
Hari ini genap usiaku tiga belas tahun. Di depan kaca, aku menata kembali rambut panjang yang hampir menutupi punggung, mengikatnya dengan karet gelang bekas mengikat bungkus cabe, agar terlihat rapi.
"Anjani, kau belum berangkat juga?" bibi Desi masuk ke kamar. "Tidak terasa, sekarang usiamu sudah tiga belas tahun, sudah pakai seragam putih biru." ungkap bibi Desi.
"Iya Bk. Terimakasih ya sudah merawatku dengan sangat baik." kataku, sambil mengecup pipi perempuan yang selalu melindungiku saat berada di panti ini.
"Bibi belum melakukan apapun untukmu. Bahkan untuk memberikan seragam baru saja belum mampu."
Seragam putih biruku memang sudah menguning, padahal aku baru kelas satu, bukan karena aku memakainya sembarang tetapi karena ini baju lungsuran, jadi kondisinya memang tidaklah baru.
"Ini sudah lebih dari cukup Bi, aku sangat bersyukur sekali." kataku lagi, sambil memamerkan senyum termanis agar sendu di wajah bibi Desi hilang. Bagaimana mungkin aku bisa memberinya beban yang lebih setelah banyak kebaikan yang ia berikan.
Tidak ada yang ku sesali dari bibi Desi, perempuan yang telah melindungiku sepenuh hati itu banyak berjasa dalam hidupku. Aku sangat berhutang budi padanya. Berharap, suatu saat aku bisa membalas semua kebaikan bibi.
"Bi, aku menyayangimu. Aku akan membalas kebaikan bibi suatu hari nanti." kataku lagi.
"Apa yang kau lakukan saat ini saja sudah begitu besar. Bibi sangat bersyukur sekali."
"Memang apa yang aku lakukan?"
"Kau sudah memberi kebahagiaan dengan hadir di hidupku. Kau selalu membuatku tersenyum. Kau adalah kebahagiaan yang diberikan oleh Tuhan untukku."
"Ahhhh bibi, aku juga sangat bersyukur punya bibi." Kami berdua lalu berpelukan.
"Sudah ... sudah. Sekarang berangkatlah. Nanti malah terlambat." kata bibi Desi.
Aku dan bibi melangkah ke luar kamar beriringan. Tiba-tiba senyum kami harus hilang saat mendengar teriakan seseorang.
"Desi, kenapa kau tidak mengajari gadis itu peraturan di sini. Jangan mentang-mentang ia anak angkatmu, lalu bebas melakukan segala hal sesuka hatinya. Ingat Desi, kalau kalian tetap berbuat sesuka hati, maka aku akan mengambil kembali hak adopsimu sebab kau ternyata tidak bisa mendidiknya dengan baik." kata ibu kepala.
"Maaf bu, tapi peraturan apa yang dilanggar Anjani?" tanya bibi Desi.
"Dia sudah SMP, tapi tidak menutup aurat. Tidak tahu malu. Apa kau tidak mengajarinya agama?" tanya ibu kepala lagi.
"Maaf ibu, saya akan mengajari Anjani untuk memakai kerudung."
"Hari ini juga ia harus memakai kerudung. Aku tidak mau ia menebar dosa di mana-mana. Apalagi di sini ada putraku."
"Iya Bu." agar perdebatan tidak panjang, bibi Desi mengajakku segera keluar.
__ADS_1
"Bagaimana ini bi? Aku kan tidak punya seragam panjang dan kerudung?" aku benar-benar gusar. Takut hal ini akan dijadikan senjata oleh ibu kepala untuk menghukumku lagi.
"Tidak perlu khawatir, bibi yang akan mencari jalan keluarnya. Sekarang kau berangkat sekolah saja dulu."
Aku melambaikan tangan, berlalu menuju sekolah sambil berjalan kaki. Entah mengapa, meski bibi Desi meminta untuk tidak memikirkan, tetap saja kerudung dan pakaian panjang menjadi pikiranku.
Aku tahu betul bahwa bibi Desi tidak punya uang. Bagaimana ia akan membeli pakaian panjang dan kerudung untukku?
"Hei, Anjani!" kak Philip sudah berjalan sejajar denganku. "Kau lagi melamun? Lantas saja dari tadi ku panggil ia tidak mendengar. Memang sedang memikirkan apa?"
"Ibu kepala menyuruhku memakai kerudung."
"Oh. Kalau ini aku setuju."
"Kenapa?"
"Soalnya aku tidak suka saat laki-laki lain melihat rambutmu yang panjang ini."
"Apa rambutku sebagus itu?"
"Tidak juga sih,"
"Hahaha, iya ... iya. Rambutmu bagus. Lalu apa yang membuatmu resah? Atau jangan-jangan kau juga sengaja menebar pesona ke murid laki-laki ya, supaya mereka menyukaimu?"
"Enak saja. Aku tidak seperti itu."
"Lalu apa yang membuatmu resah?"
"Kakak tahu kan, bibi Desi tidak punya uang untuk membeli seragam baru dan kerudung. Lalu bagaimana caranya aku bisa memakai kerudung?"
"Oh, jadi itu masalahmu? Kau kan punya Tuhan. Minta saja padaNya."
Apa yang dikatakan kak Philip benar. Aku diam dan mulai mengajukan banyak permintaan pada Allah. Termasuk minta agar Dia segera mengirimkan ayah dan ibu agar menjemputku. Sudah enam tahun berlalu, rasanya aku sudah sangat rindu dengan ibu dan ayah.
Bagaimana kabar mereka sekarang? Apakah ayah dan ibu tidak pernah bertengkar lagi? Apakah mereka masih mengingatku? Lalu kenapa belum juga datang? Atau mungkin mereka tengah bingung sebab kehilangan jejaknya.
"Hai Anjani, kau melamun lagi?" tanya kak Philip.
"Hah?" aku diam.
__ADS_1
"Sudah sampai di depan sekolahmu. Aku pergi dulu. Belajarlah yang rajin dan jangan banyak melamun. Oke!"
***
"Pakai kerudungmu Anjani, atau aku akan menghukummu!" suara ibu kepala yang datang tiba-tiba di dapur membuatku kaget hingga langsung kabur ke kamar. Aku benar-benar takut dibuatnya.
Meskipun perut begitu lapar, aku tetap tidak berani keluar untuk mengambil makanan, takut ibu kepala kembali datang. Sementara bibi Desi belum juga kembali, entah pergi kemana. Tidak biasanya bibi pergi tanpa pesan seperti sekarang ini.
Azan ashar baru saja berkumandang. Ingin rasanya segera keluar untuk berwudhu lalu salat. Tapi tidak bisa sebab bibi Desi belum juga pulang dan aku takut bertemu dengan ibu kepala.
"Anjani!" seseorang mengetuk pintu kamar.
Dari balik jendela aku mengintip, ternyata salah seorang penghuni panti yang seumuran denganku. Ia memberikan sebuah bingkisan. Saat ku buka, agak kaget sebab isinya adalah seragam panjang putih abu-abu serta kerudung berwarna putih.
"Dari siapa ini?" tanyaku dalam hati. Lalu mendapati sebuah pesan singkat.
Ini adalah jawaban untuk doamu tadi pagi. Besok jangan melamun lagi ya :)
Ini pasti dari kak Philip. Aku melonjak gembira. Ia memang malaikat pelindungku. Selalu bisa memberikan solusi untuk setiap masalahku.
Sedang asyik membaca lanjutan pesan yang dikirimkan kak Philip, tiba-tiba pintu kamar terbuka, tampak bibi Desi masuk dengan wajah terlihat sangat lelah.
"Bibi, dari mana saja?" tanyaku.
"Maafkan bibi Anjani, bibi tidak tahu harus melakukan apa lagi." ungkap bibi Desi.
"Memang bibi dari mana?"
"Bibi baru mengunjungi beberapa rumah teman bibi untuk meminta seragam bekas anak mereka, tapi tidak ada yang punya."
"Ya Allah bibi ...,"
"Anjani, maafkan bibi, kau pasti kecewa. Iya, kan?"
"Tidak bi, bukan begitu. Tapi kak Philip sudah memberikanku hadiah seragam panjang yang baru lengkap dengan kerudungnya."
"Benarkah?"
"Iya Bi. Ini!"
__ADS_1
Aku dan bibi Desi langsung berpelukan. Aku bisa merasakan perjuangan bibi mencarikan seragam baru untukku. Rasanya benar-benar terharu. Aku benar-benar beruntung punya ibu angkat seperti bibi Desi.