Anjani Sayang

Anjani Sayang
Teman Anjani


__ADS_3

Bruk. Seseorang menabrak ku. Atau lebih tepatnya aku yang menabrak hingga terjatuh. Tanganku cukup sakit sebab menahan badan.


"Kau tidak apa-apa?" tanyanya, sambil mengulurkan tangan.


"Kak Philip?" aku tersenyum lega saat melihat anak laki-laki yang ada di hadapanku. Ia kak Philip. Akhirnya aku bisa bertemu kembali dengannya. "Kakak, aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi."


"Anjani, rumahku persis di sebelah panti asuhan tempatmu tinggal. Jadi kapanpun kita bisa berencana."


"Benarkah? Aku mengira kakak bukan orang yang asalnya dari sini,"


"Kenapa kau bisa berkata begitu?"


Aku menunjuk sepasang mata kak Philip yang berwarna biru. Berbeda dengan kebanyakan mata orang-orang di sini.


"Kau juga," ia pun menunjuk sepasang mataku yang berwarna coklat.


"Mataku mirip mata ayah," aku bercerita tentang sepasang mata coklat seperti milik ayah yang berasal dari ayah berdarah Belanda, sedangkan ibunya adalah orang Indonesia asli.


"Mata biru ini juga warisan dari ayahku. Ia keturunan Filandia, tapi lahir dan besar di Paris. Saat inipun masih bekerja di Paris." kak Philip menceritakan tentang asal usul ayahnya.


Ternyata kami punya banyak kesamaan tentang ayah. Mata kamu sama-sama turunan ayah. Pertemuan orang tua kami pun nyaris sama. Ayahku dan ayah kak Philip sama-sama tengah liburan ke Bali, lalu bertemu dengan ibu. Cinta pada pandangan pertama membuat mereka memutuskan untuk menikah.


"Tapi sekarang akupun tidak bersama ayah, hanya tinggal berdua dengan ibu," kak Philip menceritakan kondisinya saat ini.


"Kemana ayah kak Philip?" tanyaku.


"Di Paris. Ayah tinggal dan bekerja di sana,"


"Kenapa kakak tidak tinggal bersama?"


"Tidak bisa Anjani. Ayah dan ibuku sudah berpisah." kak Philip menceritakan bahwa sejak usianya lima tahun ia sudah ditinggalkan ayahnya yang memutuskan kembali ke Paris karena tidak sanggup hidup di sini. "Setidaknya kau lebih beruntung Anjani, dua tahun lebih lama bersama ayahmu."


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Jangan mudah menyerah. Kau harus kuat. Jangan cengeng kalau masih ingin bertemu ayah dan ibumu. Sebelum kau bertemu orang tuamu, akulah yang akan melindungimu. Aku akan menjadi temanmu."


Kata-kata kak Philip terus ku ingat. Sejak hari ini, selain jadi malaikat pelindungku, kak Philip juga menjadi temanku satu-satunya.


"Anjani, sekarang kau harus kembali ke sekolah agar tidak mendapatkan masalah berikutnya." kata kak Philip.

__ADS_1


Kami berdua menuju ke sekolah yang sama karena kak Philip kelas enam SD sedangkan aku baru kelas satu. Meskipun belum bisa menerima semuanya, tetapi aku bisa sedikit tenang karena sekarang punya teman yaitu kak Philip.


***


Lonceng tanda pulang telah berbunyi, aku segera merapikan peralatan belajar. Rasanya sudah tidak sabar ingin bertemu bibi Desi. Ia sudah berjanji akan memberiku hadiah jika berhasil mendapatkan nilai seratus dan hari ini aku berhasil. Nilai seratus untuk ulangan matematika.


Di pintu kelas, seseorang menghadang ku. Ia mempersilakan anak yang lain untuk keluar, lalu memaksaku masuk, diikuti dua orang temannya.


"Anak kecil, aku ingin bicara padamu!" katanya.


"Namaku Anjani, kak." ungkapku.


"Kak? Hei, aku bukan kakakmu. Aku Mega." ia berkata dengan gaya yang sombong.


"Oh, Mega."


"Aku tidak peduli siapa namamu. Aku hanya ingin memberitahu, jangan dekati Philip karena ia hanya boleh berteman dengan yang selevel dengannya. Kau mengerti!"


"Kak Philip tidak keberatan berteman denganku. Dia sendiri yang mengatakannya."


"Kau ini anak panti, kan? Kata Diana kau dibuang oleh orang tuamu. Bagaimana mungkin kau bisa berani berteman dengannya? Harusnya kau tahu diri. Kau sudah tahukan siapa Philip? Dia dari keluarga terpandang, sama seperti keluargaku. Anak orang kaya hanya boleh berteman dengan anak orang kaya. Mengerti!"


"Kau tidak mau mengaku padahal jelas-jelas tinggal di panti. Sebenarnya aku malas berbicara dengan anak-anak yang dibuang seperti kamu. Tapi aku harus melakukannya agar kamu paham!"


"Terserah apa kata kalian, aku mau pulang."


"Hei tunggu dulu. Beraninya kau pergi padahal aku belum selesai bicara!"


"Aku buru-buru. Aku harus menunjukkan ini pada bibi Desi!"


"Hei apa ini?" Mega merebut kertas ulangan ku. "Kau bangga sekali dapat nilai sempurna. Memangnya kau kira dengan nilai seratus hidupmu akan berubah? Tidak! Kalian akan selamanya berada di kasta bawah!"


"Kembalikan kertasku!"


"Kalau aku tidak mau?" tiba-tiba Mega berlari keluar kelas diikuti dua orang temannya.


"Kertasku!" aku mengejar mereka.


Mega dan teman-temannya berada jauh di depanku. Tetapi aku tidak mau mengalah, terus mengejar sekuat tenaga. Tiba-tiba Mega melakukan sesuatu hal yang membuatku sangat marah.

__ADS_1


"Kertasku," aku langsung lemas melihat kertas itu hanyut di kali kecil yang berada di pinggir jalan. Bibi Desi belum melihatnya, tapi sudah dibuang.


"Hahaha, lihat anak buangan itu, kamu mau nangis? Ayo nangis ... nangis bayi cengeng!" ejek Mega.


"Siapa yang mau menangis? Aku bukan bayi cengeng!" sebenarnya aku sangat kecewa, tetapi ingat kata-kata kak Philip untuk tidak gampang menyerah. Aku harus kuat.


"Anjani!" baru saja aku memikirkannya, sekarang kak Philip sudah ada di belakangku.


"Kakak!" panggilku. "Kak, apa anak-anak ini teman kakak? Lihat apa yang mereka lakukan padaku. Mereka membuang kertas ulangan ku ke kaki!" aku mengadukan ulah Mega dan teman-temannya.


"Hei jangan sembarang bicara. Itu tidak benar Philip. Kami hanya sedang bersenang-senang. Iya kan teman-teman?" Mega tampak canggung melihat kedatangan kak Philip. Ia tidak menyangka bahwa kak Philip akan datang dan melihat sendiri ulah jahatnya.


"Kau jangan berbohong Mega." kak Philip melihat ke arah kaki, tampak kertas ulangan ku sudqh basah, mulai hanyut terbawa arus air yang tidak terlalu deras. "Sekarang juga kalian ambil kertas ulangan Anjani. Besok pagi kertas itu harus seperti semula atau aku akan memberi kalian pelajaran!"


Mendengar ancaman kak Philip, Mega dan kedua temannya tampak kalang kabut. Mereka langsung saling dorong hingga tiga-tiganya tercebur dalam kali.


"Aaaaaaa ... aku basah!" teriak Mega.


"Lihat Anjani, mereka sudah kena batunya!" kak Philip tersenyum geli.


"Philip tolong aku!" panggil Mega.


"Kerjakan apa yang kukatakan tadi! Ingat, besok kertasnya harus seperti semula!" kak Philip mengajakku pergi, sementara Mega dan dua orang temannya heboh dengan kondisi tercebur dalam kali.


Saat aku dan kak Philip berbalik, kami melihat kak Zein tengah berdiri tidak jauh dari kami. Jadi dari tadi ia melihatku tapi tidak membantu sedikitpun? Ternyata aku salah menilai kak Zein, ia tidak benar-benar sebaik yang kukira.


"Hei Zein, kau tidak ingin pulang?" sapa kak Philip sambil berlalu meninggalkan kak Zein yang masih berdiri diam mematung.


"Kenapa dia tidak bicara apapun?" cetusku.


"Siapa? Zein?"


"Iya,"


"Dia memang begitu, selalu dingin. Tapi sebenarnya Zein baik,"


"Dari tadi dia ada disitu tapi tidak menolongku."


"Tidak apa-apa, yang pentingkan aku menolongmu!"

__ADS_1


__ADS_2