
Tidak. Aku tidak mau lagi bicara dengan kak Zein. Sebaiknya aku menghindar darinya, seperti yang sudah kulakukan selama ini agar aku tidak mendapatkan masalah baru. Kalau ibu kepala melihatku bicara dengan putra semata wayangnya, ia pasti tidak akan suka dan nantinya hanya akan jadi penghalang ku untuk bisa bekerja. Padahal aku butuh sekali untuk bertemu ayah dan ibu nantinya.
"Apa yang kau lakukan di situ?" sebuah suara yang sellau aku hindari kini terdengar begitu dekat. Saat aku berbalik, tampaklah seseorang yang selama ini selalu ku hindari. "Kau sedang apa di situ?" pertanyaan ibu kepala membuat lamunanku buyar.
"Ibu kepala, maaf jika saya mengganggu. Tetapi ada yang ingin saya sampaikan." kataku, sambil terus berzikir, berharap hatinya lunak.
Ibu kepala masuk ke dalam, rupanya di dalam ada Diana juga. Sebenarnya aku berharap ibu kepala menyuruh Diana keluar agar bisa berbincang berdua saja, tetapi sepertinya harapanku tidak terwujud sebab ia masih duduk mematung di tempat awalnya.
"Bicaralah. Kau tidak punya waktu banyak sebab aku sibuk." kata ibu kepala.
"Baiklah ibu kepala. Sebelumnya terima kasih sebab sudah mengizinkan aku bicara."
"Tidak usah basa-basi, langsung saja!"
"Ibu, sebenarnya saya ingin minta izin bekerja."
"Hah?" tiba-tiba terdengar suara tawa dari mulut Diana. "Kerja? Memang kau mau kerja apa, kan kau cuma lulusan SD." ejek Diana.
"Diana!" ibu kepala mengingatkan Diana untuk diam dan fokus pada pekerjaannya.
Selepas SMA, Diana memang bekerja dengan ibu kepala. Ia menjadi asisten kepercayaan yang selalu ada di samping ibu kepala.
"Kalau ibu mengizinkan, aku ingin bekerja di kebun bunga yang ada di dekat danau." kataku.
"Memang ada yang mau mempekerjakanmu?"
"Aku hanya akan melamar sebagai buruh ibu kepala, jadi tidak butuh ijazah." ungkapku.
"Kau memang cocok jadi tukang kebun Anjani. Seorang pekerja kasar!" Diana berceloteh.
"Diana!" ibu kepala membentaknya. "Hm," ibu kepala berdehem. "Kenapa kau harus bekerja di sana?"
"Ibu kepala, saya menyadari bahwa usia saya sudah dewasa, sudah waktunya untuk menghidupi diri sendiri tanpa harus membebani panti. Saya juga ingin membantu panti meskipun hanya sedikit sebagai bentuk balas budi saya. Itulah sebabnya saya beranikan diri untuk meminta izin agar boleh bekerja sebagai tukang kebun mengingat tidak ada ijazah tinggi selain lulusan SD." kataku.
"Hm," ibu kepala memberikan isyarat sebagai bentuk ketidak nyamanannya dengan masalah ijazahku. "Baiklah, kau boleh bekerja di sana, tetapi dengan beberapa syarat."
__ADS_1
"Apa syaratnya ibu kepala?" aku bertanya dengan harap-harap cemas, khawatir ia akan memberikan persyaratan yang tidak bisa kupenuhi sebagai jalan melarangku bekerja.
"Kau harus memberikan seluruh gajimu untuk panti sebab kau masih tinggal di sini. Setelah pulang dari bekerja kau juga harus tetap membantu Desi. Mengerti?"
"Iya, saya mengerti ibu kepala. Terimakasih banyak atas izinnya."
Ingin sekali rasanya meloncat bahagia setelah pamit keluar. Siapa sangka ternyata semua tidak sesulit yang aku bayangkan. Meskipun ibu kepala meminta seluruh pendapatan aku sebagai seorang tukang kebun. Tidak masalah, toh setelah bertemu ayah dan ibu maka itu semua tidak lagi kubutuhkan.
"Bibi ...." aku memeluk bibi dari belakang saat ia sedang mencuci piring.
"Apa yang terjadi Anjani?" tanya bibi Desi.
"Ibu kepala memberikan aku izin, bi. Mulai sekarang aku bisa kerja. Berarti peluangku bertemu ayah dan ibu semakin besar!"
"Anjani. Aku sangat senang sekali!"
Aku dan Bibi saling berpelukan. Hingga kemudian netraku menangkap sebuah bayangan. Kak Zein, ia berdiri tidak jauh dari kami. Menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ku mengerti. Tetapi entah mengapa aku jadi takut. Apakah tadi kak Zein mendengar semuanya? Lalu bagaimana tanggapan dia?
Lagi-lagi aku dibuat pusing olehnya. Tetapi tidak tahu harus berbuat apa.
Kali ini tidak ada alasan untuk menolaknya sebab ia berada tidak jauh dariku. Apalagi ditambah ia mendengar semua pembicaraan kami tadi. Bisa saja kan karena kesal tidak kutanggapi, akhirnya ia lapor ibu kepala.
Aku menyusul kak Zein kembali ke belakang panti. Tempat semula yang sudah ditentukannya.
"Kau pasti masih marah padaku?" kak Zein menebak.
"Tidak juga." jawabku.
"Lalu kenapa tadi tidak mau diajak bicara?"
"Ini aku mau."
"Kau pasti merasa takut bahwa aku akan membocorkan pembicaraan kamu tadi. Iya, kan?"
"Sedikit. Lalu kakak mau apa?"
__ADS_1
"Aku ingin memaafkan aku."
"Aku tidak ingin membahas itu lagi."
"Aku tahu kau masih kesal, Anjani. Tapi percayalah, aku juga menyesalinya. Hingga sekarang aku masih merasa bersalah. Lalu tidak bolehkah aku mendapatkan maaf darimu?"
"Aku sudah bilang tidak ingin membahasnya."
"Baiklah. Aku tidak mau memaksakan kehendak Anjani. Kau berhak memberi atau tidak memaafkan aku."
"Apa kakak tahu betapa kesalnya aku, saat anak-anak lain mendapatkan kehidupan lain yang memang tidak sempurna, tapi mereka boleh mendapatkan pakaian bekas yang masih kayak, sementara aku mendapatkan pakaian yang benar-benar compang-camping.
Lalu, saat yang lain boleh sekolah, aku tidak. Alasannya karena aku pembuat onar hingga anak salah satu orang terkaya di kampung ini ketakutan padaku. Padahal tidak seperti itu. Aku yang dirugikan oleh mereka.
Juga hukuman-hukuman keras yang tidak masuk akal. Semua itu aku dapatkan karena ibu kepala membenciku, kak. Sebab ia merasa aku sudah melukai putra yang paling disayanginya. Padahal apa yang terjadi waktu itu benar-benar tidak sengaja. Tapi tidak ada yang mau memahami aku. Semuanya menganggap aku bersalah. Termasuk kakak. Iya, kan?" aku menumpahkan semua kekesalan pada kak Zein agar ia tidak lagi bersikap kekanak-kanakan. Harusnya ia memahami, bahwa ibunya adalah tipikal orang yang kalau sudah memandang seseorang salah maka akan salah selamanya, padahal bisa saja seseorang berubah jadi lebih baik, atau semuanya adalah sebuah ketidak sengajaan.
"Aku tahu Anjani. Aku benar-benar minta maaf." pinta kak Zein lagi.
"Aku tidak ingin membahasnya sekarang. Biarkan aku sendiri. Tolong jaga jarak denganku agar tidak ada masalah baru lagi. Aku hanya ingin punya hidup yang lebih baik lagi setelah semua kesusahan yang ku dapatkan waktu kecil."
"Anjani, apa kau akan pergi?"
"Ya, jika aku sudah bertemu dengan ayah dan ibu."
"Kau akan meninggalkan panti ini?"
"Ya. Di sini bukan tempat untukku."
"Anjani ... apa kau tahu, aku selalu berusaha agar tidak jauh darimu. Aku takut kau pergi. Apalagi dengan segala kebencianmu padaku."
"Aku tidak membenci kakak."
"Anjani ...."
"Aku harus pergi." aku segera memotong pembicaraan kak Zein sebab mataku menangkap kehadiran Diana. Aku tidak mau ia mengarang cerita yang nantinya akan membuatku kembali dihukum oleh ibu kepala. Berjauhan dengan kak Zein adalah pilihan terbaik sebab ibu kepala selalu menganggap bahwa aku adalah masalah untuk anaknya.
__ADS_1