Anjani Sayang

Anjani Sayang
Baju Bekas Tidak Layak Pakai


__ADS_3

"Anjani, tunggu sebentar!" Diana menghentikan langkahku, tepat di halaman panti, tidak lama setelah bibi Desi masuk kembali ke dalam usai mengantar kepergianku.


"Ada apa?" tanyaku.


"Kau ... bajumu baru? Dari mana kau mendapatkannya?"


"Oh ini, ada deh."


"Anjani, jangan membuatku kesal!"


"Apa yang ku pakai itu bukan urusanmu!"


"Kau sombong sekali. Jawab saja pertanyaanku atau aku akan mengadu ke ibu kepala!"


"Dasar tukang ngadu. Kenapa kau selalu repot-repot ingin tahu segala urusanku? Yang terpenting aku sudah memakai kerudung."


"Bagiku, tahu darimana kau mendapatkan pakaian itu juga penting!"


"Kenapa?"


"Aku hanya khawatir kau mendapatkan dari hasil yang tidak baik."


"Maksudmu?"


"Bisa saja kan kau mencurinya?"


"Hati-hati kalau bicara Diana, aku bukan pencuri."


"Lalu darimana kau mendapatkannya?"


"Dari kak Philip. Puas!"


"Kenapa dia memberimu seragam baru? Oh aku mengerti, jangan-jangan benar, kau dan kak Philip berpacaran? Iya kan?"


Mendengar tuduhan baru Diana, aku langsung tertawa terbahak-bahak. "Kali ini tuduhannya tidak berhasil membuatku kesal. Ada-ada saja. Sudahlah, aku mau berangkat dulu. Aku tidak mau terlambat hanya gara-gara meladeni khayalanmu itu!" aku segera berlari menuju luar panti.


Tidak lama kak Philip datang menyusulku. Ia memang selalu menunggu dari halaman rumahnya. Begitu melihatku keluar, maka kak Philip akan menyusul.


"Kak, terimakasih bajunya!" kataku.


"Hm, kau suka?" tanya kak Philip.


"Tentu saja. Kakak pasti menghabiskan uang belanja kakak untuk membeli seragam ini."


"Tidak juga. Ibuku memberi uang belanja cukup banyak."


"Oh ya? Apa kau begitu kaya raya? Tapi kenapa bibi Jeni tidak pernah mau berbagi ke panti, padahal kita kan tetangga."


"Ibuku tidak terlalu suka dengan ibu kepala."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Sekarang kau suka bergosip?"


Aku tertawa malu. Benar kata kak Philip, untuk apa aku harus tahu urusan ibunya dan ibu kepala. Lebih baik aku fokus dengan hidupku.


"Anjani," panggil kak Philip.


"Ya," jawabku.


"Apa kau akan baik-baik saja jika tidak ada aku?"


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa."


"Kakak kenapa?"


"Tidak apa-apa. Sudah sampai di sekolahmu. Pergilah. Oh ya, nanti pulang sekolah kau pulanglah lebih dulu. Aku ingin pergi ke suatu tempat."


"Kencan ya?"


"Kata siapa?"


"Tidak. Aku hanya ingin tahu saja. Biasanya seorang kakak akan meninggalkan adiknya karena ia ingin mendekati gadis lain."


Kak Philip tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapanku. Ia malah menuduh aku terlalu banyak nonton sinetron, padahal ia tahu di panti kami tidak punya televisi.


Hari ini istimewa untuk anak-anak panti sebab ada sumbangan pakaian datang. Kami akan punya tambahan pakaian pemberian orang-orang yang dikumpulkan oleh ibu kepala. Meskipun pakaian bekas tapi masih cukup bagus untuk dipakai. Bahkan jika beruntung, kita akan mendapatkan pakaian baru terselip di antara pakaian bekas.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Diana padaku.


"Aku mau mengambil baju jatahku." ujarku. Setiap anak biasanya mendapatkan satu stek pakaian yang bebas dipilih olehnya, bahkan kalau pakaian yang disumbangkan banyak, bisa dapat dua stel.


"Di sini tidak ada bagiannya Anjani."


"Kenapa begitu? Biasanya ada."


"Tapi tahun ini tidak ada."


"Kenapa?"


"Begitu kata ibu kepala."


"Tapi kenapa? Tahun lalu masih dapat kok."


"Kalau kau ingin bajunya, tanya saja pada ibu kepala."


"Ada apa Anjani?" kak Zein muncul di antara kami.

__ADS_1


"Anjani ngotot minta pakaian, padahal ibu kepala mengatakan ia tidak dapat bagian tahun ini dan seterusnya." ungkap Diana.


"Kenapa?" tanya kak Zein.


"Mana aku tahu. Kakak tanya ibu kepala saja." cetus Diana.


"Anjani, ayo kita ke tempat ibu." ajak kak Zein.


"Tidak usah," aku menolak sebab takut bertemu ibu kepala.


"Kau tidak perlu takut. Aku akan menemanimu." ajak kak Zein lagi.


Aku akhirnya mengikuti kak Zein menuju ruangan ibu kepala. Melihat kedatanganku, ibu kepala langsung berubah, dari tersenyum menjadi cemberut.


"Ada apa?" tanya ibu kepala.


"Bu, Anjani ingin tahu, apakah benar ia tidak dapat bagian pakaian?" tanya kak Zein.


"Ya benar." jawab ibu kepala tanpa melihat padaku sedikitpun.


"Tapi kenapa Bu?" tanya kak Zein lagi.


"Sebab pakaian itu adalah sumbangan orang-orang untuk anak-anak panti. Anjani kan bukan bagian dari panti ini lagi. Dia sudah diadopsi oleh Desi, jadi bukan tanggung jawab ibu lagi. Lagipula dia kan sudah pintar mencari pakaian baru. Dia bisa minta pada teman laki-lakinya itu." ucap ibu kepala yang aku yakini adalah sindiran kepada kak Philip.


"Bu, Anjani sangat butuh pakaian itu. Apa salahnya memberikan Anjani satu atau dua potong baju." ungkap kak Zein.


"Tidak," jawab ibu kepala.


"Bu, Zein mohon. Anggap saja ini permintaan Zein." kak Zein sampai memohon pada ibu kepala.


"Iya ... iya. Aku tidak tahu apa yang kau lakukan pada anak laki-lakiku sampai ia harus menuruti keinginanmu Anjani. Yang aku tahu kau membawa pengaruh buruk!" ibu kepala melempar satu plastik padaku. "Ambil dan pergilah!"


Sedih, malu dan kecewa saat bungkusan pakaian itu dilempar tepat mengenai wajahku. Sebenarnya aku tidak ingin mengambilnya karena merasa harga diriku diinjak-injak, tetapi meninggalkannya begitu saja sama dengan membuat masalah baru. Ibu kepala pasti akan murka dan efeknya tidak hanya padaku, tapi juga pada kak Zein dan bibi Desi.


Aku juga tidak ingin membuat kak Zein tidak enak hati atas perlakuan ibunya padaku. Ia tadi sudah sampai memohon pada ibunya. Dengan mata berkaca-kaca aku mengambil bungkusan itu, lalu berlalu keluar.


"Anjani!" panggil kak Zein.


"Ya kak!" kataku, berusaha tersenyum meski hatiku sedang sakit.


"Kalau kau mau marah, menangis atau memaki. Lakukan saja. Balasan padaku. Tidak apa-apa. Aku siap menjadi samsak kemarahanmu."


"Tidak kak. Aku tidak apa-apa. Aku mau ke kamar dulu. Mau mencoba pakaian baruku. Maksudku, pakaian jatahku." aku segera berlalu ke kamar tanpa mempedulikan panggilan kak Zein lagi.


Sampai di kamar, satu persatu air mata itu turun. Semakin lama semakin deras. Agar tidak ada yang mendengar, sengaja mulut ku bekap dengan kedua tangan.


"Jangan menangis Anjani ... jangan. Nanti kalau bibi Desi datang dan melihat, ia pasti sedih." cepat ku sekarang air mata itu. Untuk mengalihkan suasana hati, kubuka bungkusan dari ibu kepala. Ada tiga lembar pakaian rupanya.


"Lihatlah Anjani, ibu kepala cukup baik. Ia memberimu tiga lembar baju. Biasanya cuma dapat satu atau dua." kataku.

__ADS_1


Tanganku bergetar ketika memegang baju pertama, lalu saat beralih pada baju kedua dan ketiga, dadaku kembali sesak. Ya Allah ...


"Ayah ... ibu. Lihatlah apa yang mereka lakukan padaku. Tidakkah kalian ingin menjemputku sekarang?" ucapku dengan suara terbata-bata. Pakaian yang diberikan padaku sungguh tidak layak. Pakaian sobek-sobek yang sangat kotor. Seperti lap kaki yang sudah harus dibuang sebab benar-benar kotor dan jelek.


__ADS_2