
"Anjani, ini untukmu." kata kak Laras.
"Wow, apa ini kak?" tanyaku, agak sedikit kaget mendapati sebuket mawar merah dari kak Laras. Yang membuatku kaget lagi adalah ketika kak Laras menyatakan bahwa ini adalah pemberian dari kak Philip. Ia sengaja memesannya dari toko Flores yang ada di Padang, makanya baru sampai sehari setelah keberangkatannya. Kak Philip benar-benar membuatku bahagia dengan kejutan-kejutan yang ia berikan.
"Sebenarnya Philip begitu deg-degan saat tahu bunga mawar yang ia pesan tidak bisa sampai di hari yang sama, padahal ia harus berangkat hari itu juga. Tapi ia lebih deg-degan lagi ketika ternyata kau tidak datang ke hutan Pinus. Ia benar-benar ketakutan." tawa kak Laras pecah menceritakan bagaimana takutnya kak Philip kalau aku benar-benar marah dan ia pergi dalam keadaan tidak mengucapkan salam perpisahan padaku.
"Aku memang kesal padanya!" kataku.
"Ya aku mengerti kenapa kau begitu. Siapa juga yang tidak kesal dapat kabar akan pergi jauh, tapi baru ngabarin hari itu juga.
Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan Philip. Kau tahu, ia sampai sakit perut merangkai kata untuk menyatakan bahwa ia harus pergi." ungkap kak Laras.
"Oh ya?"
"Iya. Dia sampai minta kuajari. Tapi tetap saja ia payah!"
"Aneh sekali."
"Mungkin karena ia terlalu menyayangimu Anjani."
"Hm,"
"Kau sendiri bagaimana?"
"Sama. Aku juga sayang kak Philip. Ia adalah malaikat Pelindung ku."
"Malaikat pelindung? Zaman sekarang kau masih mempercayai itu?"
"Ya. Ceritanya panjang, tapi ia selalu ada saat aku membutuhkan. Sekarang saat ia pergi aku begitu takut."
"Takut kenapa?"
"Takut tidak ada lagi teman yang akan menyemangati saat aku kembali dihukum ibu kepala atau diganggu oleh Diana."
"Apa hidupmu seberat itu, Anjani?"
"Sebenarnya tidak kak. Itu hanya caraku untuk menarik perhatian kak Philip." tawa kami berdua lepas.
__ADS_1
"Kalau begitu aku pergi dulu ya. Kau tahu kan, aku harus bekerja paruh waktu. Selepas SMA aku jadi dibebani banyak tanggung jawab oleh keluargaku. Karena itu, nikmatilah hari-harimu Anjani sebagai seorang murid!" kak Laras melambaikan tangannya hingga ia hilang dari pandanganku.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba ada yang memanggil namaku. Ada Diana serta tiga orang lainnya. Salah satunya adalah kak Mega, ia teman sekelas kak Philip, orang yang sangat membenciku, entah apa alasannya.
"Wow, kau dapat bunga dari mana?" tanya Mega. Ia berusaha merebut bungaku, tapi aku mengelak. "Sini, aku mau lihat!" katanya.
"Aku tidak mau." jawabku. Sambil mengelak.
"Kau pelit sekali Anjani." katanya.
"Ini bukan punyamu." aku terus mengelak hingga akhirnya Mega menyuruh dua temannya yaitu Sisi dan Vina untuk merebut bunga itu dariku.
Tidak hanya dua orang teman Mega, tapi Diana pun ikut maju hingga aku kalah sebab satu lawan tiga. Hanya sekali rampas, bunga itu sudah berpindah tangan pada Mega.
"Apa ini pemberian Philip?" tanya Mega.
"Bukan Urusanmu. Kembalikan bungaku!" kataku.
"Oh ini dari Philip. Berarti ini bukan milikmu. Tapi milikku!" ungkap Mega.
"Sebenarnya aku sudah lama ingin melakukan ini padamu Anjani. Aku benar-benar kesal karena kau terus saja menempel seperti parasit pada Philip, padahal kau masih anak kecil." satu-persatu bunga mawar milikku dicabut oleh Mega, lalu dilemparkan ke udara.
"Hai kau!" aku berteriak, tidak terima dengan apa yang ia lakukan. Kenapa Mega begitu jahat sekali. Bukankah kak Philip berhak mau berteman dengan siapapun.
Puas merusak dan membuang-buang bunga milikku, Mega hendak berlalu bersama Diana dan kedua temannya. Tetapi ia kembali saat mendengar suara Hp milikku.
"Mau apa lagi kalian?" tanyaku.
"Apa ini?" Diana dengan lancangnya menarik Hp dari saku rokku.
"Itu punyaku Diana, kembalikan!" kataku.
"Hp. Dari mana kau punya Hp? Kau mencurinya?" tanya Diana.
"Tidak. Itu pemberian kak Philip." jawabku.
"Jangan bohong Anjani. Atau aku akan mengadukanmu pada ibu kepala!" ancam Diana.
__ADS_1
"Aku tidak berbohong. Hp itu memang dibelikan kak Philip untuk berkomunikasi dengannya." kataku.
"Hah, jadi kau punya nomor kak Philip? Ckckck, dengar sendiri kan kak Mega, Anjani punya nomor kak Philip, tapi kakak saja tidak punya." ungkap Diana. Entah apa maksudnya berkata begitu.
"Sini!" Diana merampas Hp itu. Lalu ia membuka pesan-pesan yang masuk didalamnya. Tentu saja hanya berisi pesan dari kak Philip sebab hanya nomor kak Philip yang ada di sana.
"Hei, siapa yang mengizinkan kamu membaca pesanku. Tidak sopan sekali!" aku semakin kesal, lalu hendak merebut kembali apa yang jadi hakku. Tapi Diana dengan mudahnya mendorong tubuhku yang lebih kecil darinya hingga terpental ke tanah. "Sakit!" aku menjerit, saat kerikil melukai kulit tanganku.
Entah kenapa, tiba-tiba saja Mega membanting Hp pemberian kak Philip, lalu ia menginjak-injaknya hingga hancur berkeping-keping.
"Jangan!" aku berteriak, berusaha menghalangi Mega, tapi ia malah menginjak tanganku sekuat mungkin hingga aku merasa semakin nyeri. "Kamu benar-benar jahat, Mega. Kalian semua jahat!" kataku.
"Ini adalah balasan untuk anak kecil yang suka cari-cari perhatian dengan calon kekasihku. Lagipula kamu pintar sekali, memanfaatkan Philip. Sekarang jawab aku, apa saja barang-barang pemberian Philip. Ayo jawab!" ia mencengkeram kuat tanganku, hingga aku meringis kesakitan.
""Kenapa kamu jahat sekali?" kataku.
"Jawab!" bentak Mega.
"Baju, sepatu, tas, kerudung ...." aku menyebut semua barang-barang yang pernah diberi kak Philip.
"Dasar perempuan matre. Akan ku adukan kamu pada bibi Jeni supaya kamu dapat pembalasan!" ancam Mega.
Tiba-tiba saja Mega menjambak kerudungku hingga terlepas.
"Apa yang kau lakukan, kembalikan kerudungku!" kataku.
"Ini dari Philip, kan?" tanyanya.
"Iya. Itu dari kak Philip. Lalu kau mau apa?" tanyaku, dengan nada suara tinggi sebab aku sangat marah padanya. Andai ia tidak membawa pasukan, mungkin ia sudah habis kujambak balik. Meskipun badanku jauh lebih kecil dari mereka, tapi tenagaku cukup kuat sebab sering bekerja di panti membantu bibi Desi.
"Ini, lihat baik-baik!" Mega lalu merobek-robek kerudungku, lalu ia melemparkan ke selokan yang airnya cukup deras.
"Mega, kau jahat sekali!" aku menangis melihat apa yang ia lakukan. Entah bagaimana besok aku bisa ke sekolah sebab kerudungku sudah hanyut olehnya. "Kau harus mengganti kerudungku!" kataku.
"Menggantinya? Hah, jangan mimpi kau, Anjani!" cetus Mega.
Ia, Diana dan kedua temannya berpaling. Mereka akan meninggalkanku sendiri setelah puas melakukan perundungan.
__ADS_1