
Semakin kuat aku mencoba meredam tangisan itu, semakin deras air mata yang berjatuhan satu-persatu, hingga berubah jadi isakan. Dadaku benar-benar sesak mendapatkan perlakuan seperti ini.
"Anjani." pintu kamar terbuka, bibi Desi mendekat padaku. Cepat-cepat kusembunyikan pakaian yang jadi sumber air mata. "Kau kenapa?" bibi Desi terlihat begitu khawatir, mungkin karena aku tidak pernah menangis sebelumnya.
"Tidak apa-apa, bibi." kataku, sambil berusaha menghapus sisa air mata, tapi sayangnya tetap saja mengalir dengan deras.
"Tidak mungkin, pasti ada sesuatu. Apa ibu kepala memarahimu, atau kau diganggu oleh Diana dan teman-temannya lagi?"
"Bukan Bi."
"Lalu kenapa?"
"Aku ... rindu ayah dan ibu."
"Ya Allah Anjani, maafkan bibi ya sayang, belum bisa sepenuhnya memberikan kebahagiaan untukmu. Maafkan bibi. Semoga kamu segera bertemu dengan ayah dan ibumu agar rindu itu terobati. Bibi sadar, yang namanya orang tua angkat memang tidak akan bisa sepenuhnya menggantikan kasih sayang orang tua kandung, apalagi jika orang tua angkatnya seperti bibi. Maaf ya sayang."
"Bibi," aku dan bibi berpelukan. "Bibi adalah ibu asuh terbaik menurutku. Walaupun bibi tidak melahirkan aku, tapi kasih sayang bibi padaku begitu besar. Bibi sudah berkorban banyak untukku. Aku sangat sayang pada bibi. Maafkan aku ya Bu, selalu saja jadi beban untuk bibi."
Malam ini, aku tidur dalam pelukan bibi Desi, setelah menyembunyikan pakaian tidak layak pakai pemberian ibu kepala.
***
Aku menunggu kak Philip di seberang sekolahnya. Tadi pagi, saat kami berangkat, ia memintaku untuk tidak pulang duluan. Tidak seperti biasanya, ia memintaku menghampiri ke sekolahnya. Hal yang baru pertama kali ini kulakukan.
"Hei, Anjani?" tiba-tiba seorang siswi berseragam putih abu-abu memanggilku.
"Iya kak." kataku. Aku mendekatinya, sebab sudah pernah bertemu sebelumnya. Ia teman kak Philip, namanya Laras.
"Philip menunggumu di sana!" ia menunjuk lapangan yang berada di belakang sekolah, lalu kami berdua menuju lapangan yang dimaksud.
Kak Laras memintaku berjalan menuju pohon yang ada dipinggir sebelah selatan kami. Sementara ia berhenti, lalu berbalik arah. Aku mengira kak Philip sedang bersembunyi di balik pohon tersebut. Hal yang sebenarnya aneh sekali, sejak kapan ia suka main petak umpet?
Saat aku sudah berdiri begitu dekat dengan pohon yang dimaksud kak Laras, tiba-tiba terdengar suara gitar dipetik, lalu terdengar alunan suara merdu kak Philip. Ia menyanyikan sebuah lagu romantis untukku. Lagu yang liriknya sering disenandungkan oleh Diana, katanya itu adalah lagu yang berjudul sempurna, dinyanyikan oleh Andra and the back Bone.
Aku memang pernah mendengar kalau kak Philip pintar bermain gitar, ia juga punya suara yang sangat bagus, tetapi baru kali ini aku mendengarnya langsung bermain dan itu dilakukannya di hadapanku.
Usai membawakan lagu, tiba-tiba enam orang temannya, salah satunya kak Laras datang membawa bunga dan balon berwarna-warni. Lalu bunga tersebut diambil kak Philip, kemudian diberikan padaku.
Tidak ada kata-kata yang bisa kuucapkan, saking kagetnya melihat semua ini hingga teman-teman kak Philip pergi usai kami melepas balon.
"Bagaimana menurutmu?" tanya kak Philip saat kami duduk di pinggir lapangan berdua saja.
"Bagus. Tapi kenapa kakak melakukan ini semua?" tanyaku.
"Cuma ingin saja. Kau kan tahu hari ini adalah pesta kelulusan SMA. Aku sudah resmi lulus jadi anak SMA. Tadi ada banyak balon dan bunga kudapatkan. Aku tahu kau paling suka perayaan seperti ini, makanya aku sengaja mengumpulkannya untuk menyenangkanmu. Kau senang?"
__ADS_1
"Senang! Apalagi saat kakak bernyanyi sambil memetik gitar. Romantis sekali. Apa kakak melakukannya juga karena kasihan denganku?"
Kak Philip hanya tersenyum saja. Tetapi karena aku terus mendesaknya untuk menjawab akhirnya ia menganggukkan kepalanya.
"Aku sudah berlatih keras untuk tampil, sayangnya tadi tidak ada kesempatan sama sekali. Makanya aku tampil saja di hadapanmu. Aku yakin kau akan senang. Jadi cukup lumayan, tidak sia-sia aku berlatih selama ini. Iya, kan?"
"Kakak benar-benar orang yang tidak mau rugi, ya?"
"Iya dong!"
"Kalau sekarang kakak tidak jadi anak SMA lagi, lalu kakak akan melanjutkan sekolah ke mana?" tanyaku, mengingat dari beberapa bulan lalu aku selalu mendengar kak Zein berbincang dengan ibunya masalah sekolah lanjutan. Kalau aku tidak salah ia sangat ingin kuliah di Yogyakarta. "Apa kakak akan kuliah di luar pulau juga?"
"Tidak."
"Kenapa? Oh aku tahu, pasti karena jauh kan? Aku tahu kakak pasti akan Rindu rumah, rindu bibi Jeni juga."
"Hm,"
"Lalu mau lanjut sekolah dimana?"
"Kau ingin aku sekolah dimana?"
"Dimana saja, asalkan kakak bahagia."
"Benarkah?"
"Iya."
"Paris?" tiba-tiba mataku melotot mendengar Paris. Itukan jauh sekali. Kami pernah iseng menghitung jarak Indonesia ke Paris dari globe, dan hasilnya cukup jauh saat aku masih kelas dua sekolah dasar.
"Ya Anjani."
"Tidak apa-apa, kalau itu adalah tempat yang ingin kakak tuju."
"Benar kau tidak apa-apa?"
"Iya."
"Tapi kalau aku ke Paris, kita akan berpisah dengan jarak yang begitu jauh."
"Ya ampun kak Philip, sejauh apapun jaraknya, sekarang kan ada internet, tiap hari kita bisa berbincang-bincang."
"Bagaimana caranya?"
"Aku akan mengirim email pada kakak setiap hari lewat perpustakaan sekolah. Bagaimana?"
__ADS_1
"Benarkah?"
"Ya, tapi kakak harus membalasnya. Kalau sampai tidak dibalas, aku tak akan mengirimkan lagi."
"Baiklah. Aku janji akan mengirimkan email tiap hari untukmu."
Kami berdua kemudian sama-sama tertawa, tetapi di dalam hati masing-masing sama-sama merasakan cemas yang begitu besar. Entah bagaimana mengutarakannya.
"Anjani, hari ini apa kau mau melanggar peraturan panti?" tanya kak Philip.
"Kenapa?" tanyaku.
"Aku ingin mengajakmu ke pasar. Ayo kita belanja."
"Kakak mau mentraktirku?"
"Iya. Aku baru saja membongkar tabungan. Jumlahnya cukup banyak. Aku takut tidak bisa menghabiskan sendiri makanya mengajakmu serta."
"Baiklah. Ayo kita habiskan uang tabungan kakak!"
Kami berdua menuju pasar naik mobil bak terbuka. Selama perjalanan kamu tertawa bersama-sama.
Sampai di pasar, aku dan kak Philip masuk ke rumah makan Padang. Kami makan dengan menu pilihan masing-masing. Aku memilih gulai ayam, dengan minumnya jus alpukat. Rasanya sungguh nikmat sekali.
Usai makan, kak Philip mengajakku membeli perlengkapan sekolah. Lalu ia juga membelikan dua lembar pakaian baru, sepatu dan sandal. Aku benar-benar senang mendapatkan hadiah yang begitu banyak darinya.
"Sudah sore, kita harus pulang." kataku.
"Uangnya masih ada." kak Philip memperlihatkan tiga lembar uang seratus ribu miliknya.
"Simpan saja."
"Kalau begitu ibu untukmu saja. Simpan baik-baik. Kau boleh memakai atau menghabiskannya. Ini hadiah kenang-kenangan dariku." kak Philip tersenyum padaku.
"Memang kapan kakak berangkat?"
"Besok."
Jawaban kak Philip sukses membuatku kaget. Besok ia akan berangkat tapi baru bicara sekarang.
"Kenapa begitu cepat?" tanyaku.
"Aku harus singgah di Jakarta, Anjani. Setelah itu baru terbang ke Paris."
"Kakak jahat!" aku tidak bisa menerima semuanya. Ini terlalu dadakan. Bahkan aku belum melakukan apapun untuknya. Tanpa menghiraukan kak Philip, aku berlari meninggalkannya sendirian.
__ADS_1