
"Anjani, jangan pernah pergi tanpa izin lagi ya." pinta bibi Desi, sambil memelukku. "Hari sudah mau gelap, ayo kita pulang."
"Tidak. Aku enggak mau pulang ke panti. Aku enggak mau diadopsi!" seruku.
"Kau ini kenapa sih Anjani. Apa kau tahu, hampir sebagian anak-anak sangat berharap bisa diadopsi. Tapi kenapa kau malah menolak? Diadopsi itu tidak buruk Anjani, kau akan punya keluarga baru. Ayah dan ibu yang akan menyayangimu." ungkap kak Zein.
"Aku tidak mau keluarga baru. Aku punya ayah dan ibu!" kataku.
"Tapi mereka sudah membuangmu," ucap kak Zein lagi.
"Tidak. Itu tidak benar. Bukan ayah atau ibu yang menbuangku, tapi paman-paman itu!" aku mengulang kembali kejadian yang sesungguhnya. Tapi bukannya menerima penjelasan ku, kak Zein tetap saja berpikir bahwa ayah dan ibu juga sama tidak sayang padaku.
"Harusnya kau bersyukur, Anjani. Dengan kabur seperti ini sama saja kau memancing kemarahan ibuku!" cetus kak Zein.
"Bukannya ibumu memang pemarah?" potong kak Philip.
"Aku tidak sedang bicara denganmu!" seru kak Zein.
"Ibu dan anak sama-sama tidak mau mendengarkan orang lain. Sukanya menyalahkan terus," celetuk kak Philip.
"Sudahlah. Ayo kita kembali sekarang supaya ibu tenang." usul kak Zein.
"Aku tidak mau pulang!" kataku.
"Anjani, jangan begitu," bujuk bibi Desi.
"Bibi, aku tidak mau diadopsi. Tolong aku bisa," pintaku pada bibi Desi.
"Percuma minta bantuan pada bibi Desi. Segala keputusan panti ada di tangan ibuku, Anjani. Kau harus menuruti demi kebaikanmu juga. Apa kau tahu, keuangan panti tidak sedang baik. Kalau kau bertahan di sana, bisa-bisa kau harus berhenti sekolah di tengah jalan. Untuk makan saja kita kekurangan, Anjani." kata kak Zein.
"Sombong sekali!" celetuk kak Philip.
"Kau jangan ikut campur Philip. Ini urusan orang-orang panti." dengan ketus kak Zein mencoba mematahkan kak Philip.
"Hei, kalau ini masalah orang panti berarti bukan urusanmu juga. Kau lupa ya Zein, bukan bagian dari panti asuhan itu. Kau hanya numpang di sana karena kebetulan ibumu adalah kepalanya." rupanya kak Philip bisa mematahkan kesombongan kak Zein.
"Terserah apa katamu. Tapi aku hanya ingin membantu ibuku dan ini semua demi kebaikan Anjani juga." ungkap kak Zein.
"Sudah ... sudah. Jangan berdebat lagi. Anjani, ayo kita pulang. Kau tenang saja, sepasang suami istri yang akan mengadopsi itu sudah pergi. Mereka tidak jadi mengambilmu, tapi diganti dengan Fiona." ungkap bibi Desi.
"Benarkah?" aku begitu senang dengan berita yang disampaikan oleh bibi Desi. Tetapi senyumku langsung menghilang saat mengingat bisa saja nanti ada orang tua yang ingin mengambilku. Ibu kepala pasti akan memberikanku dengan senang hati pada mereka.
__ADS_1
"Kau tenang saja. Bibi akan berada di barisan terdepan untuk mendukungmu." ungkap bibi Desi. "Bibi janji!"
Mendengar janji bibi Desi membuatku agak tenang. Kami berempat segera keluar dari hutan Pinus. Kalau masih tetap bertahan di sini sampai malam, bisa-bisa keluar binatang-binatang buas.
Kami berempat jalan beriringan menuju panti. Di depan panti, kak Philip pamit pulang. Sementara aku, bibi Desi dan kak Zein segera masuk ke dalam panti.
Di depan pintu masuk, ibu kepala sudah menanti dengan tatapan tajam. Terlihat betul bahwa ia tidak menyukaiku.
"Dari mana saja kau, Anjani?" tanya ibu kepala. "Entah apa dosa yang kulakukan sehingga punya anak asuh sebandelmu. Harusnya kau bersyukur ada yang mau mengambil sebagai anak, bukannya kabur.
Kau tahu, keluarga itu tadi adalah salah satu keluarga kaya raya di Padang. Mereka mengadopsi kamu karena ingin mengangkat derajatmu.
Tinggal dengan mereka maka kau bisa dapat kehidupan yang lebih baik. Pendidikan yang juga tinggi!" ungkap ibu kepala. "Lalu kenapa kau malah kabur?"
"Aku ingin pulang ke rumahku, ibu kepala." jawabku, sambil menundukkan kepala.
"Tapi ibumu sudah membuangmu, Anjani!"
"Bukan!"
"Kau ini, sudah jelas kenyataannya seperti itu malah terus saja berkilah. Kau mau dihukum lagi?"
"Ibu kepala, maafkan aku. Tapi Anjani belum mandi dan makan. Apa boleh mengizinkannya untuk membersihkan diri dulu agar pikirannya tenang?" bibi Desi Bicara dengan hati-hati.
***
Malam semakin larut, tapi kedua mataku belum juga bisa terpejam. Aku masih memikirkan kata-kata ibu kepala. Bagaimana jika ia memberikanku pada calon orang tua angkat lainnya? Aku tidak ingin ikut siapapun.
"Anjani, kau belum tidur?" tanya bibi Desi, yang sempat terlelap.
"Aku belum mengantuk bibi," jawabku.
"Kau kenapa, nak?"
"Bibi, bagaimana kalau nanti ada yang datang untuk mengambil lagi?"
"Nanti kita pikirkan Anjani. Sekarang ayo tidur dulu!" dalam hitungan detik, bibi Desi kembali terlelap.
***
"Anjani, kau berani sekali, ya!" tiba-tiba Diana sudah berada di sampingku.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyaku, dengan agak malas sebab biasanya jika Diana menyapa hanya untuk mengejek atau mencari masalah denganku.
"Kau sengaja menolak untuk diadopsi. Bahkan mau menolak permintaan ibu Ratih menjadi anaknya. Iya, kan?"
"Dari mana kau tahu?"
"Aku mendengarnya kemarin!"
"Dasar tukang nguping."
"Aku akan katakan pada ibu kepala tentang semuanya!"
"Sekarang malah jadi tukang ngadu!"
"Harusnya kau mau dibawa oleh mereka agar panti aman kembaki tanpamu!"
"Kalau kau merasa terganggu oleh kehadiranku, kenapa bukan kau saja yang pergi?"
"Aku tidak akan meninggalkan panti sampai kapanpun!"
"Kalau begitu aku juga tidak akan pergi sampai ayah dan ibuku menjemput!"
"Ya ampun Anjani, kenapa kau tidak sadar juga? Kau itu sudah dibuang. Sesuatu yang sudah dibuang tidak akan mungkin diambil kembali!"
"Itu mungkin kau, bukan aku!"
"Dasar keras kepala. Kau terlalu percaya diri, padahal benar yang aku dan kak Zein katakan bahwa orang tuamu tidak menginginkan kau ada di sisi mereka. Atau jangan-jangan kau anak yang tidak baik, ya? Apa kau lahir di luar nikah?"
"Tidak. Ayah dan ibuku melahirkan aku dengan penuh cinta!"
Lagi-lagi Diana memancing kemarahan ku. Ia berhasil membuatku menyerangnya. Saat untung Diana tertangkap aku langsung menyerangnya dengan gerakan yang tidak dapat ia baca sehingga beberapa kali ia mengaduk kesakitan.
"Awww ... sakit!" Diana menangis kesakitan sambil memegang rambutnya yang sempat kutarik karena gemas.
"Ada apa ini?" ibu kepala dan bibi Desi sudah ada di dekat kami.
"Anjani menarik rambutku, ia juga menyerang ku!" ungkap Diana
"Benar itu Anjani?" tanya ibu kepala
Aku tidak berani menjawab, lalu tiba-tiba ibu kepala menarik telingaku dengan keras hingga membuatku berteriak minta dilepaskan.
__ADS_1
"Sakit ibu kepala, sakit!" kataku.
"Ibu," bibi Desi berusaha menengahi. Sementara Diana tersenyum puas sambil sesekali merengek, pura-pura menahan luka.