar Mama dan Papanya untuk menitipkan Alta.


Tasya segera naik menuju kamar Alvian, malam ini dia sudah sangat lelah dan kakinya pun sudah sangat pegal karena terlalu lama memakai heels. Vano dan Alvian memang memutuskan untuk pulang ke rumah.


Sesampainya di kamar, Tasya langsung menuju kamar mandi karena badannya sudah sangat lengket dengan keringat. Tasya berendam dengan air hangat terasa sangat nyaman, Tasya tampak memejamkan matanya.


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, Tasya lupa kalau dia tidak mengunci pintunya. Tasya masih memejamkan matanya, saking asyiknya dia sampai tidak menyadari kalau Alvian sudah masuk ke dalam kamar mandi.


Tasya langsung membuka matanya saat ada seseorang yang menyentuh pipinya.


"Mas Al, kok bisa masuk?" tanya Tasya gugup.


Alvian tidak menjawab, matanya sudah berkabut menandakan kalau Alvian sudah sangat menginginkan Tasya.


"Sya, boleh kan aku menjadi suami seutuhnya malam ini?" seru Alvian.


Tasya tampak gugup, susah payah Tasya menelan salivanya. Tasya juga merasa kasihan melihat Alvian seperti itu, memang sudah menjadi kewajibannya melayani suami.


"Baiklah, kamu boleh melakukannya Mas."


Tanpa menunggu lagi, Alvian masuk ke dalam bathup dan melahap bibir Tasya yang dari tadi sudah terlihat sangat menggoda.


Tasya mengalungkan tangannya ke leher Alvian dan sekarang tangan Alvian sudah menjelajah kemana-mana membuat Tasya menggeliat menahan rasa geli dan nikmat.


Tasya sangat menikmati setiap sentuhan yang diberikan Alvian.


"Mmmfffppttt....Mas."


Alvian menghentikan aktivitasnya dan menatap Tasya dengan bingung.


"Apa kita akan melakukannya disini?" lirih Tasya dengan nafas yang sudah terengah-engah.


Alvian bangun dan menarik tangan Tasya supaya Tasya berdiri, tapi Tasya ragu-ragu karena dia sedang tidak memakai sehelai benang pun.


"Ayo, kita harus bersihkan dulu tubuh kita yang penuh dengan sabun ini," seru Alvian.


Akhirnya dengan ragu-ragu, Tasya pun berdiri dan itu membuat Alvian melotot. Alvian langsung menarik tubuh Tasya ke bawah shower untuk membersihkan tubuh mereka terlebih dahulu.


"Tubuhmu begitu indah, sayang. Aku sangat menyukainya."


Alvian kembali mencium bibir Tasya dengan rakusnya. Setelah dirasa bersih, Alvian langsung menggendong tubuh Tasya tanpa melepaskan ciumannya.


Alvian semakin menggila, Tasya menggeliat mendapat perlakuan seperti itu dari Alvian. Perlahan tapi pasti, Alvian mulai menyatukan tubuh mereka berdua, Tasya sedikit kaget dengan serangan Alvian yang tiba-tiba.


Alvian merasakan kalau Tasya masih terasa sempit walaupun dia sudah melahirkan anaknya, mungkin karena Tasya baru melakukannya sekali bahkan itu sudah empat tahun yang lalu.


"mmm...Mas."


"Apa sayang?"


"Ak---aku...."


Tasya tidak bisa melanjutkan ucapannya, Tasya mengeratkan pelukkannya dan menjambak rambut Alvian, hingga tidak lama kemudian Tasya pun terkulai lemas dan berselang lima menit kemudian, Alvian pun menyusul Tasya mencapai puncak kenikmatannya.


Alvian membaringkan tubuhnya di samping Tasya, nafas keduanya tampak ngos-ngosan.


"Terima kasih Sayang."


Tasya sudah tidak sanggup lagi berbicara dia hanya mampu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Alvian baru saja merasakan hal yang sangat indah, bahkan dulu dengan Prili pun Alvian tidak pernah merasakan hal seindah ini.


Alvian menarik tubuh Tasya ke dalam dekapannya kemudian Alvian menutupi tubuh polos mereka dengan selimut. Tidak ada pergerakan sama sekali dari Tasya, ternyata Tasya sudah terlelap tidur dia sudah sangat kelelahan malam ini.


"Selamat malam sayang, mimpi indah," gumam Alvian.


Alvian pun mencium kening Tasya dan tidak lama kemudian, Alvian pun menyusul Tasya menuju alam mimpinya yang sangat indah.


Tidak jauh berbeda, Vano dan Cherry pun sama-sama sedang melakukan hal yang sangat membahagiakan.


***


Keesokkan harinya...


Tasya dan Alvian baru saja selesai mandi bersama, tidak lupa mereka kembali olahraga pagi.


"Sayang, hari ini kamu shooting tidak?"


"Iya, memangnya kenapa?"


Alvian memeluk Tasya dari belakang...

__ADS_1


"Mas, pakai baju sana."


"Bisa tidak kamu jangan jadi artis lagi? aku ga suka kamu dipegang-pegang sama pria lain."


"Aku sudah terlanjur kontrak Mas, kalau aku membatalkan kontrak aku harus bayar finalti dan itu sangat besar."


"Kamu lupa ya kalau kamu istri Alvian Bastian Bakrie, berapa finalti yang harus dibayar? biar aku bayar semuanya."


Tasya menghentikan aktivitasnya yang sedang memoles wajahnya dan membalikkan badannya, Tasya menangkup kedua pipi Alvian.


"Masku sayang, aku tahu Mas sanggup membayar finaltinya tapi aku tidak mau menyusahkanmu, cuma satu tahun kok habis itu aku lepas semuanya."


"Beneran ya, awas kalau kamu masih jadi artis lagi," ancam Alvian.


"Ok..." sahut Tasya dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Hai, kamu mau menggodaku lagi sayang."


"Apaan sih, siapa yang mau menggoda."


Alvian memeluk dan menciumi Tasya...


Tok..tok..tok..


"Mommy, Daddy, kalian sedang ngapain? cepetan keluar Alta sudah lapar," teriak Alta.


"Astaga, kita melupakan Alta," seru Tasya.


Tasya pun cepat-cepat membuka pintu, dilihatnya Alta sudah berdiri dengan melipat tangannya diperut dengan wajah yang ceberut.


"Ya ampun, jagoan Mommy sudah menunggu ya," seru Tasya memeluk Alta dan menciumi seluruh wajah Alta.


Alta dengan wajah cemberutnya langsung masuk ke dalam kamar Tasya dan duduk di ujung ranjang. Alvian pun yang baru saja selesai mengganti pakaiannya tampak tersenyum melihat anaknya itu.


"Alta kenapa kok cemberut? maafin Mommy kalau Mommy kelamaan."


"Mommy sekarang lupa sama Alta semenjak ada Daddy."


"Siapa bilang sayang? Mommy tidak pernah melupakan Alta kok," bujuk Tasya.


"Wah, jagoan Daddy ngambek nih kayanya."


"Daddy sudah merebut Mommy Alta."


"Hai, Mommy itu milik kita berdua jadi kamu tidak boleh cemburu sama Daddy."


"Kalau begitu bikinin Alta adik yang banyak biar Alta punya teman kalau Mommy sama Daddy sedang berduaan."


Tasya dan Alvian saling menatap satu sama lain hingga akhirnya senyum kemenangan terbit di wajah Alvian.


"Kamu minta adik, boy?"


"Siap, Daddy bakalan bikinin adik yang banyak buat kamu."


"Serius Daddy?"


"Iya dong, dengan senang hati."


Tasya mencubit lengan Alvian dengan gemasnya...


"Aw sakit sayang, kenapa aku dicubit?"


"Habisnya mau bikin adik yang banyak, memangnya gorengan apa bikin yang banyak," ketus Tasya.


Alvian langsung menggendong Alta..


"Boy, kita turun ke bawah yuk bahaya kalau Mommy kamu sampai marah, bisa-bisa misi Daddy bikin adik buat Alta tertunda," bisik Alvian.


Alvian pun membawa Alta ke bawah tanpa memperdulikan Tasya yang kini sudah menatap tajam ke arahnya.


Sesampainya di meja makan, ternyata Vano dan Cherry pun sudah ada disana.


"Pagi semuanya," sapa Alvian.


"Pagi."


Tasya pun menyusul dengan senyumannya yang mengembang.


"Mama senang banget melihat kalian semua, akhirnya anak-anak Mama sudah bahagia dan mempunyai pasangan masing-masing."


"Kalian berencana mau pergi bulan madu kemana?" tanya Papa Bakrie.


"Turki," sahut Tasya dan Cherry bersamaan.


Vano dan Alvian saling pandang kemudian mereka semua tertawa bersama.


"Kok, bisa samaan jawabannya?" seru Vano.


Tasya dan Cherry hanya bisa nyengir, mereka juga tidak tahu kenapa jawaban mereka bisa sama seperti itu.


"Ya sudah kita berangkat ke sana bersama-sama," seru Alvian.


"Kapan rencananya kalian akan berangkat?" tanya Mama Elis.


"Sepertinya minggu depan saja, soalnya Tasya sama Alta jadwalnya padat dari sekarang sampai jum'at jadi mulai hari sabtu nanti biar kita minta cuti dulu," sahut Cherry.


"Ok, berarti kita juga harus menyelesaikan dulu pekerjaan kita supaya pas kita tinggal nanti tidak ada yang terbengkalai," seru Vano.

__ADS_1


"Benar Bang," sahut Alvian.


Mereka pun melanjutkan sarapannya..


Setelah sarapan Tasya dan Cherry diantar ke lokasi shooting dengan suami mereka masing-masing. Sesampainya di lokasi shooting, semua orang tampak tertuju kepada kedua pasangan yang tampak serasi itu.


Vano dan Alvian bersikap sangat manis, dari membukakan pintu mobil sampai mencium kening istrinya sebelum mereka berangkat ke kantor membuat semua orang iri melihatnya.


"Sial, kenapa si Tasya jadi beruntung seperti itu sih?" seru Fani.


"Iya, nyebelin banget bahkan sekarang ketenaran kita sudah terkalahkan oleh mereka," sahut Lina.


"Kita harus cari cara untuk menyingkirkan Tasya."


"Benar banget Fan."


Tasya, Cherry, dan Alta pun mulai menjalani shooting seperti biasanya. Disaat Tasya sedang melakukan prosesi pemotretan, Fani dan Lina diam-diam memasukan sesuatu dimakanan Tasya.


"Kali ini kamu akan mati, Tasya," gumam Fani.


"Buruan Fan, nanti kita ketahuan," bisik Lina.


Setelah selesai, Fani dan Lina segera pergi tapi tiba-tiba Alta menghalangi langkah mereka berdua.


"Kalian mau mencelakai Mommy Alta kan?" seru Alta.


"Apaan sih anak kecil, jangan sembarangan nuduh deh," elak Fani.


"Iya, minggir sana," ketus Lina.


"Pak Satpam, tolong kesini," teriak Alta.


"Ada apa Dek?"


"Pak, tolong bawa kedua penjahat ini mereka sudah berusaha mau membunuh Mommy Alta."


"Hei anak kecil jangan sembarangan nuduh kamu," bentak Fani.


"Pak kalau tidak percaya, Bapak periksa saja tas wanita itu," seru Alta menunjuk ke arah Fani.


"Apaan kamu, jangan lancang," bentak Fani.


Tasya dan Cherry mendengar kegaduhan langsung menghampiri dan disusul dengan crew yang lainnya.


"Alta ada apa ini?" tanya Tasya.


"Mommy, kedua orang ini memasukan racun ke dalam makanan Mommy," sahut Alta.


"Apa?"


"Dasar wanita ular," geram Cherry.


"Aunty, periksa tas wanita itu."


Cherry segera mengambil tas Fani dengan paksa dan memeriksa isinya dan ternyata benar saja ada satu botol kecil yang dikira sebagai racun.


"Kurang ajar, Pak bawa mereka ke kantor polisi," seru Cherry.


"Tidak, aku ga mau di penjara," teriak Fani.


"Lepasin kita," teriak Lina.


Satpam pun segera membawa Fani dan Lina keluar dari tempat shooting itu.


"Alta, terima kasih sayang kalau kamu tidak menemukannya pasti saat ini Mommy sudah memakan makanan itu," seru Tasya dengan memeluk anaknya.


Berita mengenai tertangkapnya Fani dan Lina langsung tersebar diberbagai media sosial, membuat Alvian panik dan langsung menghampiri Tasya ke lokasi shooting.


"Sayang, kamu tidak apa-apa kan?" seru Alvian dengan memeluk Tasya.


"Tidak Mas, aku tidak apa-apa untuk Alta melihat kelakuan Fani dan Lina kalau tidak mungkin saat ini aku sudah mati," sahut Tasya.


Alvian memeluk Alta dan menciuminya..


"Terima kasih sayang, kamu sudah menjaga Mommy kamu."


Alvian memeluk anak dan istrinya itu, Alvian sangat panik dan ketakutan saat mendengar berita di media.


"Aku pastikan mereka akan mendekam di penjara dalam waktu yang sangat lama," geram Alvian.


Alvian sangat bersyukur mempunyai anak pintar seperti Alta, dan Alvian berjanji mulai detik ini dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti anak dan istrinya.


.


.


.


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2