Anjani Sayang

Anjani Sayang
Bibi Desi Menyemangati


__ADS_3

Apa yang bisa kamu lakukan saat orang-orang di sekelilingmu berusaha mengadili dengan caranya sendiri tanpa pernah memberiku kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Atau lebih jelasnya, memang sengaja memvonis hukuman. Yang ada di kepala mereka bahwa engkau bersalah, harus dihukum, tidak layak membela diri. Jadi, bukankah percuma saja rasanya untuk bicara?


"Ingat ibu kepala, saya akan berhenti memberikan bantuan untuk panti ini jika anda tidak memberikan hukuman yang tegas untuk anak ini. Ia masih SMP tapi sudah jago membully yang lebih besar darinya. Apa anda tidak takut bahwa kelak ia akan tumbuh menjadi orang-orang dengan jiwa kriminal?


Saya paham bahwa ia anak yang tidak punya ayah dan ibu. Pasti kurang sentuhan kasih sayang. Tapi itu semua tidak bisa membenarkan semua perbuatannya. Ia sudah mengambil barang milik putri saya, lalu memukulnya. Untung saja teman-teman putri saya melapor sebab putri saya begitu ketakutan. Mungkin ia trauma pada gadis kecil ini. Tapi bisa saja ia sudah pernah melakukan atau akan melakukan kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya." kata ibunya Mega panjang lebar untuk menjelaskan betapa tidak berdayanya putrinya menghadapi aku.


"Baiklah ibu, saya akan memberikan Anjani hukuman yang membuatnya menyesal. Kejadian ini tidak akan terulang untuk kedua kalinya. Saya janji itu." ucap ibu kepala.


Ibu kepala mengantarkan ibunya Mega, Mega berserta dua temannya keluar. Sementara Diana menyelinap ke belakang setekah puas menjadi kompor. Habislah aku di sini.


Jantungku berdebar kencang saat ibu kepala menghampiriku. Di luar dugaan, ia bicara pekan, memintaku mengambil seragam dan tas sekolah. Aku tidak mau ada masalah lagu, makanya kuturuti keinginan ibu kepala, berlalu menuju kamar, lalu kembali membawa apa yang diminta ibu kepala.


Barang-barang itu kini berada di tangan ibu kepala. Lalu ia meletakkannya di dalam kotak. Kemudian berjalan ke mejanya, mengambil sebuah benda yang setelah dekat baru aku sadar kalau itu adalah mancis.


Ciss. Api langsung hidup saat ibu kepala menekan tombolnya, lalu ia menyulut sebuah kertas yang di ambil dari atas meja.


"Oh tidak. Jangan ibu kepala!" pintaku, saat ibu kepala bersiap melempar kertas yang sudah terbakar itu ke kotak yang berisi tas dan seragamku. "Jangan Bu, saya mohon." pintaku, sambil berlutut di hadapannya.


"Jangan? Ini!" tiba-tiba kertas itu dilemparkan hingga api besar berkobar. Aku langsung menjerit, berusaha menggapai perlengkapan sekolah yang kudapatkan dengan susah payah tapi kini dibakar tanpa mendengar penjelasanku. Jahat.

__ADS_1


"Ibu, jangan!" aku berusaha memukul-mukul api dengan kedua tangan, tidak peduli seberapa panasnya api tersebut ikut membakar tanganku, yang terpenting buku dan seragamku selamat.


Melihat apa yang kulakukan, ibu kepala menepis tubuhku hingga terjatuh ke lantai, lalu ia melemparkan tumpukan kertas ke dalam kotak tadi hingga apinya menyala makin besar.


Ya Tuhan, jangan! Aku menangis sejadi-jadinya, berusaha mengambil barang-barangku, namun semuanya sudah menjadi abu. Aku terlambat.


"Anjani!" bibi Desi dan kak Zein masuk ke ruangan ibu kepala sebab mendengar tangisku yang cukup kuat. "Apa yang terjadi Anjani?" tanya bibi Desi. "Ya ampun tanganmu, nak." bibi Desi meniup tangan yang agak melepuh. Sakit rasanya, tapi lebih sakit saat ibu kepala membakar tas dan seragamku. Itu satu-satunya yang aku miliki untuk sekolah.


"Ia membakar tas dan seragamku!" kataku, sambil menunjuk ibu kepala.


"Ya Allah ... kenapa ibu melakukannya?" tanya bibi Desi.


"Tapi kenapa ibu kepala?" tanya bibi Desi, sambil memelukku yang masih histeris.


"Anak ini sudah mengambil Hp milik anak ibu Elsa, ia juga menamparnya. Sikapnya ini seperti preman saja. Kau lihat kan Desi, ibu gara-gara kau terlalu banyak membelanya. Akhirnya ia jadi kasar seperti itu." tuduh ibu kepala.


"Ibu kepala, anda benar-benar jahat!" seruku. "Apa yang dituduhkan oleh Mega dan teman-temannya itu tidak benar. Bukan aku yang mulai duluan, tapi Mega yang jahat padaku. Ia menghancurkan Hp pemberian kak Philip, juga membuang kerudungku ke selokan. Aku menamparnya agar ia sadar, ia sudah jahat padaku."


"Kau masih berani membela diri!" kata ibu kepala.

__ADS_1


"Tapi begitulah yang sebenarnya terjadi!" kataku. Entah darimana keberanian itu muncul. Mungkin aku sudah teramat lelah terus menerus ditindas.


"Aku tidak percaya padamu! Mari kita dengar saja Diana!" ibu kepala memanggil Diana, orang yang aku tidak yakin akan mau memberikan kesaksian yang sebenarnya.


Persis seperti dugaaanku, saat Diana masuk, ia menyalahkanku. Diana membela Mega mati-matian. Ia mengarang cerita sepuasnya


"Baiklah, tidak mengapa jika kau tidak mau mengatakan yang sebenarnya Diana. Tapi kau harus ingat satu hal bahwa karma itu berlaku. Kelak kau sendiri yang akan menangis padaku. Sekarang kalian boleh menghukumku sekeras yang kalian mau. Menuduhku melakukan hal yang tidak aku lakukan, tapi nanti akan aku adukan kalian semua pada Tuhan!" kataku, sambil berurai air mata. "Kalian akan menyesal!" aku menyeka sisa air mata. Lalu berlalu menuju luar.


Langkahku semakin cepat, lalu mulai berlari menuju hutan Pinus. Tempat pertama kali aku dibuang oleh orang-orang suruhan kakek.


"Ayah ... ibu. Lihatlah apa yang mereka lakukan padaku. Mereka menuduh aku melakukan perundungan. Hal yang sangat lucu sekali. Bagaimana anak SMP seperti aku bisa membully empat orang anak SMA? Aku kan bukan manusia super.


Ayah ... Ibu. Mereka juga menuduhku mencuri Hp milik Mega. Padahal gadis itu yang merusak Hp milikku. Ia juga yang menghancurkan bungaku. Juga membuang kerudungku ke selokan. Lalu kenapa aku yang jadi tertuduh?


Ini bukan pertama kali mereka melakukannya. Tapi sudah sering. Bahkan sejak aku masih sekolah dasar. Mereka yang selalu menjahili aku. Tetapi aku tidak membalas. Kemarin aku membalas sebab sudah terlalu kesal pada mereka.


Ayah ... Ibu. Orang-orang di sini tidak ada yang menyayangiku. Tolong jemput aku sekarang. Aku tidak ingin di sini lagi. Ibu kepala sangat jahat sekali. Ia terus memberikan hukuman yang keras padaku. Ia tidak pernah adil. Selalu saja menyalahkanku.


Apakah aku harus diam saja? Aku lelah. Aku ingin pulang. Aku ingin berada di tengah-tengah orang-orang yang menyayangiku. Tolong jemput aku ayah, ibu!" kataku, dengan suara yang sudah serak sebab lelah berteriak-teriak.

__ADS_1


__ADS_2