Anjani Sayang

Anjani Sayang
Sebuah Rencana


__ADS_3

"Apa yang harus kulakukan?" entah sudah berapa kali pertanyaan itu keluar, sambil mondar-mandir di salah satu sisi lapangan bola yang berada tidak jauh dari sekolah.


"Sebenarnya Bu Ratih sangat baik," ungkap kak Philip.


"Tapi aku ingin pulang, kak! Aku hanya ingin menjadi anak ayah dan ibu. Mereka tidak akan pernah bisa membawaku kembali pulang jika Bu Ratih sudah menjadikanku anaknya. Begitu yang aku lihat saat satu-persatu anak-anak panti diadopsi."


"Anjani, aku mengerti. Tapi, tidak ada salahnya jika kau bicara langsung pada Bu Ratih. Jangan sampai ia menemui ibu kepala,"


"Tapi ...."


"Kalau Bu Ratih sudah menemui ibu kepala, kau tahu sendiri, ia pasti akan memberikanmu dengan senang hati sebab jika kau pergi maka ia sudah lepas dari seorang pembawa masalah, seperti yang sering ia ungkapkan!"


Aku mengerti dengan apa yang diucapkan oleh kak Philip. Tanpa harus menunggu lagu, kami kembali ke sekolah, mencari Bu Ratih di ruangan guru, tetapi ia tidak terlihat.


"Kemana ya Bu Ratih?" tanyaku.


"Kau cari di sebelah sana, aku cari sebelah sini!" perintah kak Philip. Kami berpencar, bertanya pada murid-murid yang masih berkeliaran di sekitar sekolah, meskipun acara sudah berakhir.


"Kalian berdua sedang mencari apa?" tiba-tiba kak Zein muncul. "Anjani, ayo pulang!"


"Kami sedang mencari Bu Ratih," kataku.


"Oh Bu Ratih. Ia sedang dalam perjalanan ke panti, tadi Bu Ratih mencarimu, ia juga ingin menemui ibuku ...." sebelum kak Zein selesai menjelaskan, aku dan kak Philip berlari kencang menuju panti asuhan. "Hei, Anjani!" panggil kak Zein.


Aku dan kak Philip berlari sekencang mungkin, sambil berdoa semoga ibu Ratih belum sampai di panti. Apalagi kalau sampai bicara pada ibu kepala.


"Aaaaaaa," aku terjatuh karena tersandung batu. Lututku langsung berdarah.


"Anjani, kau tidak apa-apa?" tanya kak Philip.


"Kak pergi kak ... cepat cegah Bu Ratih. Jangan sampai ibu bicara pada Bu kepala. Aku tidak ingin diadopsi." pintaku, sambil menautkan kedua tangan, dengan mata berkaca-kaca.


Sebenarnya luka di kakiku sakit sekali, sulit untuk berjalan, tetapi aku tidak mau jika hal ini menghambat kami untuk menghalangi ibu Ratih.


"Kak, ayo cepat pergi!" pintaku lagi.


Kak Philip terlihat ragu, ia tidak ingin meninggalkanku sendiri dengan kondisi sedang kesakitan, tetapi karena terus ku paksa, akhirnya kak Philip berlari kencang menuju panti. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menanti dengan penuh harap agar kak Philip berhasil menghentikan Bu Ratih.

__ADS_1


Luka di kakiku mulai terasa sakit, berdenyut-denyut, mungkin karena ada banyak pasir dan debu yang melengkung di sana.


"Duh," aku meringis, mencoba bangkit sambil meniupnya, tapi agak susah.


"Anjani!" kak Zein menghampiriku. "Kamu kenapa? Ya ampun, kaki kamu luka? Philip mana? Anak itu, katanya mau menjagamu, tetapi malah meninggalkan kamu sendiri di sini!" ungkap kak Zein.


"Kak Philip sedang ke panti,"


"Buat apa? Harusnya ia menolongmu, anak itu sebenarnya tidak bisa diandalkan. Tapi entah kenapa kau malah memilihnya sebagai teman!"


"Kak Philip tidak seperti itu!"


"Terus saja membelanya, lihat, kakimu luka seperti ini tapi ia meninggalkanmu!"


"Kak Philip pergi karena aku yang memintanya,"


"Tetap saja, harusnya ia menolongmu dulu. Awas saja nanti, kalau ketemu akan kuberi ia pelajaran. Kau tidak boleh berteman dengannya lagi Anjani, mengerti!"


"Tidak mau. Kak Philip adalah kakakku, ia malaikat pelindungku. Ia akan menjagaku sampai ayah dan ibu datang."


"Aku juga bisa menjagamu!"


"Aku berkata sejujurnya, Anjani. Bahwa ayah dan ibumu ...."


"Sudah, cukup! Jangan membual lagi. Aku benci pada kakak!"


Wajahku memerah mendengar kata-kata kak Zein. Kenapa ia masih saja mengatakan bahwa aku anak yang dibuang. Itu tidak benar. Ayah dan ibu pasti akan menjemputku.


"Kalau kau tidak dibuang oleh orang tuamu, kau tidak akan ada di sini Anjani!" tambah kak Zein, ia masih bersikeras dengan pendapatnya.


"Kakak ternyata sama jahatnya dengan Diana dan teman-temannya!" aku berkata dengan suara terbata-bata, sementara mataku mulai berkaca-kaca. Aku semakin kesal padanya. Ternyata kak Zein hanya ingin membuatku kesal.


"Anjani, aku hanya ingin ...."


"Pergilah ... pergi. Jangan menggangguku!" aku mengusir kak Zein, tidak mau melihat wajahnya lagi.


"Anjani!" dari jauh, kak Philip melambaikan tangannya, ia berada di atas motor, dibonceng oleh Bu Ratih.

__ADS_1


"Kak Philip, Bu Ratih ...." aku membalas sambil melambaikan tangan juga seperti kak Philip.


"Anjani, ada apa? Kenapa kau menangis?" tanya kak Philip, begitu ia turun dari motor. "Hei Zein, apa yang kau lakukan pada Anjani ku? Kenapa ia menangis?" pertanyaan kak Philip tertuju pada kak Zein.


"Itu, aku hanya ...." kak Zein tidak bisa menjawab.


"Kau, sudah kukatakan jangan mendekati Anjani lagi. Jangan mengganggunya, kenapa kau tidak mengikuti apa yang kukatakan?" kak Philip bersiap hendak melawan kak Zein.


"Philip, kau salah sangka. Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya pada Anjani."


"Mengatakan apa?"


"Bahwa ia tidak perlu menanti ayah dan ibunya lagi. Anjani sudah dibuang Philip, tidak mungkin orang tuanya akan datang."


"Diam kau Zein!"


"Kak Zein jahat ... jahat!" aku menangis terisak-isak.


"Kau benar-benar tidak punya hati, Zein!" ungkap kak Philip.


"Anjani, ya ampun, kamu terluka, nak?" Bu Ratih segera mengambil sapu tangan dan botol air minum dari dalam tasnya, lalu ia membasahi sapu tangan itu, kemudian membasuh luka di kakiku. "Philip, bantu ibu membeli plester untuk menutup luka Anjani." pinta Bu Ratih, sambil menyerahkan selembar uang pada kak Philip.


Setelah menerima uang dari Bu Ratih, kak Philip segera berlari menuju warung terdekat. Sementara Bu Ratih masih membersihkan lukaku dengan hati-hati, sambil meniupnya sesekali.


Perlakuan Bu Ratih ini seperti ibu. Dulu, saat bermain di taman, aku pernah jatuh dari sepeda dan terluka. Lalu ibu mengobatinya dengan hati-hati, setiap aku meringis, maka ibu akan mengusap ku.


Kata ibu, kalau aku sakit, maka ibu akan merasakan sakit juga. Itulah sebabnya ibu selalu menjagaku dengan hati-hati.


"Anjani, kau menangis nak?" tanya Bu Ratih.


"Ibu membersihkan luka Jani seperti ibunya Anjani Sendiri." kataku.


Bu Ratih memelukku, baru melepaskan pelukannya saat kak Philip datang membawa plester untuk menutup luka di kakiku.


"Lukanya sudah bersih, sudah ditutup plester juga. Sekarang coba berdiri sayang," pinta Bu Ratih.


Perlahan aku mencoba bangkit, masih sakit, tapi tidak sesakit saat pertama. Aku juga sudah bisa berjalan-jalan.

__ADS_1


"Alhamdulillah sudah sembuh!" kataku.


"Alhamdulillah," sahut Bu Ratih, kak Philip dan kak Zein.


__ADS_2