
"Kenapa mereka bisa menculikmu, nak?" tanya seorang ibu-ibu padaku, setelah berhasil diselamatkan. Mereka seperti kasihan padaku.
"Tadi ibu ...," aku tidak bisa melanjutkan pembicaraan sebab kak Zein telah lebih dulu membekap mulutku.
"Itu, tadi saya tidak mengawasi adik saya sehingga orang-orang tadi menculiknya." ungkap kak Zein.
"Kau beruntung, untung saja dikmu tidak apa-apa, kalau tidak kalian mungkin tidak akan bisa bertemu lagi. Lain kali jagalah ia dengan baik-baik, jangan sambil bermain, supaya tidak ada yang menculiknya lagi." ungkap seorang lelaki paruh baya.
"Iya, apalagi adikmu punya wajah yang sangat cantik. Orang-orang jahat banyak yang mengincarnya. Kau harus hati-hati sekali menjaganya agar tidak terjadi sesuatu. Paham kan nak?" ungkap perempuan yang lain.
"Iya, saya mengerti. Terimakasih banyak untuk semua bantuannya. Saya akan jaga adik saya sebaik mungkin." kata kak Zein, lalu pamit pada orang-orang yang sudah membantuku. Ia menuntun Sepeda sambil menarik lengan bajuku agar ikut pergi.
"Kak Zein, kenapa kakak berbohong?" tanyaku pada kak Zein.
"Siapa yang bohong?" tanya kak Zein.
"Kaka. Tadi kakak bilang aku diculik karena kakak lalai menjagaku. Padahal kan ceritanya tidak begitu. Ibu kepala yang membuatkan aku dibawa oleh ibu-ibu jahat itu. Iya, kan?"
"Aku tidak tahu,"
"Kalau tidak tahu kenapa kakak tahu bahwa aku dibawa oleh ibu-ibu yang ada di dalam mobil tadi?"
"Hanya kebetulan saja."
"Kakak pasti bohong."
"Aku tidak bohong. Ahhhh sudahlah, aku tidak suka menghadapi orang yang cerewet sepertimu."
"Kalau begitu kenapa kakak menolongku?"
"Aku kasihan kalau kau dibawa oleh ibu-ibu itu. Aku tidak tega jika kau harus dijual pada mereka."
"Dijual? Apa maksudnya kak?"
"Tidak, itu ... aku hanya salah bicara."
"Kak, tolong jelaskan padaku? Kakak tidak boleh membela ibu kepala terus. Jika ia salah harus diluruskan meskipun ia adalah ibunya kakak."
__ADS_1
"Aku tidak membela siapapun. Kamu jangan sembarang bicara Anjani!"
"Kakak bohong. Sekarang katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?"
"Aku tidak tahu!" kak Zein tampak kesal sebab aku mendesaknya hingga akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan aku sendiri di jalan. Ia naik ke atas sepedanya.
"Jangan berbohong. Kau harus adil!" kataku. "Kak, katakanlah, aku mohon!" pintaku lagi. "Kak, aku tahu kau tidak sejahat ibumu, jadi tolong beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi?" aku berusaha mengejarnya, menarik agar kak Zein turun dari sepeda.
"Ibuku tidak jahat, Anjani. Kau saja yang berpikiran bahwa ia jahat."
"Tapi kenyataannya begitu. Ia tidak pernah menyukaiku. Padahal aku tidak salah apa-apa padanya. Kalau ia dendam padaku hanya gara-gara kejadian duku, toh semuanya sudah berlalu, dulu aku masih kecil dan tidak tahu apa-apa, makanya aku menyesalinya. Tapi kenapa tidak pernah ada maaf untukku. Kenapa ibumu tidak adil?"
"Sudahlah Anjani, aku tidak suka kau memojokkan ibuku terus,"
"Aku bicara sesuai fakta!"
"Fakta apa? Kau mau bilang ibuku menjualmu, atau membiarkanmu diadopsi oleh orang jahat?"
"Iya!"
"Itu tidak benar Anjani. Justru harusnya kau berterima kasih pada ibuku. Kau tahu kenapa ia melakukan itu semua, sebab ia tidak ingin melihatmu lebih sengsara. Di sini bukan tempat yang cocok untukmu. Apa kau faham itu?"
"Anjani!"
"Jangan memanggilku lagi. Aku benci kamu!"
Entah punya kekuatan darimana, tetapi kini aku berjalan lebih cepat dari sebelumnya, bahkan sampai berlari kecil hingga kak Zein kesulitan mencegahku.
***
"Anjani!" seru bibi Desi, ia langsung menghampiri saat melihat kedatanganku. "Bagaimana keadaanmu. Apa yang terjadi?"
"Bibi," aku memeluk erat bibi Desi untuk menghilangkan takut saat tadi tidak sengaja melihat wajah ibu kepala.
Ibu kepala, anda boleh membenciku, sebab sekarang akupun tidak menyukai anda lagi.
"Dari mana saja kau Anjani?" tanya bibi Desi.
__ADS_1
"Ibu kepala menjual ku." kataku.
"Apa?" bibi Desi lalu melepas pelukanku dan kini tatapannya tertuju pada ibu kepala.
"Bicara apa kau Anjani!" seru ibu kepala.
"Iya, ibu menjual ku, kan? Kak Zein yang memberitahu. Tadi aku juga lihat ibu-ibu itu memberikan ibu amplop. Itu uang, kan?" cetusku.
"Apa itu benar ibu kepala?" tanya bibi Desi.
"Itu bukan urusan kalian. Sudah, sekarang masuklah."
"Tidak bisa ibu kepala. Tolong jelaskan apa ini semua? Anda mau menjual Anjani? Kenapa anda begitu jahat ibu kepala? Dulu saya sangat mengagumi anda, tapi sekarang sebaliknya." ungkap bibi Desi.
"Desi, kau bicara apa? Kau tahu aku siapa dan anak ini siapa? Ia bisa saja berbohong. Anjani, ayo jawab jujur, kau pasti pergi bermain, kan? Karena takut pulang terlambat dan tidak izin dulu makanya mengarang cerita. Iya, kan?" tanya ibu kepala dengan suara tinggi. "Oh, sekarang kau sudah berani berbohong, hah? Lihat Desi, ini gara-gara kau terlalu memanjakan anak ini, dia sudah ngelunjak, sudah berani bohong. Iya, kan? Ayo ngaku atau aku akan memberi hukuman yang berat!"
"Itu tidak benar!" sahut kak Zein.
"Zein," panggil ibu kepala.
"Zein, apa kau tahu sesuatu?" tanya bibi Desi pada kak Zein.
"Anjani benar, dia sama sekali tidak berbohong. Ibulah yang sudah berbohong. Ibu yang menjual Anjani pada ibu-ibu tadi. Ibu ingin Anjani dibawa jauh dari panti ini tanpa memikirkan bagaimana nasib Anjani nantinya. Ibu ...." belum selesai kak Zein bicara, ibu kepala sudah memotong.
"Zein, jaga bicaramu! Jangan ikut campur urusan ibu. Kau ini putraku. Apa kau lupa itu?" ungkap ibu kepala.
"Justru karena aku anaknya ibu, aku tidak ingin ibu ...." lagi-lagi perkataan kak Zein dipotong oleh ibunya
"Zein, sekarang juga masuklah ke dalam atau ibu akan sangat marah!" kata ibu kepala.
Kak Zein menolak perintah ibunya dengan sopan sebab ia ingin bersaksi bahwa aku tidak berbohong. Tetapi setelah diancam oleh ibu kepala tentang durhaka pada ibu, mungkin membuat nyali kak Zein ciut. Iapun tidak berani bicara lagi. Segera berlalu ke kamarnya.
"Ibu kepala, saya sungguh tidak menyangka bahwa ibu akan melakukan semua ini!" ungkap bibi Desi, meluapkan segala kekecewaannya.
"Apa maksudmu Desi?" tanya ibu kepala.
"Saya sangat percaya pada Anjani. Anak itu tidak akan berbohong. Apalagi Zein ikut bersaksi. Jadi sebaiknya anda mengaku saja ibu, jangan mengelak terus!" tantang bibi Desi.
__ADS_1
"Aku tidak bohong!" ibu kepala masih bersikukuh menolak kesaksian putranya. Tuduhan masih ditujukan padaku yang sengaja mengadu bibi Desi dan ibu kepala. "Lihat Anjani, sekarang kau puas sebab Desi sudah mencurigai ku? Kau benar-benar licik anak kecil!"