
Sudah tiga hari aku berada di panti ini. Setiap hari aku hanya duduk di depan sambil menatap jalanan. Berharap ayah dan ibu datang menjemput. Rasanya sudah teramat rindu. Tetapi yang dinanti tidak juga kunjung datang.
Hingga suatu siang, saat Diana dan anak-anak lainnya pulang. Entah mengapa ia mengatakan bahwa apa yang kulakukan itu sia-sia. Ayah dan ibu tidak akan pernah datang.
"Masuklah Anjani. Kenapa kau masih saja duduk menanti di sini? Kau tahu, Ayah dan Ibumu tidak akan pernah datang!" kata Diana.
"Ayah dan Ibu pasti datang!" aku bicara dengan penuh keyakinan.
"Kau ini sudah dibuang, Anjani. Anak yang dibuang tidak akan pernah dijemput!" Diana tetap tidak mau kalah.
"Itu tidak benar. Ayah dan Ibu pasti menjemputku!"
"Dasar anak aneh. Sudah dikatakan, kau itu hanya anak yang dibuang. Kehadiranmu tidak diharapkan!"
"Tidak. Itu tidak benar!" aku kesal sekali mendengar kata-kata Diana.
"Anjani!" kak Zein yang baru pulang, memanggilku. "Kenapa teriak-teriak?"
"Kak, katakan padanya untuk tidak duduk di depan sini lagi. Ayah dan Ibunya tidak akan datang. Iya, kan?" Diana mencari dukungan kak Zein.
"Anjani, yang dikatakan Diana itu benar. Sebaiknya kamu masuk ke dalam. Jangan duduk di sini lagi sebab Ayah dan Ibumu tidak akan datang " kata kak Zein.
"Enggak. Itu enggak benar. Ayah dan Ibu pasti akan datang!" kini kekesalanku tertuju pada kak Zein
"Tidak Anjani. Yang dikatakan Diana benar. Setiap anak yang sudah dikirim ke panti ini tidak akan pernah dijemput kembali." kak Zein menjelaskan.
"Tidak!" aku semakin kesal, sehingga tanpa sadar mendorong tubuh kak Zein hingga ia terpeleset membentur tembok.
"Kak Zein!" Diana memekik.
Anak-anak yang lain ikut berteriak memanggil ibu kepala dan bibi Desi. Tidak lama yang dipanggil datang. Mereka tampak panik saat melihat darah mengalir dari kening kak Zein yang robek.
"Zein!" ibu kepala begitu terpukul. "Segera panggil dokter!"
__ADS_1
Berdua dengan bibi Desi, ibu kepala membopong kak Zein ke dalam ruangan ibu kepala. Sementara aku hanya hanya bisa diam menyaksikan semua ini.
Aku tidak bermaksud menyakiti kak Zein, apalagi sampai membuatnya terluka. Aku spontan mendorongnya karena kak Zein ikut-ikutan mengatakan bahwa ayah dan ibu tidak akan pernah datang.
Sayangnya ibu kepala tidak mau mendengar penjelasan ku. Ia tampak marah karena aku sudah mencelakai putra satu-satunya.
"Kau benar-benar anak nakal!" ibu kepala memukul kakiku dengan rotan. "Sudah untung ku tampung, tapi malah melukai putraku!"
"Aaaaaaa, sakit!" aku menjerit sambil meneteskan air mata. "Sakit. Ayah, Ibu!"
"Panggilkan Ayah dan Ibumu sekeras mungkin. Kau kira mereka akan datang? Tidak. Mereka tidak akan pernah datang. Sekarang aku mengerti mengapa mereka tidak menginginkanmu, karena kau anak nakal. Baru tiga hari kau sudah membuat masalah yang fatal!"
Pukulan. Demi pukulan terus dilayangkan ibu kepala hingga aku tersungkur dengan kaki penuh darah. Rasanya benar-benar sakit.
"Ibu, sudahlah. Maafkan Anjani. Dia pasti tidak sengaja." pinta bibi Desi.
"Anjani sengaja melakukannya, Bi. Aku lihat sendiri!" ungkap Diana.
"Kau sengaja melukai putraku? Apa salahnya, hah? Ayo jawab!" ibu kepala menarik lenganku, tetapi karena kedua kakiku terluka, maka tubuhku langsung ambruk ke lantai saat ia melepaskan aku.
"Kau beruntung. Sekarang aku melepaskan mu. Tapi kalau terjadi sesuatu pada Zein, maka aku akan menghukummu!" cetus ibu kepala sebelum meninggalkanku.
"Anjani, ayo kita ke kamar. Kakimu luka, ayo kita obati." susah payah bibi Desi menggendongku menuju kamar. Sampai di kamar, bibi Desi membersihkan lukaku. Lalu memberinya obat.
"Sakit!" kataku, sambil menangis.
"Anjani sayang!" bibi Desi ikut menangis, ia memelukku erat. "Ya Tuhan, berat sekali ujian hidupmu, Nak. Padahal kau masih sangat muda!"
Luka di kedua kakiku cukup parah. Tetapi bibi Desi tidak berani minta izin memanggil dokter pada ibu kepala, ia hanya mengobati luka di kakiku dengan obat seadanya. Untuk mengurangi rasa sakit, bibi sampai mengupasnya semalaman, sementara aku tertidur dalam kondisi tengkurap.
***
Sudah dua hari berlalu. Aku masih berada dalam kamar. Bibi Desi melarangku keluar sebab khawatir membuat ibu kepala marah karena saat ini kondisi kak Zein pun masih dalam masa penyembuhan.
__ADS_1
Luka di kepala kak Zein cukup lebar, makanya harus dijahit. Ia sempat demam sebab alergi dengan antibiotik.
Pagi ini bibi Desi terlihat resah. Rupanya ia harus pergi belanja, tetapi takut meninggalkan ku sendirian.
"Dengar Anjani. Bibi takut Ibu Kepala masih kesal padamu, karena itu Bibi minta jangan keluar kamar sampai Bibi pulang. Kunci pintu dari dalam, ya." kata bibi Desi.
Setelah bibi pergi, aku langsung mengunci pintu dari dalam kamar. Tetapi apa yang dikhawatirkan oleh bibi Desi terjadi, ibu kepala datang ke kamar.
Awalnya aku tidak ingin membukanya karena takut, tetapi karena diancam, akhirnya pintu kubuka.
"Sekarang ikut aku!" kata ibu kepala, sambil menyeret langkahku.
"Kita mau kemana, Bu?" tanyaku, sambil menahan pedih di kedua kaki.
Ibu kepala tidak bicara apapun. Ia terus berjalan menuju belakang panti. Lalu di depan sebuah bangunan yang tampak kotor, ibu kepala membuka pintunya. Hanya dalam hitungan detik, ia mendorongku hingga terjatuh ke dalam bangunan yang ternyata adalah gudang.
"Ibu ... tolong jangan kunci aku!" pintaku, sambil menggedor pintu. Aku sungguh takut karena begitu pintunya tertutup, gudang ini langsung gelap.
"Tolong ... tolong ... tolong!" aku berteriak keras-keras, berusaha mencari pertolongan. Tapi hingga suaraku serak, tidak ada satu orang pun yang datang.
"Ayah, Ibu ... Bibi Desi!" aku nyaris kehilangan harapan. Saat hendak terduduk, tiba-tiba sesuatu menyenggol kakiku.
"Aaaaaaa, tikus!" karena takut, aku langsung berlari menjauh. Setelah merasa aman, barulah aku duduk di lantai, menangis sambil menahan sakit di kedua kaki.
"Ayah, Ibu. Mereka mengurung Anjani. Mereka tidak menyayangi Anjani. Jemput Anjani pulang Yah, Bu!"
"Ayah, katanya akan selalu menjaga Anjani. Saat Anjani butuh Ayah, akan selalu datang hanya dengan memanggil nama Ayah tiga kali. Tapi dari tadi Anjani sudah berteriak memanggil, Ayah tidak juga datang!
Ibu juga ... katanya sayang Anjani. Ibu bilang tidak akan pernah meninggalkan Anjani sendiri, tapi kini Anjani sendirian, Ibu tidak juga datang menjemput.
Tolong Anjani Yah, Bu!" Saking takutnya, aku terus bersuara memanggil Ayah dan Ibu.
"Anjani akan jadi anak baik. Anjani tidak akan banyak permintaan. Anjani hanya ingin bersama Ayah dan Ibu. Tolong jemput Anjani. Kangen Ayah, Ibu ... Rumah. Bibi Heni. Ibu guru Jingga, Dino, Felli!"
__ADS_1
Di sini, hanya bibi Desi yang sayang padaku. Selebihnya tidak. Bahkan kak Zein pun juga jahat. Ia mengatakan aku hanya anak buangan. Ayah dan ibu tidak akan menjemput.