
"Apa yang kau bicarakan dengan kak Zein?" tanya Diana, ia mencekal langkahku. Sudah kuduga, setiap aku terlihat dekat dengan kak Zein, meski sebenarnya tidak ada apa-apa maka Diana akan mencari tahu semuanya. Ia akan berusaha memaksaku untuk buka mulut.
"Tidak ada apa-apa." kataku, berusaha membebaskan diri dari cengkeraman Diana, tetapi tenaganya jauh lebih kuat dariku sehingga susah terlepas darinya. "Apa yang kau lakukan. Tanganku sakit sekali!" aku berusaha meronta, tidak suka dicekal seperti ini.
"Katakan dulu apa yang kau bicarakan dengan kak Zein!"
"Aku tidak bicara apa-apa, Diana."
"Kau kira aku buta? Aku melihat semuanya, Anjani!"
"Ia hanya mengatakan bahwa aku tidak usah bekerja di kebun bunga."
"Kenapa? Bukankah pekerjaan itu cocok untukmu? Kau tidak berpikir untuk tidak jadi kerja, kan?"
"Tidak. Aku akan tetap bekerja."
"Baguslah. Kau harus tahu diri Anjani. Panti sedang kekurangan dana. Jangan Bebani panti terus. Apalagi kau sudah dewasa. Kau mengerti!"
"Iya aku mengerti, sekarang lepaskan aku!" pintaku. Diana melepaskan cengkraman tangannya.
"Awas saja kalau kau bohong."
"Aku tidak akan bohong padamu. Lagipula untuk apa aku menutupi pembicaraan aku dengan kak Zein. Tidak ada yang penting."
"Hati-hati kalau kau bicara. Kak Zein adalah anak pemilik panti tempatmu menumpang hidup."
"Bukan pemilik, tapi hanya kepala pengurus!"
"Kau sudah berani, Anjani? Kalau sampai aku menggantikan ibu kepala maka kau akan kuusir dari sini!"
"Terserah saja."
"Kau tidak berpikir untuk mengambil posisiku, kan?"
__ADS_1
"Aku tidak tertarik."
"Lalu kenapa kau selalu menolak ketika diadopsi?"
"Sebab aku hanya ingin pindah ke rumahku yang sebenarnya. Bersama ayah dan ibuku!"
Tawa Diana langsung ke lepas, ia kembali menertawakan aku yang masih berharap bisa berkumpul bersama ayah dan ibu.
"Sampai kapan kau akan sadar Anjani? Kau itu sudah dibuang, sesuatu yang sudah dibuang tidak akan pernah diambil kembali!"
"Diana!" suara bibi Desi menghentikan tawa Diana, anak panti selain aku yang menolak diadopsi sebab ia ingin menggantikan posisi ibu kepala sebagai pemimpin di panti asuhan ini. Entah kenapa juga ia selalu curiga bahwa aku mengincar posisi yang sama dengannya. Padahal aku sama sekali tidak tertarik dengan itu semua. Bagiku, bertahan di panti hanya untuk kedua orang tuaku. "Apa yang kau katakan pada Anjani? Kau mau aku mengatakan pada ibu kepala tentang keinginanmu itu agar kau cepat diangkat jadi ibu kepala pengganti."
"Tidak bibi Desi." sergah Diana. Ia langsung pucat pasi.
"Kenapa? Harusnya kau senang bibi Desi mau membantumu mewujudkan apa yang kau impikan. Selama ini?" kataku.
"Anjani, aku tidak mau cari gara-gara denganmu!" kata Diana.
"Aku tidak mau ibu kepala tahu. Bibi tolong jangan katakan apapun juga. Aku masih ingin dipimpin oleh ibu kepala. Masih ingin belajar banyak darinya." ungkap Diana lagi.
"Oh ya?" tanyaku lagi, sebab tidak pernah percaya pada Diana. Ia beberapa waktu lalu begitu percaya diri bicara akan menggantikan posisi ibu kepala, tapi sekarang malah mengelak sebab tidak ingin harapannya diketahui ibu kepala. "Diana, aku itu bukan sainganmu. Aku tidak tertarik memimpin panti sama sekali " Kataku.
"Terserah kau mau bicara apa Anjani. Aku tidak tertarik mendengarnya. Kau tahu aku sangat sibuk sekali. Banyak hal yang ingin aku pelajari demi kemajuan panti ini ketimbang bergosip denganmu." Diana langsung berlalu meninggalkan aku dan bibi Desi.
"Aneh sekali." kataku dan bibi Desi sambil tersenyum.
"Anjani, kau tidak perlu memikirkan Diana, yang penting fokus dengan tujuanmu agar bisa ke Jakarta!" kata bibi Desi.
"Iya Bi. Aku mengerti."
***
Pukul tujuh pagi, aku sudah bersiap berangkat ketika lagi-lagi Diana menghadang langkahku. Ia sengaja tidak membiarkan aku pergi begitu saja sebelum menjawab segala pertanyaan yang diajukan.
__ADS_1
"Kau sungguh-sungguh mau jadi tukang kebun?" tanya Diana.
"Iya!" aku menjawab dengan agak kesal sebab sedang buru-buru.
"Anjani, mana ada tukang kebun yang sepertimu?"
"Memang kenapa?"
"Tidak pantas. Masa pakai baju Serapi itu?"
"Memangnya kenapa? Kau kira tukang kebun itu semuanya berantakan? Tentu saja tidak. Aku itu tukang kebun berdasi." Aku menjawab asal. Begitu ada kesempatan pergi, aku langsung kabur darinya.
Dari dulu Diana itu selalu ingin tahu apa saja yang aku lakukan. Ia selalu menganggap aku adalah saingannya, padahal tidak begitu. Jelas-jelas secara pendidikan ia jauh lebih baik dariku. Diana lulusan SMA, sementara aku hanya punya ijazah SD.
Langkah kakiku berhenti tepat di depan pagar villa paling mewah di sekita danau. Villa tiga lantai dengan cat tembok berwarna gold sehingga membuatnya semakin elegan. Hanya saja tertutup oleh tembok setinggi dua meter mengelilingi halaman villa yang sangat luas.
"Permisi ... permisi ... permisi!" kataku, sambil mengetuk pagar besi tersebut.
Aku masih berdiri mematung di depan pagar besi villa dengan kebun bunga yang sangat mewah ini. Kata kak Philip, dulu villa ini terbuka untuk wisatawan, tetapi entah kenapa sekarang sudah ditutup. Ada beberapa rumor yang beredar, salah satunya karena anak pemilik kebun ini meninggal dunia sehingga ia tidak ingin melanjutkan bisnisnya. Padahal inilah salah satu villa yang jadi favorit wisatawan sebab selain fasilitas lengkap dan mewah, letaknya juga sangat dekat dengan danau. View di dalamnya juga sangat bagus.
"Bagaimana cara masuk ke dalam, ya?" aku menggaruk kepala yang tidak gatal, sementara kerudungku sudah mereng-mereng sebab dari tadi bergerak tidak beraturan.
"Hallo ... hallo pak. Permisi. Saya mau cari pekerjaan. Bisakah bukakan pintunya?" lagi-lagi aku memanggil dengan suara lantang, berharap ada orang yang di dalam mendengar, tetapi tidak ada jawaban sama sekali hingga tenggorokanku kering.
Dari celah-celah kecil di antara tembok dan pagar, aku bisa melihat bangunan villa yang begitu besar. Tidak ada satu orang pun yang terlihat lalu-lalang.
Apa jangan-jangan villa ini kosong? Tapi masa villa sebesar ini tidak ada yang menempati. Sayang sekali. Andai pemiliknya mau berbagi untuk anak-anak panti di tempatku tinggal, pasti seluruh penghuni panti tidak perlu lagi tidur dalam ruangan sempit sambil menahan panas.
Bayangkan saja, kamar yang harusnya dihuni oleh empat orang malah diisi sampai lima belas orang. Apalagi kalau sedang banyak anak baru yang masuk. Bisa jadi dua kali lipat. Pantas saja ibu kepala pusing memikirkan keuangan panti yang selalu berkurang sementara penghuninya selalu bertambah.
Mataku kembali mengawasi sekeliling villa, berharap meluhat ada yang berkeliaran di sana sehingga aku bisa masuk. Tetapi hasilnya masih saja kosong.
Aku tidak mungkin pulang dalam keadaan tangan terbuka tanpa kepastian. Bisa-bisa ibu kepala mencabut izinnya sehingga aku tidak bisa lagi ke sini.
__ADS_1