
Ibu kepala benar-benar kesal padaku. Sementara bibi Desi terus mengejar penjelasan dari ibu kepala.
"Anda yang licik, Bu. Anda melupakan sumpah anda sendiri pada panti ini bahwa akan mendedikasikan seluruh hidup anda untuk memajukan panti. Akan melayani dan melindungi anak-anak dengan sepenuh hati.
Saya kira anda juga sudah belajar dari kesalahannya yang anda lakukan terhadap Fiona, tapi ternyata tidak, anda malah tetap ingin menjadikan Anjani korban kedua. Atau jangan-jangan sebelumnya sudah ada korban lainnya? Jawab saya ibu kepala!" tanya bibi Desi dengan mata berkaca-kaca, sementara suaranya bergetar menahan rasa sakit atas pengkhianatan yang dilakukan oleh ibu kepala.
"Itu tidak benar. Aku menyayangi anak-anak dengan sepenuh hatiku. Bagiku mereka adalah diriku yang baru. Bagaimana mungkin kau berani menuduh seperti itu, Desi? Kau sudah ikut denganku cukup lama, harusnya kau bisa memahami aku, bukan anak kecil itu!" ibu kepala masih tetap membela diri.
"Aku tidak mau tahu, sebaiknya anda mengaku atau aku akan membawa kasus ini pada dewan terhormat agar anda mendapatkan sanksi atas apa yang anda lakukan." kata bibi Desi. Ancaman itu bukan hanya sebatas ancaman kosong, bibi Desi memang akan melaporkan kasus ini lada pengawas panti asuhan agar ada tindakan tegas.
"Kau mengancamku Desi?" ibu kepala menatap tajam bibi Desi.
"Demi kebaikan panti ini!" ungkap bibi Desi. "Aku tidak mau lagi ada anak yang jadi korban. Aku mau semua orang yang bekerja melayani dengan sepenuh hati. Jangan mengedepankan ego apalagi kepentingan sendiri. Jadi tolong Bu, gunakan akal sehat anda."
"Baiklah, aku hanya ingin membantu anak ini!"
"Membantu apa? Bukannya anda sangat membencinya?"
"Iya, itu benar Desi. Aku sangat membenci Anjani. Kau tahu, jika aku membiarkan anak ini berada di panti, di bawah pengawasan aku, hidupnya akan semakin menderita sebab aku yang tidak lagi bisa menyukainya. Aku akan mencari cara untuk menyakitinya. Bukankah itu buruk? Aku juga sebenarnya tidak ingin menjual Anjani, kau tahu aku buka orang yang gila harta, tapi tapiak ada pilihan lain selain merelakannya diadopsi agar ia tidak menderita olehku!" ungkap ibu kepala.
Apa yang disampaikan oleh ibu kepala sukses membuatku begitu sedih. Kenapa ia bisa begitu membenciku? Kalau untuk kesalahan lalu, bukankah aku sudah minta maaf? Itu semua tidak hanya semata kesalahanku. Kak Zein juga ikut bersalah, ia yang membuatku kesal hingga terjadi kecelakaan.
"Sebening apapun anda terhadap Anjani, tetap saja perbuatan anda tidak bisa dibenarkan ibu kepala!" ungkap bibi Desi.
"Lalu kau mau apa Desi? Kau mau melaporkan aku pada dewan pengawas? Silakan, tapi kau bertanggung jawab untuk nasib anak-anak ini. Mereka akan disebarkan ke berbagai panti asuhan yang ada di negeri ini dengan berbagai macam resiko yang bisa saja lebih buruk. Benar kau mau itu? Kalau iya, silakan. Itu telepon di meja kerjaku, lakukan apapun yang kau mau!" ancam ibu kepala.
"Tidak, aku tak akan membiarkan anak-anak yang lain ikut menanggung perbuatan anda. Aku hanya ingin mengajukan satu hal."
__ADS_1
"Apa itu?"
"Aku ingin menjadi orang tua asuh untuk Anjani. Aku ingin mengadopsinya. Tolong izinkan aku menjadi ibu Anjani."
"Apa?"
"Ya ibu kepala, izinkan aku menjadi ibu asuh Anjani. Dengan begitu Anda tidak bertanggung jawab lagi pada Anjani. Aku yang akan menanggung semuanya. Bisa, kan?" pinta bibi Desi. "Kalau tidak bisa, aku akan mengadu pada dewan pengawas."
"Kau mengancamku?"
"Anggap saja ini barter ibu kepala."
"Baiklah. Mulai sekarang Anjani menjadi anak adopsimu. Kau menang Desi, puas?"
Aku dan bibi Desi berlalu menuju kamarnya. Sampai di kamar kamu berdua berpelukan, rasanya benar-benar terbharu sebab bibi Desi menjadi ibu angkatmu. Dengan begitu ibu kepala tidak bisa lagi memberikanku pada orang lain. Aku bisa tenang menanti ayah dan ibu di sini sampai mereka datang menjemput.
"Apa kau senang Anjani? Maafkan aku, terpaksa menjadikanmu sebagai anak angkat sebab aku tidak mau kau dalam bahaya lagi. Sebenarnya aku sangat mengenal ibu kepala, ia memang begitu, kalau sudah membenci seseorang sebaiknya tidak berurusan lagi dengannya sebab ia cukup pendendam. Tetapi yakinlah, sebenarnya ia sangat baik. Ia begitu bertanggung jawab. Alasannya tadi sebab tidak mau membuatmu lebih menderita jika berada di bawah kekuasaannya." ungkap bibi Desi.
***
Setiap akhir pekan, aku akan pergi ke hutan Pinus untuk meletakkan surat petunjuk untuk ayah dan ibu. Surat itu memang sengaja ku letakkan di tempat pertama kalinya paman-paman suruhan kakek membuangku.
"Kau masih suka datang ke sini?" tanya seseorang.
"Kak Zein!" aku hampir melompat melihatnya muncul tiba-tiba dari balik pohon Pinus.
"Sudah berapa banyak surat yang kau letakkan di sini? Apa kau tidak bosan, mungkin saja ayah dan ibumu tidak akan ...,"
__ADS_1
"Sudah, diam. Jangan lanjutkan lagi." aku kesal.
"Anjani, kau sekarang sudah agak besar, cobalah berpikir, ayah dan ibumu mungkin tidak menginginkan kehadiranmu."
"Itu bukab urusan kakak, jadi jangan bicara apapun lagi!"
"Jadi urusanku karena kau membuang sampahnya di hutan ini. Jadi kotor tau!"
"Ini bukan sampah, tapi surat."
"Siapa yang akan membaca surat di pinggir hutan? Babi hutan, anjing atau semut? Tidak ada Anjani. Makanya jadi sampah!"
"Terserah apa katamu, bicara saja terus, aku tidak akan mendengarkan!"
"Anjani ... maafkan ibuku."
"Kenapa?"
"Lupakan masa lalunya, mulailah hidup baru, mungkin dengan tinggal bersama ibu Ratih? Ia akan jadi ibu yang baik untukmu."
"Aku punya bibi Desi."
"Bibi Desi masih jadi bagian dari panti. Ibuku akan selalu melihatmu, kau tak akan bebas darinya."
"Kenapa kakak tidak menasihati ibu kepala saja?" Aku melongok pergi saat kak Zein tidak bisa menjawab pertanyaanku.
Kadang heran dengan orang-orang yang memaksa orang lain memahaminya tetapi ia sendiri tidak melakukan pada orang lain. Apa mereka tahu bagaimana tidak enaknya jadi aku? Hanya karena ketidak sengajaan tiba-tiba jadi dibenci.
__ADS_1
Efek sikap ibu kepala itu menurun pada Diana dan teman-teman yang lain. Mereka juga ikut memusuhiku. Tidak ada yang mau berteman denganku.
"Harusnya yang bermasalah yang dinasehati, kenapa aku yang tak salah apa-apa yang disuruh pergi? Ini tak adik sekali, kenapa kalian bisa sejahat itu padaku? Kan sekarang aku bukan anak panti lagi, aku anaknya bibi Desi, jadi biarkan aku dengan ibu angkatnya, jangan ganggu aku lagi. Jangan bicara denganku juga!" aku menegaskan.