Anjani Sayang

Anjani Sayang
Berhenti Sekolah


__ADS_3

Entah dari mana keberanian itu muncul, secara refleks aku menarik tangan Mega hingga ia kembali berbalik ke arahku, lalu tangan kananku menampar pipinya hingga ia menjerit kesakitan, sementara Diana dan dua temannya menganga sebab tidak menyangka aku akan seberani itu.


"Itu adalah balasan sebab kalian begitu jahat padaku. Kau sudah menghancurkan bunga, Hp dan juga kerudungku. Jangan mentang-mentang aku anak panti lalu kau bisa berbuat sembarangan. Aku tidak akan diam saja. Kau harus menggantinya atau aku akan membalasmu!" aku merebut Hp milik Mega. "Ini aku jadikan jaminan. Sampai kau mengganti Hp milikku, baru aku akan mengembalikan Hp milikmu." kataku.


"Hei, apa yang kau lakukan Anjani!" teriak Diana.


"Kembalikan Hp Mega!" teriak temannya yang lain.


"Sudah, biarkan Saja." kata Mega.


Sebenarnya aku agak aneh dengan sikap Mega yang membiarkanku berlalu bersama Hp miliknya. Tapi aku menduga ia memang takut padaku sebab tadi sudah menampar pipinya. Semoga saja begitu, ia benar-benar takut hingga tidak akan mengulangi lagi, kamu segera mengganti Hp milikku agar bisa kembali berkomunikasi dengan kak Philip.


Setelah kehilangan kerudung, tentu saja aku tidak langsung pulang, tapi menyusuri selokan untuk mencari kerudungku yang dihanyutkan oleh Mega. Sayangnya airnya terlalu deras hingga aku kehilangan jejak.


"Nak kau sedang mencari apa?" seorang ibu tua memanggilku dari seberang jalan.


"Tadi kerudung saya hanyut." jawabku.


"Kau sedang mencuci di selokan?" pertanyaan nenek itu sukses membuatku tertawa kecil. Seperti kisah bawang putih saja, yang mencuci di kali lalu bajunya hanyut. Tapi, apakah nenek ini akan memberiku labu berisi emas permata? Tentu saja tidak sebab ini bukan cerita negeri dongeng.


"Tidak nek, tadi tidak sengaja hanyut." jawabku.


"Kalau begitu susuri saja sungai ini sampai ujung jalan itu. Di sana ada pintu airnya, biasanya akan nyangkut di sana."


"Benarkah? Terimakasih nek!" aku buru-buru menuju pintu air yang dimaksud oleh nenek tadi.


Benar saja, kerudungku ada di sana bersama tumpukan sampah yang ikut terjaring. Dengan bantuan sebilah kayu, aku bisa meraih kembali kerudungku.


Alhamdulillah. Aku meloncat gembira. Sekarang tinggal pulang ke panti, lalu mencucinya supaya besok bisa kembali di pakai.


***


"Anjani!" sebuah suara dengan nada sedang namun penuh tekanan berhasil membuat bulu kudukku merinding. Siapa lagi pemilik suara itu kalau bukan ibu kepala.

__ADS_1


"Iya ibu kepala." jawabku.


"Dari mana saja, kau? Mana kerudungmu?"


"Ada ibu kepala. Ini!" aku menunjukkan kerudung yang basah.


"Apa yang kau lakukan, kenapa kerudungmu basah?"


Tentu saja aku tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi tadi pada ibu kepala sebab bukannya mendapat pembelaan, ia bisa saja semakin membenciku. Semua yang aku lakukan tidak akan pernah benar di mata ibu kepala.


"Aku bertanya, kenapa kau diam saja." kata ibu kepala lagi.


"Itu, maaf ibu kepala. Tadi jatuh ke selokan." aku menunduk, khawatir salah jawab.


"Aneh sekali. Kerudungmu basah tapi bajumu tidak. Lain kali kalau cari alasan yang benar. Awas saja kalau kau mengulangnya lagi, aku akan menghukummu."


Aku segera berlalu sebelum ibu kepala kembali bertanya atau justru akan memberiku hukuman. Sebelum masuk ke kamar, kusempatkan mencuci kerudung yang sudah basah dengan air selokan.


"Anjani, kau dipanggil ibu kepala!" kata seorang anak saat aku baru selesai mencuci kerudung milikku.


"Segera hampiri ibu kepala atau kau akan mendapatkan masalah."


Ya Tuhan, ribet sekali berurusan dengan ibu kepala. Harus selalu dinomor satukan. Padahal kan ada keperluan lain juga. Termasuk makan. Perutku sudah sangat lapar sekali. Tetapi karena tidak ingin mendapatkan masalah, aku segera menuju kantor ibu kepala.


Di sana sudah ada seorang perempuan paruh baya dengan make up tebal yang ternyata adalah ibunya Mega, lalu Mega bersama Diana dan kedua temannya. Mega sedang menangis terisak-isak.


Aku mengira ia datang ke sini untuk mengganti Hp milikku. Syukurlah ia cepat menggantinya. Mungkin ia menangis juga karena merasa bersalah atau bahkan mungkin bisa jadi dimarahi ibunya sebab harus mengganti Hp milikku.


"Anjani, apa benar kau mengambil Hp milik Mega?" tanya ibu kepala.


"Oh, itu." aku langsung gagap. Khawatir dengan sesuatu hal yang muncul di benakku.


"Jawab Anjani!" kata ibu kepala.

__ADS_1


"Iya ibu kepala." kataku.


"Kau!" ibu kepala menatapku tajam.


"Bibi, tolong jangan memarahi Anjani. Aku mohon. Aku paham, Anjani mungkin menginginkan Hp itu. Kehidupannya amat susah. Jadi tolong jangan marahi ia. Aku hanya ingin ia mengembalikan Hp milikku sebab ada banyak data di dalamnya." kata Mega dengan suara lembut namun seperti sebuah ancaman untukku.


"Anjani, sekarang juga kembalikan Hp miliknya." kata ibu kepala.


"Tapi ibu kepala ...." aku menggelengkan kepala. Tadi perjanjiannya sudah sangat jelas, Hp miliknya akan ku kembalikan jika ia sudah mengganti Hp milikku.


"Anjani, dengar tidak!" bentak ibu kepala.


Aku segera merogoh saku, mengembalikan Hp miliknya. Baru hendak bicara untuk meminta hakku, tiba-tiba ibu Mega maju, ia menamparku begitu keras hingga jatuh ke lantai.


"Itu balasan karena kau sudah menampar putriku. Kau tahu, aku sebagai ibunya saja tidak pernah memukul atau mengasarinya, tapi kau lancang melakukannya!" ucap ibu Mega.


"Ibu." kataku lirih, lalu memegang bibirku yang berdarah.


"Ibu kepala, saya tidak masalah jika anak ini memang menginginkan Hp putri saya sebab kami bisa saja membelinya lebih banyak lagi. Anda tahu kan, bahwa keluarga kami adalah salah satu keluarga terkaya di kampung ini. Yang saya tidak terima adalah perbuatannya yang lancang memukul putri kesayangan saya. Kulitnya terlalu halus untuk dilukai. Apalagi oleh tangan kotor anak ini.


Saya sungguh kecewa dengan cara anda mendidik anak ini ibu kepala. Ia seperti preman saja. Masih kecil sudah begini, bagaimana nanti kalau sudah dewasa?


Putri saya adalah anak yang lembut, ia tidak suka menyakiti siapapun. Tapi bukan berarti boleh diperlakukan dengan kasar!" ucap ibunya Mega.


"Itu tidak benar!" kataku.


"Anjani, diam kamu!" kata ibu kepala.


"Tapi ibu kepala ..." aku memohon meminta kesempatan untuk menjelaskan masalah sebenarnya.


"Ibu kepala, bibi Elsa benar, Mega adalah anak yang sangat baik, tapi Anjani suka sekali melakukan perundungan padanya. Tolonglah Mega ibu kepala." pinta Diana.


"Apa itu benar Anjani?" tanya ibu kepala. Tentu saja kujawab dengan gelengan kepala. Sayangnya tidak ada yang mau mendengarkan ku. Aku dihadirkan ke sini hanya untuk diadili dengan kesaksian menurut mereka masing-masing tanpa pernah memberiku kesempatan untuk membela diri.

__ADS_1


"Bibi, aku memang sangat takut dengan Anjani, tapi tolong jangan hukum dia. Aku benar-benar minta maaf bibi sebab tidak bisa membela diri. Tolong maafkan Anjani juga." pinta Mega lagi.


"Lihat ibu kepala. Bahkan setelah diperlakukan dengan begitu jahatnya, putriku masih memohonkan ampun untuk anak ini." ungkap ibu Mega.


__ADS_2