
Salah satu hal yang paling aku hindari selama berada di panti ini adalah bertatapan dengan ibu kepala. Itulah yang membuatku sulit tidur saat ini meski malam sudah semakin larut. Aku masih membayangkan tentang pertemuan besok, dimana aku harus meminta izin ibu kepala agar boleh bekerja di kebun bunga. Tentu saja tujuanku agar bisa ikut festival di Jakarta dan bisa bertemu ayah dan ibu.
"Anjani, kau belum tidur?" bibi Desi yang terbangun dari tidurnya menatapku yang masih membuka mata. "Kau sedang memikirkan apa?"
"Eh itu ... tidak apa-apa, bi." aku berusaha bersikap biasa. Tentang rencana ku itu memang belum kuceritakan pada bibi Desi, sebab sejak tadi ia sibuk dengan urusan dapur, begitu kembali ke kamar langsung tertidur.
"Apa kau masih kesal karena tadi dihukum oleh Diana?"
"Tidak, bi. Aku sudah terbiasa dengan hukuman-hukuman yang mereka berikan. Toh sejak awal memang sudah kenyang dengan semua itu."
"Anjani, maafkan bibi sebab tidak bisa menjagamu dengan baik. Padahal aku sudah mengadopsimu, tetapi tidak bisa jadi penghalang mereka menjahatimu. Aku benar-benar menyesal Anjani."
"Bibi sudah menjagaku dengan sangat baik. Aku justru sangat berterima kasih pada bibi sebab bibi yang membuatku bisa bertahan di sini. Andai tidak ada bibi, aku tak akan mau lagi di sini."
Sebuah pelukan ku hadiahkan pada bibi Desi. Perempuan yang sudah sabar menjagaku sejak pertama menginjakkan kaki di panti ini. Bibi Desi sudah seperti seorang ibu untukku. Ia selalu berusaha memberikan yang terbaik meski aku menyadari kekurangan yang dimilikinya.
"Sebenarnya aku ingin bekerja, bi." kataku.
"Bekerja? Kau mau bekerja dimana Anjani?" bibi Desi mengungkap kekhawatiran yang ia rasakan sebab aku hanya punya ijazah SD. Mencari pekerjaan dengan hanya bermodal itu saja bisa dipastikan pekerjaan yang kudapatkan hanyalah sebagai buruh kasar atau pembantu rumah tangga. "Sebenarnya aku juga sedih memikirkan masa depanmu Anjani. Tetapi aku belum cara agar kau bisa punya ijazah yang lebih tinggi lagi. Andai aku punya uang banyak, kau pasti akan ku sekolahkan hingga bangku kuliah. Aku tahu kau begitu cerdas Anjani. Tapi sayang, kita tidak punya banyak uang. Bahkan untuk menyewa sebuah kamar kecil pun tidak bisa."
"Bibi bicara apa? Aku tidak lagi menyesali semua itu. Kan bibi sendiri yang mengatakan padaku bahwa keberhasilan juga bisa diraih meskipun aku tidak punya ijazah seperti yang lainnya. Asalkan aku terus berusaha. Nah inilah salah satu usahaku, bi."
"Memang kau mau bekerja dimana?"
"Kebun bunga."
"Kebun bunga?" bibi Desi menatap bingung.
"Iya Bi. Kebun bunga yang berada di dekat danau."
"Kebun yang ada villa besarnya itu?"
__ADS_1
"Iya Bi. Aku ingin bekerja di sana."
"Kerja di kebun berarti kerja fisik? Anjani, badanmu sangatlah kurus, kau tak akan sanggup bekerja di sana."
"Siapa bilang? Bibi lupa ya, aku ini Anjani, meski badannya kecil tapi tenaganya tiga kali lipat!" aku menunjukkan ototku yang lebih banyak kelihatan tulangnya pada bibi Desi.
"Tidak tidak. Kamu itu terlalu kurus, nak!"
"Tapi bibi lihat sendiri kan bagaimana aku bekerja keras selama ini? Bahkan Diana yang gendut saja kalau tenaganya dariku."
"Kau yakin bisa kerja di sana Anjani?"
"Harus bisa bi. Sebenarnya aku punya rencana lain."
"Rencana apa Anjani?"
"Bi, kak Philip memberitahu informasi tentang ayah dan ibuku."
"Ayah dan ibu akan hadir bersamaan di festival bunga mawar kira-kira tiga bulan lagi. Jika aku ingin bertemu dengan mereka, aku harus hadir di Jakarta dalam acara tersebut, dan satu-satunya cara adalah dengan menjadi peserta festival.
Untuk menjadi peserta, aku harus punya kebun bunga. Makanya aku ingin bekerja di kebun bunga yang ada di dekat danau. Harapanku, lewat sanalah jadi jalanku ke Jakarta." kataku, menjelaskan kembali apa yang tadi sudah kubahas bersama kak Philip.
"Syukurlah, akhirnya kau bisa bertemu dengan ayah dan ibumu. Aku benar-benar bahagia mendengarnya Anjani. Tapi ...."
"Tapi apa, bi?"
"Anjani, bagaimana caranya agar ibu kepala mengizinkan kau bisa kerja di sana?"
"Entahlah bi. Aku sedang memikirkannya sejak tadi makanya tidak bisa tidur. Aku sangat takut sekali jika ibu kepala menolak permintaanku."
"Kau tidak boleh memberitahu bahwa kau akan bertemu dengan kedua orang tuamu, Anjani."
__ADS_1
"Iya bi."
Kami berdua sama-sama berpikir bagaimana cara memperoleh izin tersebut mengingat ibu kepala begitu membatasi pergerakan ku. Ia hanya mengizinkan aku keluar untuk urusan belanja atau urusan panti lainnya. Selebihnya, aku hanya diizinkan di panti saja.
Alasan pelarangan tersebut masih sama seperti saat mereka memberhentikan aku sekolah. Ibu kepala menyebutku sebagai pembuat masalah yang ditakuti oleh Mega. Ia tidak mau aku mencari gara-gara lagi yang ujungnya akan menbuat namanya dan nama panti malu.
Awalnya aku sempat berontak, tidak terima diperlakukan layaknya tahanan. Tetapi lama-kelamaan aku merasa lelah sehingga menerima semua keputusan ibu kepala meski dengan keterpaksaan.
***
Fiuff. Berulang kali aku menarik nafas dalam-dalam agar tidak cemas, tapi tetap saja jantungku berdebar kencang saat berada di depan pintu ruang ibu kepala. Rasanya masih takut untuk sekedar mengetuknya.
"Anjani." panggil seseorang.
Hampir saja aku meloncat karena kaget. Tapi langsung hilang saat melihat siapa yang memanggilku tadi. Rupanya kak Zein.
Aku tidak tahu kapan kak Zein pulang. Ia memang tidak lagi tinggal di panti sejak melanjutkan kuliah, hingga lulus dan bekerja di Padang. Kalau aku tidak salah ia bekerja di salah satu perusahaan BUMN.
Kak Zein biasanya pulang tiap akhir bulan. Itupun hanya menginap paling lama satu malam. Setelah itu ia kembali ke Padang. Biasanya ibu kepala yang mengunjungi kak Zein untuk melepas rindu.
Sejak pertemuan kami waktu itu di hutan Pinus, aku tidak pernah lagi berbincang dengannya. Bahkan ketika kami berpapasan. Aku masih kesal padanya, sebab ialah penyebab utama ibu kepala membenciku. Makanya hingga kini ia kuhindari.
"Kau sedang apa?" tanya kak Zein. "Mau ketemu ibu?"
"Tidak jadi." saat aku hendak berlalu, kak Zein menahan langkahku.
"Anjani, bisa kita bicara sebentar?"
"Bicara apa?"
"Aku menunggumu di belakang panti." kak Zein berjalan duluan, sementara itu aku masih berdiri di tempat semula. Entah mengapa rasanya tidak ingin menemui apalagi bicara dengan kak Zein. Ia yang membuat hidupku jadi sulit seperti ini. Lagipula bicara dengannya hanya membuatku kesal sebab kak Zein tidak pernah mau mengakui tentang sisi negatif ibunya. Baginya, ibu kepala adalah seseorang yang baik. Hukuman-hukuman yang diberikan padaku hanyalah konsekuensi dari apa yang sudah aku lakukan.
__ADS_1