Anjani Sayang

Anjani Sayang
Anak Lelaki Yang Membawa Kunang-kunang


__ADS_3

Entah sudah berapa lama aku di sini, rasanya kedua kakiku semakin sakit. Begitu juga dengan kepala yang ikut berdenyut-denyut. Tetapi aku tidak bisa bergerak kemana-mana karena takut bertabrakan dengan tikus dan kecoa yang lalu-lalang. Hanya bisa menangis tersedu-sedu.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari dinding tempatku bersandar. Spontan aku bergeser karena kaget. Tiba-tiba dinding yang terbuat dari kayu itu berkubang sebesar kepala.


"Hei, kamu siapa?" seorang anak laki-laki dengan mata berwarna biru tersenyum padaku.


"Ka ... kamu siapa?" aku bertanya balik.


"Aku Philip, kamu?"


"Anjani,"


"Hei, kamu manusia, kan?"


"Iya!"


"Hehehe, jangan marah. Aku cuma becanda. Tapi ngomong-ngomong, kamu sedang apa di sini?"


"Ibu Kepala mengunciku di sini karena aku sudah membuat Kak Zein terjatuh,"


"Oh, pantesan. Nenek-nenek itu memang tidak suka ada anak yang berani mengganggu anak kesayangannya itu. Kamu berani juga ya membuat Zein terluka, memang dia membuat salah apa?"


Aku menggelengkan kepala. Sebenarnya aku tidak bermaksud melukai kak Zein, semuanya terjadi secara tiba-tiba. Aku memang marah padanya karena ia juga ikut mengatakan bahwa aku adalah anak yang dibuang, padahal sejak pertama kali datang aku sudah percaya pada kak Zein. Ku kira ia akan menjadi teman yang baik untukku.


"Aku juga pernah membuat Zein terluka. Kami satu sekolah. Waktu jam olahraga, aku sedang bermain bola basket bersama teman-teman, lalu ia lewat dan terkena bola. Kepala Zein sampai berarah. Dan kamu tahu apa yang dilakukan ibunya? Ia sampai mendatangi rumahku. Marah-marah padaku. Padahal luka Zein sangat kecil sekali. Sejak itu kamu tidak pernah berteman lagi sebab ibunya melarangku dekat dengan putra kesayangannya itu!"


"Benarkah?"


"Ya, Zein terlalu dimanjakan. Padahal menurutku ia anak yang cukup baik. Setelah kejadian ini, aku yakin kau pun tidak akan diizinkan dekat-dekat dengannya."


Sedang asyik bicara, tiba-tiba perutku berbunyi karena lapar. Sudah dua kali jam makan yang kulewati.

__ADS_1


"Kau pasti lapar? Belum makan siang, ya?" tanya kak Philip.


"Juga belum sarapan," kataku.


"Ya Tuhan, anak sekecilmu belum pantas mendapatkan hukuman seberat ini. Kalau begitu tunggulah sebentar." kak Philip menghilang di balik kebun kopi, tidak lama kembali membawa satu plastik besar berisi makanan dan minuman. "Makanlah Anjani!" katanya.


"Terimakasih banyak, Kak Philip. Kakak seperti malaikat penjaga untukku." ucapku, sambil melahap burger dan susu coklat yang dibawakannya.


"Kamu pintar juga mengambil hati orang lain." kami berdua tertawa. "Anjani, hari sudah mulai gelap. Berapa lama lagi kau akan di sini?" tanyanya.


"Aku tidak tahu, Kak." tiba-tiba aku kembali takut. Kalau sudah malam, langit akan semakin gelap, di sini pun pasti begitu. Kak Philip pasti akan pulang, lalu siapa yang akan menemaniku di sini?


"Jangan takut Anjani, aku akan di sini sampai seseorang mengeluarkanmu!" kata kak Philip, seolah mengerti keresahan yang kurasakan.


Kak Philip menangkap beberapa ekor kunang-kunanb, ia memasukkannya dalam plastik, lalu memberikannya padaku. Kunang-kunang itu berkelap-kelip, cantik sekali.


Kak Philip benar-benar tidak meninggalkanku. Kami bercerita banyak, hingga mendengar suara langkah kaki. Kak Philip cepat-cepat bersembunyi setelah menutup lubang yang ia buat di dinding.


"Bibi!" pekikku. Kami berdua langsung berpelukan.


"Ibu, anda sungguh terlalu, bagaimana mungkin mengurung seorang anak kecil di gudang yang gelap dan kotor ini seorang diri. Hukuman macam apa itu? Kalau terjadi sesuatu pada Anjani, aku tidak akan pernah memaafkan anda, Bu!" kata bibi Desi, sambil membimbingku, masuk kembali dalam panti.


Sebelum pergi, aku sempat melirik ke arah gudang, dari samping, kulihat Jak Philip tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.


Aku tidak berani menceritakan apapun tentangnya pada siapapun, termasuk bibi Desi sebab khawatir akan mendapatkan masalah baru.


"Anjani, kamu pasti sangat ketakutan berada di sana. Iya, kan sayang?" tanya bibi Desi, saat menemaniku makan. "Kamu tenang saja, sayang. Mulai sekarang tidak akan ada yang berani menghukummu lagi. Bibi akan berusaha melindungi mu semaksimal mungkin."


Langit telah benar-benar sempurna berwarna gelap. Aku kini berada di atas pembaringan, memikirkan banyak hal. Termasuk tentang kak Philip. Bagaimana cara bertemu kembali dengannya. Aku kan belum tahu dimana tempat tinggalnya. Atau jangan-jangan ia tinggal di kebun kopi?


Lalu tentang rencana sekolah baru. Bibi Desi bilang, pekan depan aku akan masuk sekolah baru. Kalau aku sekolah di sini, bagaimana dengan sekolah lamaku. Ibu guru, juga teman-teman. Apakah aku harus tinggal selamanya di sini?

__ADS_1


Hatiku kembali memberontak. Tidak ingin selamanya di sini. Tempat ini begitu asing untukku, meski di sini ada bibi Desi yang sangat menyayangiku. Aku ingin berkumpul kembali dengan ayah, ibu, guru dan teman-temanku.


***


Pagi ini, aku telah siap memakai seragam putih merah, entah bekas siapa, yang jelas warnanya sudah menguning serta ada beberapa noda dibajunya. Bibi Desi bilang, kalau ada uang, akan membelikan ku seragam baru.


"Anjani, kau sudah siap, sayang?" tanya bibi Desi.


Hari pertama di sekolah baru, bibi Desi sendiri yang akan mengantarku. Biasanya anak-anak lain akan diantar oleh ibu kepala, tetapi karena tidak menyukaiku, maka tugas itu digantikan oleh bibi Desi.


"Ayo kita berangkat!" ajak bibi Desi. "Kau harus sekolah dengan sungguh-sungguh. Bibi ingin kau menjadi juara agar besar nanti bisa jadi orang sukses!" ungkap bibi Desi.


Di depan panti kami berpapasan dengan ibu kepala yang sedang melepas kepergian kak Zein. Ia langsung membuang muka saat melihatku.


"Anjani!" panggil kak Zein. "Mau berangkat sekolah? Ayo sama-sama!" ajaknya.


"Zein, ingat apa yang Ibu katakan!" tegur ibu kepala.


"Ibu, kami berangkat dulu!" bibi Desi pamit pada ibu kepala. Ia menyuruhku bersalaman dengan pimpinan panti ini, tapi disambut dengan ogah-ogahan.


Sepanjang jalan bibi Desi terus bercerita tentang wilayah tempat kami tinggal. Bibi terus mengingatkanku tempat-tempat yang jadi patokan saat pulang nanti.


Sampai di depan gerbang, aku berhenti. Rasanya berat untuk masuk ke dalam. Tetapi bibi tetap memaksa agar aku mau sekolah, sebab kalau menolak bisa menjadi alasan ibu kepala untuk memarahiku.


Meskipun berat, akhirnya aku masuk ke gedung sekolah. Berbaur bersama anak-anak berseragam putih merah.


Aku tidak tahu apakah harus senang atau sebaliknya, saat bisa kembali belajar di sekolah. Hanya saja aku merasa, jarakku dengan ayah dan ibu semakin jauh. Mungkin aku tak akan bisa bertemu lagi dengan mereka.


Lalu apakah aku harus di sini selamanya? Padahal tidak ada yang menyukaiku.


"Ayah ... Ibu." aku berlari menjauh dari sekolah, bersama air mata yang terus mengalir deras. Aku ingin pulang. Ingin bertemu ayah, ibu. Aku rindu rumah. Tolong bawa aku kembali pulang.

__ADS_1


__ADS_2