
Air mata terus saja turun. Aku sudah tidak lagi peduli dengan apapun. Hatiku benar-benar terluka dengan apa yang mereka lakukan padaku. Mega dengan seenak hatinya mengarang cerita buruk tentangku. Lalu hukuman dari ibu kepala yang begitu keras untukku.
Saat ini aku baru kelas satu, akan naik ke kelas dua. Tapi mereka sudah memberhentikan dari sekolah. Lalu bagaimana nasib pendidikanku? Masa depanku kini tampak buram.
Mungkinkah apa yang dikatakan Diana, kan Zein dan anak-anak lainnya itu benar kalau ayah dan ibu memang tidak lagi menyayangiku? Buktinya mereka tidak pernah datang. Sudah tujuh tahun lebih berlalu begitu saja? Apakah rindu itu hanya milikku? Apakah mereka benar-benar tidak merindukan aku?
Kalau mereka sayang pasti sudah mencariku. Mustahil sekali rasanya mereka tidak bisa melacak keberadaanku.
"Kalau kalian tidak menyayangiku, kenapa harus menghadirkan aku dalam hidup kalian? Kenapa tidak membiarkan aku tiada saja saat kecil?"
Tubuhku benar-benar sudah lemas karena berteriak-teriak sambil menangis. Bahkan suara menggaung terdengar cukup jelas sebab aku bicara sambil teriak-teriak.
"Anjani." panggil seseorang padaku. Kak Zein, ia berdiri hanya berjarak dua meter dariku.
"Pergilah. Jangan menggangguku. Aku tidak ingin bertengkar lagi. Aku hanya ingin menunggu ayah dan ibu di sini. Aku sudah teramat lelah." kataku.
"Bagaimana kalau mereka tidak datang?"
"Aku akan tetap menunggu."
"Pulanglah Anjani."
"Tidak, aku tidak mau." air mata yang tadinya sudah kering kembali luruh satu-persatu.
"Anjani!"
"Pergilah ... pergi ... pergi! Apa kalian tidak tahu bagaimana bahagianya aku mendapatkan seragam dan tas baru? Aku menunggunya selama enam tahun. Tapi kalian membakarnya begitu saja.
Bukan aku yang salah. Aku tidak mencuri Hp Mega. Aku sengaja menyita sebab ia menghancurkan Hp pemberian kak Philip. Ia juga tidak keberatan jika aku membawanya. Buktinya ia tidak meminta teman-temannya untuk merebut dariku seperti yang biasa dilakukannya." kataku. "Tapi ternyata itu semua jebakan. Ia sangat jahat!"
__ADS_1
"Aku tahu Anjani. Aku yakin kau tidak akan melakukan semua itu sebab kau anak yang baik."
"Lalu kenapa kakak diam saja? Kenapa tidak bicara pada ibu kepala? Bukankah ia ibumu, harusnya ia mendengarkan apa yang kau katakan.".
"Tidak semudah itu Anjani. Kau tahu ibuku, kan?"
"Kalau begitu aku tidak akan kembali ke sana. Anaknya saja tidak didengar, apalagi aku yang amat dibencinya."
"Anjani."
"Sudahkah, pergi!"
"Anjani. Maafkan aku. Sejak awal sudah membuatmu berada di posisi seperti ini. Harusnya saat itu aku tidak menangis atau mengadu pada ibu sehingga ia membencimu. Maafkan aku Anjani."
"Aku tidak ingin memaafkan siapapun!"
"Anjani!" bibi Desi datang menghampiri kami, tampak ekspresi kecewa di wajahnya. "Anjani, kau tidak apa-apa, kan nak?"
Ahhhh, andai bukan bibi Desi yang datang dan memohon agar aku mau kembali, aku tidak ingin lagi menginjakkan kaki di panti itu. Rasanya di sana bukan tempat yang cocok untukku sebab hampir semuanya membenciku. Mereka tidak menginginkan keberadaanku. Tetapi sepasang mata bibi Desi serta ia yang terus saja membujuk agar aku mau ikut pulang dengan ya ke panti membuatku tidak bisa menolak.
Bibi Desi sudah sangat baik padaku. Hampir tujuh tahun ini ialah yang sudah merawatku dengan penuh kasih sayang. Saat aku sakit, Bibi Desi selalu ada di sampingku. Ia tidak pernah beranjak dari sisiku, merawatku dengan penuh kasih sayang.
Begitu juga saat aku dimarahi ibu kepala. Ia akan berusaha memasang badan untuk menolongku. Hanya saja kondisinya yang hanya seorang abdi di panti membuat bibi Desi tidak bisa secara penuh melindungi aku dari hukuman-hukuman ibu kepala yang cukup keras.
Lalu bagaimana mungkin aku akan membuat luka di hati bibi Desi. Ia bahkan terus menggenggam erat tanganku sambil sesekali membujuk agar aku mau ikut. Kasih sayangnya sungguh membuatku tak mampu menolaknya. Ia begitu tulus menyayangi aku.
Langit sudah berwarna kemerahan, sementara udara semakin dingin, membuatku pada akhirnya bersedia ikut pulang.
Tepat di pintu masuk panti, ibu kepala menanti, ia menatapku dengan angkuh. Dalam benakku ia pasti merasa sudah menang sebab pada akhirnya aku pulang juga setelah ketidak adilan yang ia berikan.
__ADS_1
Tenang saja ibu kepala, saat aku besar nanti, aku akan pergi dari panti ini dan tak akan pernah menginjakkan kembali kakiku di sini!
"Anjani, apa kau membenci ibu kepala?" pertanyaan pertama yang diajukan bibi Desi saat kami sudah sampai di dalam kamar.
"Iya." aku menjawab jujur.
"Anjani, bibi mohon, jangan tumbuh dengan rasa benci di hatimu. Bibi tahu kau begitu sakit oleh ulah mereka, tapi cobalah untuk memaafkan agar hatimu tenang. Kalau kau terus membencinya, kau sendiri yang akan hancur."
"Tapi mereka jahat padaku!" aku bicara dengan tangis yang kembali pecah.
Bagaimana caranya tidak membenci orang yang sudah menghancurkan masa depanku. Apa jadinya nanti jika aku tidak sekolah?
"Kau tahu Anjani, kadang banyak juga orang-orang yang berhasil tapi ia tidak mengenyam bangku sekolah." kata bibi Desi lagi.
"Tapi mereka punya kesempatan lain. Mereka bisa belajar dari luar atau punya fasilitas untuk mencapai tangga sukses itu. Sementara aku? Aku di sini, terkurung. bibi tak lupa kan atas apa yang diucapkan ibu kepala bahwa aku hal boleh kemana-mana."
"Bibi tau Anjani. Tapi bibi juga yakin kau bisa meraih mimpimu. Bahkan kau bisa lebih dari anak-anak yang belajar di bangku sekolah asal kau terus belajar. Cari kesempatan itu Anjani. Jangan hanya terima nasib saja. Kau pun harus tetap maju!"
Apakah aku bisa? Sementara aku dalam keterbatasan.. setelah berhenti sekolah, aku tidak akan bisa lagi membaca buku di perpustakaan sekolah. Tidak bisa lagi mendengarkan saat guru menerangkan.
Hari-hariku akan habis di panti asuhan. Bekerja kasar seperti bibi Desi. Lalu apakah anak dengan nasib sepertiku masih bisa sukses? Aku juga ingin jadi dosen seperti ibu. Aku ingin punya titel yang tinggi. Tidak hanya di rumah saja. Apakah itu bisa.
"InsyaAllah bisa Anjani. Asal kau terus berusaha dan jangan membenci siapapun. Orang yang hatinya bersih maka bantuan Allah akan selalu datang padanya."
"Benarkah?"
"Ya, aku tidak akan berbohong padamu Anjani!"
Seberkas cahaya kini terasa menerangibgukita di hidupku. Aku akan menjadi seperti yang bibi Desi katakan. Terus belajar hingga pada akhirnya aku bisa mendapatkan apa yang aku cita-citakan.
__ADS_1