
"Anjani, bangun sayang. Kita sudah sampai," terdengar sayup-sayup suara ibu membangunkanku sambil sesekali mengguncang lembut tubuhku.
"Eeeeehh," perlahan mataku terbuka, lalu tampak wajah ibu tersenyum padaku. "Ini dimana, Bu?" tanyaku, sambil melihat ke sekeliling, tetapi tempat ini terasa asing.
"Kita sudah sampai di Bandara Internasional Minangkabau, sayang,"
"Dimana itu, Bu?"
"Padang sayang, di kampung halaman Ibu."
Ibu mengajakku turun dari pesawat. Di dekat pintu keluar, pilot dan pramugari yang sedang bertugas mengucapkan selamat jalan sambil tersenyum pada kami.
Begitu keluar dari pesawat, aku langsung tertegun menatap bangunan bandara yang menyerupai rumah gadang, rumah tradisional khas Sumatera Barat. Aku tahu dari poster yang ada di dinding kelas.
"Bu, itu rumah gadang, kan?" kataku, sambil menunjuk bangunan tersebut.
"Kamu tahu, sayang?" tanya ibu.
"Iya, Anjani kan suka melihat gambar-gambar rumah adat dari suku-suku yang ada di Indonesia."
Aku dan ibu langsung keluar dari bandara karena tidak ada barang bagasi. Kami melanjutkan perjalanan naik taksi. Sebelum ke rumah kakek, ibu mengajakku ke Minang Plaza, kami membeli beberapa lembar pakaian ganti untukku dan ibu.
"Anjani silakan pilih pakaian yang disukai, nanti biar Ibu bayar." kata ibu.
Lima lembar pakaian berwarna merah muda dan putih ku pilih. Ibu menambahkan beberapa lembar lagi. Lalu membayarnya di kasir.
Lalu kamj makan siang di mall. Ibu mmemilihkan nasi ayam dan stik untukku, sedangkan ibu hanya makan salad dan kentang. Kemudian barulah melanjutkan kembali perjalanan ke rumah kakek.
"Bu, Kakek itu seperti apa, sih?" tanyaku lagi, untuk mengusir kebosanan selama di perjalanan.
"Wajah Kakek mirip dengan Ibu," jawab ibu, tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela taksi.
"Apa Kakek baik?"
Ibu tidak menjawab, hanya melihatku sekilas, lalu kembali menatap jendela.
Taksi berhenti tepat di depan sebuah rumah besar yang ukurannya tiga kali lipat lebih besar dari rumahku. Halaman rumahnya sangat tertata, ada kolam ikan dengan air mancur di tengahnya. Sementara di garasi tampak beberapa mobil mewah berjejer rapi.
"Ini rumah Kakek, Bu?" tanyaku lagi.
Ibu menganggukkan kepalanya. Lalu menarik napas sebentar. Kemudian mengajakku masuk. Di depan. Pintu rumah, ibu menekan bel. Tidak berapa lama keluar seorang perempuan paruh baya.
"Non Hania!" ucapnya. "Nona sudah pulang?"
__ADS_1
"Iya Bi. Papa ada?" tanya ibu.
"Tuan ada, Non. Ayo masuk, Bibi akan panggilkan Tuan. Beliau pasti senang melihat kedatangan Non!"
Perempuan paruh baya itu buru-buru masuk ke dalam rumah, sementara ibu memilih menunggu di depan.
Tidak berapa lama, ia kembali keluar bersama seorang lelaki yang sudah agak sepuh. Begitu mekuhatnya, ibu langsung berlari masuk, menyongsongnya.
"Papa!" panggil ibu. "Hania rindu Papa."
"Untuk apa kamu ke sini?" tanya lelaki yang ternyata adalah kakekku.
"Hania ingin tinggal bersama Papa. Hania menyesal sudah menentang Papa. Sekarang Hania sadar bahwa Hans bukanlah lelaki yang baik untuk Hania."
"Maksud kamu?"
"Pa, Hania akan berpisah dengan Hans sebab ia tidak benar-benar mencintai Hania."
"Kan sudah Papa katakan dari suku, tapi kamu tidak mendengar kata-kata Papa. Gara-garanya Mamamu harus pergi meninggalkan kita semua dengan kesedihan mendalam!"
"Pa, maafkan Hania."
"Kau benar-benar tidak akan menyesal?"
"Lalu anak itu siapa?"
"Itu Anjani Pa. Anaknya Hania,"
"Anaknya Hans juga, kan? Untuk apa kau membawanya ke sini?"
"Anjani anaknya Hania, Pa."
"Hania, kalau kamu benar-benar ingin kembali tinggal bersama Papa, kamu juga harus membuang semua hal yang berkaitan dengan laki-laki itu."
"Maksud Papa, apa?"
"Buang anak itu."
"Pa!"
"Papa tidak peduli, Hania. Papa tidak mau kedepannya ia akan menyusahkan kita. Kalau anak itu masih ada bersamamu, nanti laki-laki itu akan membali datang dengan alasan putrinya."
"Tapi Hania tidak bisa jauh dari Anjani!"
__ADS_1
"Kau kira Papa dan Mama bisa jauh dari putri kami satu-satunya? Tidak Hania. Tapi selama sembilan tahun kau menjauhi kami hanya gara-gara laki-laki itu!"
"Pa, maafkan Hania. Apapun akan Hania lakukan asal jangan meminta Hania untuk mengembalikan Anjani pada ayahnya. Hania tidak bisa, Pa!"
"Kalau begitu pergilah untuk selamanya. Papa sudah tidak ingin berurusan denganmu lagi."
"Pa, jangan usir Hania. Sekarang Hania tidak punya siapa-siapa lagi selain Papa dan Anjani."
"Tidak bisa Hania, kamu harus memilih. Papa atau anak itu!"
"Pa ...." ibu menangis, mencoba berlutut di hadapan kakek sambil memohon agar bisa menerimanya kembali. Tetapi kakek tidak peduli, ia malah mendorong keras ibu hingga terlempar dengan kepala membentur meja.
Di hadapanku, ibu terbaring tidak sadarkan diri dengan kepala berlumuran darah. Tetapi bukannya kasihan, kakek justru menatap dingin putrinya.
"Ibu!" aku memekik sambil menghampiri tubuh ibu. Sekuat tenaga kuguncang badan ibu agar kedua matanya terbuka, tetapi usahaku sia-sia, ibu masih juga tidak sadarkan diri.
"Opick!" kakek memanggil seseorang. "Bawa anak ini keluar dari rumahku sekarang juga!"
"Baik tuan!" lelaki bernama Opick itu segera menggendong tubuhku.
"Lepaskan ... lepaskan. Anjani mau sama Ibu!" pekikku.
Lelaki itu tidak peduli, ia terus berjalan menuju mobil, lalu memasukkanku ke kursi belakang. Kemudian mengendarai mobil menjauh dari rumah kakek.
"Kemana ini? Anjani mau sama Ibu. Jangan bawa Anjani pergi!" teriakku.
"Diam kamu anak kecil, atau aku habisi kamu!" kata lelaki itu.
Ancamannya berhasil membuatku diam. Sambil menangis aku terus memandang rumah kakek yang semakin lama menghilang dari pandanganku. Mau kemana mereka membawaku? Apakah mereka akan mengantarku pada ayah? Lalu bagaimana dengan ibu? Tadi kepala ibu berdarah. Ibu sampai pingsan. Apakah ibu akan baik-baik saja?
Tangisku makin deras. Entah mengapa aku menyesal pernah berdoa ingin punya kakek. Ternyata tidak semua kakek itu baik. Seperti kakekku yang berbeda dengan kakek Dino dan Felli.
Jalanan yang kulalui semakin jauh. Aku tidak mengenal daerah yang kami lalui. Hanya terasa udara semakin lama semakin dingin hingga netraku menangkap bayangan patung buah bengkoang, lalu aku tertidur karena lelah menangis.
***
Perlahan, kurasakan tubuhku di pindahkan. Saat membuka mata, kulihat lelaki suruhan kakek itu menurunkanku dari mobilnya. Ia meletakkan ku di atas tanah. Lalu buru-buru pergi.
"Paman, jangan pergi. Jangan tinggalkan Anjani!" kataku.
Aku semakin takut saat melihat ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa, selain pohon pinus di kiri dan kanan.
"Ini dimana? Ayah, ibu!" Panggilku.
__ADS_1
Udara yang cukup dingin membuatku agak menggigil. Lalu bersin-bersin. Tempat apa ini? Bagaimana caranya supaya aku bisa pulang? Tangisku kembali pecah. Aku takut berada di tempat asing seperti ini. Aku takut jauh dari ayah dan ibu. Kenapa kakek tega menbuangku? Apa salahku?