Anjani Sayang

Anjani Sayang
Anjani Dan Tari Pasambahan


__ADS_3

Besok adalah hari kelulusan murid kelas enam SD. Berarti kelulusan kak Philip, kak Zein, Mega dan teman-temannya. Kak Philip akan melanjutkan di SMP yang berada persis di sebelah sekolah kami.


"Anjani, besok hari terakhirku memakai seragam merah putih. Kau tahu, aku juga jadi lulusan terbaik. Kau tidak ingin memberiku hadiah?" kata kak Philip saat kami berjalan pulang.


"Aku tidak punya apapun untuk diberikan," jawabku. Memang selama tinggal di panti, kehidupan yang kujalani sangat sederhana sekali. Pakaian dan perlengkapan sekolah seadanya, pemberian orang-orang. Setiap hari tidak pernah ada uang jajan. Kalau aku beruntung maka bibi Desi akan memberiku beberapa potong roti untuk bekal.


"Kau tidak harus memberiku hadiah mahal. Misalnya buatkan aku puisi, lagu atau harusnya kau ikut tampil di acara perpisahan besok."


"Memang kak Philip ingin melihatku tampil?"


"Tentu saja. Kamu tampil saja sudah jadi hadiah spesial untukku."


"Kalau begitu besok lihat saja."


"Memang kau akan tampil?"


"Entah," kami berdua tertawa bersamaan.


"Anjani, kau harus janji padaku, harus tetap bahagia." kata kak Philip sambil menatapku.


"Kenapa?"


"Karena aku suka melihatmu tersenyum, apalagi tertawa lepas seperti tadi."


"Apa aku cantik bila begitu?"


"Tidak!"


"Kalau begitu aku akan cemberut." aku mulai mengolok kak Philip hingga tawa kamu kembali pecah.


"Anjani. Kenapa berhenti?" tanya kak Philip, saat ia menyadari aku tidak ikut melangkah.


Di depan gang menuju panti, kak Zein diam sambil melihat kami yang tadi jalan bersisian. Ada apa dengannya. Kenapa ia selalu muncul tiba-tiba seperti itu. Membuat orang lain kaget saja. Lagipula kenapa dia harus melihatku seperti itu?


"Hei Zein!" sapa kak Philip.


Bukannya menjawab, kak Zein malah berlalu begitu saja dengan raut wajah yang aneh. Sejak kejadian ia terluka karena tidak sengaja terdorong olehku, kami memang tidak pernah lagi berbicara. Beberapa kali aku melihatnya memperhatikanku. Tapi setelah tertangkap olehku, ia membuang muka seperti saat ini.


"Kau belum berteman dengannya?" tanya kak Philip.


"Tidak. Dia belum minta maaf." Aku memang masih kesal karena ia menyebutku anak yang dibuang.

__ADS_1


"Dia tidak akan pernah mau minta maaf,"


"Kalau begitu aku tidak harus berteman dengannya!"


Sampai di depan panti asuhan, aku dan kak Philip berpisah. Ia terus berjalan menuju rumahnya yang berada persis di sebelah panti.


Seperti yang dikatakan oleh Mega, rumah kak Philip sangat besar sekali. Padahal ia hanya tinggal berdua dengan ibunya. Rumah itu selalu tampak sepi, ibu kak Philip juga jarang keluar rumah. Bahkan untuk berbelanja pun ia selalu menyuruh orang lain.


Selama tinggal di panti, aku hanya melihatnya sekali. Perempuan yang sangat cantik. Wajahnya meskipun sedikit dingin, tapi terlihat ayu dengan kulit berwarna putih.


Kak Philip tidak mirip sedikitpun dengan ibunya. Baik secara fisik, apalagi sifatnya. Kak Philip punya mata berwarna biru. Rambutnya agak pirang, sementara ibunya berambut hitam lebat. Secara sifat, kak Philip sangat ramah, sedang ibunya dingin.


***


Pukul enam pagi, aku sudah berada di sekolah bersama beberapa orang anak-anak yang tergabung dalam kelas tari. Guru kesenian dibantu wali kelas tiga dan empat sedang menghias.


"Anjani, ayo kemari!" panggil Bu Ratih, guru kesenianku. "Aku akan menghiasmu, jadi kau harus tenang ya." pintanya.


Kurang lebih lima belas menit, aku telah siap dengan pakaian khas Sumatera Barat, lengkap dengan suntiang seberat sepuluh kilogram.


"Kamu cantik sekali, nak. Baru kali ini ibu melihat anggota tim tari secantikmu." Bu Ratih menyolek gemas pipiku. "Tampillah dengan baik. Oke!"


"Oke Bu," aku mengacungkan jempol.


Tidak lama, musik pun berbunyi. Teman-teman tari Pasambahan mulai menari. Setelah selesai, salah seorang kakak kelas empat membaca pantun untuk mengiringiku masuk ke dalam. Begitu jalan dibuka, kak Philip langsung tersenyum melihat ke arahku.


Perlahan aku melangkah maju, membawa carano berisi sirih yang akan diberikan pada kak Philip.


Ia memang tidak tahu bahwa akulah yang jadi pembawa carano sebab tidak pernah memberi tahu sebelumnya.


Sebenarnya aku sudah memikirkan hadiah yang tepat untuk kak Philip, tetapi tidak ada yang bisa kuberikan. Akhirnya aku menemui ibu Ratih, meminta kesempatan agar diizinkan menjadi pembawa carano. Setidaknya dengan begitu aku akan punya kesempatan berfoto bersama kak Philip.


"Anjani, apakah itu kamu?" kak Philip berbisik.


"Hmm, ayo cepat ambil sirihnya!" aku balas berbisik.


"Kau cantik sekali."


"Apa?"


Pantun telah usah diucapkan. Sirihpun sudah diambil. Kini aku harus segera turun dari panggung bersama tim tari pasambahan yang lainnya.

__ADS_1


Di belakang panggung, Bu Ratih sudah menunggu. Ia tampak puas dengan penampilanku barusan. Meskipun tidak ada latihan, tapi berhasil secara sempurna.


"Anjani, kamu luar biasa sekali, nak." lagi-lagi ibu Ratih menjawil lembut pipiku.


"Terimakasih ya Bu, sudah memberikan kesempatan."


"Anjani, boleh ibu bertanya sesuatu?"


"Apa Bu?"


"Kalau ibu jadi ibumu, apakah kamu mau?"


"Maksud ibu?"


"Anjani, apa kamu mau jadi anak ibu? Ibu janji Anjani, akan jadi orang tua yang baik untukmu. Kami akan sangat senang jika kamu bersedia. Ibu tidak tega melihatnya tinggal di panti. Semua orang tahu, kondisi panti serba kekurangan, karena itu jadilah anak ibu, ya?"


Apa yang diucapkan ibu Ratih membuatku mundur beberapa langkah. Aku yang semula senang berubah ketakutan. Lalu buru-buru lari meninggalkan ibu Ratih.


Sudah payah aku berlari dengan pakaian adat, ditambah sunting yang cukup berat.


Aku tidak ingin jadi anak bu Ratih. Ia memang sangat baik, tapi aku masih ingin bertemu dengan ayah dan ibu. Aku hanya ingin jadi anak orang tuaku untuk selamanya.


Bulir bening itu perlahan mulai jatuh, bertepatan dengan seseorang yang kita tak hingga aku sendiri terjatuh.


"Kak Zein!" kataku.


"Kau ceroboh sekali. Lari-larian di tempat sempit. Lihat, gara-gara kau tabrak, kueku jadi jatuh!" kak Zein mengomel.


"Maaf ...."


"Anjani, kau menangis?"


Aku tidak menghiraukan kak Zein, segera berlalu menuju belakang sekolah. Aku benar-benar takut. Bagaimana kalau ibu guru Ratih datang ke panti untuk mengadopsi aku. Ibu kepala pasti langsung setuju sebab ia memang tidak pernah menyukaiku.


"Apa yang harus kulakukan?" aku berjalan mondar-mandir.


"Anjani!" kak Philip muncul di saat yang tepat.


"Kak, tolong aku. Bu Ratih ingin mengambilku!"


"Tenang dulu Anjani, baru ceritakan. Ada apa?"

__ADS_1


"Bu Ratih ingin menjadikanku anaknya." ku ceritakan kembali apa yang terjadi tadi. Kak Philip menganggukkan kepalanya.


"Aku tahu bu Ratih sangat baik. Tetapi aku juga ingin pulang!"


__ADS_2