
Baru saja aku hendak mundur ke belakang, menuju arah lubang, tempat sumber cahaya masuk, agar bisa mengetahui dimana letak tikus-tikus supaya bisa menghindari mereka, tetapi tiba-tiba aku harus berbalik arah sebab secara mendadak muncul sebuah kepala dari lobang.
"Aaaaaaa!" pekikku.
"Anjani, ini aku!" ucap pemilik suara tersebut.
"Kak Philip!" aku mengintip dan ternyata benar, ia ada di sana
"Iya. Kau tidak perlu berteriak begitu keras."
"Apa yang kakak lakukan di sini?"
"Lho, kenapa bertanya seperti itu? Aku kan malaikat pelindungmu, makanya tugasku untuk melindungi kau dari segala marabahaya. Juga menemanimu Dimanapun kau berada agar tidak ada lagi yang bisa menjahatimu."
"Dari mana kakak tahu bahwa aku dihukum di sini? Kakak tidak memata-matai aku, kan?"
"Aku begitu yakin, orang seperti ibu kepala itu pasti akan memberikan hukuman terberat untukmu, dan tempatnya paatu di sini. Tapi kau tenang saja, aku akan menemanimu di sini, aku juga sudah menyiapkan ini!" kak Philip memberikan satu bungkusan padaku. Di dalamnya ada makanan, minumnya, lilin, obat anti nyamuk dan juga satu buah jaket.
"Aku kira setelah pergi ke Paris, kakak tidak akan ingat lagi tentang lubang ini."
"Aku tak akan pernah melupakan apapun tentangmu, Anjani."
Kak Philip membuka lubang tersebut agar lebih lebar sehingga ia bisa masuk. Lalu menyuruhku untuk keluar dari lubang tersebut.
"Kau keluarlah, aku akan membersihkan tempat ini." kata kak Philip.
"Beneran?" aku menatap tidak percaya.
"Tentu saja. Cepatlah sebelum ibu kepala dan anak pengikutnya itu datang. Lagipula kau tak ingin bertabrakan dengan tikus itu lagi, kan?" kami berdua tertawa cekikikan.
"Tentu saja tidak."
__ADS_1
"Kalau begitu keluarlah!"
Aku menuruti kak Philip, keluar lewat lubang tersebut, sementara ia menyelesaikan apa yang ditugaskan padaku.
Dari lubang yang sudah cukup besar tersebut, aku memperhatikan ia yang sibuk bekerja. Sudah tujuh tahun lamanya kami berpisah, akhirnya bertemu lagi. Aku tidak menyangka kak Philip pulang lebih cepat. Selama ia berada di Paris, kami berkomunikasi seadanya. Aku dibantu oleh kak Laras sebab setelah putus sekolah, tidak bisa lagi menikmati akses internet di perpustakaan sekolah.
Begitu juga dengan kak Laras yang terbatas karena perekonomian keluarganya. Tapi ia tak pernah menyerah membantuku.
"Kakak ... terimakasih sudah selalu membantuku." bisikku, nyaris tidak terdengar oleh siapapun.
***
Menjelang sore, aku telah terbebas dari hukuman yang diberikan oleh Diana. Tentu saja atas bantuan kak Philip. Tetapi aku tidak memberitahu siapapun sebab hanya akan menambah hukuman berikutnya.
Diana dan ibu kepala sebenarnya agak kaget sebab sudah mendapati kondisi gudang yang bersih. Mereka tidak menyangka aku bisa menyelesaikan hukuman tersebut sebab mereka tahu aku takut kegelapan dan tikus.
Kini aku berada di atas atap yang berada diujung panti. Memandang langit untuk menghilangkan segala gundah di hati ibu.
Sudah tiga belas tahun, tetapi belum juga ada tandayayah dan ibu akan datang menjemput. Aku sudah melangit kan doa-doa, tetapi sepertinya Allah belum berkenan untuk mengabulkannya.
Kak Philip naik ke atas atap. Ia memang satu-satunya orang yang tahu tempat persembunyian aku ini. Di atas atap.
"Kau sedang apa?" tanyanya, setelah berhasil naik, lalu duduk tidak jauh dariku. "Oh ya, aku punya informasi tentang ayah dan ibumu."
"Informasi apa?" aku langsung menghambur, penasaran dengan informasi yang dibawa kak Philip.
"Ibumu sekarang dosen di salah satu universitas swasta di Jakarta. Sedang ayahmu menetap di Malaysia, ia mengajar di sana. Sekitar enam bulan lagi, mereka berdua akan menghadiri sebuah festival di Jakarta. Festival bunga mawar. Kalau kau mau bertemu dengan mereka, kau harus hadir di festival tersebut. Mengerti."
"Festival bunga mawar? Iya, aku ingat. Festival itu diadakan sekali dalam lima tahun. Ibuku sangat suka bunga mawar, makanya ayah selalu berusaha menghadirinya, meskipun ayah bukan pecinta mawar. Dari mana kakak tahu semua informasi ini?"
"Ayahku yang membantu mencari tahu semua informasi ini."
__ADS_1
"Kakak sudah bertemu dengan ayah, kakak?"
"Ya Anjani. Hanya beberapa bulan di Paris, setelah itu aku tinggal bersama dengannya. Tidak sulit menemukan seniman besar sepertinya." kak Philip bercerita singkat tentang ayahnya. Lelaki yang juga dipisahkan darinya sejak kecil
"Kakak beruntung sekali."
"Kau juga pasti akan bertemu dengan mereka."
"Semoga. Aku juga berharap begitu. Tapi bagaimana caranya? Aku tak akan bisa ke Jakarta begitu saja? Kakak tahu kan, ibu kepala tidak akan memberikan izin semudah itu. Aku harus memberi alasan apa? Menemui ayah dan ibu? Bisa-bisa mereka menjadikanku bahan olokan hingga akhir hidupku. Lagipula ke Jakarta butuh uang, aku tidak punya uang sepeser pun."
"Anjani ... Anjani. Sabar dulu. Biarkan aku menjelaskan semuanya. Aku punya sebuah ide yang aku yakin sangat bagus dan akan jadi satu-satunya cara untukmu ke Jakarta."
"Ide apa itu?"
"Kau tahu, diujung kampung ini, tidak jauh dari danau, ada sebuah kebun bunga. Dulu kebun bunga itu begitu besar, entah kenapa sekarang ditutup. Aku tidak terlalu tahu apa mereka masih buka atau benar-benar sudah tutup.
Kalau kau bisa masuk ke sana dan menjadi pegawainya, maka kau akan bisa berangkat ke Jakarta.
Caranya, kau ikut festival tersebut sebagai peserta festival bunga mawar. Kebun bunga yang dimaksud tersebut sudah pernah memenangkan festival beberapa kali. Bagaimana, apa kau bisa masuk ke sana?" kak Philip menjelaskan panjang lebar.
"Yang ada vilanya itu? Benar juga. Aku akan bekerja di sana."
"Kau yakin bisa diterima di sana?"
"Siapa yang bisa menolak Anjani?" aku mengerjap-ngerjapkan mata kepada kak Philip.
Pembicaraan kami harus berhenti ketika mendengar suara panggilan bibi Desi. Aku segera turun, diikuti oleh kak Philip. Tetapi kami berpisah, aku masuk ke dalam panti, sementara ia melompat masuk ke dalam pekarangan rumahnya.
Mungkin benar, ini akan jadi satu-satunya caraku untuk bertemu dengan ayah dan ibu. Aku harus berusaha keras agar bisa diterima kerja di kebun bunga tersebut. Akupun akan meyakinkan ibu kepala bahwa aku harus bekerja di luar.
Semalaman aku terus memikirkan cara untuk bisa meloloskan rencana ku ini. Hanya tinggal enam bulan lagi, jika aku berhasil maka bisa bertemu ayah dan ibu. Jika tidak, mungkin selamanya tidak akan pernah lagi bertemu dengan mereka.
__ADS_1
Jika ayah dan ibu tidak pernah datang, mungkin memang sudah seharusnya aku yang berjuang menghampiri mereka. Ayah ... ibu, aku rindu.
Langit malam ini rasanya begitu hangat, aku bisa merasakan pertemuan yang amat ku rindukan itu. Setelah ini gak akan ada lagi air mata. Aku akan bahagia dengan kedua orangtuaku.